
Desy nampak duduk dan bibirnya cemberut.
"Aku sekarang mau menagih janji, kamu dulu bilang sama aku setelah kamu berhasil dalam bisnis usahamu, kamu akan menikahi aku. Nah, ini saatnya aku nagih janji," Desy menatap lekat kedua bola mata Rian sedangkan hujan diluar kembali mengguyur dan semua karyawan di Kafe sudah pulang keadaan di Kafe pun nampak sepi.
"Tapi uang buat pernikahan belum terkumpul semua dan uang yang dipakai Ibuku yang kamu kasih 300 juta juga belum aku bayar kan, sama kamu. Memangnya nikah itu gampang," Rian mendelik kesal kepada Desy.
"Uang yang 300 juta sudah aku ikhlaskan itu buat Ibumu, kamu jangan memikirkan uang itu," ucap Desy, dia seakan tidak mempermasalahkan uang tersebut padahal jumlahnya cukup besar.
"Enggak, Des, aku tetap ingin membayar uang itu. Aku enggak enak sama kamu," jawab Rian, dia tidak mau harga dirinya dimata Desy turun.
"Mas, kamu jangan mikirin terus uang itu dan biaya pernikahan pun akan aku bayar semua yang penting kita bisa nikah dulu. Aku kesal gara-gara aku keguguran jadi kita enggak jadi nikah. Mungkin kalau aku hamil pasti kamu bertanggung jawab terus nikahin aku dan terus terang sampai detik ini aku masih menyimpan rasa kesal sama Lia karena Lia kita kecelakaan. Dan kalau tidak terjadi kecelakaan mungkin pernikahan kita yang direncanakan akan tetap berlangsung saat itu," Desy kembali menggerutu seakan tidak terima kenyataan yang ada.
"Cukup,,,cukup, Des!! Kamu jangan menyalahkan Lia terus. Semua sudah terjadi, kamu jangan menyangkut pautkan semua dengan Lia karena ini sudah musibah!" bentak Rian dan sontak Desy terkejut dengan sikap Rian yang seakan membela Lia dan Rian terlihat marah.
"Kamu malah bela Lia lagi, kenapa sih!?" Desy cemberut dan terlihat kecewa.
"Bukan bela Lia karena kamu kurang dewasa!" bentak Rian kembali.
________
Rian pun teringat sosok anaknya Cantika ketika Desy membahas masalah Lia. Dia seakan berpikir rindu dengan sosok anaknya yang sudah 5 bulan tidak bertemu dan tidak memberikan nafkah.
"Yang kurang dewasa disini siapa? Kamu atau aku! Menurutku kamu Rian karena kamu tidak bertanggung jawab atas anakmu dan juga atas kehamilanku!" sindir Desy.
Degh.
Sindiran Desy terasa membuat jantung Rian berdetak tidak normal sungguh membuat Rian tersindir begitu dalam dengan ucapannya Desy.
"Kamu ngomong apa sih!" Rian tersulut emosi dengan ucapan Desy dan tangan Rian terlihat mengepal.
"Kenapa kamu tersinggung dengan perkataan aku!? Memang begitu kan keadaannya kalau kamu tidak bertanggung jawab.
"Kamu semakin kesini semakin membuatku kesal Des! Lebih baik kita putus saja karena kita sudah tidak sejalan dalam pemikiran dan jalan kita beda kayaknya." Rian berdiri terlihat tersulut emosi. Nampak dia akan meninggalkan ruangan tersebut.
"Pak,,,!!" Rian beranjak dari kursinya lalu dia berdiri dan melambaikan tangannya ke arah satpam, agar Pak satpam menghampirinya.
Pak satpam yang tengah berada di depan pun berjalan kearah Rian.
"Saya mau pulang tolong kunci semua ruangan ya," ucap Rian menatap sang satpam. Rian kemudian berlalu dari ruangan tersebut dengan jalan yang cepat. Sedangkan Desy hanya melongo melihat Rian yang seakan seenaknya meninggalkan dirinya.
