Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 150 Pertemuan Lia dan Rian


__ADS_3

Adrian menatap lekat dari arah jauh kepada Rian yang sedang bicara dengan Tante Shila.


Beberapa kali dia mengucek matanya dan berpikir kalau dia salah lihat.


"Tidak, aku tidak salah lihat, itu benar Rian yang sedang bicara dengan Tante Shila, tapi ada hubungan apa Tante Shila dengan Rian?" ucap Adrian. Sepertinya Adrian tidak menyadari tadi, kalau Anita di telepon oleh Rian untuk mengembalikan kuncinya.


Adrian kemudian menutup sambungan teleponnya baru saja dia menerima telepon dari temannya Hendrik yang seperti biasa menanyakan kabar Adrian dan basa-basi karena temannya belum bayar utang.


•••


"Masuk dulu!" Tante Shila terdengar basa-basi kepada Rian Bos, adiknya itu.


"Terima kasih Kak," jawabnya dengan pandangan mengarah ke dalam halaman rumah, dan betapa terkejutnya hati Rian tatkala melihat sosok Adrian disana sedang berdiri dengan memegang ponselnya.


Dia berpikir mungkin Adrian adalah saudara dari Anita. Rian menatap lekat ke arah Adrian dan Adrian pun tengah menatapnya dari kejauhan nampak Rian gugup dan memalingkan wajahnya.


"Itu kan, suaminya Lia ngapain dia ada disini, mungkinkah dia saudaranya Anita?" gumam hati Rian. Seakan ragu Rian untuk tersenyum.


"Kak, kalau begitu saya pamit dulu," ucap Rian. Dia pun berlalu karena dihinggapi rasa gugup.


________


Di dalam mobil nampak Rian menggerutu dan dia dihinggapi rasa penasaran yang teramat karena baru saja dia melihat Adrian suami dari mantan istrinya itu. Tidak bisa dipungkiri rasa kesal dan cemburu masih hinggap menyelimuti hati dan pikirannya.


"Aku belum rela jika Lia menikah lagi dan sebenarnya pernikahan aku ini juga karena keterpaksaan dari Desy yang ingin di pandang oleh keluarga besarnya bahwa Rian sangat mencintainya.


Rian pun seakan ingin memperlihatkan kepada Lia dan Adrian bahwa dia sekarang ini tengah sukses dan tempat Kafenya akan di perbesar tempatnya.


"Aku ingin Lia dan suami barunya tahu bahwa aku sekarang sukses dan Kafe aku selalu ramai pengunjung. Pasti mereka akan iri, tidak hanya si Adrian saja yang maju tapi aku juga maju. Walaupun uangnya yang aku pakai untuk modal Kafe pinjam dari temannya Hendrik. Tapi aku tidak peduli dengan itu semua karena yang tahu Kafe itu modalnya pinjem hanya aku, Hendri dan temannya," gumam hati Rian tersenyum puas dan penuh angkuh sepertinya sifat sombong dari Desy saat ini seperti nurun terhadapnya.


Rian tidak menyadari dibalik kesombongan kafe dia sekarang ini begitu maju dengan pengunjung yang ramai, padahal ada orang yang mensupport masalah finansial yaitu temannya Hendrik yaitu Adrian.


________


Ting...


Bunyi pesan muncul dari ponsel milik Rian dan nampak di layar ponsel nama Hendrik muncul.


{"Sudah kembali ke Bandung? Kapan kita bertemu lagi.?} pesan yang di berikan oleh Hendrik membuat hati Rian gusar karena menyangkut uang utangnya itu. Padahal Hendrik tidak menagihnya kepada Rian.


{"Sudah, Hen,,,maaf ya, aku belum bisa bayar uang itu mungkin minggu depan baru bisa aku bayar ke temanmu itu,"} balas pesan Rian kepada Hendrik.


{"Iya, enggak apa-apa, semoga rezeki kamu lancar ya,"} jawab Hendrik.


••••


Ting ..


Nampak pesan muncul kembali dari Desy dan sepertinya dia memberikan pesan bahwa Rian harus segera pulang karena dia akan membicarakan masalah pelebaran Kafe.


