Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 98 Lia kecewa


__ADS_3

Pagi itu nampak Bapaknya Lia sedang menelepon terlihat sangat serius sekali dengan muka terlihat tegang.


{"Alasan Bapak Steven memutuskan bisnis kita apa, bukannya semua telah disepakati kata Pak Hendrik?"} ucap Bapaknya Lia terlihat seperti memohon.


{"Karena kita ada klien lain Pak, sekali lagi maaf,"} jawab balasan di seberang sana.


{"Saya, kecewa Pak, tapi apa boleh buat kalau Bapak memutuskan seperti itu,} balas Bapaknya Lia lirih.


______


Bapaknya Lia pun menutup sambungan teleponnya, nampak muka sang Bapak terlihat gusar dan tidak nampak lagi binar kegembiraan di wajahnya.


Lia dan sang Ibu hanya berpandangan dan hanya bisa mengelus dada dengan sikap Bapak yang nampak terlihat sedih.


"Jadi tetap Pak Steven memutuskan bisnis bersama Bapak?" tanya sang istri.


"Iya, Bu!" jawab sang Bapak terlihat meremas rambutnya dengan kasar.


Bapak pun melengos keluar nampak di teras rumah dia sibuk dengan ponselnya dan terdengar dia kembali menelepon sahabatnya yang bernama Pak Hendrik.


Sayup-sayup terdengar Bapak begitu serius ketika berbicara dengan Pak Hendrik.


________


"Kak, sebenarnya ada apa dengan suamimu!?" tanya Tante Restu yang nampak penasaran dengan melihat suami sang Kakak gusar karena Tante Restu ingin tahu cerita yang sebenarnya dari mulut sang kakak sendiri.


Lalu sang Kakak pun menceritakan semuanya , apa yang menimpa suaminya.


"Ya, aku tahu suamimu jika urusan bisnis tidak lancar pasti dia terlihat gusar karena dia orang yang gigih dan tidak mau di kecewakan, dia komitmennya tinggi," jawab Tante Restu.


Nampak Lia pun merasa iba dengan hal tersebut sang Tante pun terlihat menatap Lia, karena dia tahu kelebihan dari keponakannya tersebut sangat jago dalam merajuk relasi bisnis. Karena bisnis bersama Tante Bela pun dia yang selalu maju untuk bicara dengan klien.


______


"Lia, kalau menurut Tante gimana caranya agar kamu merayu rekan bisnis Bapakmu, agar dia mau bergabung kembali menjalin bisnisnya dengan Bapakmu. Coba kamu temui rekan bisnis Bapakmu dan kamu yakinkan dia, kamu kan dulu pernah meyakinkan rekan bisnis Tante dan juga Bapakmu, dan setelah itu bisnis gol," ucap sang Tante sangat berharap dengan talenta yang dimiliki Lia.


"Iya Lia, itu ide bagus. Apa yang dikatakan dengan Tante Restu, biar Bapakmu tidak gusar karena jika Bapak Steven menyetujui bisnis yang sekarang maka bisnis akan lancar," sambung sang Ibu.


•••


Mereka tidak menyadari yang tengah dihadapi rekan bisnisnya adalah Steven, Papanya Adrian.


•••


"Memangnya begtu penting ya, lelaki ini! Sampai Bapak dan relasi temannya Bapak yang bernama Pak Hendrik tidak bisa meyakinkan," ucap Lia kembali terlihat dihinggapi heran dan penasaran.


"Kalau menurut cerita Bapakmu begitu," balas sang Ibu kembali. Sang Ibu menatap dari kejauhan sang suami yang terlihat masih menelepon.


______


"Lia, gimana Adrian apakah dia tidak marah karena Bapakmu kemarin mengulur waktunya untuk bisa bicara dengan Bapakmu!?" tanya Tante Restu mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Enggak Tan, tapi mungkin kecewa, tapi dia santai kok orangnya mungkin dia lagi kesal saja dengan Papanya," jawab Lia.


"Sepertinya kalau Ibu pikir Papanya Rian orang yang tegas dan menginginkan yang terbaik untuk anaknya bukan berarti kamu tidak baik juga Lia, mungkin karena status kamu janda, dan punya anak jadi dia tidak setuju tapi bagaimanapun Ibu salut dengan Adrian karena dia mau mempertahankan cintanya untukmu, walau Papanya bersikukuh tidak setuju dengan kamu. Tapi bagaimanapun pernikahan itu harus ada restu dari kedua orang tua agar lancar kedepannya," ucap sang Ibu seakan membuat hati Lia menjadi tidak bersemangat dengan ucapan sang Ibu yang bicara mengenai status dirinya.

