
Nampak pagi itu jalanan terlihat macet Desy pun terus menggerutu ketika menjalankan mobilnya. Dia pagi itu mau berkunjung ke rumah Bu Viona. Desy nampak melirik arlojinya terus menerus karena jam yang dia pakai di tangan kirinya seakan cepat berputar.
"Sudah satu jam mobilku macet tidak maju!" ucap Desy terlihat kesal beberapa kali dia pun memijit bunyi klaksonnya seakan tidak sabar mobilnya untuk maju.
Desy berpikir pasti dia tidak akan bertemu dengan Rian kalau mobilnya tidak bergerak maju karena jalanan macet, sedangkan dia ingin bertemu dengan Rian dan Ibunya agar urusannya cepat selesai.
Dia pun seakan ragu jika harus menelepon Rian karena pertengkaran dia dengan Rian semalam nampak hebat. Desy seakan gengsi jika harus menelepon Rian dan dia pun takut jika dia menelepon ada penolakan dari Rian.
________
GLEK...
Desy nampak meminum air mineral yang ada di dalam botol, hatinya merasa gelisah tidak karuan. Pikirannya bercabang memikirkan Rian. Dalam benaknya berpikir ("Apakah Rian masih marah kepadanya atau Rian sudah melupakan pertengkaran yang terjadi semalam?").
Disaat jalanan macet dan Desy nampak dihinggapi rasa gelisah tiba-tiba pesan muncul dari layar ponsel Desy, dan nampak yang mengirimkan sebuah pesan tersebut adalah Bu Viona. Desy hanya melirik pesan tersebut tanpa membacanya dia berpikir takut jika isi pesan yang di tulis oleh Bu Viona membuat hatinya sedih dan patah hati.
Tapi dia pun berpikir sekarang sudah pukul 7 pagi dan Rian belum ada tanda-tanda mentransfer uang yang 300 juta itu, berarti Rian sudah tidak marah dan Bu Viona sudah melarang sang anak untuk mengembalikan uangnya kepada dirinya.
Desy dihinggapi rasa penasaran dengan isi pesan dari Bu Viona dan Desy pun kemudian membuka layar WhatsApp nya, lalu dia dengan mata sedikit melebar membuka isi pesan dari Bu Viona.
_________
{"Des, semalam sudah Ibu bujuk Rian, dan Ibu pun meminta Rian untuk menikahi kamu bulan besok. Tapi apakah Ibu salah dengan membujuk Rian secepatnya untuk menikahi kamu? Sedangkan kamu kan tahu sendiri keuangan Ibu dan Rian tidak stabil dan jika minta kepada Yosi Papanya Rian, pasti tidak dikasih,"} tulis pesan Bu Viona seakan meminta Desy agar paham dengan kondisi keuangannya yang tengah tidak stabil itu.
Sontak Desy tersenyum lebar dan matanya terbelalak saat membaca isi pesan tersebut.
"Bu Viona sudah membujuk Rian agar bisa menikah denganku bulan depan. Masalah uang buat resepsi acara pernikahan itu bisa di atur olehku," gumam hati Desy.
Desy rasanya ingin cepat tiba rumah Bu Viona ketika sudah membaca isi pesan tersebut.
{"Bu, ini Desy lagi di perjalanan kena macet mau datang kesana, nanti kita bahas di rumah ya, masalah pernikahannya,"} tulis pesan Desy kepada Bu Viona.
Desy bersenandung dengan riang di dalam mobil seakan tidak ada lagi beban yang hinggap dalam dirinya karena dia menyangka masalah yang dia lalui akan cepat teratasi.
______
Tiba di rumah Bu Viona.
Setelah mobil terparkir sempurna di garasi halaman rumah, nampak Desy pun berlari kecil masuk ke dalam rumah dan kebetulan sang ART tengah membersihkan halaman rumah.
"Ibunya dimana?" tanya Desy kepada sang ART tersenyum lebar.
"Masuk saja kata Ibu, ada lagi nonton televisi," jawab sang ART, sepertinya Bu Viona sudah memberikan pesan kepada sang ART jika ada Desy langsung saja masuk ke dalam.
Mendengar ucapan dari sang ART sontak hati Desy seakan berbunga dan dia merasa kedatangannya sedang di tunggu oleh sang calon Ibu mertua.
_______
"Bu,,,Desy datang," teriaknya dengan membuka tangan lebar dan setelah berada di hadapan Bu Viona, Desy pun memeluk erat Bu Viona, dia nampak terlihat ingin sekali di akui oleh sang Ibu sebagai calon menantu.
"Des,,, macet ya, dari tadi Ibu nunggu kamu," ucap Bu Viona.
Bu Viona berusaha menampakkan wajah ramahnya dan senyuman yang dia lemparkan kepada Desy begitu manis membuat hati Desy seakan merasa nyaman, dan hatinya tidak berdebar karena dia berpikir sesuatu yang membuat hatinya gembira akan terjadi dan hinggap hari ini. Intinya hari ini adalah hari keberuntungan Desy.
