Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab : 115 Rian kesal


__ADS_3

Rian dengan cepat memutar kursi rodanya ke arah ruangan Ibunya dimana sang Ibu sedang dirawat.


Ceklek..


Pintu terbuka dengan lebar dan nampak disana sang Ibu tengah terbaring lemah tak berdaya tangan kanannya di perban. Rian nampak meringis menahan rasa linu tatkala melihat sosok Ibunya tangannya yang di perban.


Sang Ibu nampak sedang tertidur pulas kemudian Rian menyeret kursi rodanya menuju ranjang dimana sang Ibu sedang tertidur pulas.


Rian menatap sang Ibu dengan lekat, dia memejamkan mata mengingat kejadian kecelakaan kemarin.


Dia pun nampak meringis menahan rasa iba tatkala sayup-sayup Rian mendengar sang Ibu berteriak kemudian tak lama kemudian berhenti, dan sudah tidak mendengar apa-apa lagi karena pingsan. Rian pun saat itu ingin rasanya menolong sang Ibu tapi kepala dia keburu terbentur stir dan akhirnya Rian pun pingsan.


Tetesan air mata pun seketika keluar dari ujung mata Rian, nampak Rian menghela napas panjang ketika mengingat kejadian itu.


________


Ceklek...


"Selamat siang," tiba-tiba Rian di kejutkan dengan bunyi suara seorang Dokter yang memasuki ruangan Ibunya.


"Rian bagaimana kondisi keadaanmu apakah sudah lebih baik?" tanya sang Dokter ketika mendapati Rian tengah berada di dalam ruangan Ibunya.


"Agak lumayan mendingan Dok," ucapnya.


"Dok, bagaimana kondisi Ibuku sekarang," sambung Rian kembali bertanya kepada sang Dokter.


"Ibumu kemungkinan besar tangannya akan memakai penyangga dulu karena mengalami keretakan tangan dan pulihnya akan memakan waktu lumayan lama," sang Dokter menghela napas panjang dia pun sudah sekuat tenaga untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien.


________


Kemudian sang Dokter pun kembali memeriksa kondisi pasien. Dan tiba-tiba secara perlahan mata sang Ibu terbuka. Pandangan matanya terasa kabur dan tidak jelas, dan dia pun nampak meringis menahan linu dan nyeri di sekitar tangannya.


"Awwww.....sakit sekali!" ucap sang Ibu.


"Bu, ini Rian, sabar ya Bu," ucap sang anak mencoba menenangkan sang Ibu. Rian terlihat tersenyum tatkala melihat sang Ibu terbangun dari tidurnya.


_________


Akhirnya mata Ibu melihat sempurna ke arah sang anak, dan seketika lolos bulir putih berwarna bening dari ujung matanya.


"Rian, kamu kenapa Nak!?" sang Ibu dihinggapi rasa khawatir karena sang anak tengah memakai kursi roda.


"Rian tidak apa-apa Bu, cuma masih linu badannya dan tidak kuat untuk berjalan," ucapnya.


Sang Ibu kemudian meraba kepala Rian yang nampak di perban. Rian pun seakan memahami itu semua. Mungkin sang Ibu tengah menanyakan juga kondisi kepala sang anak yang sedang memakai perban.


"Kepala Rian terbentur Bu, dan kepala Rian sangat pusing sekali," jawab Rian. Ketika melihat sang Ibu pun pandangan Rian tidak jelas seakan kabur.


"Desy, gimana Desy, Nak!?" tanya sang Ibu terlihat cemas mengkhawatirkan keadaan Desy karena Bu Viona nampak saat itu melihat sekilas sebelum pingsan, pecahan kaca depan mengenai wajah Desy.


"Sudah Bu, jangan memikirkan Desy dulu yang penting kondisi Ibu sekarang membaik,"

__ADS_1


"Apa wajah Desy hancur!" ucap Bu Viona terlihat meringis.


________


Rian pun tadi sempat melihat kondisi wajah Desy yang hancur mukanya tapi memakai masker. Tapi Rian tidak mau hal tersebut di utarakan kepada sang Ibu karena takut menjadi pikiran sang ibu tidak karuan melihat kondisi tubuh Ibunya belum stabil.


