
Pagi itu cuaca sangat cerah, nampak Rian sudah sembuh dari rasa sakit. Hari itu tepat hari minggu, hari libur.
Dia sedang asik melihat layar ponselnya. Sementara Cantika, sedang berada di pinggir Papanya tersebut duduk di kursi sofa.
Terlihat oleh sang anak di ponselnya milik Papa tersebut, sang Papa sedang membalas pesan WhatsApp dari Desy.
"Pah, lagi WhatsApp sama Tante Desy ya?" tanyanya lekat ke layar ponsel.
Sontak Rian menutup ponsel tersebut dengan semua jemari tangannya, sehingga ponsel tertutup tidak terlihat layarnya.
"Iy-Iya sayang, urusan kerja," Rian terdengar gugup suaranya. Dia membohongi sang anak.
"Pah, kemarin Papa cium tangan Tante Desy ngapain?" tanya sang anak kembali.
Terlihat sang ART, terlihat sedang membersihkan lemari kaca yang berada di dekat kursi sofa, sontak Sumi sang ART terkejut tatkala mendengar ucapan anak majikannya itu.
"Apa mungkin Pak Rama dengan Desy ada hubungan spesial," gumam hatinya. Dihinggapi rasa penasaran.
"Ah, kamu salah lihat sayang," ucapnya tersenyum datar. "Oh, ya, nanti siang mau ikut nggak ke super market," sang Papa mencoba mengalihkan pembicaraan.
Cantika hanya mengernyitkan dahi.
Papanya kemudian berlalu keruangan tamu, karena dia merasa tidak nyaman ketika sedang asik memainkan ponselnya ada sang anak. Sementara sang ART sudah menaruh curiga sepenuhnya bahwa sang majikan pasti berselingkuh.
•••••
"Sayang.." Lia memanggil anaknya.
Tiba-tiba Lia datang dengan membawa makanan. Nampak dia baru datang senam aerobik.
"Mampir dulu kemana Mah," Rian nampak curiga karena biasanya pulang senam pukul delapan, ini sudah pukul sepuluh.
"Aku beli makanan dulu Pah," Lia berlalu ke dalam dan langsung menaruh makanan tersebut ke piring.
__________
Rian sosok lelaki pencemburu, dia tidak mau sebenarnya sang istri terlalu bercampur dan aktif bersama teman-temannya. Dan ini juga dia lakukan baru sebulan ini. Dia penurut kepada sang suami tapi akhir-akhir ini, dia seakan memberanikan diri untuk bergaul dengan lingkungan sekitar.
__________
Ting...
Tiba-tiba bunyi pesan muncul dari ponsel Lia, nampak pesan muncul dari Tante Dini, istri kedua dari sang mertua.
{"Lia, Tante mau ajak kamu makan siang hari ini, kuharap kamu datang ya, sekalian mau kasih oleh-oleh, Tante kan, kemarin baru datang dari Bali sama Papanya Rian,"} Lia menatap lekat isi pesan tersebut.
Sebenarnya dia tidak mau lebih dekat dengan Tante Dini, tapi Papanya Rian seakan memaksa sang menantu tersebut untuk dekat dengan istri keduanya.
Dan tidak bisa dipungkiri sang Tante, selalu membuat rasa nyaman beda dengan sang Ibu mertua yang terlihat cerewet dan selalu ngatur.
{"Baik, Tante,"} balas pesan dari Lia.
Lia memberikan pesan kepada istri kedua sang mertua sudah tahu konsekwensinya, pasti sang suami selalu tidak melarang sang istri untuk bertemu dengan istri muda dari Bapaknya itu, karena Rian seakan takut oleh sang Bapak dan apa yang dibutuhkan oleh Rian selalu dipenuhi.
__ADS_1
•••••
"Pah, aku mau keluar nanti bentar lagi," ucapnya kepada Rian.
"Kemana Mah, baru saja datang?" tanya Rian dengan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Karena dia tengah asik mengirimkan pesan kepada sang kekasih gelapnya yaitu Desy.
"Mau antar Tante Dini, dia ajak makan siang, dan Cantika juga mau aku bawa," ucap sang istri.
