
Tok...Tok...Tok
"Mah, buka pintunya," ucap Rian, mengetuk pintu beberapa kali.
Nampak tidak ada jawaban di sana.
"Mah, ini Cantika," Cantika pun mengetuk pintu kamar yang disuruh oleh Rian karena kalau Cantika yang mengetuk pintu, Rian berpikir pasti sang istri akan membukanya.
Krekkkk
Pintu pun terbuka dengan lebar, nampak di hamparan pipinya air mata membasahi.
Sontak sang anak terkejut dan dihinggapi rasa khawatir.
"Mah, kenapa?" tanya sang anak, memeluk sang Mama.
"Mama enggak apa-apa Sayang, Mama mau ngobrol dulu sama Papa, Cantika sama Tante Restu dulu ya," ucap Lia sambil mengusap lembut rambut anaknya.
___
Cantika pun menganggukkan kepalanya, dan berlalu dari hadapan Mama dan Papanya.
Setelah Rian memasuki kamar lalu Lia menutup pintunya.
Nampak Rian dihinggapi rasa tanda tanya, dalam benaknya berpikir pasti dia akan diinterogasi lagi oleh sang istri.
"Pah, tenyata seminggu ini ketika aku berada di Singapura, kamu berselingkuh kembali dengan Desy, dan Desy rasanya tidak kapok setelah ku tampar pipinya. Pagi tadi kembali aku tampar pipi dia!" ucapnya dengan nada bicara penuh kesal.
Berdebar dada Rian tatkala mendengar dari mulut sang istri bahwa dia telah menampar kembali Desy.
"Apa benar yang kamu katakan Lia!" tanya Rian nampak terkejut.
"Ya, tadi pagi, aku ke rumahnya, dan kenapa si Desy seakan tidak berdosa! Tidak tahu malu wanita itu," Lia mencoba menahan amarahnya agar tidak menggebu karena takut terdengar oleh sang Ibu mertua.
"Kenapa kamu lakukan itu!?" Rian terlihat marah seakan tidak rela jika kekasih gelapnya dianiaya oleh Lia.
"Karena kamu, suami aku! Jadi aku berhak menggambar wanita pelakor itu!" sambung lagi Lia, dan menatap Rian dengan penuh kebencian.
"Kamu tidak tahu malu Lia, sampai datang ke rumahnya dan kamu tidak tahu kan, kalau seminggu ini aku sibuk kerja," Rian kembali mengelak dan tidak mengakui perselingkuhannya dengan Desy.
"Yang tidak tahu malu itu, aku atau kamu!" tegas Lia tersulut emosi
"Kamu tahu dari mana kalau aku kembali lagi sama Desy seminggu kemarin?" tanya Rian lagi dihinggapi rasa penasaran. Dia pun berpikir pasti Teh Sumi yang memberi tahu, karena yang tahu dia pulang sampai larut malam, adalah Teh Sumi sang ART tersebut.
"Itu tidak penting dan tidak perlu kamu tahu, sebagai seorang istri, aku merasakan gelagat yang tidak baik yang dilakukan oleh suami ketika istri pergi dari rumah," Lia terlihat semakin berani mengungkapkan perasaan kesalnya kepada sang suami.
"Sudah, cukup! Aku nggak mau bahas masalah ini lagi," ucap Rian terlihat geram.
"Harus dibahas dan perlu di luruskan. Mungkin kamu mau berpoligami?" tanya Lia seakan menantang. Saking dia kesalnya sama sang suami.
"Oh, jadi kamu menantang aku berpoligami!" Rian menatap kesal.
"Bukan menyuruh kamu berpoligami! Tapi, kamu mungkin ada niat berpoligami," ucap Lia dengan nada bicara meninggi yang mengakibatkan seisi rumah mendengarnya.
__ADS_1
Bruk
Tiba-tiba pintu ada yang mendorong dari arah luar kamar, nampak Ibu Viona tengah berdiri tegak di pintu kamar.
"Lancang kamu Lia!" ucapnya dengan tatapan mata melotot ke arah sama menantu.
Otomatis Lia dan Rian terkejut tatkala melihat sang Ibu tengah berada di depan pintu dengan mata melotot.
"Bu..." ucap Rian.
"Kamu kenapa Lia! Seperti orang yang sedang kesurupan, ngomong nggak sopan, Teriak-teriak. Mungkin terdengar oleh tetangga," ibu Viona terlihat begitu kesal terhadap menantunya itu.
Lia menundukkan kepalanya, dia seakan tidak mau melihat sang Ibu mertua yang sedang ngoceh tidak jelas.
"Ada apa, Nak?" tanya Ibu Viona kepada Rian, nampak terlihat Ibu Viona seakan membela sang anak, dan menatap sinis kepada sang menantu.
"Hanya selisih paham Bu," Rian tersenyum tipis kepada sang Ibu dan menggandeng tangan ibunya menuju keluar kamar.
Rian tidak mau masalah dia bersama sang istri menjadi lebar dengan ikut campur sang Ibunya itu yang notabene benci terhadap menantunya itu.
_______
Rian pun menutup rapat kamarnya lalu membawa ibunya ke kursi sofa.
"Sebenarnya ada apa sih kamu dengan Lia?" tanya sang ibu dihinggapi dengan rasa penasaran.
"Hanya salah paham Bu," ucap Rian mencoba mengatur detak jantungnya yang berdetak lebih kencang seakan tidak karuan.
nampak oleh Rian dan ibu Fiona tante Restu memasuki kamar Lia.
"Ada apa Tantenya Lia masuk ke kamar?" ucap sang Ibu kepada Rian.