Dan nampak di pesan tersebut terjadi perselisihan antara pengantin baru itu. Desy yang ingin sang suami segera pulang sedangkan Rian yang ingin kembali ke Kafe karena mau menuliskan laporan di laptop.


{"Ya, sudah kalau kamu susah di atur batalkan saja rencana untuk memperlebar Kafe,"} tulis pesan Desy tegas.


{"Gawat, kalau Desy marah takutnya dia benar-benar tidak jadi untuk memperlebar Kafe hanya gara-gara masalah sepele,"} gumam hati Adrian.


Adrian berpikir jika dia saat ini berantem dengan Desy dan tidak mengambil hati Desy takut Desy tidak memberikan uang tambahan membayar utang kepada Hendrik.


"Sepertinya saat ini aku harus mengalah dulu kepada Desy," gumam hati Adrian.


Mobil pun dia belokkan menuju rumahnya Desy karena semenjak dia menikah dia tinggal di rumah Desy tidak dengan Bu Viona.


______


Tiba di rumah.


Rian memeluk Desy dan menggodanya kebetulan Desy selesai mandi. Rian mencumbunya agar buat Desy melayang dan dengan mudahnya dia tergoda oleh sang suami, dan Rian berpikir dengan cara itu Desy akan terlena dengan bujuk rayunya dan akhirnya Desy memberikan uang untuk membayar utang ke Hendrik dan melebarkan Kafenya tersebut.


Desy yang haus pujian dan kasih dia terbuai dengan bujuk rayu sang suami.


"Istriku cantik dan kamu sangat menggoda aku, maafkan aku ya, karena aku kemarin ketika kita bulan madu telah menyinggung perasaan kamu," ucap Rian mencium dan memeluk tubuh Desy.


Desy nampak cemberut tapi Rian dengan cepat mencium bibirnya dengan nakal dan akhirnya Desy pun terbawa suasana.


"Sayang, aku perlu uang untuk membayar utang kepada temanku masih kurang 200juta, aku berharap kamu memberikan uang itu untuk suamimu yang sangat mencintai kamu," Rian memeluk erat dan membelai mesra.


"Arghhhh,,, iya, Mas, pasti aku kasih. Aku masih ada simpanan uang tersebut kok," Desy mencoba menetralkan deru napasnya yang kian memburu saat Rian menghujaninya dengan ciuman yang mesra.

__ADS_1


Desy pun dan Rian melampiaskan hawa nafsunya sebagai sepasang suami istri. Dalam hati Rian mencoba menggoda Desy dan menghujani cumbuan dan rayuan agar Desy mau melunasi utangnya kepada Hendrik.


_______


Setengah jam kemudian.


Mereka pun selesai mandi dan tiba-tiba pesan muncul dari Desy ke layar ponsel Rian.


Rian tersenyum lebar saat membuka gambar yang dikirim Desy berupa bukti Desy telah mentransfer sejumlah uang sebesar 250 juta.


"Memang Desy butuh pujian aku minta 200 yang dia kasih 250 juta," gumam hati Adrian.


"Terima kasih Des, kamu istri yang pengertian," Rian mengecup bibir Desy.


Desy tersenyum puas saat sang suami memperlakukan dia seperti itu. Dia merasa wanita yang paling bahagia karena tidak seperti biasanya sang suami memperlakukan dia seperti itu.


"Sayang, aku istri kamu. Aku merasa wanita yang paling bahagia di dunia ini. Aku ingin Lia dan Adrian tahu bahwa kita berhasil membuka Kafe yang besar dan laris. Bagaimana kalau kita bertemu dengan orang yang meminjamkan uang kamu itu?" Desy menatap lekat kearah sang suami.


"Maksud kamu temannya Hendrik?" tanya Rian.


"Ya, betul. Siapa tahu dengan bertemu dengan dia secara langsung dan kita memberikan bunga atau lebih uang tersebut kepadanya, dia akan tergiur dan dengan begitu kita akan diberikan lagi modal," Desy terlihat antusias.


"Maksud kamu modal tersebut untuk buka usaha Kafe baru kita lagi?" tanya Rian dihinggapi rasa penasaran.


"Ya, betul Mas, bisnis kita semakin berkembang dengan itu Lia dan Adrian akan cemburu," Desy tersenyum lebar.


