Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 209 Tangis Pun Pecah


__ADS_3

Papanya Rian terlihat masih berada di rumah kontrakan sang mantan istrinya.


"Kenapa istrimu tidak dibawa kesini!? Bagaimana keadaan dia sekarang," ucap sang mantan istri


Nampak sang mantan istri sudah tidak menyimpan rasa amarah atau kesal terhadap istri sang mantan suaminya itu. Dia pun seakan ingin bertemu dengan Dini. Dan ini menjadi hal yang sangat membuat sang mantan suami dihinggapi rasa gembira karena sang mantan istrinya sudah benar-benar ikhlas dengan semua yang terjadi.


•••


"Maksud Ibu, mau bertemu dengan Tante Dini?" tanya Rian dengan dihinggapi rasa terharu. Rian pun merasa kaget dengan apa yang telah di ucapkan oleh sang Ibu barusan.


Sang Ibu nampak menganggukkan kepalanya dan tersenyum dengan mata yang nampak berkaca-kaca.


Rian berpikir dalam hatinya mungkin sang Ibu sudah dititik lelah dan tidak ada lagi dendam dalam dirinya karena cobaan begitu datang silih berganti dan ini mengakibatkan rasa lelah dalam hati sang Ibu.


_____


"Rian apa benar kamu mau pindah ke kampung? Kalau menurut Papa mending kamu isi rumah Papa yang sekarang di kontrak sama orang lain dan bulan depan dia mau keluar dari kontrakan itu," tanya sang Papa dengan dihinggapi rasa penasaran.


Nampak Rian pun dan sang Ibu tertegun sejenak dengan apa yang di ucapkan oleh sang Papa karena hari kemarin, dia sudah mengingatkan kepada Tante Restu jangan bilang kepada Papanya Rian mengenai kepindahan dia kepada Tante Restu.


"Cantika yang bilang kalau Papa dan Nenek Viona mau pindah ke kampung," ucap sang anak karena nampak sang anak seakan mengerti dengan apa yang tengah dipikirkan oleh sang Nenek dan Papanya tersebut. Mereka sedang berprasangka kepada Tante Restu bahwa sang Tante yang berbicara kepada sang Kakek padahal Cantika lah yang bilang bahwa Nenek dan Papanya akan pindah ke Kampung.


______


Rian dan sang Ibu hanya menganggukkan kepalanya seakan tidak ada pilihan lain untuk pindah ke kampung saat ini karena menurut mereka dengan pindah ke sana hati mereka menjadi tenang.


"Apa kamu mempunyai utang biar nanti Papa yang selesaikan," ucap sang Papa dengan menatap sang mantan istrinya tersebut dan anaknya


"Tidak, Ibu tidak ada utang kepada siapapun, hanya kita ingin pindah rumah ke kampung saja untuk mencari suasana baru," ucap Rian kepada sang Papa.

__ADS_1


____


Sang Papa pun nampak menghela napas secara perlahan kemudian menatap lekat kepada Rian dan melirik sang mantan istrinya itu, seakan dia pun merasakan kondisi mereka saat ini seperti apa.


"Kapan rencana kalian pindah ke kampung?" tanya Papanya Rian.


"Mungkin bulan depan Pah," jawab Rian.


Sang Papa pun menawarkan Rian untuk usaha di kampung untuk berjualan buka warung atau grosir karena sang Papa pernah dulu berkunjung ke kampung tersebut dan tempatnya sangat strategis.


"Ini hanya saran Papa saja Rian, karena kamu pun harus makan disana sama Ibu kamu. Kehidupan sehari-hari tidak selamanya kan harus pinjam ke orang lain," ucap sang Papa


Sepertinya Rian sedang berpikir mengenai modal usaha karena saat ini dia tidak mempunyai uang sepeserpun untuk buka usaha buat makan saja dia hidup pas-pasan.


______


"Rian tidak punya uang untuk buka usaha Pah," ucap Rian berbicara apa adanya.


