Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 188 Rasa getir dalam diri Rian


__ADS_3

Sementara disana Rian dan sang Ibu nampak sedang melamun karena konveksi yang dia jalani bersama temannya tidak jalan.


"Rian, Ibu bingung mungkin bulan depan kita tidak bisa membayar kontrakan ini karena uang kita sudah menipis. Apa kamu tidak menyadarinya," ucap sang Ibu kepada Rian.


Rian hanya menghela napas panjang.


"Habis mau gimana lagi Bu," jawabnya.


"Kamu cari kerja serabutan apa saja," ucap sang Ibu terlihat seperti kesal terhadap sang anak karena nampak tidak berubah sifat dan kelakuannya seperti anak kecil.


"Kerja dimana Bu, susah cari kerja," jawabnya.


"Sementara jadi supir kata teman Ibu yang punya kontrakan ini butuh supir pribadi," ucap sang Ibu.


"Memang Ibu sudah ketemu dengan yang punya kontrakan rumah ini?" tanya Rian dihinggapi rasa penasaran karena sebelumnya sang Ibu sudah bercerita kalau yang punya kontrakan belum bertemu sama sekali dengan Bu Viona jadi yang menagih uang bulanan kontrakan hanya suruhannya.


"Belum, Ibu kata yang suka nagih uang kontrakan. Katanya sedang perlu karyawan untuk supir pribadinya," ucap sang Ibu.


"Ya, sudah Bu, enggak apa-apa Rian mau menerima kerja disana walau malu jadi supir pribadi," jawab Rian yang gengsinya sangat tinggi.


_______


Sang Ibu pun mencoba menelepon orang suruhan yang mempunyai kontrakan tersebut dan mengatakan bahwa anaknya akan kerja menjadi supir pribadi yang punya kontrakan tersebut.


{"Boleh Bu, nanti saya akan sampaikan,"} jawab suruhan yang mempunyai kontrakan.


{"Jangan di berikan kepada orang lain ya, pekerjaannya karena anakku butuh sekali,"} ucap Bu Viona.


{"Baik Bu, nanti saya kabari ya. Saya akan bicara dulu sama yang punya rumah kontrakan. Beliau sedang diluar kota sekarang jadi nanti kalau sudah pulang dari luar kota saya bicara langsung,"} jawabnya.


{"Baik, terima kasih ya,"} ucap sang Ibu.


Akhirnya sambungan telepon pun terputus.


_______


Tok...Tok...Tok...


Tiba-tiba terdengar ada yang mengetuk pintu beberapa kali ke rumah kontrakan Bu Viona. Sontak Bu Viona dan Rian pun pandangan mata mengarah ke pintu.


"Siapa ya?" tanya sang Ibu melirik arah Rian.


Rian menggelengkan kepalanya dan Bu Viona pun tanpa pikir panjang dia pun membuka pintu, dan setelah pintu terbuka nampak seorang Ibu muda tengah berdiri tegak didepan pintu rumah kontrakan.

__ADS_1


"Cari siapa Neng?" tanya Bu Viona.


"Saya cari Bu Viona, apa betul ini rumah Bu Viona?" tanya Ibu muda tersebut.


"Ya, saya sendiri Bu Viona, ada perlu apa ya," ucap Bu Viona terlihat dihinggapi rasa penasaran dengan seseorang yang datang tersebut.


"Saya Fani dan saya mau menawarkan pekerjaan kepada Ibu. Kata tetangga disini Ibu perlu kerja kan, gimana kalau Ibu bekerja di rumah saya," sang tamu tersebut ternyata menawarkan pekerjaan kepada Bu Viona.


_____


Memang tidak bisa dipungkiri Bu Viona sedang butuh pekerjaan dan dia beberapa hari kemarin bicara kepada tetangga disekitar. Jika ada lowongan pekerjaan dia mau bekerja apa saja untuk menutupi kebutuhan hidupnya.


"Iya, saya butuh kerja. Pekerjaan yang Neng Fani berikan apa ya?" tanya Bu Viona.


"Sebagai ART Bu," jawabnya.


DEGH...


Sontak Bu viona jantungnya berdetak lebih cepat ketika yang ditawarkan kepadanya sebuah pekerjaan ART karena notabene Bu Viona adalah seorang wanita yang dulu dengan usaha bisnisnya yang boleh dibilang sangat berlimpah uangnya dan dari segi penampilan cukup enak dipandang sekarang harus bekerja sebagai ART.


•••


"Bu,,,," Rian tiba-tiba memanggil sang Ibu dari arah dalam rumah dan nampaknya Rian mendengar percakapan sang Ibu dengan tamu tersebut.


