
Desy pun menepuk paha Rian secara perlahan karena nampak oleh ekor mata Desy, pandangan mata Rian seakan tidak mau lepas dari sang Dokter cantik itu.
Rian nampak terkesiap dengan tepukan paha yang di berikan oleh Desy.
Di atas meja Dokter tersebut nampak ada kartu nama sang Dokter, dan tanpa sepengetahuan Desy, karena Desy tengah asik ngobrol dengan sang Dokter kemudian Rian mengambil kartu nama tersebut lalu dia masukkan ke dalam saku celananya.
"Jujur dalam hatiku yang paling dalam, aku sangat berharap bisa berkenalan dengan Dokter ini," gumam hati Rian.
______
Setelah setengah jam berlalu Desy konsultasi dengan sang Dokter, dan Desy pun di berikan kosmetik beserta obat dari sang Dokter. Mereka pun nampak keluar dari ruangan Dokter tersebut.
____
Di dalam mobil.
"Mas,,,mata kamu jelalatan tadi pas lihat Dokter Zahira, aku enggak suka!" ucap Desy mendelik kesal.
"Ya, wajar lah kalau hanya mengagumi wanita cantik, memangnya kenapa. Terus kamu cemburu!?" tanya Rian.
"Iya,,aku cemburu," ucapnya.
"Ngapain cemburu, kalau hanya mengagumi saja memangnya salah, ya!?" Rian seakan dibuat kesal oleh Desy karena rasa cemburunya Desy begitu besar terhadap Rian. Seakan tidak leluasa untuk melakukan apapun, Desy seakan menguasai keadaan.
_____
Tiba di rumah Desy.
"Des,, aku nggak mampir dulu ya, karena tadi Ibuku kasih kabar dia ingin di temani belanja ke supermarket," ucap Rian.
"Ya sudah, kalau gak mau masuk dulu padahal aku berharap kamu masuk dulu ke rumahku. Rian aku masih kangen," ucap Desy sambil menggenggam jemari tangan Rian lalu mengecupnya.
"Banyak waktu untuk kita berdua, yasudah ya,,,aku mau jalan lagi," ucap Rian.
_______
Desy pun turun dari dalam mobil dengan muka kesal. Dia terlihat berjalan cepat ke arah pintu pagar, setelah terbuka lebar pintu garasi lalu dia masuk dan menutup pintu gerbang halaman itu dengan kasar.
Rian pun menginjak pedal gas setelah Desy tidak terlihat lagi.
Bayangan sang Dokter terus menggelayuti pikirannya, Rian memejamkan mata dia seakan berandai-andai jika dia menjadi pacar sang Dokter, Rian pun tersenyum sendiri di dalam mobilnya itu.
___
Tiba di rumah.
Ibu Viona sudah duduk di teras rumah nampak terlihat dia sedang menunggu kedatangan sang anak. Tatkala terdengar suara yang datang adalah mobil anaknya, sontak Bu Viona menyeret langkah kakinya ke luar halaman rumah.
"Nak,,jangan di masukin mobilnya! Ayo,,kita langsung pergi," ucap sang Ibu sambil membuka gerbang halaman rumah.
Sang Ibu kemudian membuka pintu garasi halaman rumah kemudian dia masuk ke dalam mobil.
Bruk...
Suara pintu mobil tertutup terdengar jelas oleh Rian, sepertinya yang sedang menutup pintu mobil sedang dihinggapi rasa kesal, terlihat oleh ujung ekor mata Rian, sang Ibu mukanya cemberut seakan menahan emosi.
Rian menghela napas panjang.
__ADS_1
"Kenapa Bu,,!?" tanya Rian kepada sang Ibu terlihat dihinggapi rasa penasaran.
"Ibu kesal sana Papamu Rian!" ucap sang Ibu.
"Memangnya kenapa Bu," tanya Rian.
"Tadi Papamu nelpon nanyain kabar Ibu, dan Ibu juga nanya sama Papamu kapan datang ke rumah karena sudah lama Papamu tidak pulang. Tapi terdengar ada suara perempuan di belakang Papamu begitu jelas terdengar," ucap sang Ibu mendelik kesal
Degh ..
"Mungkinkah itu suara Tante Dini!?" gumam hati Rian.
"Kalau menurut kamu gimana Rian!" sang Ibu kembali berucap kepada sang anak.
"Mungkin Ibu salah dengar, dan sedang melamun," ucap Rian mencoba menutupi.
Sang Ibu pun hanya terdiam seakan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Aku yakin, Papanya Rian berselingkuh!" gumam hati Ibu Viona.
______
Tiba di Super Market.
Nampak sang Mama mengelilingi lorong demi lorong area Super Market tersebut. Mungkin Super Market itu boleh di bilang Super Market yang terbesar di kota Bandung. Memiliki lebih dari 10 lorong dan perabotan untuk dapur pun nampak lengkap terlihat disana.
"Kayaknya aku perlu blender buat bikin jus," ucap Bu Viona. Dia pun berlalu ke lorong peralatan dapur, yang berada di ujung,
sementara Rian masih memilih minuman di lorong awal.
"Nak,,,boleh tunggu disana saja, kalau kamu kesel buat jalan-jalan ke tiap lorong, karena banyak yang harus Ibu beli," ucap sang Ibu. Telunjuknya mengarah ke sebuah tempat makan yang keberadaannya terletak di depan Super Market.
_______
Ketika sampai di lorong ujung tepat disana terjual peralatan dapur karena sang Ibu memerlukan blender. Nampak ada seorang wanita yang sedang memilih-milih blender dengan pandangan menunduk, dan dia pun nampak sedang memakai masker penutup hidung dan mulutnya.
