
"Bu, setelah Desy pulang dari Singapura pokoknya ingin cepat di langsungkan pernikahan," ucap Desy ketika sedang duduk di teras rumah Bu Viona sambil menikmati teh hangat dan snack.
Sementara Rian masih di dalam kamar sedang membersihkan badannya.
"Pasti Des, akan ibu usahakan. Tapi,,," nampak Bu Viona seakan tidak bisa meneruskan obrolannya. Bu Viona berpikir dia tidak bisa melangsungkan pernikahan dengan megah dan bagaimana caranya untuk bisa bicara dengan Desy agar tidak menyinggung perasaannya.
"Tapi, apa Bu?" tanya Desy menatap Bu Viona dengan lekat.
"Untuk saat ini Ibu belum bisa melangsungkan pernikahan kamu secara meriah karena kan, kamu tahu sendiri kondisi Rian saat ini seperti apa," ucap Bu Viona terlihat gusar dan sedih.
"Ibu pokoknya jangan memikirkan hal itu, masalah finansial untuk perayaan pernikahan Desy bersama Rian, biar Desy semua yang nanggung," ucap Desy mencoba meyakinkan sang Ibu agar dia mau membujuk anaknya Rian agar cepat menikahinya.
________
Desy pun berpikir dia merasa cemburu dan malu terhadap Lia dan Adrian karena pernikahan Lia dan Adrian sudah terlebih dahulu mereka langsungkan. Dia sepertinya tidak ingin di anggap oleh Lia bahwa Rian tidak akan pernah menikahinya.
"Ibu enggak enak Nak, meskipun Ibu dan Rian butuh uang dan untuk sekarang ini sedang terpuruk masalah keuangan tapi kalau biaya pernikahan di tanggung oleh kamu semua, Ibu pun mungkin berpikir dua kali." sang Ibu mencoba menerangkan kepada Desy bahwa dia tidak mungkin lepas tangan jika Rian menikah tidak memberikan uang sepeserpun karena Bu Viona pun merasa harga dirinya sudah tidak ada terhadap keluarga Desy.
Desy hanya diam dalam hatinya berpikir, dia gagal lagi untuk merayu sang calon Ibu mertua agar bisa cepat anaknya menikahinya.
_______
Tiba-tiba Rian datang.
Begitu wangi parfumnya yang dipakai oleh Rian membuat penciuman Desy seakan tergoda dengan semerbak wanginya. Desy terlihat tersenyum renyah ke arah Rian sementara Rian hanya tersenyum tipis.
"Anak Ibu sudah ganteng, kamu mau kemana Nak?" tanya sang Ibu menatap lekat.
"Rian mau ketemu Pak Rudi," jawabnya sambil menyugar rambutnya.
"Pak Rudi yang akan menjual Kafe itu?" tanya sang Ibu.
"Betul Bu, Pak Rudi mumpung sekarang ada waktu jadi Rian harus cepat bertemu dengannya," Rian melirik sang Ibu yang tengah fokus pandangan ke arahnya.
"Desy mau ikut?" tanya sang Ibu dengan melirik Desy.
Desy nampak tersipu malu dan dia seakan ingin di ijinkan Rian untuk ikut bersamanya.
Rian menatap Desy dan Desy tertunduk seakan malu dengan wajahnya nampaknya dia tidak percaya diri.
"Kayaknya enggak!" jawab Rian cepat.
_______
Degh...
Sontak Desy merasa tersinggung dengan ucapan Rian, dan Desy pun menyangka Rian tidak mau membawa dirinya karena wajahnya jelek dan Rian tidak percaya diri jika harus membawa Desy pergi bersamanya.
Desy wajahnya cemberut dan gestur tubuhnya seakan tidak nyaman. Rian dan sang ibu seakan tahu isi hati dari Desy.
Saat ini Desy lagi krisis kepercayaan.
