Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 30 Rasa sesak


__ADS_3

Tiba di rumah.


Lia tertegun di dalam mobil, sang Tante dihinggapi rasa khawatir karena keponakannya tersebut nampak terlihat sedih. Tante Restu pun bisa merasakan hati keponakannya saat ini seperti apa, sakit menyayat tatkala suami diambil oleh wanita lain apalagi ini sahabatnya sendiri.


"Ayo Sayang, turun yuk! Kamu lebih baik tidur istirahat. Biar besok badan terasa rileks, dan segar karena orang tuamu akan datang." ucap Tante Restu membelai lembut rambut Lia.


"Tante maafkan Lia selalu merepotkan Tante selama ini, Lia pun tidak tahu harus membalas kebaikan Tante dengan cara apa." Lia menggenggam erat jemari tangan sang Tante, dan air mata pun menetes di ujung matanya.


"Sudah, jangan bahas kebaikan Tante seperti apa, sudah sewajarnya Tante menjaga kamu Lia, dan maafkan Ibumu ya, dia selalu sibuk yang tidak ada waktu untuk kamu," ucap sang Tante terlihat matanya berkaca-kaca.


Tante Restu menghela napas panjang.


"Ayo, kita turun!" ucap sang Tante menatap Lia dan melirik Cantika yang sedang tertuju tatapannya ke arah Lia.


Tante Restu pun membuka pintu mobil dan mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam mobil, Lia dan sang anak juga nampak turun dari di dalam mobil.


_____


Tiba di dalam rumah.


"Ayo, mau makan dulu atau istirahat dulu, tidur," ucap sang Tante menatap lekat ke arah Lia dan Cantika.


"Cantika mau sama Tante Restu di sini saja, nonton Televisi," ucap Cantika menatap lekat kepada Tante Restu.


"Ya udah, Lia mau istirahat di kamar dulu ya," ucap Lia, dia pun berlalu ke dalam kamar.


"Nanti Tante anterin makanan-nya ke kamar saja," teriak Tante Restu ketika terlihat Lia memasuki kamar, Tante Restu seakan peduli terhadap keponakannya tersebut.


•••


Ting...


Tiba-tiba pesan masuk ke ponsel Tante Restu. Sang Tante pun membuka layar ponsel, nampak terlihat di sana Ibunya Lia atau sang kakak memberikan sebuah pesan.


{"Dek, Saya besok datang ke rumahmu! Apa Lia, masih ada di sana? Kalau tidak ada, mungkin aku besok yang akan datang ke rumah dia besok,"} pesan dari Ibunya Lia, membuat dengan segera sang Tante membalas pesan tersebut.


{"Masih ada di sini, besok langsung saja datang ke rumahku Kak,"} balas pesan Tante Restu kepada sang Kakak.


{"Ya, sudah sampai ketemu besok ya,} balas Ibunya Lia


••


"Ternyata benar mau datang, biasanya hanya wacana saja, dia kan sibuk," gumam hati Tante Restu. Sang Tante hanya bisa mengelus dada.


________


Keesokan harinya.


Mobil sedan berwarna silver nampak memasuki garasi halaman rumah Tante Restu.


Nampak turun sepasang suami istri yang tidak lain adalah orang tua dari Lia, sontak melihat sang nenek dan kakek datang Cantika langsung lari dan memeluk erat.


"Cucuku sudah besar ya," ucap Pak Arif Sasongko, Bapaknya Lia.


"Iya, cantik lagi, sudah lama tidak bertemu dengan Nenek ya," sambung Ibunya Lia yang bernama Ibu Sinta.

__ADS_1


•••


"Mah, ada Nenek dan Kakek!" teriak Cantika memanggil mamahnya yang sedang berada di kamar.


"Halo, Kak! Sehat?" Tiba-tiba sang adik atau Tante Restu menghampiri sang Kakak dan berpelukan.


____


Ibu Sinta memasuki rumah, kemudian menanyakan keberadaan sang anak sedang berada dimana kepada adiknya itu. Telunjuk Tante Restu mengarah ke kamar depan.


Ibu Sinta pun menyeret langkah kakinya menuju kamar tersebut, setelah sang Ibu tengah berada di depan pintu, lalu dia mengetuk pintu kamar beberapa kali.


Tok..Tok..Tok...


"Lia, Li...,Ini Ibu, keluar!" ucap sang Ibu sambil terus mengetuk pintu kamar.


"Lia lagi kurang enak badan Kak,"ucap Tante Restu menatap lekat kearah sang Kakak. Tante Restu mencoba membela sang keponakan karena dia baru saja istirahat dan memasuki kamar meskipun yang mau bertemu itu ibu kandungnya sendiri, tapi Tante Restu tahu sifat dari kakaknya tersebut sangat cuek dan tidak perhatian terhadap sang anak.


"Ya, sudah mungkin kalau dia sudah bangun pasti nanti keluar dari kamar," ucap Ibunya Lia.


•••


Sang Ibu pun kembali duduk di kursi sofa sambil mengelus rambut sang Cucu


"Nak, Mama Papa Rian, enggak kesini?" tanya sang Nenek kepada Cucunya tersebut.


Cantika menggelengkan kepala dan matanya melirik ke arah Tante Resti seakan ada tanya terlihat dari bola mata sang anak tersebut.


Sedikitpun Ibunya Lia tidak menaruh curiga terhadap sang cucu yang menyembunyikan perselingkuhan kedua Papanya.