Rian menghela napas panjang, dalam hatinya berpikir pasti Tante Restu akan membicarakan masalah Desy kembali kepada sang istri. Rian pun tampak gelisah terlihat dari raut mukanya, dia takut jika nanti Tante Restu berbicara terhadap Ibunya, bahwa dia tengah berselingkuh dengan Desy.
kalian beberapa kali mengi p peluhnya yang mulai bercucuran.
"Kenapa kamu Nak? Enggak enak badan?" tanya sang Ibu dihinggapi rasa khawatir
Rian menggelengkan kepalanya
"Enggak apa-apa kok, Bu. Cuma kecapean saja," ucap Rian.
_____
Satu jam kemudian, Lia keluar dari dalam kamar nampak Lia membawa tas besar, sehingga membuat Ryan dihinggapi rasa berpikir mau kemanakah sang istri dengan membawa tas besar.
"Aku mau kembali ke rumah Tante Restu, orang tuaku ada di sana," ucapnya tanpa memandangi wajah sang suami.
"Mah, ikut.." ucap Cantika.
"Ayo, Sayang. Kamu tunggu di dalam mobil ya Jawab Lia. tersenyum manis kepada sang anak. Tidak nampak Tante Viona karena baru saja dia memasuki kamar sedang istirahat tidur.
"Tolong bilangin sama ibumu aku pergi." ucap Lia tanpa tersenyum sedikitpun terhadap sang suami.
__ADS_1
Ryan hanya mengganggukan kepalanya dan tersenyum tipis tanpa berkata sedikitpun terhadap sang istri.
"Aku mau membicarakan tentang keadaan rumah tangga yang sudah mulai tidak sehat kepada orang tuaku," ucap Lia sambil berlalu dari hadapan Rian.
Degh..
Dada Rian terasa terhentak tatkala mendengar ucapan dari sang istri, bahwa dia akan bicara dengan kedua orang tuanya mengenai keadaan rumah tangga yang dia jalani, yang kurang sehat saat ini.
_____
Rian tidak menyangka Lia akan berani bicara tentang keadaan rumah tangganya kepada kedua orang tuanya. Rian tahu sifat istrinya itu seperti apa. Lia tipe anak yang tidak pernah berbicara masalah apapun terhadap sang orang tua, mungkin karena sudah sesak hati dan pikiran Lia terhadap sang suami jadi Lia berpikir inilah saatnya dia ungkapkan semua rasa sesaknya kepada kedua orang tuanya.
_____
"Lia, apa kita tidak bicara secara baik-baik saja, kamu jangan tersulut emosi," ucap Rian seakan tidak mau jika masalah rumah tangganya yang sedang hancur di ketahui oleh kedua orang tuanya Lia.
"Sudah, Sudah cukup, aku sudah capek dengan semua ini. Kamu bersandiwara terus di hadapanku," tegas Lia matanya berkaca-kaca seakan ada air matanya akan menetes di hamparan pipinya.
"Ayo Lia cepat, keburu bangun ibunya Rian. Nanti kamu tidak bisa menemui orang tua kamu," sindir sang Tante menarik tangan Lia agar segera keluar dari rumah itu.
"Tante tolong ya, Tante jangan mencampuri urusan rumah tangga saya," Rian melotot ke arah Tante Restu.
Sontak Tante Restu terkejut ketika melihat Rian yang sedang emosi kepada kepadanya.
"Maaf Rian, Tante bukan mau ikut campur urusan rumah tangga kamu, tapi Tante iba dan kasihan dengan Lia," Tante menghela napas secara perlahan dan menatap Lia.
"Kurang gimana Lia terhadap kamu selama ini, dia sabar. Jamu berselingkuh sudah dua kali mungkin ini saatnya Lia bertindak terhadap kamu. Kesabaran dia sudah habis kalau Tante lihat. Makannya dia mau mengadu kepada orang tuanya, kamu kan tahu sendiri Lia itu orangnya tidak pernah bicara apapun terhadap orang tuanya, mungkin karena terlalu sakit hati dan perasaannya, jadi dia mau bicara dengan kedua orang tuanya," kembali Tante Restu menyerang Rian, pandangan mata sang Tante lekat menatap ke arah bola mata Rian.
Rian pun menunduk seakan ada penyesalan, nampak terlihat dari bola matanya ada genangan air mata penyesalan.
_____
Tante Restu menarik tangan Lia dengan kasar menuju ke dalam mobil, kali ini Tante Restu yang mengendalikan kemudi mobil.
Tanpa menoleh ke arah Rian yang sedang termangu melihat mobilnya Lia yang akan keluar dari gerbang. Tante Restu pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
_____
Di dalam mobil.
Lia sesenggukan menangis di dalam mobil, dia seakan tidak mampu membendung cucuran air mata yang menetes deras di hamparan pipinya.
"Sudah Lia, kamu jangan menangis. Biar Tante nanti yang bilang kepada kedua orang tuamu, bahwa Rian berselingkuh selama ini, dan tidak menghargai mahligai pernikahan," ucap Rian mencoba menyabarkan hati Lia.
Sang anak nampak terlihat berkaca-kaca seakan merasakan kegetiran hati Mamanya tersebut.
"Tan, Mama kenapa sih?" tanya Cantika, anak itu mungkin tahu perselisihan yang terjadi di antara kedua orang tuanya namun dia berusaha menyembunyikan rasa tahunya, karena dia tidak mau membuat sang Mama lebih khawatir jika anak tersebut mengetahui perselingkuhannya dengan Desy, sahabat Mamanya sendiri.
"Mama hanya kecapean Sayang, sudah Cantika tidur saja di mobil nanti kalau sudah sampai, Tante bangunkan," ucap sang Tante dengan pandangan fokus tetap menyetir.
Lia nampak memijit pelipis keningnya yang terasa pusing, pikirannya terus melayang memikirkan sang suami.
Bersambung...
__ADS_1