Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 182 Pertemuan Lia dan Desy


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian.


Semakin lama semakin tidak betah Bu Viona tinggal di rumah Desy karena Desy memperlakukan sang Ibu mertua seperti tidak pada umumnya. Dan sang ART pun nampak tidak kembali datang ke rumah Desy.


"Bu, kok masakannya enggak enak sih, tumben," sindir Desy ketika menikmati santapan makan di pagi hari.


Sontak Rian yang sedang ikut makan tersedak tatkala mendengar Desy berucap seperti itu. Rian sepertinya tersinggung dengan ucapan Desy.


"Kamu makin lama makin bikin aku kesal Des, memang kita disini numpang tapi hargailah Ibuku." ucap Rian menatap lekat ke arah sang istri dengan sorot mata tajam.


"Memang enggak enak tidak seperti biasanya," Desy seakan tidak selera makan


"Maafkan Ibu Des, lupa tidak kasih garam," ucap sang Ibu berusaha mengalihkan suasana agar Rian tidak tersulut emosi.


"Tuh, kan aku bilang apa Mas, Ibu itu lupa kasih garam," jawabnya terlihat dia yang menang saat ini.


________


Tiba-tiba Desy memegang perutnya dan mulutnya terasa mual, dia sontak berlari kecil ke wastafel lalu dia muntah dan kepalanya terasa pusing.


Sang ibu nampak tersenyum lebar.


"Jangan-jangan Desy hamil," bisik sang Ibu kepada Rian.


Rian nampak biasa saja dengan sang Ibu berucap seperti itu. Nampaknya dia tidak senang jika dia mempunyai anak dari Desy untuk saat ini.


"Rian, jika Desy hamil Ibu sangat senang," kembali sang Ibu berucap.


"Cuma masuk angin Bu," jawab Rian datar.


______


Tiba-tiba Desy datang lagi.


"Bu, kepalaku pusing dan mual," ucap Desy.


"Des, coba kamu cek kehamilan kamu, kan kamu selalu tersedia alat tespek." ucap sang Ibu tersenyum lebar.


Desy mengernyitkan dahi dia seakan tidak berpikir kearah sana. Dan dengan rasa penasaran yang menghinggapi akhirnya Desy pun berlalu ke kamarnya untuk mengambil alat tespek dan akan mencoba tes kehamilannya.


•••


Beberapa saat kemudian.


"Bu,,,!! Aku, hamil," teriak Desy di dalam kamar.


"Rian, coba dengar barusan. apa yang Desy ucapkan. Dia hamil," ucap sang Ibu terlihat bahagia.


Rian hanya terdiam seakan tidak gembira mendengar kabar tersebut, sang Ibu pun terlihat kesal terhadap sang anak karena dia tidak menampakkan wajah gembira sedikitpun tatkala mendengar sang istri tengah hamil.


"Dasar keras kepala, sudah tahu kita numpang disini masih saja kamu tidak memperlakukan Desy dengan baik," ucap sang Ibu mendelik dan berlalu dari Rian menuju kamar sang menantu.


_______


"Kamu hamil Des!?" sang Ibu nampak gembira dari raut wajahnya tatkala memasuki kamar sang menantu.


"Iya, Bu, coba lihat," ucap Desy memperlihatkan alat tespek kepada sang Ibu.


"Wah, benar ini kamu hamil Des, bersyukur sekali Ibu nanti akan punya cucu dari kamu," sang Ibu mertua memeluk erat tubuh Desy.


"Mas Rian pasti senang Bu," ucap Desy begitu percaya diri dan dia nampaknya ingin memberitahukan kabar gembira tersebut.


"Iy-Iya pasti dia senang Des," ucap Bu Viona terdengar gugup.


Desy pun dengan berlari kecil menuju ke arah Rian yang sedang menikmati sarapan pagi.


________


"Mas, aku hamil Mas!" ucap Desy menggoyangkan tubuh sang suami dan tersenyum lebar.


Nampak Rian sedingin salju tidak bergeming sedikitpun dan ini mengakibatkan rasa kesal dan kecewa di hati Desy.


"Mas, kamu tidak senang kalau aku hamil?" tanya Desy terlihat cemberut bibirnya mengerucut.


"B- saja!" jawabnya.

__ADS_1


"Maksud kamu biasa saja! Dasar kamu bikin aku kesal Mas," ucap Desy terdengar kecewa.


"Ya, aku harus gimana!" jawabnya datar.


"Kamu tidak senang kalau aku punya anak maksudnya begitu!" Desy emosi.


"Sudahlah aku sebentar lagi mau ke konveksi lihat barang," ucap Rian dengan berlalu dari hadapan Desy.


