
Beberapa hari kemudian.
"Rian, kamu cerai saja dari Desy karena Papa dan Mama sudah memikirkan hal itu dan Papa mohon kamu jangan ganggu Desy lagi karena Desy kedepannya dia tidak mau kehidupannya di ganggu kamu lagi," ucap Papanya Desy.
Rian nampak terlihat santai menanggapinya, dia pun tidak mau menampakkan kegundahan hatinya karena baru saja dia terkena musibah.
"Tidak Pah, Desy tidak mau pisah dari Rian!" tiba-tiba Desy datang menghampiri ke ruangan dimana Rian berada. Dan nampak Rian akan keluar dari ruangan pasien tersebut setelah sembuh dari luka yang di alaminya ketika kebakaran terjadi.
"Kamu mau ikut dengan gembel ini!" ejek sang Papa.
______
Sontak hati Rian berdesir tatkala sang Papa mertua berucap seperti itu. Dan Rian pun nampak kecewa dengan sang Papa mertua yang seakan merendahkan dirinya.
"Pah, Papa kenapa ngomong begitu, Papa kenapa tidak bisa menjaga perasaan Mas Rian." bela Desy.
"Enggak apa-apa Des, memang aku lelaki tidak berguna dan tidak pantas jika bersanding dengan kamu, Maafkan aku kalau selama menikah dengan kamu belum menjadi suami yang baik," ucap Rian.
"Tapi aku tidak mau bercerai dengan kamu Mas," Desy seakan memaksakan keinginannya agar Rian tidak meninggalkannya.
"Kamu ngapain ngejar terus lelaki yang tidak berguna seperti dia, banyak lelaki di luar sana yang kaya dan baik. Pokoknya kamu cerai dari Rian," ucap sang Papa.
"Des, betul apa yang dikatakan oleh Papa kamu itu, aku tidak pantas untuk menjadi suami kamu. Lebih baik kita pisah saja," ucap Rian.
"Nanti Papa yang urus perceraiannya lewat pengacara dan kamu jangan membantah apa yang menjadi keputusan Papa!" ucap sang Papa dengan cepat keluar dari ruangan Rian.
_______
"Ayo, Rian kamu sudah siap," tiba-tiba Bu Viona datang menghampiri untuk mengajak Rian segera keluar dari ruangan pasien tersebut.
"Bu, Desy tidak mau cerai dari Rian. Desy mohon sama Ibu," ucap Desy seperti memohon. Sang Ibu hanya menatap Rian dan menghela napas secara perlahan.
"Kalau Ibu terserah Rian dan kamu, karena yang menjalani biduk rumah tangga kamu dan Rian adalah kalian berdua bukan Ibu," ucap sang Ibu seakan tidak mau lagi ikut campur dengan masalah sang anak.
__ADS_1
"Ibu sanya Rian mau tinggal dimana? Kan rumah Desy sudah terbakar," ucap Desy seperti mengkhawatirkan kedua orang tersebut.
"Ibu sudah dapat tempat walau sempit,' jawabnya.
"Ibu dapat uang dari mana untuk menyewa rumah itu," Desy seperti dihinggapi rasa khawatir.
"Uang konveksi terpaksa sedikit Ibu minta dan biaya ngontrak selama 3 bulan ke depan," ucap sang Ibu.
"Desy ikut Bu, pokoknya Desy tidak mau tinggal sendiri," rengek Desy.
"Jangan Des yang ada nanti Papa kamu marah lagi sama Ibu dan Rian karena Papa kamu menganggap Rian sudah menelantarkan kamu. Lebih baik kamu tinggal dengan Papa dan Mama kamu yang layak rumahnya," ucap sang Ibu.
"Kamu ngeyel Des, sudah bilang kan tadi Papa kamu, bahwa aku ini gembel dan miskin jadi apa yang kamu kejar dari aku!" Rian seakan kesal dengan Desy yang terus menerus memaksa agar dia bisa terus bersama dengan Rian.
"Bu, Desy mohon," ucap Desy dengan memeluk sang Ibu.
"Lepaskan Des, kamu tidak pantas ikut dengan kami. Lagian kamar cuma satu. Mungkin Ibu tidur di dalam kamar sementara Rian tidur di ruang tamu," tegas Bu Viona.