__ADS_1


"Lia enggak memaksa Bu, Lia pun enggak menyuruh Adrian agar cepat menikahi Lia apalagi nikah siri!" Lia nampak sedikit kecewa seakan-akan sang Ibu tidak mendukungnya dengan cara membicarakan masalah status padahal sang Ibu berbicara seperti itu sesuai dengan fakta tapi Lia salah tafsir mungkin juga karena Lia dihinggapi rasa lelah dengan masalah percintaannya.


______


"Siapa yang mau nikah siri!? Apa kamu sama Adrian mau nikah siri?" tiba-tiba sang Bapak datang dari arah teras. Ternyata sang Bapak mendengar percakapan antara sang Ibu dan anaknya tersebut.


Sontak sang Ibu dan Lia pun terkejut dengan sikap dari Bapak yang mengetahui dengan obrolan mereka. Sang ibu dan Lia diam tidak seakan tidak bisa bicara apa-apa.


Nampak Tante Restu membuang napas kasar dia pun akhirnya yang berbicara.


"Ya, Mas, Adrian sebenarnya tidak direstui oleh Papanya," ucap Tante Restu.


"Alasannya apa! Bukannya Lia itu cinta pertamanya Adrian!" ucap sang Bapak terlihat dihinggapi rasa penasaran.


Sang Tante menatap sang Kakak kemudian Lia. Mereka hanya menundukkan pandangannya, Tante Restu menghela napas panjang.


"Karena status Lia," ucap Tante Restu lirih.


"Maksudnya karena Lia janda!? Maksudnya begitu?" tanya sang Bapak dengan nada tinggi.


"Iya,," jawab sang Tante dengan pandangan menunduk seakan tidak berani menatap suami Kakaknya tersebut.


"Bakal enggak bener Lia kedepannya hubungan kamu dengan Adrian kalau Papanya sudah memandang kamu dari segi status apalagi kamu sudah ada anak, mungkin Papanya berpikir anakmu akan membebani Adrian setelah menikah. Apalagi Adrian anak tunggal pasti Papanya ingin yang terbaik. Mungkin juga malu dengan teman-temannya nanti yang menanyakan menantunya yang janda!" ucap sang Bapak.


______


Degh...


Ucapan sang Bapak sangat halus tapi juga terdengar menyayat hati Lia. Karena tak kuasa menahan omongan sang Ibu yang tadi juga seakan menyindir statusnya, Lia akhirnya meneteskan air mata. Sang orang tua padahal tidak ada niat untuk menyindirnya tapi mereka bicara apa adanya namun Lia mungkin keadaan emosinya sedang tidak stabil.


Sang Tante melihat tetesan air mata Lia, karena Lia duduknya berdekatan dengan sang Tante, dia pun memeluk erat keponakannya tersebut. Lia mencoba menghapus air matanya yang bercucuran ketika sang Tante memeluknya. Lia menggigit bibirnya karena Lia berpikir jangan sampai tangisannya terdengar oleh Bapak dan Ibunya.


"Mengapa aku tidak menerima cintanya Adrian ketika masih aku lajang, saat itu. Kenapa aku egois hanya mementingkan karirku dan setelah itu malah menerima cintanya Rian, dan sekarang aku menjadi janda karena sebuah pengkhianatan!" gumam hati Lia seakan menyalahkan dirinya sendiri.


________


"Lia,,sabar, tenang, kamu jangan terpancing emosi. Tante yakin kamu bisa melewati ini semua, kamu kuat," bisik sang Tante.


Sang Bapak karena pikirannya sedang kalut memikirkan bisnisnya, dia seakan tidak peduli dengan sang anak yang sedang terisak tangis.


"Bu, mungkin Bapak sebentar lagi akan menemui Pak Hendrik kemudian menemui Pak Steven untuk membicarakan semua masalah bisnis. Bapak dan Pak Hendrik akan merayu Pak Steven agar dia berubah pikirannya," ucap Bapak.


Dia masih berharap jika proyeknya akan berjalan lancar dan Pak Steven mau ikut gabung dengan bisnisnya.


"Kalau aku bilang Lia akan ikut menemani untuk menemui Pak Steven agar proyeknya lancar, tapi keadaan Lia sekarang sedang tidak stabil dan aku yakin pasti rencana bisnis tidak akan berhasil," gumam sang Tante.


_______


"Pak, apa tidak dengan Lia perginya. Dia jago untuk membujuk rekan bisnis," ucap sang Ibu. Tante Restu pun merasa terwakili oleh sang Kakak dengan ucapannya itu.


Sang Bapak kemudian melirik anaknya yang sedang menangis dan kondisi badannya yang masih belum pulih dari sakit dia pun mengernyitkan dahi.