"Des, mending kamu disini saja sama Ibu, kan kamu masih sakit. Rian juga mungkin enggak akan lama perginya. Benar kan Rian!" Bu Viona berusaha menenangkan hati Desy. Bu Viona pun nampak memberikan sebuah kode dengan gerakan matanya ke arah Rian agar Rian mengerti.
"Iy-iya Des, aku enggak akan lama kok," jawab Rian gugup. Sebenarnya Rian setelah bertemu dengan Pak Rudi pemilik Kafe dia mau bertemu dengan Citra sebentar, karena setelah mandi tadi nampak Citra menghubunginya di sambungan teleponnya dan ingin bertemu dengannya.
"Wajahku jelek Rian, jadi kamu tidak mau bertemu dengan aku," gumam hati Desy, dia pun nampak mendelik.
Rian pun pamit dan dia berlalu dari hadapan Desy yang sedang terlihat kesal.
__ADS_1
_______
Setelah Rian pergi.
Bu Viona nampak khawatir dia berpikir dalam hatinya dan bertanya-tanya. Apakah uang yang sudah di balikkan kepada Desy dari Rian sudah dikembalikan lagi kepada Rian? Karena uang tersebut jumlahnya tidak sedikit dan Bu Viona takut jika belum di serahkan lagi kepada Rian.
Sebelum dia menanyakan kepada Desy perihal masalah uang, akhirnya Bu Viona mengirimkan sebuah pesan kepada Rian untuk menanyakan hal tersebut.
"Kalau aku menanyakan uang tersebut kepada Desy, aku malu sama Desy, tapi jika aku tidak menanyakannya takutnya Desy membawa uang itu kembali. Jumlah uang tersebut kan tidak sedikit tapi besar dan aku tidak mau jika uang itu di bawa kembali oleh Desy. Aku perlu uang untuk biaya kontrol berobat dan kelangsungan hidup kedepannya karena bisnisku juga saat ini sedang mengalami kebangkrutan sedangkan Yosi sudah tidak memberikan lagi uang kepadaku." gumam hati Bu Viona Dangan pandangan lekat kearah Desy yang tengah asik memainkan ponselnya.
•••
Bu Viona pun akhirnya mengirimkan sebuah pesan kepada Rian.
{"Rian, uang yang diberikan oleh Desy yang sudah kamu kembalikan, apakah sudah Desy balikan lagi?"} tulis pesan Bu Viona.
Tidak butuh lama untuk menunggu sebuah balasan pesan dari Rian. Rian pun dengan cepat membalas bunyi pesan dari sang Ibu karena sambungan teleponnya sedang online.
Jauh di sebrang sana Rian mengernyitkan dahi dan berpikir jauh. Mengapa sang Ibu begitu antusias agar minta belas kasihan dari Desy. Yang Rian inginkan adalah kalau masalah uang yang di berikan Desy jangan sekarang dia terima dari Desy karena untuk saat ini uang dia masih ada.
{"Bu, Rian malu sama Desy dan yang terpenting jika Rian menerima uang dari Desy seakan Rian tidak punya harga diri sebagai laki-laki,"} balas pesan Rian kepada sang Ibu.
Rian pun menutup sambungan teleponnya karena dia telah tiba di Kafe yang akan dibelinya.
_________
"Dasar anak bodoh, sombong, terus saja memikirkan harga diri," gumam hati Bu Viona.
Karena Bu Viona sudah dihinggapi rasa napsu yang menyelimuti hati dan pikirannya.
Dan Bu Viona pun berpikir takut jika uang Desy habis untuk dibawa berobat ke Singapura. Akhirnya Bu Viona memberanikan diri untuk meminta kembali uang tersebut kepada Desy secara halus.
Bu Viona menghela napas panjang.
"Rian kan sudah diberi uang sama aku tapi kenapa dia seakan tidak butuh dan kembali men- transfer uang tersebut kepadaku. Jadi Desy bingung Bu, dengan kebaikanku yang di tolak oleh Rian," jawab Desy.
