Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 44 Rasa Sesal


__ADS_3

Pagi itu cuaca sangat cerah sekali, Rian pun berniat untuk pergi ke rumah Tante Restu untuk bertemu dengan Lia. Tapi dia tidak bicara kepada Ibunya bahwa dia akan pergi menemui Lia.


"Rian, kamu mau ke mana?" tanya sang Ibu.


"Ada urusan Bu, sebentar saja," ucapnya lirih.


Mata Rian terlihat sembab mungkin karena semalam dia habis menangis. Rian seakan menyesali dirinya sendiri yang tengah berselingkuh, dan sekarang harus berhadapan dengan Lia untuk mengambil keputusan gugatan cerai dari Lia.


"Ini kan hari minggu, kamu istirahat saja di rumah," ucap sang Ibu dengan memohon.


•••


Ibu Viona terlihat ingin selalu ditemani oleh Rian sang anak, dia merasa kesepian karena sang suami selalu tidak hadir ketika dia butuhkan untuk sekedar berkeluh kesah pun sepertinya Bapak Yosi atau suami dari Ibu Viona, selalu berdalih tidak ada waktu terhadap istrinya tersebut.


"Ya, Bu, Rian ada perlu," ucapnya kembali.


"Mau ketemu Desy!?" ejek sang Ibu terlihat tersenyum tipis.


"Maaf Bu, untuk sekarang jangan bahas dulu Desy! Rian sedang bingung," jawabnya.


"Kalau kamu nyaman dengan Desy, ya sudah. Kamu deketin saja terus," ucap kembali Ibu Viona seakan mendukung.


_____


Rian pun nampak diam dalam hatinya berpikir mengapa sang Ibu begitu benci kepada Lia, dan sekarang pun malah Ibunya menyuruh Rian untuk mendekati Desy, padahal dia bersama Lia belum resmi bercerai.


"Rian, mau nanya sama Ibu, tapi jawab jujur ya," tanya Rian pandangannya lekat ke mata sang Ibu. "Kenapa, Ibu begitu benci kepada Lia?" tanya Rian kembali.


•••


Ibu membuang napas kasar, dia pun membalikan badannya. Terlihat Ibu Viona seakan tidak mau membahas tentang rasa kekesalan dia terhadap Lia


"Sudahlah kamu jangan bahas itu lagi. Lagian kamu kan mau bercerai juga dengan Lia," ucapnya seakan tidak ada beban dan cuek.


"Ibu itu aneh ya, harusnya Ibu sebagai orang tua tidak mendukung Rian untuk bercerai, meskipun kesalahan ada pada anak Ibu sendiri. Lia orangnya baik, aku pun menyesal telah mengkhianati Lia. Tapi mengapa Ibu begitu berambisi agar aku bisa bercerai dengan Lia!" Rian seakan dihinggapi rasa penasaran terhadap sang Ibu yang begitu membenci Lia.


"Cukup! Sudah, cukup! jangan bahas kenapa Ibu kesal terhadap Lia," tegas sang Ibu.


•••••


Ibu Viona pun berlalu dari hadapan Rian, lalu dia memasuki kamar dan mengunci pintu tersebut.


Nampak Rian dihinggapi rasa kesal terhadap sang Bapak yang selalu sibuk dengan Tante Dini, dan kesal dengan sang Ibu yang selalu benci terhadap Lia.


Rian pun berlalu dari rumahnya, kemudian dia memasuki mobil.


Ting..


Baru saja memasuki mobil tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk di ponselnya Rian.


Rian pun merogoh ponselnya yang berada di baju kemejanya.


{"Mas, kapan kesini, orang tuaku sedang ada di rumah. Kamu main dong kesini! Aku kangen sama kamu,"} tulis pesan Desy kembali menggoda Rian.


Rian menghela napas secara perlahan.


"Aku harus membereskan satu persatu masalahku," ucap Rian.


Rian pun kembali menaruh ponselnya ke dalam saku baju kemejanya itu tanpa membalas pesan dari Desy.


Rian kemudian melajukan mobilnya dengan dihinggapi rasa berdebar di dada karena akan bertemu dengan keluarga Lia.


•••••

__ADS_1


Tiba di rumah Tante Restu.


Cantika yang sedang duduk di ruang tamu dengan pandangan mengarah ke jendela luar nampak tersenyum sumringah, dia pun berlari ke arah teras rumah tatkala melihat mobil sang Papa atau Rian memasuki halaman garasi rumah.


•••


"Papa,,," teriak Cantika sang anak.