"Enggak Bu, keadaan anaknya juga lagi tidak stabil mana mungkin dia bisa membujuk relasi. Dia lagi gundah gulana dengan percintaan," sindir sang Bapak


______

__ADS_1


Tante Restu pun merasakan kesal dengan ucapan suami dari Kakaknya tersebut dia pun ikut merasakan jika Lia tersindir.


"Mas, kamu jangan buat anakmu down, seharusnya kamu memberikan semangat," ejek sang Tante.


"Down, gimana Restu! Aku kan bicara apa adanya, kamu yang selalu buat situasi panas, dan kamu selalu memanjakan anakku. Padahal dia sudah dewasa sudah bisa berpikir jauh tapi kamu selalu memanjakan dia terus," ucap sang Bapak.


"Aku tidak memanjakan Lia, Mas, jangan salah arti. Aku hanya mengingatkan Mas saja," bela sang Tante.


"Mengingatkan apa, maksud kamu!?" tanya sang Bapak.


"Pikir saja sendiri sama kamu Mas, kamu dan istrimu selalu sibuk selama ini, dalam pikiranmu hanya ada bisnis terus, sementara kepentingan anak gak ada waktu. Minimal kamu jangan merendahkan dengan status jandanya. Lia juga tidak mau jadi janda tapi mungkin sudah takdir dia akhirnya cerai dengan Rian!" Tante Restu begitu berani mengungkap semuanya sehingga membuat sang kakak atau Ibunya Lia tercengang dengan ucapannya.


"Ah, kamu itu Restu, selalu saja bicaranya dari dulu masalah kesibukan aku, seakan-akan aku tidak bisa mengurus anak dan tidak peduli," bela sang Bapak.


"Restu,," ucap sang Kakak dengan mengedipkan matanya seakan-akan memberikan kode jangan bicara lagi karena situasi sedang memanas.


Tante Restu pun akhirnya diam dengan muka cemberut dan terlihat kesal kepada suami Kakaknya tersebut.


Sang Bapak pun berlalu dari hadapan mereka karena dia mau mempersiapkan pertemuannya dengan Pak Hendrik untuk menemui Pak Steven. Sang istri pun mengekor dari belakang.


______


"Sudah jangan menangis mending sekarang kamu istirahatkan badanmu, minum obat sudah belum?" tanya sang Tante


Lia hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.


"Anakmu masih di rumah Rian ya, belum pulang, biar Tante akan jemput kesana sebentar lagi," ucap sang Tante sambil melirik jam tangannya.


"Cantika sedang di rumah Bu Viona Tan, bukan rumahnya Rian," ucap Lia.


Lia seakan takut jika sang Tante datang kesana untuk menjemput Cantika karena Tante Restu sangat benci dengan Ibu Viona.


"Memangnya kenapa Lia!? Kamu takut, Tante kamu ini membuat keributan?" tanya sang Tante bertanya kepada sang keponakan dengan sorot mata tajam.


Lia hanya menundukkan kepalanya dan diam tidak bicara.


"Ya, Tante selalu membuat kerusuhan," gumam hati Lia


______


"Ayo, kamu masuk ke dalam kamar istirahat biar tenang pikiranmu dan rileks, tidur! Sudah, jangan mikir yang enggak-enggak, nanti setelah baikan kita pergi jalan-jalan. Rencana ke Bali pun di undur gara-gara kamu sakit," nampak sang Tante terlihat kecewa.


"Ya sudah Tante maafkan Lia, kan Lia tidak sengaja untuk sakit jadi Tante enggak jadi pergi ke Bali," ucap Lia.


"Yasudah enggak apa-apa, dan tidur masuk kamar, Tante mau siap-siap jemput Cantika," ucap sang Tante seolah-olah Lia itu anak kecil yang masih dia atur karena begitu sayangnya dia kepada keponakannya itu.


____


Lia pun menuruti apa yang Tante Restu ucapkan lalu dia memasuki kamarnya. Di dalam kamar nampak dia melirik ponselnya yang terus menerus bergetar tanda masuk sebuah panggilan suara. Lia melihat ponsel tersebut nampak terlihat Adrian menelepon dan Lia pun seakan ragu untuk mengangkatnya karena Lia berpikir pasti Adrian hanya ingin menanyakan kabar dari Bapaknya agar dapat izin atas nikah siri yang Adrian inginkan.


"Aku bingung harus bicara apa," gumam hati Lia, dia hanya menatap layar ponsel tanpa mengangkat telepon tersebut.


Ting ..


pesan pun muncul.

__ADS_1


{"Lia, gimana kamu sudah bicara dengan Bapakmu dengan rencana yang aku inginkan yaitu pernikahan siri?"} pesan dari Adrian membuat hati Lia pun seakan tidak dapat memberikan sebuah balasan dan alasan karena sang Bapak seakan tidak menyetujui pernikahan sirinya itu.


Bersambung...


__ADS_2