
Lia memberikan sebuah pesan kepada Desy.
{"Des, kamu mungkin pemenangnya, dalam sebuah cinta. Tapi caramu sangat licik dan salah, karena kamu merebut suami sahabatmu sendiri atau sang Pelakor!"} bunyi pesan dari Lia, sang sahabat sangat membuat debaran jantung Desy tidak karuan.
Desy pun seakan dihinggapi rasa bersalah terhadap sang sahabat tersebut, dia mencoba untuk memberikan balasan pesan kepada Lia, tapi niatnya tersebut dia urungkan. Ada rasa malu dan bersalah, tapi di lain sisi dia sangat mencintai sang pujaan hati atau suami dari sahabatnya itu.
Pesona Rian dengan lesung pipinya dan tubuhnya yang atletis seakan menggoda Desy, itu pikiran dia yang tidak normal karena dia mencintai suami orang, kalau dia pikirannya normal tidak akan memiliki hak orang lain karena itu bukan haknya.
Desy menghela napas secara perlahan.
Dia pun memberanikan diri untuk membalas pesan dari Lia walau dengan tangan bergetar karena dihinggapi rasa salah.
{"Aku mau kok, dijadikan istri kedua,"} balas pesan dari Desy dengan diakhiri dengan emotion maaf.
_____
Lia pun menyimpan ponselnya dengan kasar, dia berpikir sudah malas untuk membaca isi pesan dari Desy.
"Terlambat! aku akan gugat Rian, suamiku. Silahkan, kamu rebut dia dari aku karena aku sudah muak dengannya!" gumam hati Lia.
Lia seakan kesal bercampur muak dengan pesan balasan dari Desy, dia seakan tidak menghargainya yang begitu perih hatinya dan terluka saat ini.
"Mungkin si Desy tidak tahu aku akan menggugat suamiku, dan mungkin Rian tidak menceritakan kepada Desy bahwa dia akan diceraikan oleh aku!" kembali dia pikirannya berselancar memikirkan kedua orang tersebut.
___
Teringat masa lalu, ketika Lia sebelum bertemu dengan Rian dan saat itu Lia belum bersahabat dengan Desy.
Lia mengenal seorang lelaki yang bernama Adrian, dia sosok yang jadi rebutan wanita, saat itu Adrian mengejar cinta Lia, namun Desy seakan tidak tega jika Lia berpacaran dengan Adrian.
Malahan Desy dengan antusias, mendekati Adrian, untuk mendapatkan cinta Adrian Desy rela berkorban dengan cara selalu memberikan perhatian kepada lelaki tersebut.
Namun pengorbanan Desy sia-sia karena Adrian tidak mencintai Desy, dan dia pergi begitu saja meninggalkan Desy, karena rasa perhatian dia tidak disambut oleh Lia.
Maka Adrian pun pergi entah di mana sekarang keberadaannya.
Lia pun berpikir ke arah masa lalu, dia bersama Desy begitu rumit dengan persoalan cintanya. Lia menyadari bahwa Desy adalah seorang pengkhianat dengan merebut lelaki yang selalu dekat dengannya.
_____
Lia menghembuskan napas kasar.
"Aku wanita bodoh, kenapa tidak berhati-hati dengan sosok Desy, sang penghianat!" ucapnya. Pandangan Lia seakan kosong mengingat sosok Desy.
__ADS_1
Tok..Tok..Tok..
"Nak, boleh Ibu masuk," ucap sang Ibu berteriak dari arah luar kamar.
"Iya,,, Bu!" jawab Lia lirih.
Krekkkk..
Setelah pintu terbuka sang Ibu pun menatap Lia dari arah pintu dengan tatapan penuh arti, nampak terlihat dari raut mukanya sang Ibu dihinggapi rasa bersalah karena selama ini dia tidak bisa memperhatikan sang anak, dia hanya sibuk dengan pekerjaannya.
Sang Ibu mendekati Lia yang sedang duduk di meja rias, kemudian sang Ibu memeluk Lia dengan erat.
"Nak, maafkan Ibu ya," sang Ibu sesenggukan menangis, terdengar begitu serak dan dihinggapi rasa bersalah yang begitu dalam.
Lia hanya menganggukkan kepalanya, dia pun tidak mau menyalahkan sang Ibu, meskipun selama ini sang Ibu tidak bisa mencontohkan menjadi Ibu yang baik karena terlalu memikirkan dirinya sendiri.
•••
Kemudian sang Ibu mengusap air matanya, dan mencoba bersikap tegar dihadapan anaknya tersebut.
"Nak, belum mandi ya, katanya hari ini mau ke pengadilan!" ucap sang Ibu.
