
Keesokan harinya.
Nampak di rumah Frisilia Mehendra ramai karena dua hari lagi akan di langsungkan pernikahan antara Lia dan Adrian. Meskipun acara pernikahan dilangsungkan di Restoran milik Papanya Adrian tapi di rumah Lia sudah dipenuhi keluarga besarnya yang datang dari luar kota.
Lia saat ini tengah luluran di kamarnya aroma bunga melati sudah nampak tercium menyeruak di ruangan kamarnya yang berwarna putih. Lia tidak boleh kemana-mana oleh kedua orang tuanya karena akan menikah kalau suku Sunda atau Jawa menyebutnya acara pingitan untuk tujuan menghindari marabahaya. Hal ini mungkin menjadi pro kontra di kalangan masyarakat karena ada yang memakai ada juga yang tidak. Tapi Keluarganya Lia masih menggunakan tradisi ini.
_______
Setelah Lia mandi air hangat kemudian dia membaringkan badannya untuk proses luluran dan dari pihak salon yang akan merilekskan badannya nampak sudah siap dengan menyiapkan luluran untuk calon pengantin.
Lia badannya tengkurep tatkala menikmati sentuhan pijatan yang diberikan, terasa enteng badan dan pikirannya. Lia pun sambil memainkan ponselnya dan nampak Adrian memberikan beberapa pesan yang mengatakan rasa rindu dan ingin cepat melakukan Ijab Kabul.
{"Sabar Mas, dua hari lagi kita akan melangsungkan pernikahan dan menjadi pasangan halal dan semoga tidak ada aral melintang untuk menuju hal yang diridhoi Allah,"} pesan Lia terkirim ke ponselnya Adrian
_______
Nampak muncul pesan berikutnya dari mantan suami yaitu Rian. Lia pun seakan berpikir sejenak padahal dia sudah mengganti nomor baru dan dia pun tidak mengira kalau Rian bisa menghubunginya kembali. Dalam hati Lia bertanya-tanya siapakah yang memberikan nomor teleponnya kepada Rian?
{"Jujur dalam hati yang paling dalam aku tidak setuju jika kamu menikah lagi, karena aku masih mencintai kamu. Aku pun rela membatalkan acara pernikahan bersama Desy demi bersatu kembali dengan kamu. Kalau kamu jadi menikah dengan Adrian, anak kita jangan tinggal denganmu tapi denganku. Aku tidak rela kalau anakku di asuh oleh kamu dan Adrian!"} tulis pesan Rian.
Pesan tersebut membuat hati Lia bertanya-tanya. Mana mungkin Cantika begitu saja di asuh oleh Rian sementara dia juga ingin selalu bersama dengan anaknya. Apalagi sekarang keadaan Rian masih memakai kursi roda dan Bu Viona masih terbaring lemah karena mengalami keretakan di tangannya.
________
"Kalau aku balas pesan dia pasti Rian semakin menjadi-jadi balasan pesannya," gumam hati Lia.
Lia pun menutup ponselnya seakan malas untuk berdebat dengan mantan suaminya tersebut. Padahal begitu banyak yang harus Lia balas karena pesan yang muncul begitu banyak di ponselnya.
"Kenapa kamu selalu menjadi duri di kehidupan aku, Rian! Aku sudah ingin melupakan kamu, tapi mengapa kamu selalu mengganggu aku. Kamu membuat resah hatiku." gumam hati Lia.
Lia sudah menemukan kebahagiaan karena akan menikah dengan Adrian lelaki yang sangat tulus mencintai dia dan begitu besar pengorbanan yang mereka hadapi untuk sampai titik menuju pernikahan.
________
Lia pun nampak memejamkan matanya dan bayangan masa lalu, kini hinggap menerpanya. Kala itu di saat Desy selalu berkunjung ke rumahnya sementara dia sedang di Singapura bersama Tante Dini, dan Lia ketika itu juga memergoki sang suami memasuki sebuah Kafe untuk menemui Desy. Sepasang kekasih gelap itu bermesraan. Sungguh terasa diremas hati dan perasaannya.