"Mungkin dia gengsi Nak, padahal dia kasihan loh, dia kan sekarang sedang butuh biaya modal buat usaha dan juga uang untuk berobat ibu. Dan ibu bukannya mau minta sama anak untuk biaya berobat. Tapi Ibu pun punya uang di tabungan hanya pas-pasan tidak berlebih." Bu Viona dalam hatinya berkata dia ingin sekali Desy dengan cepat bicara uang yang 300 juta di berikan lagi kepada Rian lewat perantara dirinya.
"Jangan gengsi harusnya. Kan aku ini calon istrinya," jawab Desy terlihat kesal kepada Rian dari raut wajahnya.
"Des, Ibu yakin kamu sangat cinta dengan Rian. Betul kan!?" desak Bu Viona seakan ingin Desy mengakui rasa cintanya kepada Rian sang anak
"Iya dong Bu, Desy sangat mencintai Rian," dengan cepat Desy menjawab.
"Iya Ibu juga yakin itu jika kamu sangat mencintai Rian makannya kamu dengan bersusah payah mendapatkan Rian dari Lia," sindir Bu Viona tersenyum tipis.
"Iya, Bu, hehehe..," Desy dihinggapi rasa malu dan gugup.
"Iya, Ibu pun merasakan jika kita mencintai dan menyayangi seseorang pasti berbagai cara kita lakukan," ucap Bu Viona.
_________
Bu Viona secara tidak sadar berkata demikian sudah mempengaruhi atau mencontohkan tidak baik kepada diri Desy karena seakan Bu Viona mengajarkan kepada Desy segala sesuatu yang tengah dicintai oleh kita harus dimiliki walaupun itu haknya orang lain. Seperti Rian saat itu haknya, atau Rian itu milik Lia tapi di rebut oleh Desy.
Sontak hati Desy merasa ada pembelaan dari Bu Viona dan melambung tinggi.
"Bu, uang tersebut Desy transfer saja lewat Ibu, bagaimana!?" tanya Desy menatap lekat ke arah Bu Viona.
______
__ADS_1
Degh ..
Sontak hati Bu Viona berdebar karena rasa gembira dan dia ternyata mampu membujuk hati Desy yang sedang tergila-gila dengan anaknya itu. Tapi Bu Viona pun seakan gengsinya tinggi sama seperti Rian. Dia pura-pura menolak secara halus.
"Tapi Des, kamu kan butuh untuk biaya berobat ke Singapura. Memang kamu itu berhati mulya dan sangat mencintai dengan tulus kepada Rian. Ibu semakin sayang sama kamu Des, dengan sifat kamu yang baik," sang ibu berusaha melambungkan hati Desy yang haus pujian dan belaian kasih sayang.
"Jangan khawatir Bu, Desy masih banyak simpanan lebih di Bank karena uang Desy belum terpakai setahun yang lalu penjualan sebuah Kafe dan tanah di Kota Bogor." jawabnya.
Sontak Ibunya Desy terbelalak matanya dan dia pun berpikir Desy uangnya pasti sangat banyak dan berlebih.
______
"Anakku bodoh, kenapa dia ngulur waktu buat nikah sama Desy, ternyata Desy orang berduit. Kalau Rian jadi menikah dengan Desy mungkin dia akan bisa membeli lagi rumah." gumam hati Bu Viona.
"Des, gimana kalau sepulang dari Singapura kamu cepat menikah dengan Rian," ucap Bu Viona kemudian dia mendekati Desy dengan merapikan rambutnya.
Desy nampak menundukkan pandangannya dia seakan tidak percaya diri dengan Bu Viona karena tengah menatap lekat kearah wajahnya.