Terlihat sang anak dari mukanya sangat lelah, mungkin dia sakit karena kurang tidur dan banyak pikiran.
Lia pun seakan tahu maksud sang Ibu mengajak Lia pergi ke pengadilan hari ini, karena besok sang Ibu tidak bisa menemaninya, disebabkan karena sudah masuk kerja dan akan pergi keluar kota untuk tugas dari kantor.
"Iya, maaf Ibu tidak bisa mengantarkan kamu ke pengadilan ya, Ibu tidak ada waktu," jawabnya tersenyum malu, seakan menyabarkan hati sang anak.
•••••
"Sampai kapan Ibu ada waktu denganku, dari dulu juga tidak ada waktu!" gumam hati Lia.
Di dalam hati Lia sebenarnya dia ingin mengungkapkan semua isi hatinya, bahwa dia saat ini sedang perlu perhatian dari sang Ibu karena dia akan menghadapi sidang perceraian. Dia butuh pendamping yang bisa buat dia nyaman dan buat dia merasa ada perlindungan.
"Lia, gimana keadaan kamu sehat?" tiba-tiba Tante Restu datang dengan membawa teh manis hangat, Tante Restu begitu sangat perhatian terhadap sang keponakan.
Dia pun sangat peduli di banding dengan Ibunya Lia.
"Alhamdulillah, Tante,,," jawabnya.
"Tan, kalau kondisi badanku memungkinkan nanti besok antar aku ke pengadilan," ucap Lia begitu berharap Tantenya bisa mengantarkannya ke pengadilan.
"Lia menurut Tante jangan dulu memikirkan masalah pengadilan, urus dulu keadaan kamu agar sehat, dan nanti di pengadilan pikiran kamu kembali fresh jika kamu istirahat dengan benar," ucap sang Tante sambil membelai rambut sang keponakan yang terurai panjang.
__ADS_1
_____
Terdengar suara Bapaknya Lia.
"Bu, kesini sebentar!" teriak sang suami di ruang tamu.
"Sebentar ya, Ibu dipanggil Bapak" ucapnya.
Ibunya Lia pun akhirnya keluar dari kamar karena dipanggil oleh sang suami.
•••
"Tan, tadi Lia sudah hubungi Desy walaupun dengan pesan WhatsApp,,," nampak Lia mengatur napasnya agar tidak tersulut emosi ketika mengingat sosok Desy
"Terus kamu bilang apa!?" sang Tante seakan dihinggapi rasa penasaran.
"Intinya, Desy ingin menikah dengan Rian, dan dia katakan mau jika dijadikan isteri kedua. Dan aku tadi bilang kepada Desy, silahkan kalau kamu mau hidup bersama Rian." ucapnya.
"Berarti dia tidak tahu, bahwa kamu akan menceraikan Rian dan mungkin Rian pun tidak bicara kepada Desy bahwa dia akan diceraikan oleh istrinya," ucap sang Tante.
Sang Tante berpikir, mungkin Rian masih berat untuk meninggalkan Lia terutama Cantika. "Tapi aku tidak peduli itu!" gumam hati sang Tante.
•••••
Sang Tante pun sebenarnya berpikir, Rian adalah sosok lelaki yang tanggung jawab, tapi entah mengapa setelah adanya kedatangan Desy, hidup Lia seakan runyam dan tidak tertata karena rasa egois Rian kian menganga setelah kenal dengan sosok Desy.
"Aku yakin Rian tidak mau menceraikan Lia, dalam hatinya sangat berat dan terpukul nampak kemarin aku lihat dari sirat matanya seakan ada kepedihan yang mendalam di mata Rian," gumam sang Tante
____.
"Tante besok ada waktu untukku!?" tanya Lia.
"Sebenarnya Tante mau lihat Toko Boutique milik sahabat Tante, namun jika kamu besok mau ke pengadilan dan ingin di antar, Tante siap mengantarnya," ucap sang Tante.
"Besok saja, kita ke pengadilan Tante, setelah itu aku mau bertemu Desy! Aku ingin cepat selesai urusan dengan Rian dan Desy, meskipun aku sedang kurang enak badan," ucapnya.
"Tante tadi sudah bilang, Sayang, lusa saja kita ke pengadilannya," jawab sang Tante dihinggapi rasa khawatir dengan keadaan sang keponakan.
Tapi Lia seakan ingin cepat menyelesaikan urusannya bersama kedua orang yang telah mengkhianatinya.
Tante Restu hanya menatap sang keponakannya itu dengan perasaan yang pilu.
Kemudian sang Tante memeluk erat Lia dengan pelukan yang penuh arti.
__ADS_1
Bersambung...