Rian tertegun sejenak dan dia pun berpikir ide yang di ucapkan oleh Desy, ada benarnya juga. Entah kenapa Rian seakan terpengaruh oleh sang istri mempunyai sifat yang sombong sekarang ini.


_______


"Besok pagi saja kita bertemu dengan Hendrik dan temannya yang memberikan pinjaman modal." ucap Desy.


"Boleh juga karena uangnya sudah terkumpul dan dengan itu kita akan join dengan temannya Hendrik untuk buka Kafe yang baru, itu kan maksud kamu!?" Rian tersenyum penuh keyakinan.


"Betul Mas," jawab Desy dengan cepat.


"Ya, sudah pagi kita ketemu dengan Hendrik dan semoga temannya Hendrik itu mau bertemu dengan kita karena dia orang penting jadi selalu sibuk. Aku juga penasaran dengan sosok lelaki yang sudah meminjamkan uang dengan jumlah uang yang sangat besar dan tidak mau sedikitpun di kasih lebih, dan anehnya dia tidak rewel meminjamkan uang walaupun jaraknya lama aku belum bayar," ucap Rian seakan penasaran dengan sosok temannya Hendrik.


"Dia uangnya berlebih Mas, makannya tidak butuh uang tambahan mungkin," jawab Desy.


Nampak Rian pun menghubungi Hendrik dan dia menjanjikan ingin bertemu dengan nya besok pagi karena mau membayarkan sejumlah utangnya.


{"Alhamdulillah uangnya sudah ada,"} ucap Hendrik di sambungan teleponnya.


{"Iya, ada rezekinya,"} jawab Rian.


{"Kalau begitu aku nanti telepon dulu temanku ya, semoga dia tidak sibuk untuk bertemu denganmu,"} ucap Hendrik


{"Pokoknya usahakan harus bisa ya, aku ingin mengucapkan rasa terima kasihku padanya, dan sekalian aku akan berikan cendramata untuknya sebagai rasa terima kasih aku,"} jawab Rian.


{"Iya, baik, akan aku usahakan agar dia mau bertemu dengan kamu ya,"} jawab Hendrik.


Sambungan telepon pun akhirnya terputus.


_______


Keesokan harinya.


Nampak Hendrik kembali menelepon Adrian untuk memastikan Adrian kembali, agar dia mau bertemu dengan temannya yang dia pinjamkan uang.


{"Padahal enggak apa-apa kalau aku enggak ikut. Kan, seperti aku bilang aku tidak mau jika temanmu itu mengetahui kalau aku yang sudah membantunya,"} jawab Adrian.


{"Enggak apa-apa, ayo, kita silaturahmi dengan temanku itu. Dia sangat berharap ingin bertemu denganmu loh,"} ucap Hendrik.


Dengan berpikir panjang dan bisikan sang istri bahwa lebih baik pergi saja.


"Pergi saja Mas, silaturahmi," bisik Lia lekat ke kuping sang suami.


••••


{"Baik, Hen, aku datang,"} ucap Adrian kepada Hendrik dan akhirnya Adrian pun menutup sambungan teleponnya.


_______


Nampak Lia dan Adrian berpakaian sangat sederhana dan terlihat tidak seperti orang yang mempunyai banyak uang karena mereka berpikir tidak mau memperlihatkan keadaan mereka yang sebenarnya kepada orang lain.


"Sudah siap, Sayang?" tanya Adrian kepada sang Istri. Adrian nampak kagum dengan sang istri karena dia penampilannya begitu sangat sederhana.

__ADS_1


"Siap Mas, ayo, kita pergi," jawab Lia.


Adrian dan Lia pun pergi untuk menemui Hendrik dan temannya Hendrik yang meminjam uang untuk modal kepada dirinya yang tidak lain adalah Rian.


"Mas, kalau temannya Hendrik memberikan sejumlah uang lebih untuk peminjaman uang lebih baik jangan diterima ya, biar Allah yang balas semua kebaikan Mas," ucap Lia ketika didalam mobil.


"Iya, Sayang, aku juga mengerti kok, dan kamu tidak perlu khawatir tentang hal itu," balas sang suami.


