
Tiba di rumah Tante Restu.
Setelah berada di rumah Tante Restu, Lia pun merebahkan badannya di kamar Tante Restu. Nampak terlihat mukanya sangat lelah seakan banyak yang dipikirkan.
Tante Restu menatap lekat wajah Lia, sang Tante pun seakan merasa kasihan terhadap keponakannya tersebut. Mengingat orang tua Lia yang begitu sibuk dengan urusan bisnisnya. Pertemuan Lia dan kedua orang tuanya begitu jarang terjadi, Lia pun seakan tidak peduli dengan kedua orang tuanya, karena jika Lia ingin bertemu dengan kedua orang tuanya, mereka selalu memberikan alasan dengan kata (Sibuk).
Lia jika mempunyai masalah lebih baik bicara dengan sang Tante, daripada mengadu kepada kedua orang tuanya.
_____
"Lia, ayah dan ibumu besok katanya mau datang ke sini," ucap sang Tante.
"Apakah Tante sudah bicara dengan orang tuaku, bahwa aku sedang ada masalah dengan Rian?" tanya Lia dihinggapi rasa penasaran. Lia seakan takut jika sang Tante bicara kepada orang tuanya, bahwa Rian berselingkuh dengan Desy sahabatnya itu.
Karena orang tua Lia sudah dekat dengan Desy, dan mereka pasti akan terkejut ketika mendengar Rian berselingkuh dengan sahabatnya sang anak.
"Enggak, Tante nggak ngomong sama orang tua kamu. Mungkin kebetulan saja orang tua kamu mau datang ke rumah Tante, dan Tante hanya bilang Lia sedang di rumah Tante," ucap sang Tante mencoba menjelaskan terhadap Lia, bahwa sang Tante tidak bicara kepada orang tua Lia, apa yang sedang menimpa sang anak yang sebenarnya, bahwa Rian sedang berselingkuh.
"Syukurlah kalau begitu, pokoknya Tante jangan sampai bilang bahwa Rian berselingkuh dengan sahabatku," ucap Lia seakan mengancam sang Tante dengan pandangan matanya lekat ke arah bola mata Tante Restu.
___
"Kasihan Lia sepertinya dia sangat tertekan dengan perselingkuhan Rian, dan sahabatnya itu." gumam sang Tante.
"Ya sudah Tan, Lia ngantuk banget. Lia mau tidur dulu ya," ucap Lia seakan memohon jangan diganggu oleh sang Tante karena dia ingin beristirahat untuk menenangkan pikirannya tanpa ada gangguan dari siapapun dan ponsel Lia pun dia matikan.
Tante Restu pun menutup kamar tersebut dengan rapat, dia tidak mau mengganggu keponakannya yang sedang lelah memikirkan sang suami yang tengah berselingkuh.
____
Lia melihat langit-langit kamar. Dia berusaha memejamkan matanya, nampak bayangan Desy yang tengah meringis kesakitan karena ditampar oleh tangan lembutnya tadi pagi.
Lia berpikir mengapa dia sangat kasar terhadap Desy tadi pagi, mengingat dahulu dia begitu sayang dan lembut terhadap Desy.
Lia sudah menganggap Desy seperti adiknya sendiri, dan Desy adalah sesosok malaikat yang berbentuk manusia karena disaat sedang ada masalah apapun, Desy selalu dengan setia mendengarkan, dan Desy pula yang selalu mengajak Lia untuk berekreasi untuk menghilangkan penat.
Dahulu pun ketika orang tuanya sibuk bekerja, sosok Desi lah yang selalu hadir dan membuat Lia tertawa lepas.
"Des, kamu kenapa mengkhianati aku? Kamu kan tahu, aku butuh kasih sayang dari seorang sahabat karena orang tuaku tidak memberikannya kepadaku karena mereka sibuk, dan setelah aku menikah kudapatkan kasih sayang dari Rian, tapi mengapa kasih sayang dari suamiku seakan sirna karena direbut oleh kamu," gumam hati Lia.
Nampak di ujung matanya bulir putih pun menetes, Lia seakan tidak mampu menahan air mata itu.
Air mata kesedihan yang diberikan oleh sang sahabat yang dia percaya seseorang yang begitu baik dan penuh perhatian.
__ADS_1
Lia hanya dapat mengelus dada Lia pun mencoba menghilangkan bayangan Desy dari pikirannya.
_____
Drett... Drett... Drett
Suara bunyi telepon terdengar begitu nyaring dari ponselnya milik Tante Restu. Nampak terlihat di layar ponsel nama Rian muncul.
"Pasti Rian mau menanyakan Lia," gumam hati sang Tante.
Tante Restu pun seakan ragu untuk mengangkat teleponnya tersebut, karena sang Tante masih menyimpan rasa kesal dan kecewa terhadap Rian.
"Aku angkat jangan ya, teleponnya. Kalau Rian menanyakan Lia, aku mesti jawab apa!" kembali sang Tante berpikir.
Sang Tante menghela napas secara perlahan, akhirnya dia pun mengangkat sambungan teleponnya.
{"Halo, Rian, ada apa?"} ucap sang Tante di sambungan teleponnya. Terdengar begitu serius dan ketus ketika berbicara.
{"Tante, maaf mengganggu. Ada Lia?"}
tanya Rian. Nampak terdengar jelas oleh sang Tante, Rian begitu dihinggapi rasa khawatir terhadap sang istri.
