Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 146 Rian gelisah


__ADS_3

Malam pun tiba.


Sekitar pukul 11 malam nampak Bu Viona gelisah duduk di teras rumah. Desy pun sudah diberitahu oleh Bu Viona bahwa Rian tidak kembali pulang ke rumah, dan ini menjadi rasa gelisah dari hati Desy namun sang calon mertua mencoba menenangkan hati Desy.


Grung....


Suara bunyi mobil nampak memasuki halaman garasi rumah. Bu Viona terhenyak dengan suara mobil yang nampak memasuki garasi halaman rumah karena dia baru saja memejamkan matanya di kursi teras.


"Rian,,!" ucapnya dengan raut muka terlihat senang dan dihinggapi rasa kesal juga karena sang anak tidak memberitahu kalau dia hari kemarin tidak pulang ke rumah.


Bruk...


Rian menutup pintu mobil dengan kasar, kemudian dia berjalan ke arah teras dimana Bu Viona berada. Matanya agak sedikit merah dan jalannya sempoyongan.


"Rian mungkin capek dan dia kelelahan," gumam hati sang Ibu dengan melihat sang anak seperti itu.


_____


"Rian kemana saja kamu baru pulang" tanya sang Ibu sedikit dihinggapi rasa marah dan menatap kedua bola mata Rian yang masih terlihat merah.


"Dari rumah teman," jawabnya santai dan datar.


"Sejak kapan kamu nginap di rumah teman?" tanya kembali sang Ibu karena selama ini Rian tidak pernah menginap di rumah teman.


"Sejak banyak pikiran dan Rian ingin menenangkan diri dulu," jawabnya enteng.


"Kamu jangan seenaknya ya, dengan tidak ngomong sama Ibumu kalau kamu tidak pulang," Ibu mendelik kesal.


"Rian sudah gede Bu!" dia merebahkan badannya di kursi dengan kasar. Kemudian dia nampak membuang napas kasar.


________


Sang Ibu seketika menatap lekat ke arah sang anak sepertinya dia mencium bau alkohol dari mulut sang anak


"Kamu minum alkohol?" tanya sang Ibu dihinggapi rasa terkejut dan sedikit kecewa.


Rian diam tidak bicara sedikitpun hanya memijit kepalanya. Pikirannya berselancar entah kemana seakan banyak yang tengah dia pikirkan.


"Rian,,,!! Kamu minum alkohol?" bentak sang Ibu dan lagi-lagi Rian diam tidak dapat bicara sedikitpun.


"Apa sih Bu!" bentak Rian dengan suara keras.


_________


Sang Ibu pun terkejut dengan ucapan Rian yang kini berani melawan sang Ibu dengan suara kerasnya. Biasanya dia pribadi yang lembut tidak membantah sedikitpun terhadap ucapan sang Ibu.


Nampak Bu Viona pun matanya berkaca-kaca dia seakan tidak terima dengan perlakuan sang anak kepada dirinya karena biasanya Bu Viona diperlakukan sang anak dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Biasa yang dilakukan Rian ketika dia pulang kerja, sang Ibu selalu di peluknya dan Rian bergelayut manja kepada sang Ibu lalu menceritakan kejadian yang terjadi selama seharian dia di Kafe dan sekarang nampak tidak di lakukan oleh sang anak.


"Rian capek mau istirahat!" Rian melengos kedalam kamar. Sementara sang Ibu terlihat menahan rasa marah


__________


Rian mengunci kamarnya kemudian membersihkan diri dan setelah itu dia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia pun kemudian mengambil ponsel yang tengah berada di atas nakas. Rian lalu membuka ponselnya kemudian dia membuka layar aplikasi WhatsApp. Beberapa kali nampak dia membaca isi pesan dari rekan bisnisnya.


••


Rian membeli barang Frozen dari relasi bisnisnya sekitaran 100 juta tapi nampak barang yang dipesan tidak ada dan uangnya raib. "Aku kena tipu, walau pun itu uang jumlahnya tidak terlalu besar tapi uang tersebut tadinya akan aku kumpulkan buat persiapan nikah atau nyicil bayar utang," gumam hati Rian terlihat kecewa.


