
Lia nampak mengendap-endap jalannya menuju kamar tamu. Lia pun menghentikan langkahnya setelah mendengar sang suami berbicara di sambungan teleponnya.
"Pulang kerja.besok, aku jemput ya, Des. Kamu tunggu aja di tempat biasa," ucap Rian.
Sontak mata Lia terbelalak dan jantungnya berdetak lebih kencang tatkala mendengar ucapan dari sang suami, terdengar jelas di telinga.
"Aku harus menyelidiki perselingkuhan suamiku dengan sahabatku sendiri, besok aku harus stand by di depan kantor suamiku, dan mengikuti arah mobilnya melaju.
Mungkin mereka janjian di sebuah Kafe, Restoran, atau entahlah. Aku pun tidak tahu," gumam hati Lia.
Lia pun nampak kembali memasuki kamarnya dengan debaran dada yang menggelora karena dia dihinggapi rasa amarah yang terpendam.
•••
Tiba di kamar.
Lia merebahkan badannya di atas kasur dengan kasar, lalu dia menatap langit-langit kamar. Dia berusaha memejamkan matanya agar cepat terlelap dan dia berpikir seakan ingin rasanya waktu cepat berlalu untuk hari esok karena dia akan membongkar perselingkuhan suami dengan sahabatnya yang akan dia ungkap.
•••••
Satu jam kemudian.
Tiba-tiba sang suami membuka pintu, sontak Lia pun berpura-pura memejamkan matanya.
Entah mengapa ketika sang suami tengah berada di sampingnya, terasa dag-dig-dug jantungnya berdebar, entah mengapa seperti dia punya rasa salah terhadap sang suami, padahal yang melakukan kesalahan adalah Rian, suaminya sendiri yang barusan telah selesai menelepon Desy.
Nampak terdengar sang suami menghembuskan napas kasar beberapa kali, entah itu rasa dia untuk menghilangkan rasa gugup, agar terasa tenang karena dia kini tengah berada di pinggir sang istri, sesudah melakukan obrolan kepada selingkuhannya. Atau rasa dia mencoba menahan rasa rindu terhadap selingkuhan.
••••
Keesokan harinya.
Pagi itu cuaca nampak cerah, matahari pun kembali menampakkan sinarnya Nampak terlihat keluarga kecil Ryan sedang melakukan sarapan pagi di meja makan. Tetap seperti hari kemarin, Lia seakan tidak semangat untuk makan. Sarapan yang sudah disediakan oleh Teh Sumi, dia hanya aduk-aduk tanpa memakannya.
"Mah, aku nanti sore ada rapat, kemungkinan pulangnya agak malam," ucap Ryan.
"Sudah kuduga, karena semalam kan dia buat janji sama di Desy untuk bertemu sore ini, jadi dia buat alasan terhadap istri bahwa dia akan rapat jadi pulang malam" gumam hati Lia.
Lia hanya mengganggukan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Papa, sibuk terus, waktu buat Mama dan Cantika kapan Pah?" tanya sang anak menatap lekat dan terlihat bibirnya cemberut.
"Iya Nak, banyak kerjaan," ucapnya singkat.
•••
Tiba-tiba bunyi getaran ponsel masuk berbunyi di saku celana Rian, nampak sang istri terlihat dari ekor matanya melihatnya, dan nampak pandangan matanya sinis ke arah sang suami.
__ADS_1
Dada Lia bergemuruh dia sudah menduga pasti yang menelpon itu adalah Desy sahabatnya sendiri.
Lia semakin yakin bahwa yang menelepon itu adalah Desy karena sang suami tidak dapat mengangkat teleponnya dengan cepat. Alasannya dia tidak mau angkat teleponnya mungkin karena ada istri dan anaknya, Rian sangat menjaga privasi dan takut ketahuan.
Nampak Ryan terlihat salah tingkah ketika bunyi getar telepon di saku celananya tidak berhent berdering, Rian pun menaruh sendok dan garpu dan tidak meneruskan makannya.
"Kenapa sih Pah, teleponnya nggak di angkat!" terlihat raut muka Lia seakan menyimpan rasa kesal.
Rian tidak menjawab pertanyaan sang istri.
Rian berdiri lalu menggeserkan kursi yang dia duduki, kemudian dia menyeret langkah kakinya ke ruang depan.
Nampak terlihat oleh Lia. Rian merogoh ponselnya dari saku celananya, kemudian mematikan ponsel tersebut lalu Rian kembali ke meja makan.
"Mah! Aku pergi dulu ya," ucapnya.
Rian mencium kening sang istri dan anaknya itu, kemudian Rian pun berlalu dari hadapan mereka.
Akhirnya suara mobil pun terdengar keluar dari garasi halaman rumah.
•••••
"Aneh!" ucap Lia.