"Aku harus bilang apa? Ada atau Tidak!" gumam hati sang Tante dihinggapi rasa bingung dalam dirinya.
{"Iy-iya, kenapa?"} tanya kembali sang Tante. nampak Tante Restu gagal fokus ketika berbicara dengan Rian.
{"Lia ada di sana?"} tanya Rian kembali.
_____
Tante Restu pun akhirnya mau bicara dengan jujur karena dia pun takut jika Rian mengkhawatirkan Lia dan imbasnya ke anaknya Cantika, pasti Cantika dihinggapi rasa cemas karena sang Mama belum kembali datang ke rumah.
Tante Restu tidak mengetahui kalau Cantika sedang berada di rumah Tante Dini, dia pikir Cantika setelah pulang dari Singapura Cantika tidak menginap di rumah Tante Dini.
_____
{"Iya, Lia ada di rumah Tante, dan besok kedua orang tuanya mau mengunjungi Tante kesini," ucap sang Tante.
{"Oh, besok ada orang tuanya Lia datang ke sana? Iya Tan, Rian sudah menghubungi Lia beberapa kali tapi teleponnya sedang tidak aktif mungkin dia sedang istirahat ya Tan?" ucapnya kembali.
Rian seakan mengerti dengan kondisi Lia jika sedang ada masalah atau badannya lelah, Lia selalu mematikan ponselnya agar dia tidak diganggu oleh siapapun.
{"Iya, Lia sedang tidur dan badannya sedikit demam. Mungkin kecapean dia,"} ucap sang Tante kembali seakan tidak mau jika keponakannya itu pulang sekarang karena kondisi badannya sedang tidak sehat setelah terjadi percekcokan dan menampar keras sang sahabat.
__ADS_1
_____
Tante Restu seakan tahu isi hati dari Lia.
Lia sedang mengalami gangguan mental yang tertekan oleh sang sahabat yang telah merebut suaminya.
{"Bilangin sama Lia, dia mau pulang jam berapa ke rumah? Soalnya Ibu Viona mau datang sore ke rumah, dan mau menginap."} ucap Rian.
{"Oh, mertuanya Lia mau datang sore ini, dan mau menginap,"} ucap sang Tante.
{"Iya Tan, tolong bilangin sama Lia ya,"} ucap Rian. Setelah itu Rian pun menutup sambungan teleponnya.
_____
"Gawat kalau Lia pulang ke rumahnya, dan bertemu dengan Ibu mertuanya karena dia sedang banyak pikiran, kalau ibu mertua baik nggak apa-apa, Lia bisa curhat. Nah, ini Ibu mertuanya sangat cerewet dan suka mengatur. Apa nggak stres Lia?" gumam hati sang Tante.
Tante Restu menatap jam yang berada di dinding, nampak terlihat di sana Jam menunjukkan pukul 1 siang. Tante Restu tidak tega jika harus membangunkan Lia dalam keadaan badannya kurang fit, di lain sisi Tante Restu pun harus membangunkan Lia dari lelapnya tidur, karena Ibu Viona mau datang ke rumahnya.
Tante Restu dihinggapi sebuah dilema dia hanya termangu duduk di kursi sofa.
"Mungkin tunggu 1 jam lagi baru aku akan membangunkan Lia, kalau sekarang aku bangunkan Lia, aku tidak tega karena dia baru saja tidur," gumam hati sang Tante.
_____
Jam menunjukkan pukul 2 siang, Tante Restu pun menyeret langkah kakinya ke dalam kamar, di mana Lia sedang tertidur pulas.
Krekkkk...
Secara perlahan tanpa Restu membuka pintu kamarnya, nampak terlihat Lia begitu pulas tertidur. Tante Restu pun menghampiri Lia, ditatap lekat keponakannya itu dengan rasa iba, nampak terlihat dari raut wajah Lia dihinggapi rasa yang teramat sedih, matanya sembab karena dia sudah menumpahkan air mata kesedihan yang ditorehkan oleh sang sahabat.
Tak terasa bulir putih pun menetes di ujung pelupuk mata sang Tante.
"Aku tidak tega untuk membangunkan Lia yang sedang tertidur lelap," gumam hati sang Tante.
Tante Restu mengelus rambut sang keponakan dengan lembut, lalu dia mencium keningnya Lia.
"Sejak kecil kamu dekatnya dengan Tante, tidak dengan kedua orang tuamu. Dulu ketika orang tuamu pergi ke luar negeri selama kurun waktu cukup lama, kamu dititipkan oleh kedua orang tua kamu kepada Tante. Jadi Tante menganggap kamu seperti anak Tante sendiri," gumam Tante Restu ketika mengingat masa lalu, keponakannya tersebut.
Tetesan air mata dari Tante Restu tidak terasa menetes ke pipi Lia, Tante Restu tidak menyadari hal itu, Lia pun akhirnya terbangun dan menggeliatkan tubuhnya karena dia merasa ada tetesan air mata yang terasa menetes ke hamparan pipinya.
Nampak terlihat ketika membuka matanya secara perlahan, Lia terkejut karena begitu lekat di wajahnya, ada sesosok wanita yang begitu sayang dan perhatian, sangat terasa menyentuh perasaannya, yaitu Tante Restu yang selalu setia menemaninya di saat hatinya sedang menyimpan rasa pilu.
"Tante.." ucap Lia menatap lekat sang Tante dengan rasa khawatir karena sang Tante nampak sedang meneteskan air mata.
__ADS_1
Bersambung...