______
Desy hanya bisa mengelus dada dan nampaknya dia terlihat kesal kepada Bu Viona yang saat ini karena keadaan dia sengsara Bu Viona sudah terlihat cuek dan tidak menyambutnya dengan baik.
"Dasar, mertua matre! Dulu ketika aku banyak uang begitu mendekat tapi giliran aku miskin sekarang enggak mau lagi merangkul aku," sindir Desy.
"Bukan begitu Des, kamu harus memandang realita, tempat kami kecil dan Rian belum jalan betul usahanya. Kamu harus mendapatkan tempat yang layak dan makan yang cukup sedangkan Rian tidak memberikan itu semua terhadap kamu," ucap sang Ibu mertua mencoba menerangkan.
Desy hanya terdiam seakan membenarkan ucapan dari Ibu mertuanya itu.
"Lebih baik kamu berpikir panjang dan kamu berhak bahagia dengan lelaki yang Papa kamu pilih nantinya," ucap Rian terlihat gusar.
______
Rian dan Bu Viona pun nampak pergi dari Rumah Sakit tersebut. Sementara Desy tengah meratapi nasibnya yang kian memburuk. Desy nampak menatap lekat ke arah luar jendela dimana ruangan tersebut tadinya di tempati oleh Rian yang sedang berobat disana.
__ADS_1
Rian dan sang Ibu nampak terlihat memasuki mobil taksi untuk mengunjungi tempat dimana dia tinggal sekarang.
Rian dan sang Ibu tidak membawa apa-apa ke rumah kontrakan yang baru. Baju yang dipakai pun hanya yang menempel di badannya saja. Dan sang Ibu merasakan hatinya sangat getir karena dia yang bergelimang harta kini tidak membawa apapun pulang ke rumahnya untuk beristirahat. Itu pun pulang ke rumah bukan tempat miliknya melainkan rumah orang lain atau rumah kontrakan.
____
"Bu, rumah kontrakannya dimana!?" tanya Rian kepada sang Ibu.
"Di belakang rumah kamu dulu, yang di tempati bersama Lia, tapi di perkampungannya. Kalau rumah kamu kan yang dulu di kompleks," jawab sang Ibu dengan menghapus air mata karena dia tidak menyangka akan seperti ini.
"Ini ponsel buat kamu, tadi Ibu ketemu teman yang punya konveksi. Katanya pegang karena kita pasti membutuhkannya dan sudah ada nomornya yang dulu sudah di aktifkan oleh dia," ucap sang Ibu dengan menyerahkan ponsel yang diberikan oleh temannya kepada Rian.
Rian menghela napas panjang karena ponsel yang diberikan oleh sang Ibu cukup jelek tidak seperti dia ketika memakai ponsel yang sangat bagus, mahal dan bermerk.
"Syukuri saja Rian daripada kita tidak punya ponsel karena itu penting untuk urusan usaha kamu," ucap sang Ibu ketika melihat sang anak begitu mendelik ketika melihat ponsel jeleknya.
______
Tiba di rumah kontrakan.
Nampak terlihat sangat kotor dan kecil rumah kontrakan tersebut dengan kamar 1 dan ruangan tamu saja. Sementara kamar mandi dan dapur bersampingan.
"Bu, apa Ibu tidak salah pilih kontrakan, kecil dan kotor tempatnya. Rian rasanya tidak betah Bu, untuk tinggal di sini," ucap Rian dan Rian terasa mual dan ingin muntah karena tempatnya kotor.
"Gampang tinggal kita bersihin. Sementara kita tinggal disini karena tempat kontrakan yang lain penuh dan kalau ada uang besar mungkin kita bisa sewa yang lebih gede dan bersih tapi kan uang kita pas-pasan dan kamu harus tahu itu. Untung kita enggak tinggal di kolong jembatan." ucap sang Ibu mendelik.
Bersambung...
Terima kasih yang selalu setia baca karya Novelku dan nantikan karya Novel baruku yang berjudul - Terjebak Cinta Tetangga-
Pengkhianatan seorang tetangga yang mencoba ingin menjodohkan anak gadisnya dengan suami tetangganya sendiri yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.
Apakah siasat licik sang tetangga itu berhasil atau hanya sebuah halusinasi semata??
__ADS_1
Next selengkapnya baca terus kisahnya.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️