Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 181 Bu Viona kesal


__ADS_3

Bu Viona pun dan Rian akhirnya tinggal di rumah Desy. Dan ini menimbulkan rasa senang di hati Desy karena akhirnya dia bisa tidur satu kamar dengan Rian. Desy yang notabene kesepian akhirnya sekarang bisa merasakan kehangatan Rian.


Sementara Bu Viona terlihat sibuk mengurus keadaan rumah mulai dari membersihkan rumah, memasak hingga mencuci semua yang mengerjakan adalah Bu Viona.


Rian nampak iba melihat sang Ibu yang dulu tidak rajin membereskan pekerjaan rumah tapi sekarang dia mengerjakan sendiri tanpa bantuan siapapun termasuk Desy sang menantu.


_______


"Bu, istirahat dulu kayaknya Ibu capek," ucap Rian ketika melihat sang Ibu sedang membersihkan pekarangan rumah di pagi hari.


"Enggak apa-apa kok, Ibu harus tahu diri karena kita numpang di rumahnya Desy," jawab sang Ibu tersenyum tipis walau dalam hati berpikir. Dia pun menyadari saat ini seperti seorang ART bukan Ibu mertua.


"Kalau Papanya Rian tahu keadaan aku seperti ini mungkin dia akan mentertawakan aku," gumam hati sang Ibu rasa hatinya merasa teriris.


_______


"Aduh,,,Ibu baru beres mengepel lantai ya, maaf Bu, Desy langsung memakai sepatu dari kamar jadi lantainya kotor lagi," ucap Desy yang nampak terlihat tergesa-gesa mau pergi ke proyek karena telah ditunggu sang Papa di tempat proyek.


Sang suami terlihat mendelik beda dengan sang mertua mencoba untuk bersikap tenang dan tersenyum walau dalam hatinya dihinggapi rasa kesal.


"Sayang terima kasih semalam, kamu buat aku melayang," bisik Desy tersenyum nakal.


CUP...


Desy pamit dan dia pun akhirnya berlalu dari hadapan sang Ibu mertua dan sang suami dengan memasuki mobilnya. Kemudian mobil Desy pun pergi dari tatapan Rian dan Bu Viona.


______


"Bikin capek dua kali untuk mengepel lantai," batin Bu Viona terlihat kesal.


"Bu, maafkan Desy ya, sabar. Kalau kelakuan dia gini terus memperlakukan Ibu rendah lebih baik kita pindah rumah dan aku akan cerai dari Desy!" ucap Rian.


"Jangan Nak, cuma gitu saja. Enggak apa-apa kok, dia kan buru-buru mau ke proyek sudah telat," ucap sang Ibu sambil mengepel lantai kembali. Padahal di dalam hatinya dihinggapi rasa kesal yang teramat.


______


Malam pun tiba.


Nampak sang Ibu badannya meriang mungkin dia kecapean dan Rian pun dihinggapi rasa khawatir.


"Bu, kita ke Dokter ya," ajak Rian kepada Ibunya.


"Enggak apa-apa kok, sebentar lagi juga sembuh dan Ibu hanya perlu istirahat," jawab sang Ibu.


"Ibu capek Bu, kurang istirahat. Besok Ibu jangan ngapa-ngapain diam saja di kamar nanti kalau di paksain kerja akan bertambah drop badannya," ucap sang anak.


"Besok pasti sembuh Nak, enggak enak kalau keadaan rumah berantakan kasihan Desy pulang kerja harus bersih-bersih rumah," sang Ibu merasa harus mengerjakan pekerjaan rumah karena dia tahu diri dan anaknya Rian numpang tinggal di rumah istri.


"Ya sudah kalau begitu Ibu istirahat dulu," ucap Rian dia pun menyelimuti sang Ibu dengan selimut tebal dan berlalu keluar dari dalam kamar.


________


Tiba-tiba terdengar suara mobil dari halaman rumah dan Rian pun nampak mengintip siapakah yang datang. Ternyata yang keluar dari dalam mobil adalah Bobby mantan suami Desy.


"Mau apa dia kesini, anaknya juga lagi di rumah orang tuanya Desy," gumam hati Rian


Tok...Tok ...Tok...


Pintu di ketuk beberapa kali dan sepertinya Rian seakan malas untuk membuka pintu tersebut. Kebetulan mobil Desy ada dua dan Bobby menyangka Desy ada di rumah dan mobil yang satunya seperti biasa selalu dipakai untuk keperluan proyek.