"Desy sedang di tangani Dokter Bu, sudah lumayan membaik keadaannya," ucap Rian.


Rian pun merasa kesal dan dihinggapi rasa cemburu ketika tadi mendapati Desy sedang dicium keningnya oleh sang mantan suaminya yaitu Bobi.


"Argh...!! Apa yang mereka lakukan!" gumam hati Rian.


Setelah sang Dokter memeriksa kesehatan Bu Viona secara teliti kemudian sang Dokter pun keluar dari ruangan Bu Viona.


________


Tok...Tok..Tok...


Tiba-tiba pintu di ketuk beberapa kali dari arah luar kemudian pintu pun terbuka dari arah luar dan nampak Tante Mira, Tante dari Desy datang setelah sekian lama pergi ke luar negeri.


Baru saja Desy mengadu kepada Tantenya itu atas kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dengan Bobi, dan ini seakan menjadi tanggung jawab sang Tante karena Tante Mira sangat mencintai keponakannya tersebut.


Sifat Tante Mira dan Desy sama-sama licik segala sesuatu pasti di halalkan dengan berbagai cara.


"Rian, Ibu Viona, gimana kabarnya," Tante Mira nampak berkaca-kaca matanya tatkala melihat kondisi Bu Viona dan Rian.


Rian terkejut melihat kedatangan Tante Mira yang sudah lama tidak terlihat begitupun dengan Bu Viona yang mengenal Tante Mira baru 2 kali pertemuan.


"Kemarin malam Rian, Tante iba dengan keadaan Rian dan Bu Viona," ucap Tante Mira. Dia pun memeluk Bu Viona.


_________


Satu jam kemudian.


Tante Mira nampak terlihat sedang duduk di kursi sofa bersama Tante Mira di dalam kamar Bu Viona sementara Ibunya Rian baru saja tertidur.


Tante Mira nampak membicarakan bisnisnya dan akhirnya membicarakan masalah pribadi antara hubungan Rian dan Desy.


"Rian pasti kamu belum tahu kalau Desy keguguran," ucap Tante Mira pelan karena takut terdengar oleh Bu Viona yang terhalang gorden. Sontak Rian terkejut matanya membulat sempurna dia seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Tante Mira.


"Apa yang di ucapkan Tante benar adanya!?" Rian tertunduk malu dengan kelakuannya yang telah menghamili Desy namun pada akhir keguguran.


"Tante dengar tadi dari Desy kamu melihat Bobi ketika mencium Desy, itu salah paham Rian. Bobi memaksa ingin memeluk dan mencium dan waktunya bersamaan dengan kamu yang memasuki ruangan Desy. Tante tahu cinta Desy hanya untuk kamu Rian. Begitu besar cintanya sama kamu sampai-sampai dia rela merebut dari sahabatnya sendiri tak peduli kedepannya jadi bahan cemoohan orang!" ucap Tante Mira dia seakan tidak malu untuk membuka aib keponakannya itu.


"Tan, intinya gini,,,!" Rian seakan tidak mampu melanjutkan ucapannya kemudian dia membuang napas secara kasar lalu dia melanjutkan lagi ucapannya.


"Pernikahan Rian tinggal menghitung hari dan rasanya tidak mungkin untuk di paksakan mengingat kondisi Desy dan Rian saat ini sedang sakit begitupun dengan Ibu," ucap Rian seakan mencoba meyakinkan sang Tante agar mengerti.


_________


Tante Mira berpikir sejenak dan dia kembali mengingat ucapan sang keponakannya yang sangat dia sayangi. Tadi Desy bicara pada sang Tante bagaimana pun keadaannya dia akan tetap melangsungkan pernikahan karena takut Rian kabur atau tidak jadi menikahinya apalagi jeratan yang diberikan oleh Desy sudah tidak ada, dengan keguguran yang di alaminya. Otomatis Rian dengan bebas untuk meninggalkan Desy.

