
Dua hari kemudian.
Papa Steven pun nampak bertemu dengan Laras temannya di sebuah Restoran miliknya. Laras adalah temannya yang menawarkan rumah kepadanya.
"Hebat kamu Steven semua bisnis kamu lancar aku ikut senang," ucap Laras ketika bertemu dengan Papa Steven di siang hari. Laras nampak matanya berselancar di sekeliling Restoran tersebut yang nampak ramai oleh pengunjung.
"Jadi jam berapa kita lihat rumahnya?" tanya Papa Steven menatap Laras temannya itu.
Laras teman relasi bisnisnya yang baru setahun tinggal di Bandung, Laras sangat jago dalam berbisnis.
"Nanti satu jam lagi karena yang punya rumah masih dalam perjalanan," jawab Laras.
"Kenapa gak kamu saja yang beli rumah itu Laras? padahal duit kamu kan banyak. Hehehe..," sindir Papa Steven dengan suara terkekeh. Dia tahu temannya Laras banyak bisnisnya apalagi suaminya yang mempunyai sebuah Hotel dan Restoran.
"Terlalu banyak aset aku! Hahaha,,," Laras terdengar sombong.
"Percaya sih, kalau sama kamu, karena kamu dan suami gigih dalam bekerja," ucap Papa Steven mengacungkan jempol.
_________
Ting...
Tiba-tiba ponsel Laras berbunyi dan disana terlihat sebuah pesan muncul. Nampak di layar ponsel Ibu Viona memberikan sebuah pesan.
{"Aku tiba di lokasi sekitar 20 menit lagi,"} pesan dari Bu Viona terbaca oleh Laras dan Laras pun memberikan kabar tersebut kepada Papa Steven.
"Kita pakai mobil masing-masing ya, dan mobilku mengikuti mobilmu dari arah belakang. Aku dan istri sudah jatuh hati dengan rumah tersebut jadi mungkin pertemuan sekarang dengan pemilik rumah masalah pembayaran." ucap Papa Steven.
"kamu nggak akan nawar lagi harga rumah tersebut?" tanya Laras mengernyitkan dahi.
"Kalau menurutku sudah cukup, itu harga yang murah. Kasihan juga kalau ditawar karena yang punya rumah juga kan lagi butuh uang untuk modal usaha," terlihat Papa Steven orang yang baik dan dermawan jadi dia tidak mempermasalahkan harga rumah tersebut dan tidak mau menawarnya.
"Padahal kalau menurutku ditawar menjadi 800 atau 850 juta bisa loh," Laras seakan ingin temannya menawar harga rumah yang akan dibeli.
"Sudahlah nggak apa-apa, anggap aja sedekah hehehe...," ucap Papa Steven nampak tersipu malu.
"Gaya! sedekahnya banyak ya,, Alhamdulillah,," sindir Laras dengan menutup mukanya oleh 10 jari tangannya.
"Ya, yang jual rumah kan lagi butuh uang, kita nolong dia berarti kita termasuk sedekah. Kalau kita tawar belum tentu uang tersebut cukup untuk dia gunakan sebagai modal usaha." ucap Papa Steven kembali menerangkan. Papa Steven seakan iba tatkala tadi Laras menceritakan kondisi orang yang akan menjual rumah, perusahaan mengalami kebangkrutan jadi keluar kerja dan juga mengalami kecelakaan mobil.
"Ya benar juga tapi kalau sedekah kan bisa ke orang yang tidak mampu!," ejek Laras.
"Oh, kalau itu jangan ditanya. Setiap saat pasti aku sedekah ke panti asuhan, mesjid, anak yatim dan orang yang membutuhkan," jawabnya tegas.
"Iya, iya, aku tahu. Aku becanda kok," Laras tersipu malu. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Steven temannya tersebut orang yang dermawan dari dulu makannya rezekinya lancar melimpah ruah.
_________
Papa Steven dan Laras pun keluar dari dalam Restoran dan mereka masuk ke dalam mobilnya masing-masing. Setelah itu mereka pun berlalu menuju rumah yang akan dibeli yaitu rumahnya Rian.
__ADS_1
Nampak dalam mobil Papa Steven bersenandung bernyanyi dan dia nampak gembira sekali, terlihat di layar ponselnya sang istri memberikan sebuah pesan bahwa setelah suaminya melihat rumah tersebut dia ingin suaminya buat video keadaan rumah yang akan dibelinya.
{"Oke,,"} balas pesan Papa Steven kepada istrinya tersebut.
_______
Tiba di tujuan.
Akhirnya tiba juga di rumah miliknya Rian yang akan dibeli oleh Papa Steven. Dan nampak Rian dan Bu Viona sudah menunggu disana. Mereka duduk di depan kolam ikan koi. Rian terlihat fokus menatap kolam tersebut, dia seakan ingat mas lalu bersama sang istri dulu. Jika sebuah pertengkaran terjadi antara dirinya dan Lia, sang istri selalu termangu duduk di dekat kolam ikan koi.
"Rian, tamunya sudah datang. Ayo, kita sambut dengan ramah," bisik sang Ibu lekat ke kuping Rian.
Rian nampak terkesiap seakan dibangunkan dari lamunannya. Rian pun nampak tersenyum ramah tatkala sang pembeli rumah berjalan ke arahnya yang diikuti oleh teman Ibunya yaitu Laras.
