Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 85 Adrian pilu


__ADS_3

Para tamu pun akhirnya pulang.


Nampak terlihat raut muka dari Papa Steven dihinggapi rasa kesal, apalagi tatkala melihat sang anak setelah para tamu pulang dia tengah menerima telepon dari Lia begitu terlihat lembut dan sopan.


______


"Baik, Lia nanti sore aku kesana ya, untuk menjenguk kamu, mau di bawain apa?" ucap Adrian di sambungan teleponnya tersebut.


"Jangan Mas, jangan ngerepotin. Bawa doa saja. Mas, aku merasa bersalah disini, setelah kamu barusan cerita bahwa orang tua Zahira kembali kesana untuk membicarakan perjodohanmu kembali," ucap Lia.


Adrian baru menceritakan semuanya kepada Lia tentang kedatangan Zahira bersama kedua orang tuanya tersebut.


"Kamu tidak salah Lia, sudah sabar saja," ucapnya pelan karena nampak sang Papa duduknya mendekat ke arahnya.


Sambungan telepon pun terputus setelah beberapa menit Adrian menelepon Lia.


_________


"Aku nanti sore mau pergi Pah," ucapnya. Adrian beranjak dari tempat duduknya.


"Diam,,! mau kemana kamu!? Mau ke rumah Lia kan? Papa harap kamu dibatasi untuk datang ke rumah dia, karena Lia janda kamu tidak baik bulak-balik datang kesana, gimana tanggapan orang nanti," ucap sang Papa.


"Tapi Pah, Lia sedang sakit jadi Adrian harus menjenguknya kasihan," jawab Adrian terlihat memelas.


"Dia masih ada di rumah kan? Masih bisa menerima telepon kamu, dan belum dibawa ke Rumah Sakit, masih sehat, jadi kalau kamu tidak nengok dia pun tidak apa-apa," ucap sang Papa.


_____


Nampak Adrian pun seakan meminta pertolongan dari sang Mama, matanya lekat ke arah sang Mama dengan menunjukkan rasa ingin di lindungi. Tapi sang Mama mengedipkan matanya seakan meminta kepada Adrian untuk kali ini saja menurut kepada omongan sang Papa untuk tetap tinggal di rumah jangan pergi ke rumah Lia,


Adrian pun diam tidak berani menyela omongan sang Papa, karena baru saja dia telah mengecewakan sang Papa.


"Pah, maafkan Adrian, mungkin Adrian tidak berbakti sama Papa dengan tidak menuruti omongan Papa dengan perjodohan ini, tapi rasa cinta Adrian begitu besar kepada Lia.


Adrian harap Papa bisa mengerti," ucap Adrian dengan menatap sang Papa.


Sang Papa hanya terdiam dia pun seakan tidak mampu lagi untuk memarahi sang anak, tamparan keras di pipi Adrian yang di layangkan oleh sang Papa sebenarnya membuat hati sang Papa tidak tega dan menyisakan rasa bersalah.


"Nak, lebih baik kamu istirahat dulu masuk kamar tenangkan pikiran dan dengar apa kata Papa, ya! Mama mohon," ucap sang Mama wajahnya seakan memelas kepada sang anak agar Adrian kembali ke kamarnya agar situasi tidak memanas.


Adrian pun berlalu dari hadapan kedua orang tuanya dengan memasuki kamarnya,


________

__ADS_1


Sementara sang Mama hanya menghela napas panjang.


"Pah,," ucap sang Mama lirih.


Sang Papa hanya diam tidak bergeming sedikitpun. Pikirannya berselancar memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi, dia seakan malu oleh Papanya Zahira yang telah berjanji untuk menjodohkan anaknya tersebut.


"Maafkan Adrian, Pah, dan Mama juga karena Mama tidak bisa membujuknya. Mama sudah semaksimal mungkin membujuk Adrian untuk mau di jodohkan dengan Zahira tapi, semua sia-sia saja," ucap sang Mama matanya berkaca-kaca.


Papa Steven membuang napas kasar.


"Papa harap Mama bisa tegas dengan sikap Mama kepada Adrian, jangan terlalu di manja. Untuk saat ini Mama harus bisa melarang Adrian bertemu dengan Lia dan harus sering mengundang Zahira kesini untuk acara makan, kalau bisa ajak Zahira dan Adrian keluar jalan-jalan masalah keuangan nanti Papa yang atur. Dengan begitu mereka akan dekat dan bisa mengenal satu sama lain." sang Papa kembali berharap agar Adrian bisa saling kenal lebih dekat dengan Zahira


"Tapi Pah, mungin sulit untuk di lakukan karena Adrian sendiri sudah mencintai Lia, dan jika dipaksa untuk bertemu dengan Zahira rasanya sulit," ucap sang Mama seakan ragu dengan keputusan sang suami


"Mama gimana sih! Kan belum dicoba masa sudah menyerah begitu saja," ucap sang Papa terdengar kesal kepada sang istri karena omongannya seakan disepelekan.


Mama Silvi pun pandangannya menunduk, dia seakan dihinggapi rasa serba salah.


Papa Steven pun kemudian berlalu ke dalam kamar dengan sejuta kesal di hati.


__________


Mama Silvi pun pikirannya kembali mengingat masa lalu, bagaimana susahnya dia untuk mendapatkan cintanya sang suami ketika dulu. Steven merupakan lelaki rebutan di kampus, Mama Silvi sangat mencintai Papa Steven dan saat itu Mama Silvi tidak percaya diri, pada akhirnya akan mendapatkan cintanya Papa Steven.