_________
"Rian,,,!!!" teriak Desy terlihat dihinggapi rasa marah kepada Rian, dan Rian pun seakan tidak peduli kepada Desy lagi. Desy pun dengan cepat mengekor Rian dari belakang.
Bruk...
Suara pintu ditutup dengan kasar oleh Rian, dia seakan sudah tidak peduli lagi dengan Desy karena sifatnya yang tidak dewasa dan terus menerus memaksanya untuk segera menikah dengan alasan dia tersaingi oleh Lia.
Dan Desy malu dengan Lia dan keluarga besarnya jika Rian tidak dengan cepat menikahinya. Desy berpikir Rian hanya mempermainkan Desy dan itu yang membuat Desy tidak
Rian dengan cepat memasuki mobilnya.
Tok...Tok...Tok...
Desy mengetuk kaca mobil dengan keras sedangkan Rian dengan santainya memanaskan mobilnya tanpa mau membuka pintu kaca.
"Rian, buka,,!!" pinta Desy berteriak.
Rian pun seakan enggan melirik Desy yang sedang mengetuk pintu dan berteriak memanggil namanya.
"Kenapa sih, wanita ini kayak wanita kesurupan dan emosinya memuncak," gumam hati Rian.
________
Desy terus menerus mengetuk pintu kaca mobil Rian sambil berteriak memanggil nama Rian dan hal ini sontak membuat Rian dihinggapi rasa malu karena Pak satpam nampak melihat kejadian tersebut.
Rian membuang napas kasar kemudian dia pun dengan tidak rela membuka pintu kaca mobilnya. Rian menatap sinis kearah Desy.
__ADS_1
"Mau apa lagi sih,,!!" bentak Rian.
"Urusan kita belum selesai!" tegas Desy dengan deru napas yang masih tersengal.
"Urusan apa lagi? Duit,,!!! Baik besok ya, aku transfer uang yang kamu sudah transfer ke Ibuku yang 300 juta itu," ucap Rian.
"Dasar kamu keras kepala!" Desy terlihat tidak rela jika dia dikatakan meminta kembali uang yang sudah dia berikan kepada Ibunya Rian. Pandangan mata Desy melotot.
_______
Dalam hati Rian dihinggapi rasa kesal dan amarah yang teramat dengan kelakuan Desy akhir-akhir ini. Dia begitu berani kepada Rian seakan menghina dan menyindir terus kepadanya seakan Rian tidak ada harga diri di hadapan wanita tersebut.
Rian kemudian membuka pintu mobil lalu mencengkram keras tangan Desy.
"Kamu kenapa selalu menyudutkan aku!?" bentak Rian matanya merah menyala.
"Lepaskan,,,!!!" teriak Desy.
Sontak Rian membungkam mulut Desy.
"Diam,,,!! Kamu memalukan," ucap Rian.
Desy seakan tidak peduli dengan gertakan Rian, dia sekuat tenaga melepaskan tangan Rian yang menempel di mulutnya.
PLAK..
Tamparan indah melayang di rahang tegasnya milik Rian. Desy seakan kesal karena dihinggapi rasa amarah dan kecewa yang luar biasa. Rasa panas pun seketika menjalar di pipi dan dada Rian.
Rian meringis menahan rasa sakit.
"Wanita ini sudah gila, tangannya terlalu sering menamparku!" gumam hati Rian dengan mengepalkan tangannya.
Dia seakan ingin membalaskan tamparannya tapi dia coba menahan rasa emosinya karena disana ada Pak satpam pegawainya, dia pun harus menjaga reputasinya sebagai owner disana.
Dengan sorot mata tajam Rian menatap Desy seakan menyiratkan rasa kesal yang teramat kemudian Rian memalingkan wajahnya.
Rian pun dengan cepat memasuki mobil. Rian
mulai menginjakkan pedal gas mobilnya dan mobil Rian pun berlalu cepat dari hadapan Desy..
______
Desy badannya ambruk dan dia menangis sesenggukan dengan di temani suara bunyi rintik hujan. Kini hati Desy layaknya kaca yang dilempari benda tumpul, hatinya bukan hanya retak tapi hancur berkeping-keping.
