
Desy mengajak Rian makan di rumah Ibu Viona, karena dia sudah masak semenjak Rian pergi, karena kepergian Rian dari rumah cukup lama dari pagi hingga malam menjelang.
Nampak sang Ibu sangat menikmati makanan yang disajikan oleh Desy, dan Desy pun terlihat sumringah tatkala pandangan matanya melirik ke arah sang calon ibu mertua yang begitu menikmati masakannya itu dengan lahap, dia berpikir masakannya enak jadi Bu Viona begitu lahap ketika makan masakannya itu.
______
"Bu, gimana enak makanannya!?" tanya Desy t kepada Ibu Viona sambil mengelus pundak sang calon ibu mertuanya tersebut.
"Enak,,, enak banget Sayang! Kamu jago masak ya, beda dengan mantan nya Rian, si Lia kalau masak enggak enak. Jadi Ibu nggak pernah mau makan masakannya, karena kurang enak ," ejek Bu Viona dengan tersenyum terkekeh
Sontak bola matanya Rian mengarah ke sang Ibu tatkala sang Ibu kembali membicarakan Lia bahkan menjelekkan Lia.
"Bu, kenapa sih selalu menjelekkan Lia!? Sudahlah jangan ngomongin dia lagi Rian pusing, Lia sekarang sudah bercerai dari Rian. Jadi Rian harap Ibu jangan membicarakan Lia lagi," ucap Rian nampak dia terlihat kesal dari mimik mukanya.
"Bukan menjelekkan, menang jelek kelakuan mantan kamu Rian, masa Ibu kemarin di dorong waktu di Super Market oleh Lia!" Ibu Viona kembali menghasut Lia dengan pandangan mengarah ke Desy. Bu Viona seakan belum puas untuk menghajar Lia waktu kejadian kemarin di Super Market.
_______
Desy mengernyitkan dahi.
"Lia, kenapa jadi bringas gitu ya, kelakuannya, masa Ibu Viona yang sudah tua di dorong oleh dia," gumam hati Desy.
"Nih, Des, lihat!" Ibu Viona kemudian memperlihatkan luka lebam, padahal luka tersebut bukan karena dorongan Lia tapi karena dia tersungkur sendiri badannya.
"Wah, iya Bu, Lia tega ya, mendorong Ibu dengan kasar," Desy terlihat meringis dia bersikap begitu karena sengaja ingin terlihat peduli oleh sang calon Ibu mertuanya itu.
________
Sementara Rian hanya fokus matanya ke arah layar ponsel terlihat dia sedang mencuri hati sang Dokter dengan cara memberikan pesan yang ingin di perhatikan oleh sang Dokter.
Nampak dia tersenyum sendiri tatkala sang Dokter membalaskan pesan untuknya.
{"Terima kasih, Mas Rian, temanmu membeli produk kecantikan dariku banyak sekali, dan dia akan jadi langganan,"} balas sang Dokter.
{"Gimana kalau kita hari ini keluar untuk makan siang?"} Rian kembali menawarkan kepada sang Dokter untuk bertemu siang ini.
{"Maaf,, kayaknya tidak bisa hari ini aku full kerja dan ada urusan,"} balas kembali Zahira.
_______
Rian pun seakan kecewa dan raut mukanya berubah menjadi sendu tatkala membaca isi pesan dari Zahira yang menolak pertemuannya secara halus. Melihat perubahan mimik muka sang anak dari tersenyum hingga tertunduk lesu seakan tidak ada gairah, Ibu Viona pun terlihat mengkhawatirkan hal itu.
__ADS_1
"Nak, kamu kenapa? Ada masalah denganmu!?" tanya sang Ibu.
"Iya, Bu, masalah kerjaan!" jawab Rian terkejut karena dia tidak menyangka sang Ibu dan Desy tengah lekat pandangannya ke arah Rian, yang sedang asik membalas ponselnya.
"Iya, Mas,,kamu jangan terlalu memforsir kerja, nanti kamu sakit," ucap Desy mencoba memberikan perhatian lebih agar diangggap peduli oleh Ibu Viona dan Rian.
"Rian, Ibu ingin cepat kamu menikah dengan Desy, !" ucap sang Ibu menatap Rian dengan lekat kemudian melirik Desy yang sedang tersenyum sumringah karena mendapatkan lampu hijau dari Ibu Viona
"Tapi,,Bu!" jawab Rian.
"Tanpa tapi ya, Rian! Ibu berharap kamu jangan menolaknya, dan Ibu akan datang ke rumah Desy, untuk bertemu dengan kedua orangtuanya, Papa kamu biarkan saja kalau dia sibuk tidak bisa datang ke rumah Desy, kita berdua saja datang kesana," sang Ibu terlihat serius ketika berucap, dan nampak terlihat dari raut muka Desy seakan ada binar kebahagiaan yang teramat dalam.
______
"Akhirnya yang kutunggu tiba, Bu Viona ingin menyegerakan pernikahan aku bersama Rian," gumam hati Desy tersenyum puas.
Sementara Rian terlihat dihinggapi rasa tidak senang dengan keputusan sang Ibu yang harus dengan segera menikahi Desy.
"Bu, banyak hal yang harus di bereskan oleh Rian, jadi tolong jangan mendesak Rian untuk segera menikahi Desy," ucap Rian.
