
Nampak Desy setelah pulang kerja datang ke rumah Lia dengan alasan mau memberikan hadiah kepada anaknya Lia.
"Bagus banget bajunya Tante," ucap Cantika, anak dari Lia terlihat sangat senang sekali. Tatkala melihat baju pemberian dari Desy, sahabat dari sang Mama.
"Des, kamu ngerepotin sih, padahal kamu baru kerja dan belum mendapatkan gaji," ucap Lia tersipu malu.
"Nggak seberapa harganya, dibandingkan dengan kebaikan kamu Lia," jawab Desy.
Desy matanya berselancar seakan mencari keberadaan Rian, suami dari Lia.
"Lia, suamimu kemana?" tanya Desy, karena Rian sudah dua hari ini tidak menghubunginya. Tapi mobil Rian nampak terparkir di garasi halaman rumah.
"Dia cuti Des, katanya kurang enak badan juga," jawab Lia.
•••
Desi berpikir dalam hatinya sebenarnya dia dihinggapi rasa khawatir karena Rian, tidak menghubunginya dua hari ini. Dan kekhawatiran dia terjawab sudah, ternyata Rian sedang sakit.
•••
"Des, sudah lama datang," tiba-tiba Rian datang dari arah kamar. Desy nampak tersipu malu dan bergetar hatinya tatkala melihat sosok Rian kembali.
"Baru saja datang, Mas," jawab Desy.
"Bentar aku ambil minum dulu ya," ucap Lia, kebetulan sang ART sedang keluar rumah. Sementara Cantika sedang menjajal baju di depan cermin yang berada di kamarnya.
•••
"Mas, kenapa, sakit. Aku khawatir," Desy memegang kening Rian, yang terasa hangat.
"Sudah ke dokter belum, mas," sambungnya lagi terlihat khawatir.
"Belum," Rian memegang jemari Desy lalu mengecupnya.
"Aku antar besok ya, mau?" ucap Desy.
"Nggak usah, pasti sembuh. Kan sudah bertemu kamu," ucap Rian tersenyum manja.
•••
Tiba-tiba Cantika keluar dari arah kamar, dia terkejut melihat sang Papa lagi menegang jemari tangan Tante Desy. Melihat sang anak yang sedang memperhatikannya sontak dengan cepat Rian, melepaskan genggaman tangan Desy. Dan Desy pun sangat terkejut ketika anaknya Rian menatap dia dengan lekat ke arahnya.
"Cantika, bagus banget bajunya Nak," Rian terlihat kaget dan mengalihkan suasana.
Cantika hanya tersenyum tipis.
___
"Papa, tadi perasaan sedang memegang tangan Tante Desy, apa aku salah lihat," gumam sang anak dalam hatinya.
___
Desy seakan tahu isi hati dari anaknya Rian, dia pun mencoba mengalihkan perhatian dan suasana hati
__ADS_1
"Oh, iya, sayang. Tante hampir lupa, di dalam mobil ada coklat buat Cantika, tunggu Tante ambilkan ya," ucap Desy, dengan cepat berlari kecil ke garasi halaman rumah untuk mengambil coklat di dalam mobil.
•••
Tiba-tiba Lia datang dengan membawa air minum. " Desy kemana Pah," ucap Lia. Karena Lia tidak menemukan Desy di sana.
"Lagi ambil coklat untuk Cantika, Mah," ucap Rian terlihat gugup sambil menatap wajah Cantika.
Anak pintar itu masih tertegun dan mengingat kejadian yang baru saja dia lihat.
"Cantika, ini coklatnya," ucap Desy datang dari arah luar dengan membawa coklat.
"Makasih Tante," dia tersenyum tipis dan terlihat senyum tipisnya seakan terpaksa.
Cantika pun berlalu ke dalam kamar.
"Lia, Mas Rian sudah dibawa ke dokter?" tanya Desy seakan berpura-pura padahal dia tadi sudah menanyakan hal tersebut kepada Rian, kekasih gelapnya itu.
"Belum, dia nggak mau Des, katanya cuma meriang dan besok juga sembuh," ucap Lia.
"Aku bikinin air rebusan jahe ya, enak loh, biar seger ke badan dan tidak masuk angin," Desy mencoba mengambil hati Rian.