Dia pun berpikir kenapa dia terkena tipu oleh relasi bisnisnya. Rian kemudian mencoba menelepon Wisnu temannya itu.


{"Nu, kamu tidak cari keberadaan Bisma yang sekarang sudah menipu aku?"} tanya Rian disambungkan teleponnya terdengar geram.


{"Maafkan aku Rian, aku sudah mencari keberadaan dia, dan nomornya Bisma semua sekarang tidak aktif. Aku merasa bersalah kepada kamu karena sudah mengenalkan kamu kepada Bisma,"} jawab Wisnu terdengar sedih dan dihinggapi rasa malu.


Rian sudah ditipu uang 100 juta oleh temannya Wisnu yaitu Bisma. Niat Rian mau membeli barang Frozen kepada temannya Wisnu yang bernama Bisma untuk persediaan nya di Kafe.


{"Aku kecewa Nu, pokoknya kamu harus cari keberadaan Bisma, dia dimana,"} ucap lagi Rian kepada Wisnu.


{"Akan aku usahakan untuk mencari keberadaan Bram dan maafkan aku, sekali lagi,"} ucap Wisnu terdengar lirih.


{"Buktikan kalau kamu bisa menemukan Bram!"} Rian sedikit membentak.


Sambungan telepon pun akhirnya ditutup oleh Rian yang seakan dihinggapi rasa kesal terhadap temannya Wisnu yang bernama Bisma yang telah menipunya.


________


Pagi tiba.

__ADS_1


Rian pagi sekali dia bangun dan terlihat mau bersiap untuk pergi ke kantor dan sang Ibu pun dihinggapi rasa heran karena tidak seperti biasanya sang anak pergi pagi sekali ke Kafe.


"Rian pagi sekali kamu pergi ke Kafe!" sang Ibu nampak baru bangun tidur keluar dari dalam kamar.


"Iya, Bu, Rian banyak yang harus di kerjakan di Kafe," jawabnya tanpa menoleh kearah sang Ibu sementara pandangannya tengah fokus membalas pesannya kepada Wisnu.


"Kamu sedang ada masalah ya?" tanya sang Ibu menghampiri Rian.


Rian menggelengkan kepalanya kemudian dia memasukkan ponselnya kedalam saku celananya karena ingin cepat tiba pergi ke Kafe.


"Rian pergi dulu," dia mencium punggung tangan sang Ibu.


"Rian, kamu ada masalah ya,?" tanya Ibu kembali penuh rasa curiga.


Rian tetap menggelengkan kepalanya.


"Rian kesiangan Bu!" jawabnya.


Dia pun nampak keluar dari dalam rumah menuju halaman garasi mobil.


Suara mobil pun nampak terdengar keluar dari halaman dalam garasi rumah.


________


Di dalam mobil


Ting...


Pesan muncul dari ponsel milik Rian dan nampak Desy mengirimkan sebuah pesan.


{"Rian, aku sudah buat kartu undangan dan ini contoh gambar undangannya,"} tulis pesan Desy dan disana nampak terlihat gambar undangan dengan di depan sampul bergambar huruf nama D dan R yang berarti inisial nama dari Desy dan Rian.


Rian pun seakan malas untuk membahas kartu undangan tersebut. Dia mengabaikan pesan dari Desy yang mungkin Desy di sebrang sana sedang menunggu balasan pesan dari Rian.


Ting..


Pesan kembali muncul dari ponselnya Rian dan nampak yang sekarang mengirimkan sebuah pesan adalah Anita.


{"Pak Rian, maaf, hari ini saya ijin tidak masuk kerja karena sedang sakit,"} tulis pesan Anita kepada Rian.


Sontak Rian dihinggapi rasa khawatir tatkala membaca bunyi pesan dari Anita yang mengabarkan keadaan dirinya sedang sakit.


{"Belum saya sedang menunggu Kakak saya, dia akan menjemput kesini."} balasnya.


{"Sakit apa Nit?"} kembali Rian bertanya kepada Anita dengan kondisi badannya.


{"Dari semalam pulang kerja badan menggigil Pak,"} balasnya kembali.