"Kamu jangan membantah Rian keputusan Ibu sudah bulat ingin segera kamu menikahi Desy, agar Ibu ada yang menemani, Ibu sudah tua ingin waktu Ibu ada yang menemani karena Papamu selalu sibuk terus. Ibu memberikan pilihan terhadap kamu. Kita bertiga tinggal disini di rumah Ibu atau tinggal di rumahmu yang banyak penuh kenangan bersama Lia!" ucap sang Ibu.
"Aku enggak mau tinggal di rumah Mas Rian, Bu! Banyak kenangan disana bagi Mas Rian bersama Lia, aku cemburu!" terlihat Desy merengek kepada Ibu Viona yang mengakibatkan rasa kesal dalam diri Rian.
_______
"Rian mau kemana, itu makanannya belum dihabisin!" tanya sang Ibu dengan mendongakkan kepalanya, tatkala melihat posisi Rian sedang berdiri untuk menarik kursinya dan mau berlalu dari hadapan Ibu dan Desy.
"Kenyang Bu, Rian mau nonton TV dulu," ucapnya melengos.
Ibu dan Desy hanya saling berpandangan melihat reaksi Rian yang seakan tidak mau membahas masalah pernikahan itu.
"Bu, aku mau nemenin Mas Rian dulu ya," ucap Desy, dia pun berlalu dari hadapan Ibu Viona dengan seribu tanya yang akan diajukan kepada Rian.
_______
Di kursi sofa.
Nampak Rian tengah duduk di kursi sofa, dengan begitu fokus ke ponselnya, sementara layar TV menyala tanpa dilihatnya.
"Mas, kenapa sih," Desy tiba-tiba datang menghampiri tangan mengelus pundak Rian.
__ADS_1
Desy pun seakan sengaja mendekatkan tubuhnya ke arah Rian, dia ingin menggoda lelaki itu yang terlihat dingin kepadanya.
"Des, kenapa sih," Rian pun mencoba memundurkan dirinya yang nampak dekat dengan Desy yang tengah menggodanya.
Namun dengan cepat Desy menggenggam erat jemari tangan Rian.
"Cup...." ciuman hangat mendarat ke pipi Rian.
Sontak Rian pun dibuat salah tingkah oleh kelakuan Desy.
Desy mencoba mendekatkan badannya begitu lekat ke arah Rian, dan lekukan tubuhnya nampak terlihat jelas sehingga menimbulkan deru napas Rian seakan tidak karuan dibuatnya.
___
Pikiran Desy berselancar Rian harus masuk perangkapnya, biar dia dapat pengakuan dari Rian untuk cepat bisa menikahinya.
"Mas, aku sangat mencintai kamu, aku ingin segera menikah dengan kamu. Apa kamu tidak kesepian selama ini tidur sendiri setiap malam?" Desy bicara lekat ke arah kuping Rian.
Sontak Rian terkejut dengan ucapan yang di lontarkan oleh Desy. Rian nampaknya sedang berpikir begitu berani Desy memberikan pertanyaan seperti itu, mungkin itu hal yang wajar bagi orang dewasa, namun bagi Rian mungkin momennya kurang pas, karena dia tengah berada di rumah Ibunya
"Des, kamu jangan berkata konyol!" ucap Rian mencoba melepaskan genggaman erat jemari Desy yang begitu erat.
"Konyol! apanya yang konyol!? Kamu jangan berpura-pura Mas, pasti kamu juga kesepian karena sudah berpisah lama dengan Lia. Mungkin Lia sekarang sama pacarnya sudah tidak kesepian karena mereka sudah mendapatkan kehangatan.
Sontak Rian matanya terbelalak ke arah Desy.
"Kamu jangan ngomong sembarangan ya, Lia bukan wanita yang tengah seperti yang kamu bayangkan saat ini," ucap Rian seakan membela pribadi Lia sang mantan istri.
Desy pun tertawa terkekeh.
"Lia cuma pura-pura alim, aku tahu Lia seperti apa, kamu sama aku lebih kenal mana!? Aku sama Lia sudah lama saling kenal, aku tahu boroknya Lia seperti apa!?" ucap Desy mencoba menjelekkan Lia, agar Rian benci kepada Lia.
Rian seakan jengah dengan ucapan Desy.
"Cukup,,cukup! Desy, aku tidak mau mendengarkannya," Rian seakan dibuat kecewa oleh sosok Lia, setelah mendengar apa yang tengah di ucapkan oleh sahabatnya tersebut. Tapi Rian pun berpikir kembali tidak mungkin Lia seburuk yang di ucapkan oleh Desy. Mungkin Desy hanya mengada-ngada.
"Mas,," Desy malah memeluk Rian dengan erat dan tersenyum puas.
"Nah, gitu dong romantis," tiba-tiba sang Ibu datang menghampiri. Desy terkejut juga Rian, dengan kedatangan sang Ibu dan anehnya sang Ibu malah tidak marah tatkala melihat sang anak tengah dipeluk erat oleh Desy.
"Bu Viona sudah masuk perangkap aku karena sedikitpun juga dia tidak marah jika aku memeluk anaknya bagaikan layak suami istri," gumam hati Desy.
__ADS_1
Bersambung...