__ADS_1


"Rian, kalau menurut Tante mendingan lanjut saja pernikahannya," ucap Tante Mira terdengar memaksa.


"Apa,,,lanjut! Apa Tante sudah gila dengan kondisi Rian seperti ini apalagi wajah Desy rusak belum pulih benar," ucap Rian.


Sontak Tante Mira salah paham dan dia mengira , dengan Desy berwajah jelek Rian tidak mau menikahi keponakannya tersebut.


"Kamu jangan gitu Rian, jangan sakiti keponakan Tante. Desy bisa terluka jika mendengar kamu berucap wajah Desy sekarang jelek. Berarti karena wajah Desy jelek kamu hempas kan begitu saja? Apalagi kamu sudah tidak ada beban lagi karena Desy sudah keguguran!" sindir sang Tante.


_______


Rian pun nampak kesal dengan apa yang di ucapkan oleh Tante Mira. Sang Tante seakan memojokkan dirinya dan memaksa dengan segera untuk menikahi Desy walaupun dalam keadaan sakit.


"Tan, aku mohon Tante jangan memaksaku!. Apa Tante tidak melihat kondisi aku dan Desy. Dan juga Ibuku!" Rian berucap dengan kesal sambil melirik ke arah gorden dimana di dalam tersebut ada Bu Viona yang terbaring sakit.


Sang Tante terlihat kecewa dengan keputusan Rian dan dia pun tidak tahu jawaban apa yang akan di berikan kepada Desy sang keponakannya itu.


"Rian saat ini kamu telah buat kecewa Tante apalagi Desy. Jika nanti saat mendengar keputusan ini!" Tante Mira nampak cemberut.


Tante Mira pun keluar dari ruangan Ibu Viona dengan wajah terlihat kesal dan tanpa pamit kepada Rian juga Bu Viona.


__________


Beberapa menit kemudian.


Datanglah Yosi Bapak dari Rian, nampak dia seperti orang yang tidak mempunyai rasa salah padahal dia telah melukai istrinya atau Bu Viona.


"Rian, gimana kejadiannya sampai terjadi kecelakaan!?" tanya sang Papa yang melihat sang istri masih tertidur pulas mungkin karena pengaruh obat.


"Tidak penting Pah! Karena Papa selama ini tidak peduli terhadap kita!" jawabnya.


"Kamu jangan seperti anak kecil Rian!" ucap sang Papa.


Rian pun seakan tidak memperdulikan hal itu dia sibuk dengan ponselnya. Kemudian Rian menghela napas secara perlahan.


"Pah, sebelum Rian pulang dari Kalimantan, Ibu menelepon Rian, dan dia berkata bahwa Ibu ingin cerai dari Papa apakah itu benar !?Atau Ibu belum bicara masalah perceraian kepada Papa?" tanya Rian dengan muka yang serius menatap lekat.


Degh...


"Ibumu belum bicara sama Papa," jawab sang Papa lirih. Dia tidak menyangka dengan keputusan sang istri yang akan menggugat cerai dirinya.


"Kalau menurut Rian, setuju saja jika Papa dan Ibu bercerai karena Papa selama ini selalu menyakiti hati Ibu. Papal ebih baik fokus dengan istri muda Papa, Tante Dini!' ucapnya.


"Rian setelah Papa pikir-pikir Papa tidak mau bercerai dengan Ibumu!" ucapnya terdengar enteng.


"Rian tidak mau ikut campur itu terserah Ibu!" Rian pun seakan malas membahas persoalan hidup kedua orang tuanya yang selalu bertengkar akhir-akhir ini.


"Lebih baik Papa keluar sekarang juga, tolong jangan bahas dulu masalah ini karena Ibu sedang sakit,' ucap Rian kembali terlihat menahan emosi yang membuncah.


"Tapi Rian,,,!!" ucap sang Papa.


"Stop..! Pah, jangan bertele-tele, Papa lebih baik keluar dari sini sebelum Ibu bangun. Kepala Rian berat Pah, Rian pun ingin beristirahat," Rian mengusir sang Papa secara halus.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2