Tapi dengan cepat Desy menarik tangan Rian yang mengakibatkan Rian pun menoleh ke arah belakang.


"Apa sih, Des," jawab Rian.


"Aku ngidam ingin pergi ke Kafe," ucap Desy.


"Des, masa kamu sudah ngidam lagi baru saja diketahui hamil," sindir Rian.


"Mas, kok kamu kayak baru punya anak saja sih, jelas-jelas sudah garis dua di tespek jadi ada bayinya di dalam kandunganku dan sekarang aku ngidam," Desy seakan tidak mau kalah ketika berucap.


"Iya, terserah kamu Des!" jawab Rian.


"Kamu undur ke konveksi dan sekarang aku mau pergi ke Kafe," ucapnya merengek


"Ini masih pagi mana ada Kafe yang buka jam segini," jawab Rian.


"Dulu ketika kamu kerja di Kafe jam segini sudah pergi Mas," Desy terlihat manja seakan ingin diperhatikan oleh Rian.


"Ya, Kafe aku buka pagi karena disana banyak kantor yang semua notabene jam sarapan pagi mereka makan disana," ucap Rian.


"Kalau begitu ajak aku kesana sekarang juga ke Kafe bekas kamu dulu," jawab Desy.


"Kita kan tidak tahu Des, apa Kafe itu sekarang sama bukanya seperti ketika aku buka usaha disana," ucap Rian karena terdengar kemauan Desy bikin Rian kesal terlalu banyak maunya.


_______


"Kamu harus ikutin kemauan Desy dan sekarang juga kamu harus antar dia kesana. Nanti yang ada anakmu ngiler karena kemauannya tidak kamu turuti," ucap Bu Viona tiba-tiba datang dari arah kamar.


"Memang Ibu selalu mendukung Desy, walau saat ini sebenarnya ibu kesal kepada Desy karena diperlakukan layaknya seperti seorang ART," gumam hati Rian.


Nampak Desy wajahnya tersenyum puas karena akhirnya sang Ibu mertua mendukungnya.


"Ayo, kamu siap-siap," ucap Rian terlihat seperti terpaksa untuk mengantarkan Desy.


_______


"Kamu jangan gitu sama Desy," bela sang Ibu.


"Kenapa sih, Ibu bela Desy terus." Rian terlihat nampak kesal.


"Bukan membela dia kan menantu Ibu yang sedang hamil jadi harus di perhatikan," Bu Viona terlihat terus menerus bela Desy dan Rian pun seperti sudah capek dengan sikap sang Ibu. Akhirnya dia pun berlalu pergi dari hadapan sang Ibu untuk memasuki mobil.


•••


"Bu, ambilkan sepatu Desy yang High heels," suruhnya kepada sang Ibu mertua.


"Des, kalau kandungan usia muda jangan pake sepatu High heels rawan, mending pakai saja yang sepatu flat," sang Ibu mertua terlihat khawatir.


"Akh, mungkin beda zaman Bu, sekarang zaman modern kalau Ibu zaman kuno jadi banyak pantangan yang harus di patuhi," Desy terlihat ngeyel membantah ucapan sang Ibu.


Sang Ibu pun dengan berat hati berlalu dari hadapan Desy untuk mengambil sepatu di rak sepatu ruangan belakang.


•••


Tiba-tiba sang Ibu datang dengan membawa sepatu High heels berwarna hitam.


"Ini Des, sepatunya. Hati-hati ya, jalannya. Kok, Ibu yang ngilu lihatnya," ucap sang Ibu ketika melihat Desy sedang memakai sepatu High heels 12cm tersebut.


"Desy sudah biasa Bu, jangan khawatir," jawabnya seakan tidak menghiraukan atas rasa kekhawatiran dari sang Ibu mertua.


_______


Desy berlalu dari hadapan sang Ibu mertua menuju garasi rumah, dimana disana Rian sudah menunggu.


Sang Ibu menatap Desy yang tengah memasuki mobil, entah kenapa sang Ibu diselimuti rasa khawatir yang mendalam ketika melihat Desy memakai High heels tersebut. Sang Ibu terlihat melambaikan tangan ketika sang anak dan menantunya tersebut pamit dari hadapannya.


Nampak sang Ibu membuang napas kasar dan dalam dirinya berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan sang menantu tersebut karena memakai High heels

__ADS_1


_______


Tiba di Kafe.


Desy berjalan ke arah Kafe begitu terlihat dia seperti ingin di segani atau di hormati oleh para karyawan yang notabene Kafe tersebut adalah dulu miliknya.


Tapi para karyawan sebagian yang dulu pernah kerja di Kafe tersebut seakan memandang sebelah mata dengan kedatangan Desy yang terlihat menor dengan lipstik berwarna merah menyala dan pakaian seksi di tunjang dengan sepatu High heels.