"Rian sudah pergi kerja ya, Bu?" tanya Desy kepada Bu Viona.
"Sudah Des," jawab sang Ibu.
"Gimana Bu, sudah membujuk Rian? Dan ceritanya gimana sampai Rian luluh sama Ibu, memang Ibu jagonya kalau membujuk Rian," Desy terlihat gembira.
__ADS_1
"Tunggu dulu Des, apakah Rian jadi men-transfer uang yang 300 juta sama kamu?" tanya Bu Viona. Dan dia pun berharap jawaban dari Desy, Rian tidak jadi transfer uang tersebut.
"Enggak Bu, dia belum transfer," jawab Desy.
"Berarti dia menyetujui dengan penawaran Ibu kalau Rian akan menikahi kamu bulan depan," ucap sang Ibu tersenyum.
"Bu, Desy bahagia sekali. Apa benar yang di ucapkan oleh Ibu bahwa Rian akan menikahi Desy bulan depan!?" tanya Desy seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Bu Viona barusan.
"Iya, Des, Ibu yakin itu karena Ibu sudah yakinkan dia. Sudah Des, kamu jangan banyak pikiran. Tadi pagi Rian diomelin lagi sama Ibu agar nurut perintah Ibu dan dia menganggukkan kepalanya. Berarti itu tandanya dia setuju akan melamar kamu. Tapi masalahnya Des,,,," sang Ibu nampak tertegun sejenak seakan mau melanjutkan ucapannya tapi dihinggapi rasa malu.
"Masalahnya apa Bu,,?" Desy dihinggapi rasa penasaran dan menatap lekat ke arah Bu Viona.
"Ibu dan Rian tidak punya uang lebih," ucapnya lirih seperti ingin dikasihani.
"Tenang Bu, jangan khawatir uang untuk pesta pernikahan sudah ada Desy siapkan. Kalau Rian tidak mau acara pernikahan yang mewah tidak apa-apa. Pernikahan boleh di adakan di Kafe milik Rian saja agar terlihat sederhana." ucap Desy.
________
Betapa gembiranya hati Desy saat ini dia pun tidak mau menyia-nyiakan rasa gembira dia. Sifat Desy yang haus pujian dan perhatian akhirnya mengajak Bu Viona untuk makan diluar dan belanja.
"Bu, sudah lama Desy tidak membelikan Ibu baju dan makan diluar. Gimana kalau siang ini Desy ajak Ibu pergi, mau kan!?" ajak Desy kepada Bu Viona.
Sontak Bu Viona tersenyum lebar saat Desy memberikan tawaran untuk belanja dan makan diluar karena inilah saat yang di tunggu-tunggu olehnya.
"Aduh, menantu idaman Ibu banget kamu Des," Bu Viona memuji Desy.
Desy pun terasa melayang di awang-awang saat Bu Viona memujinya.
______
Beberapa saat kemudian akhirnya Bu Viona pun dan Desy nampak pergi ke pusat perbelanjaan.
Desy terlihat membelikan beberapa pasang baju kepada Bu Viona dan tas dengan harga yang cukup lumayan mahal. Beberapa kali nampak Bu Viona mengucapkan rasa terima kasih kepada Desy yang memberikan kegembiraan di hari ini.
"Memangnya cukup 3 Bu, enggak pilih yang lain lagi?" tanya Desy.
"Cukup Des, terima kasih Sayang," pelukan erat pun hinggap dari Bu Viona kepada Desy.
Desy pun tersenyum puas tatkala melihat Bu Viona tersenyum lebar dan memeluk dirinya.
"Des, gimana kalau kita makannya di tempat Kafe milik Rian," ucap Bu Viona.
_________
Desy pun berpikir sejenak karena dia semalam berantem dengan Rian. Apakah Rian masih marah sama dia atau malah Rian sudah melupakan kejadian itu?.
"Ayo, jangan banyak mikir mending kita kesana saja," bujuk Bu Viona kepada Desy.
Setelah berpikir panjang akhirnya Desy pun mau mengikuti ajakan dari Bu Viona untuk berkunjung ke Kafe milik Rian.
_______
Di dalam mobil.
"Des, kamu sudah telepon Rian, di angkat tidak!?" tanya Bu Viona.
"Mungkin sibuk Bu, ini kan jam makan siang," jawab Desy. Jam makan siang di Kafe milik Rian selalu ramai pengunjung.
"Ya, sudah tidak apa-apa, sekalian kejutan sama dia dan semoga dia senang dengan kedatangan kamu Des," ucap Bu Viona.
__ADS_1
Desy pun dalam hatinya seakan berharap jika Rian akan tersenyum lebar saat dia datang ke Kafenya dan merasa bahagia karena Ibunya telah dibelanjakan oleh Desy dengan baju yang lumayan harganya.