"Aku ingin blender yang di pegang sama wanita itu, karena kualitasnya bagus," gumam hati Ibu Viona, karena nampak disana merk dari blender tersebut tinggal satu tersimpan yaitu yang di pegang oleh wanita tersebut.
"Mbak,,nggak ada lagi ya, merk blender seperti Mbak, nya," ucap Ibu Viona dengan pandangan ke arah blender yang lain tanpa melihat wanita tersebut.
Sontak wanita tersebut berkata.
"Ya, kayaknya enggak ada lagi Bu, tapi kalau Ibu mau merk ini silahkan saja, biar saya besok kesini lagi soalnya saya udah tanya tadi ke pelayan tokonya merk ini tinggal satu," ucap wanita tersebut.
_______
Drett...Drett...Drett...
Tiba-tiba bunyi suara telepon terdengar dari wanita tersebut, dia pun dengan cepat merogoh ponselnya yang ada di dalam saku celana, dan melempar wajah dari Ibu Viona, kini posisinya membelakangi Ibu Viona dan tengah fokus di sambungan teleponnya.
"Tadi wanita itu bilang, sudah merelakan blender-nya untukku, aku ambil saja," gumam hati Bu Viona.
____
"Sayang,,,sudah bawa blender-nya, pilih yang mana," tanya seorang lelaki yang tiba-tiba datang menghampiri.
"Blender yang Ibu beli saya ambil, hehehe,,," ucap Ibu Viona tersenyum kepada lelaki tersebut. Sementara sang wanita masih tengah asik menelepon.
__ADS_1
Sambungan telepon pun di tutup oleh wanita tersebut, kemudian dia menerangkan kepada pasangannya tersebut.
"Ibunya perlu blender merk itu, biar kita kesini lagi besok Mas,," ucap wanita tersebut tersenyum.
Wanita tersebut pun kemudian pandangan matanya mengarah ke Ibu Viona, dan betapa terkejut hati wanita itu karena tepat di hadapannya itu sang mantan mertua.
"Ibu Viona,,!!" ucap Lia seketika Lia pun membuka penutup maskernya.
Ibu Viona nampak terkejut tatkala Lia menyebut namanya. "Kamu Lia!"
Ibu Viona pun pandangannya mengarah kepada Adrian, dia pun nampak mendelik kesal tatkala melihat sosok Adrian.
"Jadi ini pasangan kamu yang baru Lia!? Dasar wanita gatel baru juga cerai dari suami sudah mempunyai laki!" sindir Ibu Viona menatap sinis kepada Lia kemudian pandangannya beralih kearah Adrian.
"Siapa Lia," bisik Adrian lekat ke kuping Lia.
"Ibunya Rian," jawab Lia.
"Tan,,kalau ngomong dijaga ya, Lia bukan wanita gatel seperti yang Tante tuduhkan," bela Adrian. Dia tidak rela jika kekasihnya di katakan wanita gatel.
"Kamu kan tidak tahu kenapa anak saya cerai dari wanita ini!" telunjuk Ibu Viona mengarah ke Lia.
Adrian pun seperti dihinggapi rasa penasaran, dia menatap Ibu Viona, tapi Adrian masih menahan emosinya agar jangan tersulut.
"Dia berselingkuh!!" ucapnya berbohong dengan pandangan sinis.
"Bu Viona jangan mencoba menghasut dan bicara yang tidak jujur, dosa! Yang menceraikan anak Ibu itu saya, karena dia yang berselingkuh!" ucap Lia.
Lia pun membela dirinya sendiri karena dia tidak tahan dengan omongan sang mantan mertua.
"Kamu mau-maunya sama wanita ini!" mata Bu Viona mendelik.
"Mas,,, Ibu ini sudah tidak waras! Ayo, kita pergi saja dari sini," ucap Lia.
"Orang tuh fokus sama anak setelah bercerai. Lah ini malah fokus sama laki-laki, wanita gatel,,,!" Bu Viona tertawa seakan meledek. Matanya melotot dan telunjuknya mengarah tepat ke muka Lia.
______
Karena dihinggapi rasa kesal, Lia pun seakan kecewa dan marah karena Bu Viona bicara tidak sesuai fakta, jelas-jelas yang berselingkuh itu adalah anaknya. Lia secara spontan meraih tangan Bu Viona yang telunjuknya tengah memaki Lia.
Bu Viona mencoba melepaskan tangannya yang tengah di pegang Lia, namun karena disana banyak barang dan tangan satunya Ibu Viona memegang barang lain yaitu panci-panci yang numpuk akhirnya.
Bruk...
Bu Viona terjatuh dan semua panci yang menumpuk pun berjatuhan dan menimbulkan suara berisik. Sontak pengunjung yang tengah berada disana pandangan matanya beralih ke arah Bu Viona yang tersungkur beserta barang-barang yang berceceran.
"Ada apa ini!?" tanya sang Manager.
Tiba-tiba datang seorang Manager dan pelayan Super Market menghampiri.
"Aduhh Ibu, terjatuh. Mari Bu, saya bantu,," sang pelayan mencoba mengangkat tubuh Bu Viona yang tersungkur.
"Aww,,," Bu Viona terlihat meringis menahan rasa sakit, karena punggung belakangnya menubruk etalase.
"Ayo, Mas,,, kita pergi dari sini! Aku muak lihat Ibu Viona yang sudah memfitnahku!" ucap Lia dengan amarah yang masih mengganjal.
Adrian pun seakan tidak tega melihat Ibu Viona yang tengah tersungkur tersebut, niat Adrian ingin membantu Ibu Viona tapi tangan Lia dengan cepat menyeret tangan Adrian menuju keluar dari dalam lorong tersebut.
__ADS_1
Bersambung...