Sang Papa mencoba memberikan semangat kepada sang anak karena nampak raut wajah Rian seakan tidak bergairah lagi dan tidak ada semangat untuk hidup, setelah semua yang menimpa terhadap dirinya. Rian pun seakan ingin bertemu dengan Lia untuk sekedar minta maaf, ataupun niat bertemu dengan Desy yang kini entah bagaimana keadaannya setelah dia cerai dari istri keduanya itu.


______


"Sebenarnya kamu memikirkan apa Rian?" tanya sang Papa yang nampak Rian terlihat gelisah karena semenjak dari tadi ngobrol dengan sang Papa, nampak Rian hanya terlihat pasrah dan banyak diam.


"Aku mau bertemu dengan Lia dan Desy!" ucapnya dengan pandangan menunduk.


"Untuk apa Rian, sudah kamu lupakan saja masa lalu," jawab sang Ibu.


Bu Viona menyangka Rian akan bertemu dengan sang mantan karena ingin mengenang masa lalu. Padahal Rian ingin meminta maaf kepada mereka berdua karena Rian sudah mengkhianati hati dan perasaannya terutama terhadap Lia. Dan nampak Rian sesunggukan menangis yang mengakibatkan sang anak pun ikut menangis karena dihinggapi rasa haru yang teramat.

__ADS_1


______


"Andai Papa berubah dari dulu dan tidak berselingkuh dengan Tante Desy, mungkin aku akan bersama dengan Papa dan Mama saat ini," gumam hati Cantika.


Sang Kakek kemudian mengelus pundak sang cucu dengan lembut nampak sang kakek seperti menahan air matanya yang akan keluar. Sang kakek pun merasa inilah saat momen yang dinanti dari dulu, sang istri sifatnya tidak egois juga keras kepala, mungkin dia tidak akan mendua dan cerai.


Tapi Papanya Rian pun berpikir kembali inilah jalan hidup yang harus di tempuh karena setiap cobaan pasti akan ada hikmah yang dapat di ambil ke hal yang positif.


"Aku mau minta maaf sama mereka Bu, biar hidupku kedepannya lancar dan tidak jadi beban pikiran," ucap Rian.


______


Nampak sang Ibu menghela napas panjang, dia pun seakan tertampar dengan ucapan Rian karena sang Ibu pun punya salah kepada Lia yang teramat sangat. Sepertinya Bu Viona pun ingin bertemu dengan Lia dan ingin meminta maaf atas semua yang dia lakukan dulu dan juga kepada musuh bebuyutannya yaitu Ibunya Lia.


"Aku juga ingin bertemu mereka tapi entah pikiranku seakan bingung," ucapnya.


"Kenapa!" serentak Rian dan sang mantan suami berucap dan menatap kepada Bu Viona dengan dihinggapi rasa penasaran.


"Takut meraka tidak akan memaafkan aku." jawabnya.


_____


Kemudian sang cucu menggenggam erat tangan sang Nenek dan mencoba menenangkan hati dan perasaannya.


"Nek, sebenarnya Mama Lia dan Nenek itu orang baik cuma mereka sibuk saja," ucap Cantika. Dan hanya kata polos itu yang mampu dia ucapkan. Nampak semua yang tengah duduk di karpet lusuh, itu pun seakan mengerti dengan apa yang di utarakan oleh sang anak. Sang kakek nampak tersenyum manis ke arah sang cucu dalam hati sang kakek berpikir sudah lama tidak bertemu dengan sang cucu dan ternyata nampak banyak perubahan yang terjadi dengan sikap dan sifat dari sang cucu tersebut.


"Kamu sangat pintar sekali Nak! Kakek beruntung sekali loh, dapat cucu seperti kamu," goda sang Kakek.


Nampak tidak terasa waktu cepat berlalu dan nampak siang pun semakin panas menyengat, Papanya Rian dan Cantika pun akhirnya berlalu pulang dari rumah kediaman kontrakan sang anak dan tidak lupa dia memberikan amplop berwarna coklat yang berisi beberapa uang lembaran berwarna merah.

__ADS_1


"Awas, jangan sampai tidak ada kabar kalau kamu pindah ke kampung ya," ucap sang Papa kepada Rian.


Bersambung...


__ADS_2