"Aku tidak mau kehilangan Rian, tidak mau!" ucapnya. Dia pun dengan cepat merogoh ponselnya yang tengah berada didalam tas kemudian dia mencoba menelepon Bu Viona.
{"Halo, Des,,,,Des,,,kamu kenapa!?"} tanya Bu Viona di sebrang sana. Karena setelah sambungan telepon tersambung nampak terdengar suara Desy menangis tersedu dan ini mengakibatkan rasa khawatir di hati Bu Viona.
{"Desy sedang di Kafe Bu, baru saja aku berantem besar dengan Mas Rian, aku kembali menampar dia karena Rian selalu memojokkan aku dan aku kesal dihinggapi rasa emosi jadi aku menampar dia. Maafkan aku Bu, aku tidak mau putus dari Rian,"} Desy terus menerus sesenggukan. Sepertinya dia ingin dikasihani oleh Bu Viona.
{"Astaga, Desy, kasihan kamu. Pasti kamu terluka dengan ucapan Rian yang menyayat jadi kamu tanpa sadar menampar dia,"} Bu Viona nampak mulai terpengaruh dengan omongan Desy tersebut.
{"Kamu cepat pulang Nak, maafkan Rian ya, nanti Ibu akan bicara dengan dia. Dasar anak kurang ajar,"} terdengar Bu Viona marah.
{"Bu, kalau Rian mau transfer uang yang sudah kasih oleh Desy ke Ibu yang 300 juta larang sama Ibu ya? Desy tidak mau jika uang itu di kembalikan kepada Desy,"} dia sengaja berkata begitu agar dikasihani dan di pandang dia peduli dengan Ibunya Rian.
{"Memangnya kenapa? Apakah Rian mau mengembalikan kembali uang itu kepada kamu!?"} tanya Bu Viona terdengar kaget.
________
Bu Viona tahu jika uang Rian saat ini pas-pasan jika di kembalikan kepada Desy, dia tidak ada simpanan buat modal usaha sedangkan uang yang 300 juta itu habis terpakai oleh Bu Viona selain dipakai buat kontrol biaya berobat, Bu Viona memakai uang tersebut untuk usaha bisnisnya.
Namun lagi-lagi usahanya mengalami kegagalan dia di tipu orang.
{"Bu, nanti Desy ceritakan semua sama Ibu, sudah malam Desy mau pulang,"} Desy berbicara terdengar dihinggapi rasa sedih seakan ingin dikasihani oleh Bu Viona.
{"Jawab dulu pertanyaan Ibu, Des! Apakah Rian mau mengembalikan uang itu?"} tanya Bu Viona. Sepertinya dia ingin jawaban yang pasti dari Desy.
__ADS_1
{"Ya, Bu, katanya besok dia akan kembalikan uang yang 300 juta itu kepada Desy,"} jawab Desy tersedu menangis.
{"Sombong sekali anak itu! Uang dari mana dia, modal yang dia pinjam juga dari temannya belum sepenuhnya dibayarnya. Awas ya, kalau sudah kembali ke rumah akan aku ceramahi dia,"} gumam Bu Viona terlihat geram kepada Rian.
Sambungan terputus setelah Desy ingin pamit pulang dan Desy akan datang ke rumah Bu Viona esok pagi karena dia tidak mau putus dari Rian. Desy berharap Bu Viona bisa kembali membujuk Rian agar mau cepat menikah dengannya walau memakai uangnya.
__________
Bu Viona menghela napas panjang setelah menyimpan ponselnya di atas meja.
Nampak Bu Viona pun dihinggapi rasa kesal.
Suara deru mobil nampak terdengar di halaman rumah. Bu Viona pun dengan cepat melangkahkan kakinya ke arah teras karena dia tahu yang datang adalah Rian anaknya. Sepertinya dia sudah tidak sabar ingin menceramahi sang anak yang akan mengembalikan uang kepada Desy.
Bruk...
Terdengar suara mobil di tutup dengan kasar oleh Rian dan nampak mukanya terlihat cemberut.
"Kamu bertengkar lagi dengan Desy!?' tanya sang Ibu dengan pandangan kesal.
