Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 175 Desy tersenyum puas dan dihinggapi rasa malu


__ADS_3

Desy pun tiba di rumahnya Citra.


Nampak keadaan rumah Citra sedang ramai karena terlihat dari mobil yang berjejer di garasi halaman rumahnya itu.


"Apa benar ini rumahnya Citra!?" tanya Bu Viona kepada Desy. Matanya berselancar melihat rumah Citra yang begitu luas pekarangannya dan nampak banyak orang disana.


"Iya ini rumahnya Citra, aku enggak salah Bu. Waktu itu aku sama Mas Rian datang kesini," ucap Desy yakin.


"Ibu ragu untuk masuk ke rumahnya Des," ucap Bu Viona seakan mengurungkan niatnya untuk memasuki rumah tersebut.


"Loh, kenapa Bu, kita datang kesini untuk menagih utang bukan untuk meminta." jawab Desy dengan merapikan bajunya.


"Ragu karena banyak orang kita malu kalau nanti menyerang Citra," ucap Bu Viona kembali.


"Justru ini kesempatan kita Bu, banyak orang mungkin itu saudara Citra semua sedang berkumpul dan kesempatan kita untuk mempermalukan dia di depan keluarga besarnya," ucap Desy tersenyum puas.


Sang Ibu menghela napas panjang dia pun mencoba menetralkan detak jantungnya yang kian tidak terkontrol.


_______


Ceklek...


pintu mobil terbuka dan nampak Desy turun dari dalam mobil dengan muka yang menampakkan kesal dan berani. Begitupun dengan Bu Viona dia nampak keluar dari dalam mobil dengan muka yang nampak serius.


"Ayo, Bu, pasti kita berhasil untuk mendapatkan uang dari si pelakor itu!" ucap Desy dengan jantung berdetak dag-dig-dug tidak karuan.


Ketika langkah Desy dan Bu Viona sampai di teras rumah tiba-tiba terhenti karena ada yang menyapanya dari arah belakang.


"Mau bertemu siapa ya?" tanya lelaki tua paruh baya. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi tapi terlihat selagi muda lelaki tersebut mempunyai wajah yang tampan dan badan yang gagah.


Dengan spontan Desy dan Bu Viona melirik


kearah belakang dimana suara tersebut berada.


"Saya mau cari Citra! Apa Citra ada. Maaf ini dengan siapa ya?" tanya Desy balik nanya kepada lelaki tersebut.


"Saya, Bapaknya Citra," jawab lelaki tersebut.


"Oh, kebetulan ya, Pak. Saya Desy istri dari Rian, dan Rian itu sekarang sedang ada hubungan dengan anak Bapak yaitu Citra, atau boleh dibilang Citra itu pelakor!" tegas Citra tersenyum sinis menatap lekat kearah Bapaknya Citra.


DEGH


Sang Bapak terasa jantungnya mau copot tatkala mendengar ucapan dari Desy bahwa Citra sang anak telah merebut suami dari wanita yang tengah ada di hadapannya itu.


"Bapak kaget ya, saya adalah Ibunya Rian," ucap Bu Viona tersenyum getir kepada Bapaknya Citra.


"Tujuan kita datang kesini untuk menagih utang karena anak Bapak mempunyai utang kepada suami saya sebesar 200 juta dan baru di bayar 100 juta. Pokoknya saya tidak mau tahu uang tersebut harus di bayar sekarang karena suami saya sedang bangkrut," ucap Desy terlihat emosi.


•••


Nampak mata sang Bapak terbelalak, dia seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Desy. Sang Bapak nampak menghela napas secara perlahan.


"Silahkan masuk dulu, kita bicarakan secara baik-baik, saya akan panggilkan anak saya dulu," ucap sang Bapak mempersilahkan tamu untuk duduk.


"Tidak perlu Pak, kami nunggu diluar saja!" jawab Desy terlihat tidak menampakkan senyum sedikitpun.


________

__ADS_1


"Ada apa ini!" tiba-tiba datang seorang Ibu yang nampak itu adalah Ibunya Citra.