"Argh.. ...." Lia menghembuskan napas kasar.
Bulir putih bening pun lolos seketika di pelupuk matanya dan nampak terlihat oleh wanita yang sedang memijitnya Lia meneteskan air mata bercucuran.
"Teh, kenapa!?" tanyanya.
Lia dengan cepat menghapus air matanya.
"Saya hanya kecapean dan mata berair," jawabnya berbohong.
"Mau pake kompres ya, matanya biar tidak lelah," ucapnya.
__ADS_1
Lia pun hanya menganggukkan kepalanya.
_______
Di ruang keluarga.
Nampak keluarga besar Lia sedang berbicara satu sama lain dan mereka tengah fokus memperhatikan Cantika yang sedang menceritakan kondisi Tante Dini.
"Jadi Tante Dini depresi!?" tanya Bu Sinta, Ibunya Lia dengan tatapan lekat ke arah cucunya. Cantika menganggukkan kepalanya.
"Untung kamu tidak di serangnya, Nak!" ucap kembali Bu Sinta dihinggapi rasa khawatir kalau cucunya akan di serang oleh Tante Dini karena belum pulih betul dari penyakit depresinya.
"Bu,,,!!" ucap sang suami mengedipkan matanya.
"Kenapa sih, Pak!" Bu Sinta merasa tidak sadar dengan ucapannya karena dia seakan memojokkan Tante Dini yang sedang sakit karena mengalami depres.
"Ibu jangan ngomong begitu enggak.baik, apalagi kita lagi kumpul keluarga besar.
Tutup aib orang lain sebagaimana kamu di tutup aibnya sama Allah," bisik sang suami.
_______
Ibu Sinta menunduk pandangannya dia pun tanpa sadar ingin membuka aib Tante Dini dan keluarga Rian di depan keluarganya sendiri karena begitu besar rasa kesal dia terhadap keluarga Rian sang mantan menantunya itu yang sudah menyakiti hati dan perasaan anaknya.
"Ayo, kita makan semuanya," Tante Restu mencoba membuyarkan obrolan karena nampak setelah Pak Arif, Bapaknya Lia berbicara semua keluarga terdiam.
Akhirnya sang Ibu dan Bapak beserta keluarga pun berlalu ke meja makan untuk menikmati makanan yang sudah tersaji.
________
Tiba-tiba ponsel milik Cantika berbunyi dan nampak sang Papa menelepon dan Cantika pun kembali duduk padahal kakinya akan melangkah ke meja makan.
{"Sayang, Mama Lia mau nikah ya, kapan!?"} tanya Rian di sambungan teleponnya.
{"Lusa Pah,"} jawab Cantika.
{"Bilang sama Mama, Papa boleh enggak datang ke acara pernikahannya!"} sindir Rian.
Cantika seakan tahu kalau sang Papa sedang menyindir Mamanya dan memojokkan.
{"Pah, Mama kan sudah mau menikah dengan Om Adrian jadi Papa jangan ganggu lagi Mama,"} ucap sang anak
{"Kamu jangan tinggal sama Mama ya, kalau Mama sudah menikah. Cantika tinggal saja sama Papa sama Nenek Viona. Apapun yang di inginkan Cantika pasti Papa belikan,"} sang Papa seakan merayu dan memaksa sang anak agar ikut bersamanya setelah Lia dan Ardian nikah nanti.
{"Enggak, Cantika enggak mau kalau harus tinggal sama Papa!"} Cantika spontan dengan nada tinggi berucap kepada sang Papa bahwa dia tidak mau tinggal bersama sang Papa setelah Mamanya menikah.
{"Loh, kenapa Sayang? Katanya yang Papa dengar Mama kamu nanti sering keluar kota bersama suami barunya dan kamu sering ditinggal sendiri,"} Rian mencoba menakuti Cantika dengan berbagai cara agar Cantika bisa ikut dengannya.