{"Kamu kecapean itu Nit, biar aku sekarang datang ke rumahmu ya,"} Rian mencoba menawarkan perhatian kepada Anita yang sedang sakit


{"Terima kasih, saya sedang menunggu kakak saya,"} Anita dengan cepat mematikan ponselnya.


{Tapi Nit, aku khawatir dengan kondisi keadaan kamu,"} Rian memberikan balasan pesan namun terlihat disana ceklis satu karena Anita langsung mematikan ponselnya.


________


Beberapa menit kemudian karena arah Kafe melewati rumah Anita dulu, dan tepat di jalan rumahnya Anita, Rian seakan ingin membelokkan mobilnya itu namun dia pun seakan ragu untuk menjemput Anita agar bisa dia bawa ke Dokter.


"Aku datangi jangan ya, aku sangat mengkhawatirkan keadaan Anita. Kasihan dia sakit karena dia kemarin menggantikan posisi aku di Kafe. Mungkin Anita kecapean dan pulang larut malam jadi dia kurang istirahat." gumam hati Rian dan dia terlihat gelisah.


Rian pun nampak membelokkan mobilnya ke arah mobil Anita. Dan setelah tiba di halaman rumah Anita nampak dia memarkirkan mobilnya di pinggir. Setelah itu dia membuka kunci gerbang yang kebetulan tidak di kunci.


Krekkkk...


Tiba di depan pintu.


Rian nampak mengetuk pintu beberapa kali dan berharap Anita segera membuka pintu.


Ceklek...


Nampak dari dalam sesosok wanita tengah memakai daster panjang dengan rambut terurai panjang dan tanpa make-up. Terlihat begitu polos dan anggun Anita tanpa riasan make up dan rambut yang terurai panjang.


"Pak Rian,,," nampak Anita terdengar gugup tatkala yang tengah berada di hadapannya itu adalah sosok Bos-nya yang baru saja dia memberikan pesan bahwa dirinya ijin tidak akan masuk kerja karena sakit.


"Nit, maaf aku lancang datang ke rumahmu tapi aku khawatir dengan keadaan kamu yang sedang sakit," jawabnya menatap lekat ke arah Anita.


Sontak Anita seakan gusar tatkala Rian menatanya dengan tatapan yang berbeda dan nampak terlihat dari binar mata Rian seakan ada rasa khawatir yang menghinggapi hatinya.


"A-aku hanya sedikit pusing dan mungkin kecapean tapi sebentar lagi kakakku akan bawa aku kesini dan dia akan bawa aku ke Dokter," jawabnya dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


________


Drett...Drett...Drett...


Tiba-tiba telepon yang tengah berada di genggaman tangan Anita berbunyi tanda ada telepon masuk dan nampak disana sang Kakak menelepon.


Anita dengan cepat mengangkat bunyi telepon tersebut. Rian pun nampak sedang menatap Anita yang tengah berada di hadapannya sepertinya Anita lupa karena dihinggapi rasa gugup jadi Rian belum di persilahkan masuk ke dalam rumah.


{"Iya, Kak ada apa, Kakak sebentar lagi sampai kan?"} tanya Anita di sambungan teleponnya.


{"Justru itu Kakak tidak bisa datang ke rumahmu karena mendadak ini ada tamu dari Jakarta,"} jawab sang kakak di sebrang sana.


{"Sayang, enggak apa-apa kan, kamu pergi sendiri ke Dokternya,"} ucap sang Kakak


{"Enggak apa-apa Kak, Anita sendiri saja ke Dokternya bisa pesan Taksi di rumah,"} jawab Anita seperti dihinggapi rasa sesal.


_________


Sontak Rian yang mendengarkan percakapan Anita dan Kakaknya tersenyum bahagia karena akhirnya dia bisa mengantarkan Anita untuk pergi ke Dokter.


Anita nampak menutup sambungan teleponnya dengan bibir yang mengerucut.