______
Tiba di Kafe.
Nampak Kafe milik Rian sangat padat pengunjung, Desy dan Bu Viona pun nampak menunggu di dalam mobil karena mau masuk pun percuma karena tidak ada tempat untuk duduk. Pengunjung di saat jam istirahat kantor ternyata di Kafe Rian nampak penuh.
"Alhamdulillah Kafe Rian laris" gumam Bu Viona tersenyum lebar.
Nampak pandangan Desy tertuju ke arah wanita yang sedang duduk sendiri usianya sudah tidak muda lagi tapi wajahnya terlihat cantik dan masih segar. Dia adalah Shila Kakak dari Anita. Tiba-tiba Anita datang dari arah dalam Kafe tapi nampak dia tidak memakai seragam Kafe karena hari ini adalah hari liburnya.
Kemudian Rian menghampirinya dan membawa makanan dan minuman. Rian nampak tersenyum ramah kepada Shila sedangkan Anita pandangan menunduk dia hanya fokus ke layar ponsel.
Nampak Rian mencuri pandang ke arah Anita dan Anita seakan risih dibuatnya. Kemudian Rian pun kembali ke belakang untuk bekerja.
_______
"Itu kan pegawai Kafe yang semalam pulangnya lebih awal, ada hubungan apa Rian dengan wanita itu!" gumam hati Desy hatinya gelisah seakan tidak karuan.
Desy menatap lekat dari jauh dan meskipun dari arah jauh dia melihat wanita itu, namun kecantikan wanita itu tidak bisa diragukan lagi sangat cantik dan terlihat anggun dan dari gestur tubuhnya dia wanita yang sopan dan kalem tidak seperti dirinya yang pembawaannya kasar.
"Mumpung Rian masuk ke dalam ruangannya, aku harus menghampiri dia," gumam hati Desy. Sementara nampak Bu Viona sedang asik menelepon relasi bisnisnya.
"Bu, Desy mau ke toilet dulu," ucap Desy menepuk lembut pundak Bu Viona.
Bu Viona pun menganggukkan kepalanya.
________
Nampak Desy pun membuka pintu mobil lalu dia berjalan ke arah Anita yang sedang duduk.
Setelah Desy berada tepat di hadapan Anita dan Shila nampak Anita tersenyum ramah karena dia tahu bahwa Desy adalah pacarnya Rian atau Bos-nya.
Desy ternyata tidak membalas senyuman dari Anita, dia malah memalingkan mukanya dan duduk tanpa di tawarin oleh kedua orang yang tengah menatapnya.
Sontak Shila matanya tertuju ke arah Anita sang adik dan mengedipkan matanya seakan memberikan kode bahwa yang datang itu siapa?
"Kak, ini pacar Bos-nya Desy," ucap Anita kepada Shila sang Kakak.
"Tidak sopan dan nampak angkuh, pantesan saja kata Anita, Bos-nya suka menggoda adikku ternyata pacarnya pribadinya tidak asik dan kurang sopan," gumam hati Shila mendelik.
"Shila,,," ucapnya sambil mengulurkan tangan, Desy pun mengulurkan tangannya tapi dia tidak menampakkan senyum ramah hanya senyuman tipis yang melingkar di bibirnya.
"Kamu lagi libur ya, ada perlu apa datang ke Kafe? Bukannya istirahat di rumah biar besok kerja lagi, badan kamu terasa bugar," Desy seakan mengatur layaknya dia itu Bosnya Anita atau pemilik Kafe.
_______
Shila nampak tidak suka dengan cara bicara Desy yang kurang sopan dan seakan menyindir sang adik. Shila sudah menyangka bahwa Desy tengah dihinggapi rasa cemburu kepada adiknya itu.
"Dia mau kasih laporan bulan ini, karena di suruh oleh Bos-nya kesini. kalau tidak di suruh sama Bos-nya mana mungkin dia mau kesini," ucap sang Kakak mencoba membela sang adik yang terlihat heran dan tidak nyaman dengan pertanyaan dari Desy.
"Rian menelepon? Kenapa enggak karyawan lain yang ambil ke rumah dia!" tanya Desy kembali dihinggapi rasa cemburu yang berlebihan.
"Tanya langsung Mbak, sama pacarmu! Nit, ayo pulang, Kakak gerah berada di Kafe ini!" Shila mendelik kepada Desy dan menyeret tangan Anita keluar.
"Beraninya wanita itu kepadaku!" ucap Desy terlihat kesal dan seakan tidak di hormati secara dia pikir, dia adalah calon istri pemilik Kafe tersebut.
•••
__ADS_1
Seseorang yang terlihat sombong akan di kalahkan dengan orang yang rendah hati, mungkin waktunya tidak dengan segera tapi itu pasti akan terjadi.
Bersambung....