_______


Tiba di Restoran.


Lia dan Adrian tibalah di tempat yang sudah di janjikan oleh Hendrik sang teman dan nampak Adrian membaca pesan dari Hendrik, dia mengatakan setengah jam lagi baru datang karena terjebak macet dan Hendrik pun mengatakan bahwa temannya itu sudah menunggunya dari tadi.


"Mas, benar ini tempat yang di janjikan oleh Hendrik?" tanya Lia kepada sang suami.


"Iya, benar ini Sayang, tempatnya lumayan ramai ya," ucap Adrian.


Mereka pun turun dari dalam mobil dan nampak langkah mereka berjalan ke dalam Restoran. Begitu ramai Restoran tersebut dan suasana Restoran tersebut terlihat nyaman.


______


Lia dan Adrian duduk di tempat kursi yang kosong. Lia pun di hampiri oleh pelayan Restoran tersebut dan mereka memberikan buku menu makanan yang ada di Restoran tersebut. Nampak di depan mereka ada sepasang laki-laki dan perempuan yang duduknya membelakangi arah Lia dan Adrian berada. Nampak Lia mengernyit dahinya dan matanya lekat sempurna ke arah kedua pasangan tersebut.


Degh...


"Itu kan Rian dan Desy!" gumam hati Lia.


Dadanya sedikit bergemuruh tapi Lia mencoba untuk menenangkan pikirannya yang tidak karuan karena bagaimanapun dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan kedua orang tersebut.


Lia mencoba menghela napas secara perlahan dan mengontrol emosinya.


"Mas, tahu enggak yang tengah duduk dihadapan kita itu adalah Rian dan Desy!" bisik Lia lekat ke arah kuping sang Adrian.


Adrian pun sontak matanya tertuju ke arah dimana Desy dan Rian sedang duduk tepat di hadapannya yang sedang membelakanginya. Tatapan Adrian begitu lekat dan mencoba membulatkan matanya.


"Ya, benar itu mereka. Ya, enggak apa-apa mungkin kebetulan mereka sedang makan di tempat ini. Biarkan saja jangan pedulikan," ucap Adrian terdengar pelan.


_______


Sang pelayan datang.


"Permisi makannya sudah datang dan selamat menikmati," tiba-tiba sang pelayan datang dengan membawa makanan dan minuman yang telah di pesan Lia tadi. Sang pelayan pun menata makanan yang di pesan oleh Lia dan Adrian.


"Jus, belimbing mix strawberry, silahkan!" ucap sang pelayan tersenyum ramah.


Nampak sang pelayan Restoran nada bicaranya keras tidak pelan yang mengakibatkan Rian pun mendengarnya.


•••


"Itu minuman kesukaannya Lia, mix antara belimbing dan strawberry" gumam Rian yang posisi duduknya tengah membelakangi Lia.


Tiba-tiba sontak Rian menoleh kearah belakang secara perlahan karena dia begitu ingat kesukaan dari Lia adalah mix jus belimbing dan strawberry.


Degh...


Rian jantungnya seakan mau copot karena yang kini tengah berada di belakangnya itu adalah Lia sang mantan istrinya.


"Lia,,,!" gumam hati Rian. Nampak Rian membuang napas kasar.


Desy nampak melihat gestur tubuh Rian yang nampak gelisah, dan tidak nyaman. Akhirnya Desy pun bertanya kepada Rian.


"Siapa Mas?" tanya Desy dengan bola mata lekat kearah sang suami


"Lia,,,!" ucapnya lirih.


"Lia,,!!!" Desy pun secara spontan melirik ke arah belakang dan nampak terlihat disana Lia dan Adrian sedang menikmati jus-nya.


________


Lia dan Ardian pun seakan tahu jika Desy dan Rian tengah memperhatikannya tapi Lia dan Adrian nampak santai dan tidak gugup.


"Kenapa mereka kesini ya!?" ucap Desy dengan lirih dengan dihinggapi beribu tanya dalam diri.


"Mungkin kebetulan," jawab Rian mencoba untuk tetap tenang padahal dalam hatinya tidak bisa dipungkiri dia masih menyimpan rasa cemburu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2