__ADS_1
_______
Sang anak pun nampak merasa heran karena sang Papa tahu bahwa Mamanya akan selalu pergi bersama suami barunya keluar kita untuk urusan bisnis.
Niat Rian sudah licik dengan dipisahkan Lia dengan sang anak maka Lia tidak akan leluasa untuk bertemu dengan sang anak setiap saat, dan hal ini akan jadi beban pikiran Lia karena Lia sangat dekat dengan sang anak. Jika Cantika bersama Rian otomatis Lia akan sering bertemu dengan Cantika dan ini kesempatan bagi Rian untuk bisa bertemu dengan Lia.
{"Kalau Mama Lia sibuk enggak apa-apa kok, Cantika tinggal sama Nenek Sinta saja atau Tante Restu!"} jawab Cantika.
Sontak pernyataan tersebut membuat hati Rian geram karena sang anak lebih memilih tinggal bersama Neneknya atau dengan sang Tante tidak dengan dirinya Papa kandungnya sendiri.
{"Kamu enggak nurut ya, sama Papa!? Sejak kapan kamu jadi membantah!"} Rian dihinggapi rasa emosi begitu terdengar di sambungan teleponnya.
Cantika hanya terdiam seakan malas untuk berbicara kembali dengan Papanya itu, dan anak tersebut nampak terkejut dengan ucapan sang Papa yang agak meninggi.
{"Atau jangan-jangan kamu di suruh Om Adrian untuk membantah perkataan Papa, Iya!?"} tanya Rian seakan memaksa sang anak untuk berbicara jujur.
{"Tidak! Om Adrian baik tidak seperti yang Papa bayangkan, malahan kemarin Cantika di antar Om Adrian menengok Tante Dini datang ke rumahnya,"} ejek sang anak
Degh...
Sontak dada Rian berdesir tatkala mendengar pengakuan dari sang anak bahwa Adrian yang mengantar Cantika ke rumah Tante Dini.
Hal ini seakan membuat rasa cemburu dalam diri Rian karena dia berpikir berarti Papanya sudah tahu calon dari Lia, dan Papanya bersama Tante Dini tidak membenci Adrian, malah kedekatan mereka begitu erat terjalin terbukti dengan bisa mengantarkan sang anak ke rumah Tante Dini.
_____
"Gawat nih, si Adrian sudah mepet saja sama Papaku!" gumam hati Rian dihinggapi rasa cemburu yang teramat.
Rian pun tanpa pamit dia menutup sambungan teleponnya dan ini menjadi tanda tanya besar bagi sang anak karena Papanya tidak seperti biasanya menutup sambungan telepon dengan tidak mengucapkan salam dan berpamitan kepadanya.
______
"Cantika,,!" teriak Tante Restu.
Sontak Cantika terkejut dengan suara Tante Restu yang memanggilnya.
"Iy-Iya Tan," ucapnya terkejut.
"Dari tadi di panggil memang enggak kedengaran ya? Ayo, makan dulu. Jangan asik mainin telepon saja!" ucap Tante Restu menghampiri Cantika yang dengan cepat menutup ponselnya. Dia tidak mau jika Tante Restu mengetahui bahwa Cantika baru saja menerima sambungan telepon dari sang Papa.
"Telepon dari siapa!?" tanya sang Tante melirik ponselnya Cantika.
"Lagi main game Tan," ucapnya terdengar gugup. Cantika tahu jika dia bicara jujur bahwa baru saja dia menerima sambungan telepon dari sang Papa mungkin Tante Restu akan marah.
"Oh,,,,Ayo, kita makan!?" ajak Tante Restu tanpa curiga sedikitpun.
"Ayo, Tan," jawab Cantika tersenyum sambil menyeret langkah kakinya menuju meja makan.
__ADS_1
Bersambung...