"Ini loh Bu, mereka datang kesini untuk menagih utang kepada Citra, dan besar sekaki utangnya 100 juta lagi," bisik sang Papa ketika akan memasuki rumah.


"100 juta, apa aku enggak salah dengar," ucap sang Ibu dengan masih mematung di depan pintu. Dan tatapannya mengarah ke Desy dan Bu Viona.


"Selain itu mereka bilang Citra adalah pelakor dan dia itu adalah istri dan Ibunya lelaki yang sekarang tengah dekat dengan Citra," ucap sang Bapak kembali.


•••


DEGH...


Dada sang Ibu terasa berdesir tatkala mendengar apa yang di ucapkan oleh sang suami. Mungkin seperti petir di siang bolong karena tidak ada angin dan hujan mendengar sang anak yang mempunyai utang begitu besar dan yang lebih buat hati sang Ibu tidak percaya adalah sang anak adalah sang pelakor.


"Tidak mungkin!" ucap sang Ibu dengan menyeret langkah kakinya kearah Desy dan Bu Viona dengan tatapan tajam.


"Apa yang tidak mungkin Bu! Jelas-jelas anak Ibu punya utang ke suami saya dan dia adalah wanita pelakor. Kalau tidak percaya coba saja panggil kesini anaknya," ucap Desy mendelik dan terlihat menahan emosi.


________


Sang Ibu pun berlalu ke dalam rumah dan nampak menyeret tangan sang suami menuju kedalam rumah.


"Ini sungguh memalukan Pah, benar-benar memalukan," gerutu sang Ibu sambil berjalan kearah kamar Citra.


Dan nampak saudara yang hadir di rumah Citra seakan bertanya-tanya ada apa yang tengah terjadi karena Ibu dari Citra terlihat dihinggapi rasa emosi.


Sang Tante pun dan Om nya Citra keluar dari dalam rumah dan menanyakan hal tersebut kepada tamu yang datang. Apa yang sebenarnya terjadi dan dengan lantang Desy seakan mengumumkan kepada keluarga besar Citra yang tengah hadir karena kebetulan sedang diadakan acara arisan bulanan bahwa Citra adalah sang pelakor dan mempunyai utang yang cukup besar.


Sontak Tante dan Om nya Citra dihinggapi rasa terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh Desy dan Bu Viona.


"Tapi tidak mungkin kalau Citra itu pelakor!" bela sang Tante dengan pandangan mengarah ke Desy dan melirik Bu Viona.


______


PLAK


PLAK


Suara tamparan keras terdengar di dalam ruangan dan nampak suara Citra terdengar berteriak menangis dan ini membuat hati Desy dan Bu Viona gembira.


Nampak mereka tersenyum puas karena mereka berpikir akhirnya Citra di tampar oleh Bapaknya dan dia di permalukan oleh Bapaknya sendiri.


"Puas kamu Citra, sukur!" gumam hati Desy.


Mendengar teriakkan dari Citra sontak sang Tante dan suaminya dengan cepat berlalu kedalam untuk meredamkan hati sang Kakak atau Bapaknya Citra yang sedang tersulut emosi.


_______


"Sudah, Kak, sudah, cukup! Kamu jangan tampar anak kamu. Biar aku yang bayar utangnya sekarang juga," ucap sang Tante terdengar membela Citra yang sedang di marahi oleh sang Bapak.


Terdengar jelas oleh Desy dan Bu Viona Citra terisak tangis.


"Ayo, keluar dan minta maaf. Temui istrinya lelaki yang sudah di rebut sama kamu!" paksa sang Bapak kepada anaknya itu.


"Tidak Pak, tidak sudi aku minta maaf sama wanita itu!" ucap Citra tersedu.


"Kamu salah dan sudah tega merebut suami orang dan lebih baik kamu minta maaf sama dia, cepat!" mata sang Bapak melotot.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mau minta maaf!" Citra tetap walau dipaksa untuk minta maaf kepada Desy dia seakan enggan dah harga dirinya mau di simpan dimana itu yang sekarang ada di benaknya Citra.