"Ngerepotin Des, udah kamu nggak perlu repot-repot, duduk saja, kalau tamu," Lia tersenyum menatap Desy.
"Ah, nggak apa-apa, aku bukan tamu ko, sudah kayak saudara kamu sendiri," Desy berlalu ke dapur untuk membuat air jahe.
Di dalam dapur.
Nampak Desy membuat air rebusan jahe dengan memakai gula merah aren, penuh senyum di bibir mungilnya. Dia melakukannya penuh dengan hati gembira, Desy mencoba membuat air jahe seenak mungkin, agar Rian merasa candu dengan minuman yang dibuat olehnya itu.
"Mas, nanti dilihat istrimu," Desy mencoba melepaskan pelukannya Rian.
"Nggak lah, istriku barusan sedang mandi dan anakku mengurung diri di kamar, pintunya dia kunci dari dalam," ucapnya lekat ke arah kuping Desy.
"Astaghfirullah," gumam hati Sumi sang ART yang tiba-tiba datang, dia melihat dari arah pintu dapur. Melihat Desy sedang dipeluk oleh majikan lelakinya.
Dengan cepat Sumi, berlalu dari dapur. Peluhnya bercucuran dan dadanya bergemuruh dengan cepat.
"Apa aku nggak salah lihat, mengapa Desy tega mengkhianati sahabatnya sendiri." ucapnya matanya berkaca-kaca.
Sumi terlihat sedang berpikir, bagaimana caranya agar mereka tidak diketahui oleh Lia, dan Sumi bukan mau menutupi atau membela Rian, tetapi Sumi kasihan terhadap Lia, kalau melihat Desy, sahabatnya itu sedang di peluk oleh majikan lelakinya.
Dia menghela napas panjang.
"Bu....ini nasi gorengnya, keburu dingin," Sumi mencoba berteriak agar teriakan itu terdengar ke arah dapur, dan otomatis Rian akan melepaskan pelukannya itu kepada Desy.
Mendengar suara Sumi, sontak Rian melepaskan pelukannya. Dia dengan cepat keluar dari arah dapur.
__ADS_1
"Sudah datang Teh Sumi," ucap Rian gugup.
Rian menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke kursi sofa.
Sumi hanya menganggukkan kepalanya.
Dia pun berlalu ke dapur untuk mengambil beberapa piring. Nampak Desy terlihat sedang menuangkan air rebusan jahe ke dalam gelas.
"Ini buat Pak Rian, kamu juga nanti kalau Pak Rian sakit nggak enak badan. Buatkan ini ya, air rebusan jahe agar badannya kembali fit," ucap Desy sambil berlalu dari dapur.
Sumi seakan mencibir setelah Desy keluar dari dapur.
"Mungkin Desy ingin menarik hati Pak Rian, sungguh tidak kuduga dia ternyata jahat, Pelakor, aku kasihan kepada Bu Lia," ucap sang ART tersebut.
"Gimana Mas, enak air jahenya," ucap Desy tersenyum manis.
"Ahhhh...., enak sekali Des, anget ke badan," ucap Rian ketika meneguk secangkir air rebusan jahe.
"Des, makasih loh, kamu baik banget. Sudah mau bikinin air rebusan jahe untuk suamiku," Lia terlihat wajahnya tersenyum kepada sahabatnya itu.
Tak sengaja Rian dan Desy beradu pandang sedangkan Lia, matanya tertuju kearah layar Televisi. Ryan tersenyum genit ke arah Desy dan dengan cepat Desy memalingkan mukanya dengan tersipu malu, dia pun merasa takut jika perselingkuhannya di ketahui oleh sang sahabat.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Desy pun pamit untuk pulang. Nampak terlihat Rian khawatir karena Desy pulang sendiri.
"Des, hati-hati ya," ucap Rian.
"Iya, Mas, cepat sembuh ya," Desy kemudian berpelukan dengan Lia.
"Apa kamu mau nginep saja disini?" Lia mencoba menawarkan Desy, agar bisa tidur di rumahnya.
"Nggak usah," Desy dengan cepat menolaknya.
Rian hanya tersenyum padahal dalam hatinya masing-masing ingin rasanya lebih lama lagi waktu yang mereka lalui. Tetapi mereka juga harus menjaga jarak jangan sampai perselingkuhannya mereka terkuak oleh Lia, sang istri.
__ADS_1
Bersambung...