_______
Nampak Rian mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Dan tangannya Bu Viona masih di perban dan menggunakan penyangga seakan berat tangannya untuk mengulurkan tangannya.Papa Steven pun seakan iba tatkala melihat kondisi Bu Viona seperti itu.
Papa Steven pun nampak mengelilingi rumah Rian dan Rian mengikuti dari arah belakang. Sementara Bu Viona bersama Laras temannya duduk di teras rumah.
"Gimana Pak, cocok dengan rumahnya!?" tanya Rian ketika berjalan ke arah halaman belakang bersama Papa Steven.
"Ya, rasanya aku mau beli rumah ini, buat hadiah sih, sebenarnya," ucap Papa Steven.
"Hebat, hadiah untuk siapa Pak?" tanya Rian seakan kagum dengan lelaki yang kini tengah bersamanya karena dia akan memberikan sebuah hadiah rumah.
"Anakku, dia anak kesayanganku," jawab Papa Steven tersenyum lebar.
"Jadi bagaimana harga sesuai dengan yang kita bicarakan semalam ya," ucap Papa Steven kepada Rian.
"Ya, harga tetap segitu Pak," Rian tersipu malu dan seakan tidak ingin jika harga rumahnya turun.
"Iya, tidak apa-apa saya tidak akan menawar harganya. Katanya mau buka usaha ya? Maaf usaha apa?" tanya Papa Steven.
"Usaha buka Kafe," jawab Rian.
"Wah, bagus itu bisnis kuliner semoga usahanya maju ya," Papa Steven kemudian berjalan ke arah depan dengan di ikuti oleh Rian dari belakang.
________
Akhirnya Papa Steven pun duduk di depan bersama Bu Viona dan Rian.
Rian nampak mengeluarkan sertifikat rumah dan nampak mereka pun melakukan tandatangan dan Papa Steven mengeluarkan uang di dalam amplop berwarna coklat.
"DEAL!"
Mereka pun akhirnya bersalaman.
_________
__ADS_1
Papa Steven pun akhirnya pamit kepada Rian karena ada pesan dari sang istri meminta untuk di jemput oleh sang suami karena acara arisan dan belanja bersama Ibunya Lia sudah selesai.
Nampak di dalam mobil sang istri menelepon dan sang suami pun menepikan mobil terlebih dahulu.
{"Iya, Mah, ini Papa menuju kesana mau jemput Mama, Mama sudah belanja sama Ibunya Lia?"} tanya sang suami
{"Sudah Pah, kirain Papa masih di rumah yang baru dibeli,"} jawab sang Mama.
{"Memangnya kenapa Mah?"} tanya Papa Steven dihinggapi rasa penasaran.
{"Papa lupa ya, katanya tadi mau bikin video suasana rumah yang Papa beli. Soalnya Ibunya Lia mau lihat rumahnya,"} ucap sang istri terdengar dia sangat menunggu kalau sang suami bisa mengirimkan video rumah yang dibeli sang suami. Saat dia sedang berada di rumah yang baru saja dibeli.
{"Aduh Papa lupa Mah! Ya, sudah nanti Mama ke sana saja. Sudah dibeli barusan kok, sama Papa. Rumahnya sejuk pokoknya nyaman dan ini sertifikatnya ada di bawa sama Papa! Mah, nanti kita bicarakan masalah rumahnya karena Ini Papa lagi di jalan,"} ucap sang Papa. Dan Akhirnya sambungan telepon pun akhirnya terputus.
________
Tiba di Kafe.
Nampak Mama Silvi tengah asik ngobrol dengan Bu Sinta atau sang besan.
"Apa kabar Bu," Papa Steven mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah kepada Ibunya Lia.
"Alhamdulillah Pak, tambah segar saja Papanya Adrian," ucap sang besan dan tersenyum ramah.
Nampak Papa Steven tersipu malu kemudian dia melirik belanjaan sang istri yang begitu banyak.
"Sudah belanjanya Mah?" tanya sang suami sambil duduk di pinggir sang istri.
Mama Silvi menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar.
"Oh, iya terima kasih Pak, barusan Ibu di beliin baju sama Mama Silvi," ucap Bu Sinta.
"Iya, Bu, mumpung ada sedikit rezeki," jawab Papa Steven.
"Alhamdulillah Papanya Adrian baru beli rumah ya, di daerah mana Pak?" tanya Ibunya Lia bola matanya melirik ke arah Papa Steven.
"Di komplek Griya Duta Bu," jawab Papa Steven.
"Komplek Griya Duta kan rumah Lia, dulu dia tinggal disana," gumam hati Ibunya Lia.
"Buat investasi saja Bu, dari pada uangnya habis pake belanja," sindir Papa Steven dengan melirik sang istri.
"Apa sih, Pah!" sang istri wajahnya nampak merah merona dan mencubit paha sang suami tanpa diketahui oleh Ibunya Lia.
"Suasana di komplek Griya Duta udaranya sejuk ya? Disana juga banyak pepohonan," ucap Ibunya Lia.
Ibunya Lia seakan mengingat kembali masa-masa dia ketika berkunjung ke rumah sang anak dan dalam pikiran sang Ibu pun seakan ingin kembali ke rumah itu.
"Andai rumah itu diberikan Rian kepada Cantika, aku ingin tinggal disana karena udaranya sejuk," gumam hati sang Ibu berkhayal.
__ADS_1
Bersambung...