Cantika pun memeluk erat sang Papa dengan penuh rasa rindu, karena sudah 3 hari dia tidak bertemu dengan sang Papa.


"Papa nanti nginep disini ya, di rumah Tante Restu, dan pulangnya besok bareng sama Mama." tersenyum lebar ketika Cantika berucap.


Ucapan sang anak terasa menyayat hati, mungkin karena anak tersebut tidak tahu bahwa kedua orang tuanya tengah berseteru dan sang Mama atau Lia sudah ada niat untuk menggugat cerai dirinya.


Rian hanya menghela napas panjang, dan mencoba tersenyum, walaupun senyuman yang dia torehkan seakan tiada arti lagi.


___


Rian nampak duduk di kursi teras.


"Ayo, masuk Pah, kenapa diam di luar!?" rengek sang anak meminta Rian untuk masuk ke dalam rumah. Tapi Rian dihinggapi rasa malu yang teramat sangat oleh keluarga Lia terutama Lia nya sendiri.


"Iya, bentar ya, Sayang," Rian seakan menenangkan hati sang anak. Pandangan Rian mengarah ke dalam rumah, nampak sepi di dalam rumah, Rian pun berpikir mungkin keluarga Lia sedang berada di ruang belakang.


_____


Cantika duduk tepat di depan sang Papa.


Rian menatap lekat ke arah sang anak seakan tidak kuasa hati dan pikirannya tatkala menatap kedua bola mata Cantika.


Rasa bersalah kian menghinggapi hati dan pikirannya Rian, dia seakan tidak tega jika harus melepaskan Lia dan anak tersebut. Mungkin dengan perceraian, tidak akan banyak waktu lagi dengan sang anak.


Rian berpikir jika dia bercerai dengan Lia otomatis hak asuh anak jatuh kepada Lia, karena anak tersebut di bawah umur.


___


"Cantika maafkan Papa ya," gumam hati Rian.


Dengan spontan Rian pun membelai rambut Cantika yang terurai panjang dengan penuh kelembutan.


Cantika pun dengan cepat meraih tangan sang Papa yang tengah hinggap di kepalanya.


Mata sang anak terpejam, dia seakan sedang merasakan limpahan rasa sayang dari sang Papa. Air mata Rian pun meluncur dari ujung matanya, seakan tidak bisa di bendung untuk ditahan.


•••••


Lia yang baru saja keluar dari kamar mandi, nampak mengintip dari arah jendela kamarnya. Lia pun terkesiap saat melihat mobil Rian terparkir di halaman garasi.


"Ada Rian," ucapnya.


Berdegup kencang hati Lia tatkala melihat Rian datang, karena Rian tidak mengabari terlebih dahulu bahwa dia akan datang hari ini ke rumah Tante Restu, untuk menemui dirinya dan kedua orang tuanya.


Lia pun menyeret langkah keluar dari kamar, setelah pintu terbuka dengan lebar mata Lia berselancar ke setiap sudut rumah tersebut, nampak tidak ada orang di sekitarnya.


Kebetulan Tante Restu sedang keluar bersama kedua orangtuanya sedangkan sang ART sedang pergi ke pasar jadi yang berada di rumah tinggal Lia berdua dengan Cantika sang anak.


"Cantika,,, dimana dia!?" gumam hati kecilnya.


•••


Nampak pintu depan rumah terbuka dalam hati Lia berkata pasti sang anak tengah berada di sana bersama Rian.


Lia pun berjalan secara perlahan menuju teras rumah. Setelah Lia berada tepat di pintu depan rumah, langkah Lia mematung.

__ADS_1


Terlihat jelas oleh Lia, Rian sedang memeluk erat sang anak, air mata Rian menetes mengalir deras di hamparan pipinya.


Lia menghela napas panjang.


Dia seakan tak kuasa melihatnya. rasa ingin bercerai pun seakan dia urungkan terhadap Rian tapi mengingat kembali perselingkuhan yang sudah dilakukan oleh sang suami cukup menyakitkan hati Lia, dia pun mencoba untuk bersikap tegas walaupun ketegasan itu mengorbankan hati sang anak yang masih butuh belaian kasih sayang dari seorang Papa. Lia membuang napas kasar dan Lia pun mencoba kembali melangkahkan kaki ke arah Rian yang sedang memeluk sang anak.


Hari ini Lia akan mengambil keputusan yang sangat besar, dimana sang suami tengah menunggu kepastian dari Lia tentang masalah perceraiannya.


***


Lia berdehem


Rian terlonjak kaget tatkala mendengar bunyi suara deheman Lia.