______


Sang Bapak terlihat menyeret citra untuk keluar rumah namun tetap Citra berontak.


"Mas, sudah, sudah, cukup! jangan di paksa!" ucap sang Tante membela citra.


"Kak, biar aku yang bayar semua utangnya Citra kepada wanita itu," ucap sang Tante.


"Sudah kalian jangan siksa anak kalian Citra kasihan. Dan kalian jangan pikirkan kapan bayarnya, kami ikhlas menolong," ucap suami Tantenya Citra


________


Sang Tante ditemani Ibunya Citra nampak keluar kembali menuju teras rumah untuk menemui di Desy dan Ibu Viona.


"Ini uangnya dan kalian pergi dari sini sekarang juga. Maafkan atas kesalahan anak kami selama ini karena telah mengganggu suamimu," ucap sang Tante dengan menyerahkan amplop coklat yang berisi uang 100 juta.


Nampak di dalam hati Bu Viona dan Desy dihinggapi rasa gembira karena mereka tidak sia-sia datang kesana dengan ada hasil.


"Bu, punya anak ajarin untuk memilih lelaki yang masih sendiri ya, dan jangan jadi pelakor!" sindir Desy kepada Ibunya Citra.


Sontak Ibunya Citra merasa tersinggung dengan apa yang di ucapkan oleh Desy.


"Kalau ngomong jaga ya!" sang Ibu melotot ke arah Desy.


"Sudah Kak, kita kok yang salah. Minta maaf saja Kak karena Citra salah," bisik sang Tante


_________


Ibunya Citra seorang yang egois dan dia begitu gengsi jika harus minta maaf meskipun anaknya yang salah. Dia hanya memalingkan muka dan nampak wajahnya cemberut.


"Ya sudah, kalau Ibu tidak mau minta maaf atas kelakuan anak Ibu yang selalu menggoda suami saya. Kita pamit pulang saja. Ayo, Bu, kita pulang karena pelakor itu sudah membayar utangnya," sindir Desy.


Desy dan Ibu Viona pun berlalu dari hadapan rumah Citra dan nampak saudara dari Citra berhamburan datang dari dalam rumah.


"Wanita itu juga pelakor kata Citra jadi sebelum nikah sama lelaki yang sekarang dia telah merebut dari sahabatnya," celetuk saudara Citra.


"Pantesan mukanya terlihat licik!" ejek sang Ibu dengan nada bicara cukup keras yang mengakibatkan wajah Desy dengan cepat menengok kearah belakang dan Desy pun merasa malu dengan sindiran yang di lontarkan oleh saudara Citra yang menyebutnya sebagai perebut suami orang dari sang sahabat.


Dada Desy bergemuruh dan dihinggapi rasa kesal campur aduk menjadi satu antara menahan rasa malu, marah dan kecewa. Namun dengan cepat sang Ibu mertua menggenggam erat jemari tangan Desy agar bisa mengontrol dirinya.


"Sudah Des, ayo, kita pergi cepat dari sini. Sabar Des, yang penting kita sudah dapat uangnya," ucap sang Ibu dengan menarik tangan Desy menuju mobilnya.


_______


Desy nampak melamun ketika sedang menyetir mobilnya bayangan seseorang yang tadi mengatakan bahwa dia perebut suami orang dari sang sahabat terasa kian terngiang hinggap di telinganya.


"Aku malu karena tadi banyak orang yang mendengarnya bahwa aku perebut suami orang dari sahabat. Kurang ajar itu orang, bisa-bisanya dia berucap seperti itu." gumam hati Desy nampak kecewa


Sang Ibu seakan tahu isi hati Desy, dia sedang sedih karena sakit hati mendengar sindiran tadi di katakan pelakor meskipun itu benar adanya.


"Sudah Des, jangan dipikirkan, mending kita dari sini pergi ke Mall belanja," rengek sang Ibu mencoba menghibur hati Desy.


Desy hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis kepada Ibu mertuanya itu, yang sama-sama keras kepala.


Bersambung...

__ADS_1


"


"


__ADS_2