Rian nampak mematung di depan pintu karena sang Ibu memberikan pertanyaan sehingga langkah kakinya tidak dia teruskan untuk memasuki rumah.
"Pasti Desy sudah mengadu. Kenapa dia selalu mengambil hati Ibuku!" gumam hati Rian dan nampak dia menghela napas panjang.
"Mandi, setelah itu Ibu mau bicara!" ucap Bu Viona dengan sorot mata tajam.
Rian pun melengos dari hadapan sang Ibu dengan rasa sesak di dada. Tidak bisa dipungkiri rasa emosi Rian terhadap Desy terasa kian menganga.
________
Rian nampak selesai mandi.
"Ibu mau bicara apa? Rian mohon singkat saja karena Rian capek mau tidur butuh istirahat!," ucap Rian nampak dia duduk di kursi sofa dengan wajahnya yang terlihat lelah.
"Kamu bulan depan nikahin Desy!" tegasnya.
"Apa,,!!" mata Rian membulat dan mulutnya melebar dia seakan tidak percaya dengan apa yang didengar dari mulut sang Ibu.
"Ibu tidak sedang becanda kan!?" tanya Rian gugup seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh sang Ibu.
"Ya, Ibu serius!" jawabnya.
"Bu, tapi,,," Rian tidak bisa meneruskan jawabannya karena ucapannya di sambar oleh sang ibu..
"Jangan membantah! Apa kamu tidak sadar dengan kondisi kita saat ini seperti apa, dan kamu selama ini selalu di bantu oleh Desy!" sang Ibu terdengar emosi.
________
Rian pun seakan tidak percaya sang Ibu terlihat begitu emosi. Rian belum pernah melihat sang Ibu semarah ini kepada dirinya kalau ke Papanya Rian sering melihat Ibunya marah, tapi kepadanya baru kali ini dan ini membuat hati Rian gelisah.
"Bu,,," ucap Rian lirih dan matanya berkaca-kaca dia pun seakan menyadari jika akhir-akhir ini sang Ibu banyak pikiran karena bisnisnya selalu saja ada yang menipu dan tidak lancar dan uang yang diberikan Desy pun sudah tidak tersisa lagi.
"Kamu harus sadar Rian, kamu mau bayar uang yang 300 juta kepada Desy, uang dari mana!? Apa kamu mau pinjam uang dari teman kamu sedangkan teman kamu pinjam dari temannya lagi. Apa itu tidak akan di pakai oleh pemiliknya. Kamu harus mikir ke arah sana. Jika kamu akan membayar uang besok ke Desy, Ibu tahu itu uang simpanan kamu buat modal Kafe. Apa kamu mau begitu saja menutup Kafe tersebut sedangkan Kafe tersebut sedang ramai," sang Ibu menatap lekat ke arah bola mata sang anak.
Rian nampak seperti sedih dan kecewa dengan keputusan sang Ibu yang harus menikahi Desy bulan depan. Rian tidak punya pilihan selain harus menikahi wanita yang kini tidak dia inginkan karena rasa sayang dan cinta seakan sudah pupus sudah di hati Rian.
Rian hanya diam pandangan matanya seakan kosong, dan sang ibu nampak berlalu dari hadapan Rian menuju kamarnya.
_______
Rian memasuki kamar.
Dia merebahkan badannya di kasur dan nampak menatap langit-langit kamar dan kedua matanya terpejam, dia mengingat saat dulu ketika dia selingkuh dengan Desy dari istrinya. Saat itu cinta begitu menggebu karena hawa napsu namun seiring waktu berjalan rasa itu seakan pudar sudah tidak hinggap lagi, sekarang yang ada hanyalah kebencian yang menyelimuti karena rasa egois dan kesombongan.
•••
Cinta yang tulus dan abadi adalah cinta yang saling memiliki perasaan bukan salah satu saja yang memiliki perasaan itu. Jika salah satu selalu berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkannya sedangkan pasangannya cuek maka rasa kasih dan cinta tidak akan berkembang dan mengisi.
__ADS_1
Bersambung...