"Nit, aku dengar barusan kakakmu tidak bisa antar kamu ke Dokter, biar aku saja yang mengantarkan kamu ya, dan aku harap kamu jangan menolaknya karena ini bentuk menebus rasa salah aku kepada kamu. Aku kemarin tidak masuk kerja dan kamu menggantikan posisi aku di Kafe sepertinya kamu capek," ucap Rian seakan memelas agar Anita mau di antar oleh Rian ke Dokter.


"Sial,,! Kenapa kak Shila pake acara ada tamu segala jadi aku tidak jadi diantarkan kakakku! Dan Bos-ku kenapa dia tiba-tiba hadir di saat keadaan begini. Aku malas kalau aku harus di antar dia!" gumam hati kecil Anita.


"Ayo, Anita kamu segera ganti baju biar aku antar kamu ke Dokter," ajak Rian kembali.


Anita seakan ragu dan tidak mau untuk diantarkan oleh Rian.


"Maaf Pak. Anita bisa sendiri pergi ke Dokter." jawabnya.


Dia sengaja tidak menampakkan senyuman di bibirnya dan tidak pula mempersilahkan tamunya masuk.


Anita memegang ujung pintu dan melirik ke arah arloji yang menempel di tangan kanannya, dia seakan secara halus ingin mengusir Rian. Dan Rian pun seakan mengerti keadaan tersebut.


"Ya, sudah aku pergi ke Kafe dulu," Rian kemudian merogoh dompetnya yang tengah berada di saku celananya kemudian dia mengambil uang berwarna merah beberapa lembar lalu dia selipkan ke arah tangan Anita.


Sontak Anita menghempas secara halus


"Sudah Pak Rian jangan repot-repot," ucapnya dengan pandangan menunduk.


"Nit, kamu jangan menolak rezeki," ucap Rian dan Rian pun dengan sekuat tenaga memberikan uang tersebut ke tangan Anita.


Tangan Rian pun menggenggam erat Anita sontak Anita dengan sekuat tenaga juga menghempaskan.


Terlihat Anita seperti dihinggapi rasa kesal karena baru saja Rian tengah menggenggam erat jemari tangan Anita terasa beda dan terasa lembut. Anita terlihat mendelik dengan perlakuan mesra Rian.


"Maaf, maafkan aku, Nit," ucapnya.


"Pak, aku mau siap-siap ke Dokter pakai Taksi," Anita terlihat mengusir secara halus.


_______


Rian pun terlihat seperti malu dengan sikap dan gestur tubuh Anita yang nampak tidak nyaman dengan keberadaan Rian.


Rian memasukkan uangnya kembali kedalam saku celananya kemudian dia pamit kepada Anita.


"Sekali lagi maafkan aku Nit," ucap Rian lirih.


Anita hanya menganggukkan kepalanya dengan cepat dia pun menutup pintunya. Nampak di balik pintu dia bersandar dan menghela napas panjang.


"Sepertinya dia jatuh hati kepadaku. Ternyata benar yang di ucapkan oleh Risma." ucap Anita menghela napas panjang.


Anita berjalan ke arah kursi sofa dan dia pun nampak termenung pergi ke Dokter pun seakan dia urungkan, dia berniat pergi ke Dokter di sore hari.


"Apa aku keluar kerja saja karena aku merasa tidak nyaman. Apalagi nanti setelah Pak Rian menikah dengan wanita itu, mungkin akan banyak tekanan yang akan terjadi di Kafe itu." ucap Anita.


Anita pun berpikir jika dia keluar kerja dia belum menemukan kerjaan baru yang kini cocok untuknya sementara menunggu keputusan dari sang kakak belum ada kabar untuk di masukkan ke Restoran Adrian.


Ting ..


Pesan muncul nampak yang mengirimkan pesan adalah Rian.


"Sekali lagi aku minta maaf ya, Nit. Bukan maksud,,,," bunyi pesan dari Rian menggantung seakan mengisyaratkan dia bersalah dan tidak maksud untuk menggoda Anita.


Anita tatkala melihat bunyi pesan tersebut hanya diam tanpa membalasnya.


"Sudah sering dia lakukan itu dengan berpura-pura memegang tanganku ketika aku tengah asik depan laptop," Anita seakan risih dengan perlakuan Rian kepadanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2