"Mama,," ucap Cantika tersenyum renyah menatap kedua bola sang Mama. Lia seakan tak kuasa melihat pemandangan tersebut, sang anak dan Rian tersenyum ke arahnya.


Cantika menggeser kursinya lalu dia mendekati sang Mama dan merengek manja.


"Mah, ayo kita jalan-jalan sama Papa. Kita sudah lama tidak jalan bareng sama Papa," Cantika seakan begitu memaksa agar sang Mama menuruti keinginannya.


"Nanti ya, sekarang Cantika mandi dulu. Mama dan Papa mau bicara sebentar," ucap sang Mama mencoba membujuk sang anak agar mandi, karena Lia mau membicarakan hal yang serius terhadap.sang suami.


"Asik,,,," ucap sang anak.


Cantika tersenyum lebar, anak tersebut dengan cepat berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya, terlihat polos dalam benak sang anak akan pergi jalan-jalan bersama kedua orang tuanya, padahal Lia menyuruh mandi sang anak, agar sang anak tidak mendengar percakapan yang serius dengan Papanya atau Rian.


_____


Rian mencoba mengatur napasnya.


"Lia sehat?" tanya Rian.


Lia nampak sedikit terkejut dengan panggilan yang diberikan oleh Rian sang suami, dia biasa memakai kata Mama ketika memanggil dirinya, tapi sekarang dengan panggilan nama yaitu Lia.


Lia pun berpikir mungkin detik ini Rian sudah tidak menganggap dia sebagai sang istri.


Nampak jelas terlihat oleh ekor mata Lia, Rian menghela napas beberapa kali. Rian seakan sedang berpikir serius dan minta jawaban dari Lia dengan apa yang di ucapkan oleh Lia.


"Seperti yang kamu lihat saya baik-baik saja, meskipun dengan kondisi keadaan rasa sakit dari seorang suami, dan sahabat sendiri!" sindir Lia. Tatapan Lia mengarah ke halaman rumah tidak terfokus ke arah Rian karena Lia terlihat benci kepada orang yang kini berada di hadapannya itu.


"Apa betul yang kamu ucapkan kemarin, di sambungan WhatsApp. Tekad kamu bulat mau bercerai dengan aku!?" tanya Rian dengan pelan.


"Keputusanku sudah bulat!" ucap Lia dengan tegas, kini pandangan Lia lekat ke arah bola mata Rian.


"Kamu tidak kasihan dengan Cantika!? Kamu juga tidak melihat barusan, betapa rasa sayangku terhadap Cantika begitu besar. Begitupun sebaliknya dengan Cantika, apa kamu rela memisahkan kita berdua dengan keegoisan kamu yang tidak mau memaafkan aku!?" Rian seakan merajuk kepada Lia agar mengurungkan niatnya untuk bercerai dengannya.


____


Lia menghela napas secara perlahan, bayangan yang baru saja dia lihat sungguh membuat hati Lia damai dengan melihat Rian dan anaknya begitu mesra, dan nampak terlihat Cantika begitu nyaman dan hangat ketika berada di pelukan sang Papa.


"Tidak,,," gumam hati Lia.


Lia mencoba menepis semua bayangan yang indah mengenai Rian dan anaknya. Lia berpikir tanpa Rian pun Cantika bisa mendapatkan kasih sayang walau dengan keadaan, nantinya mereka berpisah tidak bersatu lagi. Karena bagaimanapun Cantika adalah darah daging Rian sementara Lia adalah mantan istri yang sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengan Rian.


____


"Sudah, sudah cukup! penderitaan aku bersama kamu. Aku sudah capek dan lelah mendengar kata maaf darimu!" bentak Lia.


"Lia,,," Rian menggenggam erat jemari Lia, seakan takut kehilangan wanita yang begitu sabar selama ini dengan pengkhianatan cinta yang dilakukannya.


Lia mencoba menghempaskan genggaman erat yang di lakukan oleh Rian. Tapi semua sia-sia saja karena Rian seperti menguasai keadaan dan genggaman tangan Rian begitu kuat seakan tidak bisa dia lepas.


"Maafkan aku Lia, aku tidak akan melakukan Perselingkuhan lagi," ucapnya memohon dengan sangat, bulir putih pun menetes di ujung matanya.

__ADS_1


"Mama, Papa,,, Cantika sudah siap! Ayo, kita pergi jalan-jalan," tiba-tiba sang anak datang memakai baju yang baru saja dibelikan oleh Rian waktu minggu kemarin.


Bersambung...


__ADS_2