"Yasudah, nggak apa-apa," Rian seakan tak bisa menolak jika Tante Dini yang minta ketemuan. Rian pun sekarang rencana butuh uang untuk buka usaha dan usaha tersebut akan berurusan dengan Desy.
Rian akan meminta pinjaman kepada sang Bapak atau Tante Dini, karena apapun itu pasti akan dilakukan oleh Tante Dini.
Jam menunjukkan pukul satu siang nampak panas terik sekali.
"Pah, aku pergi dulu," terdengar suara teriakan Lia dari ruang tamu.
"Iya, Mah," jawab Rian yang datang dari kamar.
"Papa, nggak kemana-mana kan?" tanya sang istri memandanginya.
"Nggak Mah, mau diam di rumah," ucapnya.
Rian langsung menelepon Desy ketika istrinya sudah pergi.
{"Des, kenapa kamu nggak kasih kabar sama aku, kalau kamu mau ke rumahmu,"} ucap Rian terdengar seperti sedikit marah.
"Ya, nggak apa-apa Mas, kan aku cuma sebentar anterin aja bolu buat anakmu," jawabnya.
"Yakin, sebentar," ucap kembali Rian.
Rian seakan tidak yakin kalau kedatangan Desy cuma sebentar ke rumahnya.
"Iya, lah Mas, ada istri dan anakmu nggak enak," ucap Desy.
"Istri dan anakku baru saja pergi, emangnya nggak bilang Lia sama kamu dia mau pergi?" tanya Rian.
"Nggak.." ucap Desy " Yaudah aku nanti numpang minum dan duduk bentar di rumahmu. Hehehe... " Desy tertawa terkekeh.
Setengah jam kemudian Desy datang ke rumah Rian, nampak membawa bolu yang dia buat. Nampaknya mungkin dia, ingin mencari perhatian dari Rian yang sedang berusaha masuk ke dalam cinta terlarangnya.
__ADS_1
"Waduh, Bolu nya banyak banget," ucap Rian tatkala melihat Desy membawa bolu turun dari dalam mobilnya.
"Iya, Mas. Semoga kamu suka," Desy tersenyum manja. Nampak Rian mencium pipi Desy, ketika baru turun di dalam mobil.
•••
"Aku semakin yakin, Desy dengan Pak Rian ada hubungan perselingkuhan," ucap Sumi sang ART yang sedang mengintip di kaca jendela ruang tamu.
Sumi pun dengan cepat dia berlalu dari ruang tamu tersebut menuju dapur karena takut ketahuan oleh kedua orang tersebut.
•••
"Teh Sumi, bawa minum untuk Desy," teriak Rian di kursi sofa. Ketika mereka sudah memasuki kedalam rumah.
"Iy-Iya Pak," terdengar gugup Sumi ketika berucap karena dia sedang melamun sang majikannya itu.
•••
"Kamu setelah dari sini mau kemana?" tanya Rian menatap lekat ke arah Desy. Nampak Desy tersenyum manja kemudian dia berkeluh kesah tentang mantan suaminya yang mencoba mendekatinya lagi.
Entah mengapa ada perasaan cemburu di hatinya Rian, tatkala mendengar berita tersebut. Rian mukanya berubah menjadi cemberut.
"Ya sudah, kamu kembali lagi kepada mantan kamu itu, biar kamu senang!" ucapnya terdengar emosi.
Desy seakan tahu perasaan dari Rian, lalu dia menggenggam erat jemari Rian,.
"Nggak dong, Sayang. Kamu cemburu ya," Desy menggoda. Rian Hanya menatap layar televisi seakan tidak mau membahas hal itu.
Ehem
Tiba-tiba datang Sumi dari arah dapur, dia membawa dua gelas air sirup yang di penuhi dengan es batu.
"Silahkan di minum Non," ucap Sumi yang pandangannya lekat ke arah tangan Desy, yang sedang memegang jemari tangannya Rian. Sontak Desy berusaha melepaskannya, dia tidak menyadari kedatangan Sumi sang ART tersebut dari arah belakang.
Sumi pun berlalu lalu masuk ke dalam dapur.
"Nggak tahu malu, padahal dia wanita pendiam dan baik," gumam hati sang ART
__ADS_1
Bersambung...