"Sebentar ya, Neng, anakku manggil. Silahkan duduk dulu," Bu Viona menawarkan tamu tersebut untuk duduk di kursi teras rumah yang nampak sempit.


Fani pun nampak duduk di teras rumah.


_____


"Apa, Nak!" sang Ibu tiba-tiba datang.


"Apa Rian tidak salah dengar Ibu di tawarin kerja sebagai ART?" tanya Rian dengan mengernyitkan dahi seolah tidak setuju jika sang Ibu bekerja sebagai ART.


"Tapi Ibu perlu uang buat makan kita Nak, Ibu hubungi teman-teman, mereka seakan sudah tidak peduli," ucap sang Ibu terlihat nampak sedih dan kecewa dengan keadaan.


Rian pun nampak bingung sedangkan dia tidak bisa menjamin makan sehari-hari untuk saat ini atau tidak bisa memberikan secara layak masalah finansial.


"Sebenarnya Ibu malu jika harus bekerja sebagai ART," sang Ibu pandangannya menunduk.


Rian hanya menghela napas panjang.


"Tapi terserah Ibu saja Rian tidak bisa berbuat apa-apa untuk sementara ini. Dan semoga Rian mendapatkan pekerjaan yang layak kedepannya agar Ibu tidak bekerja," ucap Rian dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Sang Ibu sangat lama menatap sang anak kemudian dia pun berlalu dari hadapan sang anak lalu menemui kembali tamu yang sudah menunggu keputusan dari Bu Viona.


_____


"Neng Fani boleh kalau begitu saya menerima pekerjaan sebagai ART tapi dimana alamat Neng Fani dan kapan saya mulai bekerja?" tanya Bu Viona.


"Mulai besok enggak apa-apa Bu, dan rumah saya berada di kompleks tepat di depan kampung ini," jawab Fani tersenyum bahagia karena dia sudah menemukan calon ART.


"Neng Fani sehari-hari bekerja atau ada di rumah?" tanya Bu Viona.


"Saya bekerja Bu, dan kebetulan anak saya baru satu. Dia duduk di bangku SD kelas 3 dan saya menitipkan anak saya kepada Ibu nantinya karena dia pulang pukul 12 siang, dia tidak ada teman di rumah, tapi jangan khawatir ada supir di rumah saya. Selain Ibu membereskan dan memasak di rumah saya. Tidak apa-apa kok setelah saya pulang kerja sekitar pukul 5 sore, Ibu boleh pulang dan kalau hari minggu Ibu libur," ucap Fani tamu tersebut.


________


Bu Viona nampak menganggukkan kepalanya, dia sepertinya mengerti dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Fani majikan barunya itu.


"Ini alamat saya, Bu," Fani pun memberikan kartu nama nya kepada Bu Viona.


Dan tanpa membaca alamat yang tertera di kartu nama tersebut kemudian Bu Viona dengan spontan memasukkan kartu nama tersebut kedalam saku bajunya.


"Bu, besok datang saja sebelum pukul 6 pagi ya, karena jarak dari sini ke kompleks cuma 10 menit jadi jam 6 Ibu bisa masak dulu untuk menyiapkan sarapan untuk saya dan suami juga anak saya," ucap Fani.


Bu Viona menganggukkan kepalanya dia pun seakan mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh majikan barunya tersebut.


"Oh, iya Bu, gajinya saya kasih perminggu 1 juta," ucap Fani.


_______


Sontak mata Bu Viona terbelalak dengan nominal gajinya tersebut menurutnya nominal dengan gaji 1 juta per minggu cukup besar karena untuk saat ini keadaannya sedang susah.


"Wah, terima kasih ya Neng," ucap Bu Viona tersenyum puas.


Akhirnya Fani pun pamit kepada Bu Viona dan nampak Bu Viona dengan cepat berlalu masuk ke dalam rumah dan ketika di dalam rumah dia menyampaikan rasa gembiranya kepada Rian dengan gaji yang di berikan oleh majikan barunya.


Nampak Rian tersenyum getir matanya berkaca-kaca.


"Bu, maafkan Rian, Ibu mendapatkan gaji 1 juta saja seminggu sudah senang luar biasa. Dulu 1 juta Ibu habiskan cuma 2 jam untuk makan di Restoran," gumam hati Rian nampak matanya berkaca-kaca.


Bersambung...


Jangan lupa baca karya Novel terbaruku.


"Terjebak Cinta Tetangga"

__ADS_1


__ADS_2