"Iy-iya Bu," Desy gugup kemudian dia mencoba mengalihkan pandangan Bu Viona yang tengah lekat menatap dirinya dengan mengambil ponselnya yang satu lagi di dalam tas yang berada di belakang badannya yang terletak di meja kecil. Ibu Viona pun seakan mengerti dari perubahan gestur tubuh Desy, saat ini Desy sedang tidak nyaman dengan kondisi wajahnya
"Bu, nomor rekening Ibu berapa, Desy mau transfer uang yang 300 juta itu buat simpanan Ibu atau Rian. Terserah Ibu mau pakai untuk apa yang penting Desy sudah memberikannya," Desy terlihat membuka aplikasi M-banking di layar ponselnya.
Nampak wajah Bu Viona tersenyum lebar dan dia pun menyebutkan nomor rekeningnya kepada Desy dengan bibir yang bergetar dan Desy pun nampak sedang memainkan ponselnya untuk men-transfer uang tersebut.
_______
TING....
Bunyi pesan muncul dari layar ponsel Bu Viona dari Desy mengirimkan sebuah gambar dan disana terlihat pengiriman uang sebesar 300 juta telah masuk ke rekeningnya milik Bu Viona. Sontak Bu Viona tersenyum lebar dan rasa bahagia tengah menyelimuti pikirannya.
"Des, terima kasih ya, memang kamu calon istri anakku yang baik dan pengertian," Bu Viona memeluk erat tubuh Desy.
Desy tersenyum puas saat Bu Viona menghujani pujian kepada dirinya itu.
"Iya, Bu, asal Ibu coba yakinkan lagi Rian untuk bisa menikah dengan Desy. Masa mantannya Lia sudah menikah sedangkan dia belum. Apa dia tidak malu!" ejek Desy.
Padahal hati Desy yang tengah diselimuti rasa gundah gulana karena dia pikir pasti Lia dan keluarganya besarnya saat ini sedang mentertawakan dia atau bahkan mengejeknya karena sampai saat ini dirinya belum dinikahi oleh Rian padahal jelas-jelas Desy yang telah merebut Rian dari Lia.
"Kamu tenang saja Des, pasti kamu akan dinikahi anak Ibu, kamu harus percaya itu karena Rian penurut anaknya," Bu Viona mencoba menenangkan dan menyabarkan hati Desy agar tidak gusar.
______
Nampak pikiran Desy berselancar dia seakan memikirkan di saat dia pergi ke Singapura untuk berobat. Kondisi kesehatannya dan wajahnya saat itu juga wajah dan badannya sudah pulih, mungkin Rian akan kembali tergila-gila padanya karena wajahnya akan kembali cantik dan badannya pulih seperti sedia kala. Desy nampak tersenyum licik.
"Des, makan yu!?" ajak Bu Viona kepada Desy karena semenjak Desy datang dia belum makan dan hatinya gundah.
"Masak apa Bu?" tanya Desy.
"Masak Ikan gurame kesukaan kamu," Bu Viona menyeret tangan Desy untuk pindah ke meja makan. Terlihat Bu Viona senyumannya sumringah karena kini di rekeningnya saldo uangnya bertambah.
_______
Desy pun berlalu bersama Bu Viona ke meja makan dan setelah berada di meja makan mereka pun nampak menikmati hidangan yang sudah tersedia di meja makan.
Tidak bisa dipungkiri ketika berada di meja makan nampak Bu Viona senyuman bibirnya terus merekah dan hal ini membuat hati Desy semakin percaya diri bahwa setelah pulang dia dari Singapura pasti tidak akan gagal lagi dia untuk melangsungkan pernikahan bersama kekasih hati yaitu Rian.
Bu Viona pun nampak terlihat senang dengan perubahan wajah Desy yang terlihat kembali riang karena pujian dan dukungan yang full dari Ibunya Rian.
Bu Viona yang terlihat matre dan Desy yang seakan haus pujian dan kasih sayang. Mereka seakan sama-sama pantas jika di sandingkan. Dan sifat mereka yang sama-sama menghalalkan berbagai cara tidak peduli itu hak orang lain.
__ADS_1
•••
'Hal yang paling menyedihkan adalah kamu melupakan etika-mu dan kamu menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan itu semua.'