"Aku dulu dikejar oleh seorang lelaki yang bernama Yosi Soediharjo, dan terakhir kudengar dia sekarang kerja disalah satu Bank dan mempunyai jabatan," gumam hati Mama Silvi dengan memejamkan matanya.


Yosi Soediharjo dia lelaki play boy, dengan ketampanan dan materi yang berlimpah, mungkin itu senjata dia untuk menjerat hati wanita, namun tidak dengan Mama Silvi, dia tidak tertarik dengan itu semua yang ada dalam hatinya hanya Steven.


Mama Silvi menghela napas secara perlahan.


"Ya, itu masa laluku. Meskipun dikejar oleh lelaki yang aku sangat mencintaiku tapi kalau tidak ada hati tetap aku menolak, begitupun dengan Adrian," gumam hati Mama Silvi.


_______


Sementara didalam kamar Adrian nampak menghubungi Lia kembali dan dia memintakan maafnya kepada Lia, karena dia tidak jadi berkunjung ke rumah Lia untuk menengoknya.


{"Enggak apa-apa,Mas. Kamu harus turuti apa kata Papamu, aku sudah agak mendingan kok, aku sangat mengerti dengan kondisi keadaan keluargamu sekarang seperti apa. Mungkin kita lebih baik introspeksi diri masing-masing,"} ucap Lia dengan lirih di sambungan teleponnya.


{"Tapi Lia, aku sangat mengkhawatirkan keadaan kamu disana,"} ucap Adrian.


{"Tak perlu khawatir Mas, barusan Tante Restu akan datang kesini untuk menjengukku,"} ucap Lia mencoba menenangkan hati Adrian agar tidak dihinggapi rasa khawatir.


_______

__ADS_1


Adrian hanya membuang napas kasar, memang berat cinta yang di lalui Adrian untuk mendapatkan cinta dari Lia penuh aral melintang.


"Mengapa kamu tidak menerima cintaku dulu Lia! Ketika statusmu lajang mungkin Papaku akan menerima cinta kita, mengapa karena perbedaan status kita tidak bisa di satukan! Apa salahku!?" gumam hati Adrian.


Adrian pun seakan menyalahkan dirinya sendiri, hatinya seakan hancur lebur.


Cinta yang dulu dia kejar dan seolah kini dapat dia raih namun tidak semudah itu dia rengkuh karena perbedaan status.


Tok...Tok..Tok..


Lamunan Adrian di buyarkan oleh ketukan suara pintu di luar kamarnya. Adrian pun mencoba mengatur deru napasnya yang kian sesak di dada.


Ceklek..


Nampak Mama Silvi datang dari pintu kamar, sang Mama mencoba tersenyum lebar ke arah anaknya tersebut, namun seakan ada keterpaksaan karena dari binar matanya nampak dia pun merasakan rasa gundah gulana yang tengah dihadapi oleh Adrian.


Mama Silvi mematung di depan pintu rasanya tak sanggup untuk mengajak Adrian untuk keluar rumah bersama Zahira sebagaimana yang telah disampaikan oleh Papa Steven.


Mama Silvi harus bisa mengatur semuanya agar pertemuan Adrian dan Zahira lebih intens agar hubungan bisa erat terjalin karena itu yang di inginkan oleh Papa Steven.


______


"Sayang,,,," Mama Silvi menghela napas secara perlahan seakan tidak sanggup untuk meneruskan ucapannya itu.


Adrian menatap Mamanya dengan penuh makna, nampak binar matanya seakan ada kepalsuan ketika dia mencoba tersenyum.


Bola mata Adrian seakan menari-nari dan mengajak sang Mama untuk segera menghampiri sang anak karena hati sang anak sedang terluka terasa perih seperti tersayat belati.


Mama Silvi pun seakan mengurungkan niatnya tersebut untuk mengutarakan niatnya mengajak Adrian keluar bersama Zahira, karena Mama Silvi melihat binar mata sang anak begitu terlihat sedih.


Kemudian dia menyeret langkah kakinya dan menghampiri anaknya yang sedang butuh pelukan.


"Sayang, Mama merasakan apa yang kamu rasakan saat ini, tapi Mama yakin pasti ada solusinya," sang Mama memeluk dengan erat anaknya tersebut dengan bercucuran air mata. Nampak terasa sesak hati sang Mama saat ini.


"Adrian selalu sabar Mah, Mama jangan khawatir, Adrian tetap menunggu Lia kok, meskipun di usia Adrian yang sudah tidak muda lagi, dan meskipun Lia nanti pada akhirnya mendapatkan jodoh kembali selain Adrian tidak apa-apa. Adrian ikhlas tapi Adrian akan memohon sama yang di atas semoga Lia mendapatkan jodoh yang terbaik yang tulus menyayangi dia. Adrian tidak mau Lia terluka kembali," ucapnya dengan pelukan erat terhadap sang Mama.


Sang Mama tambah terisak tangis tatkala sang anak berucap seperti itu, seakan dia sekarang yang tengah di posisi tersebut.


______


"Mah,,,,!" terdengar teriakan Papa Steven dari luar, Mama pun nampak menghapus air mata mereka. Kemudian Mama Silvi menghapus air mata sang anak.


"Mama yakin kamu kuat, Nak," sang Mama mengecup lembut kening sang anak dan mengusap lembut rambut sang anak dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2