"Wanita itu siapa!?" tanya salah seorang lelaki karyawan baru kepada Pak satpam.


"Dia dulu yang memiliki Kafe ini," bisik Pak satpam dengan pandangan tersenyum tipis ke arah mantan Bos-nya tersebut.


"Istrinya belagu banget ya!" terlihat karyawan tersebut tidak menyukai dengan sikap Desy yang seolah-olah masih menjadi Bos di Kafe tersebut.


Pak satpam menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Memang gitu sifatnya." jawabnya.


_______


Desy nampak sedang melihat menu terbaru masakan yang tersedia di Kafe tersebut. Ternyata menu yang di sajikan adalah makanan andalan dia semua. Beda ketika Rian yang menjadi owner disana.


"Menu di Kafe ini persis seperti di Resto milik Pak Steven, Bapaknya Adrian. Tapi harganya terjangkau, dan lihat tamu berhamburan datang kesini." ucap Desy kepada Rian.


Dia seakan iri dengan Kafe yang baru saja buka tapi sudah terlihat ramai dan pelayanan dari karyawan sangat ramah.


"Aku jadi penasaran siapa pemilik owner di Kafe ini," gumam hati Desy.


•••


"Mas, pemilik Kafe ini sudah datang belum?" tanya Desy kepada pelayan yang tengah membersihkan meja di sebelah Desy.


"Sebentar lagi Bu, masih dalam perjalanan," jawab sang pelayan.


"Kalau dia sudah datang tolong kasih tahu saya ya, saya ingin bertemu dengan dia," ucap Desy kembali.


"Baik Bu," jawab sang pelayan sambil berlalu dari hadapan Desy untuk mengambilkan pesanan Desy yang sudah dia tulis di dalam buku pesanan.


•••


"Kamu mau apa bertemu dengan owner disini!" Rian seakan tidak suka karena baginya itu hal tidak penting dan dia sepertinya malu jika harus bertemu dengan owner Kafe yang baru karena Kafe tersebut milik Rian kena sita dan Rian berpikir harga dirinya sudah tidak ada kalau untuk bertatapan dengan owner Kafe yang baru.


"Enggak apa-apa Mas, biar mereka tahu kita dulu pemilik Kafe ini dan sekalian biar kita join kedepannya. Siapa tahu ada kecocokan," jawab Desy.


Rian hanya menghela napas panjang, dia pun berpikir dalam hatinya Desy selalu saja membuat ulah dan buat dia tidak nyaman.


_____


Di parkiran sana nampak mobil Pajero Sport berwarna putih datang, wanita tersebut nampak terlihat anggun dan cantik. Dia adalah pemilik Kafe yaitu Frisilia Mehendra.


Semua karyawan nampak tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda hormat. Namun Lia seakan enggan kalau karyawan bersikap hormat kepadanya karena dia selalu berkata kepada para karyawannya, anggap saja karyawan yang kerja di tempatnya adalah keluarga agar nyaman mereka kerja di tempat tersebut.


•••


"Bu, di ujung dekat kasir ada tamu Kafe katanya ingin bertemu dengan Ibu," ucap sang karyawan.


Lia mengernyitkan dahi dan nampaknya dia berpikir tidak ada janji dengan siapapun hari ini di Kafe tersebut.


"Katanya masakan disini seperti Resto dan masakannya enak dan untuk harga terjangkau. Mungkin dia pengunjung baru ke Kafe kita," ucap sang pelayan yang baru beberapa hari disana dan dia tidak menyadari kalau sebenarnya itu adalah pemilik Kafe lama disana.


"Oh, baik saya akan temui dia," jawab Lia terdengar ramah.


Lia pun menyeret langkah kakinya menuju tamu yang datang yang ingin bertemu dengannya dengan di temani oleh karyawannya.


_________


"Permisi, Bu, Pak, ini pemilik Kafenya sudah datang," ucap sang pelayan kepada Desy dan Rian yang tengah asik menikmati makanan di Kafe tersebut dengan posisi duduknya membelakangi.


Secara perlahan dan hampir bersamaan Desy dan Rian membalikkan badannya.


DEGH...


"Lia,,,!!!"


Secara bersamaan Desy dan Rian berucap yang dihinggapi rasa terkejut dan nampak muka mereka merah merona tatkala mengetahui yang datang adalah sosok Lia pemilik Kafe tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih yang selalu setia baca karya Novelku dan terima kasih juga untuk Like dan Komennya. Semoga rezekinya lancar mengalir deras dan sehat selalu.


Aamiin 🤲 ♥️🌹 🙏


__ADS_2