•••


Mungkin rasa luka dan rasa kecewa yang menyelimuti hati anak tersebut, karena mengetahui perselingkuhan yang dilakukan oleh Papanya kepada sahabat Mamanya sendiri.


"Cantika, belum tidur siang, istirahat yu!" ajak sang Tante mencoba menutupi masalah yang ada. Sang Tante takut jika Cantika akan merembet berbicara mengenai perselisihan kedua orang tuanya.


Mungkin bukan saat yang tepat kalau untuk sekarang membicarakan masalah keadaan rumah tangga Rian dan Lia, karena kedua orang tua Lia baru datang, dan tidak enak juga di depan anaknya Lia membicarakan masalah perselingkuhan Papanya.


•••


Cantika pun berlalu dari kursi sofa menuju kamar Tante Restu yang diikuti langkahnya oleh sang Tante.


"Sebenarnya sakit apa sih Lia itu Bu?"tanya Bapaknya Lia kepada sang Istri


Sang istri menggelengkan kepalanya dan menggerakkan bahunya


"Mana aku tahu Pak! Kan aku juga baru datang," ucapnya mengernyitkan dahi.


"Siapa tahu Restu ngomong sama kamu. Lia sakitnya apa!" ucap pak Arif terdengar nada bicaranya tinggi.


"Enggak, Restu nggak ngomong sama aku!" jawab sang istri menjawab cepat.


•••


Nampak kedua orang tua Lia begitu tegas ketika berbicara, dan nampak seakan tidak peduli dengan keadaan anaknya seperti apa. Mereka hanya tahu persoalan Lia semua dari Tante Restu, dan sang Tante yang berperan penting selama ini kepada Lia jadi kedekatan Lia dengan Tante Restu begitu dekat dibandingkan dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Pantesan Lia selama ini dekat sama Tante Restu karena Tante Restu, pribadi yang lembut dan perhatian.


_____


"Mau makan Kak?" tanya Tante Restu matanya melirik sang kakak dan suami dari kakaknya tersebut.


"Kita sudah makan tadi di luar," jawab sang Kakak atau Ibunya Lia.


"Lia sebenarnya sakit apa sih?" tanya Bapaknya Lia menatap lekat kepada Tante Restu.


•••


Nampak terlihat Tante Restu menghela napas panjang, dia pun dihinggapi rasa serba salah. Jika dia berbicara sekarang kepada kedua orang tuanya Lia, takutnya Lia tidak menerima dan belum siap jika nanti kedua orang tuanya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam kemelut rumah tangganya


"Apa aku lebih baik ceritanya nanti saja, setelah dia bangun tidur," gumam hati sang Tante.


•••


"Iya, Lia itu sakit apa?" sambung ibunya Lia terlihat sangat penasaran.


"Sakit biasa saja, kecapean. Lia kan pulang dari Singapura mungkin butuh istirahat saja," Tante Restu mencoba menutupi semua.


_____


Krekkkk..


Tiba-tiba suara pintu terdengar oleh semua orang yang tengah duduk di kursi sofa. Sontak pandangan mereka semua tertuju ke arah kamar tersebut. Nampak Lia keluar dari kamar itu dengan menampakan wajah yang lusuh dan terlihat pilu.


Lia membuka matanya dengan lebar tatkala melihat kedua orang tuanya yang sedang duduk di kursi sofa, Lia pun mencoba memberikan senyuman yang manis meskipun hatinya sedang dihinggapi rasa getir yang teramat.


Lia menyeret langkah kakinya ke arah kursi sofa, dimana kedua orang tuanya berada.


•••


"Lia, sudah enakan badannya," Tante Restu seakan mengkhawatirkan keadaan hati Lia.


Lia menganggukkan kepalanya, dan tersenyum kepada sang Tante.


"Alhamdulillah, Tan, agak mendingan," ucapnya. Lia pun mencium punggung tangan kedua orang tuanya lalu dipeluknya erat kedua orang tuanya itu.


•••


Entah mengapa butiran bulir putih lolos seketika di ujung matanya. Lia seakan tidak mampu menyembunyikan rasa sedihnya terhadap kedua orang tuanya itu.


Pikirannya berselancar jauh, Lia yang selama ini tidak bisa mengungkapkan isi hatinya dengan disakiti oleh sang suami kepada kedua orang tuanya, karena mereka terlalu sibuk mengurus bisnisnya. Hanya Tante Restu yang selama ini bisa mengerti dengan keadaannya dan bisa diajak berkeluh-kesah mengungkapkan semua rasa gundah gulana.


ketika sang Ibu memeluk dengan erat dan mengucapkan kata maaf, karena selama ini sibuk Lia tidak bisa menahan rasa tangisnya dia pun sesenggukan menumpahkan rasa perih hatinya dan rasa kecewa selama ini.


"Iya maafkan Ibu ya selama ini sibuk," ucap sang Iba dengan lirih.


Kata maaf Ibu sering sekali terdengar oleh mulut Lia, mungkin terasa hambar di telinga Lia karena sang ibu tidak melakukan tindakan untuk mencoba merangkul hati sang anak tidak seperti Tante Restu yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya.


"Bukan kata maaf, yang aku inginkan dari mulut Ibuku! Tapi rasa perhatian selama ini yang aku tidak dapatkan dari Ibu," gumam hati Lia. Dadanya terasa sesak ingin rasanya dia teriak menyampaikan kata itu semua kepada sang Ibu, tapi apa daya dia seakan tidak mampu untuk bicara.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2