"Iya Mah, memang Papa aneh, lebih aneh lagi waktu itu. Cantika melihat Papa sedang menggenggam erat tangannya Tante Desy. Eh, pas Cantika liatin muka Tante Desy dan Papa, langsung merah, kelihatannya malu." ucap sang anak terdengar polos sambil melahap nasi goreng yang ada di atas meja makan.
Yang jelas hatinya terasa tercabik pilu.
"Tenang Lia, tarik napas secara perlahan, sabar, tunggu dulu! Kamu harus melihat dengan mata kepalamu sendiri bahwa suami kamu berselingkuh, dengan sahabat sendiri." gumam hati Lia, dia mencoba menyabarkan dan menenangkan hati dan pikirannya sendiri agar tidak tersulut emosi dengan perkataan Teh Sumi dan anaknya tersebut.
Nampak Teh sumi yang sedang mengelap kaca jendela, membuang napas kasar.
Sedari tadi dia memperhatikan sang majikan, yang sedang tidak karuan, karena nampak terlihat dari gestur tubuhnya yang salah tingkah, dan mukanya cemberut tidak memperlihatkan rasa gembira beda dengan hari-hari kemarin.
"Sayang nanti kamu sore ditemanin sama Teh Sumi dulu ya, Mama soalnya ada perlu keluar dengan teman Mama, mungkin pulangnya malam," ucap Lia kepada sang anak.
Cantika hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Ya udah, sekarang Mama anterin kamu dulu pergi sekolah. Ayo, nanti kesiangan!" ucap sang Mama sambil menggandeng tangan anaknya tersebut menuju keluar rumah.
___
Setelah majikannya pergi dari dalam rumah, tampak terlihat sang ART menghela napas panjang. Dia seakan tidak tega melihat sang majikan dalam keadaan sedih, karena memikirkan sang suami dan sahabatnya itu berselingkuh.
"kasihan, Bu Lia," ucap Teh Sumi menatap lekat ke arah mobil sang majikan yang berlalu dari halaman garasi rumah.
___
__ADS_1
Nampak di dalam mobil Lia hanya diam tidak berkata sedikitpun. Sang anak terlihat dihinggapi rasa heran karena sang Mama tidak seperti biasanya, dia hanya berdiam diri seakan ada masalah yang sedang dipikirkan.
"Mah, masih pusing?" tanya sang anak dihinggapi rasa khawatir.
"Ya, Nak," ucapnya singkat
Sang anak pun seakan tidak mau lagi memberi pertanyaan kepada sang mama karena dikhawatirkan sama mama menjadi kesal atau marah.
Tiba di sekolah, Mama hanya mengantar sampai pintu gerbang sekolah tidak memasuki halaman sekolah. Biasanya Lia mengantarkan anak sampai kelas, tapi hari ini dia seakan malas untuk masuk ke dalam kelas sang anak.
"Mama sampai sini saja ya, mengantarkannya. Hati-hati belajar yang benar," ucap sama Mama sambil mencium kening sang anak.
Cantika pun turun dari dalam mobil kemudian dia mencium punggung tangan sang Mama dan tersenyum manis.
Arrghh
"Mengapa harus ada perselingkuhan, padahal sudah ada anak manis yang begitu sayang dan pintar," gumam hati Lia.
•••••
Lia kemudian mengemudikan mobilnya kembali menuju arah rumah, selama di dalam perjalanan matanya lekat ke layar ponsel.
Lia seakan ingin cepat menelepon sahabatnya Desy, tapi niat tersebut oleh Lia berusaha diurungkan karena dia belum mendapatkan bukti dari sang sahabatnya itu, berselingkuh dengan suaminya.
••••
Tiba di rumah.
Lia merebahkan badannya dengan kasar di kursi sofa.
"Teh Sumi..ambilin air mineral yang dingin di kulkas!" teriak Lia.
Tidak lama kemudian Teh Sumi pun datang dengan membawa sebotol air mineral dingin ke arah sang majikan.
"Mau dibikinkan teh manis dingin nggak Bu!" ucap Teh Sumi dengan pandagan menunduk. Teh Sumi tahu bahwa sang majikan sedang dihinggapi rasa kesal dan marah.
Lia hanya menggelengkan kepala dan Teh Sumi pun langsung meninggalkan sang majikan kembali menuju ke dapur.
Lia mencoba memejamkan matanya, dia seakan ingin waktu cepat berlalu menuju sore, karena sore ini dia akan mengikuti sang suami, kemana arah langkahnya pergi untuk menjemput Desy.
Bayangan sang suami dan sahabatnya, seakan kian hinggap nyata di dalam pikirannya. Berkali-kali Lia menepis semua itu, namun seakan tidak bisa.
Dadanya bergemuruh tidak karuan, Lia beberapa kali menghela napas secara perlahan.
"Aku tidak yakin, dan aku tidak habis pikir! Apakah ini benar terjadi? Apa yang dibicarakan oleh teh Sumi dan anakku sendiri bahwa mereka berselingkuh," ucap Lia.
Bersambung...
__ADS_1