Rian mencoba mengatur deru napasnya ketika dia akan membukakan pintu.


Ceklek...

__ADS_1


Pintu akhirnya terbuka dengan lebar, dan nampak Bobby sedang berdiri tegap di depan pintu rumah.


"Oh, ada suami baru Desy ya, lagi disini atau pindah kesini rumahnya," sindir Bobby.


"Anakmu tidak ada di rumah orang tua Desy. Dan Desy belum pulang dari proyek," ucap Rian tegas.


"Jadi gantian gitu, suami di rumah ngurus rumah sementara istri cari nafkah. Hehehe,,," ejek Bobby dengan pandangan mengarah ke dalam rumah.


"Diam kamu jangan urusi rumah tangga orang, lagian seharusnya langsung pulang jika tahu kalau Desy dan anakmu tidak ada disini ngapain tidak pergi." Rian nampak dihinggapi rasa emosi.


"Santai Mas, jangan nyolot. Aku juga dari tadi santai kok tidak emosi," ucap Bobby.


•••


Rian mencoba menutup pintu namun Bobby seakan menghalanginya dan ini menimbulkan rasa kesal di dalam hati Rian.


"Mau kamu apa!" Rian matanya melotot.


"Aku ingin masuk dan minum kopi," ucap Bobby tersenyum sinis.


"Tidak, kamu lebih baik keluar dari rumah ini," Rian seakan kesal dengan Bobby yang seenaknya ingin masuk ke dalam rumah dan meminta secangkir kopi.


"Kalau begitu silahkan tutup pintunya dan aku akan duduk di teras," Bobby seakan sedang memancing emosi Rian.


•••


Tangan Rian terlihat mengepal seakan ingin menghantam lelaki yang tengah berada di hadapannya itu.


"Kenapa kamu, kesal, marah sama aku, atau cemburu," ejek Bobby yang pandangannya melirik ke arah tangan Rian yang sedang mengepal.


BUK..


BUK...


Tonjokan dari tangan Rian pun menghantam perut Bobby, dan sontak Bobby kelimpungan badan Bobby seakan tidak bisa tegak berdiri lagi karena hantaman yang di sodorkan oleh tangan Rian.


"Keluar, keluar kamu brengsek! Sebelum amarahku lebih memuncak," Rian nampak mukanya merah padam.


_______


Tiba-tiba mobil Desy pun datang dan secara bersamaan mata Bobby dan Rian mengarah ke mobil Desy.


Nampak Desy yang tengah berada di mobil langsung pandangan matanya mengarah ke Bobby yang sedang memegang perutnya karena sebuah hantaman dari Rian yang baru saja dilakukan.


"Pasti berkelahi mereka. Lagian ngapain si Bobby datang ke rumahku cari gara-gara saja, sudah tahu anaknya sedang di rumah Mamaku," gumam hati Desy.


Desy pun keluar dari dalam mobil lalu dengan cepat dia menyeret langkah kakinya menuju teras rumah.


"Ngapain kamu kesini Bobby, kan tahu anakmu sedang tidak disini di rumah Neneknya," Desy terlihat kesal kepada sang mantan suaminya itu.


"Aku ingin bertemu dengan kamu bukan anakmu. Aku pikir kan ART enggak ada sedang pulang kampung jadi kita bisa bebas ngobrol berduaan. Eh, ternyata ada satpam sekarang di rumahmu," sindir Bobby.


PLAK ..


Desy menampar keras pipi Bobby sepertinya dia sangat terganggu dengan ucapan sang mantan suaminya itu.


"Jaga ya, kalau bicara jangan seenaknya," Desy melotot ke arah Bobby.


"Ahhh, kamu munafik Des, apa kamu tidak rindu kepada Bapaknya, anakmu ini," ucap kembali Bobby.


"Keluar, keluar kamu! Aku yakin kamu habis mabuk jadi ngomong ngelantur," Desy nampak tersulut emosi.


•••

__ADS_1


Rian pun menyeret tangan Bobby untuk keluar halaman rumah. Namun dengan cepat Bobby melepaskan tangannya Rian.


"Lepaskan, aku tidak perlu di usir kalian," dengan tatapan tajam Bobby menatap Rian.


Dia pun akhirnya meninggalkan rumah Desy dengan ocehannya yang terdengar memojokkan Desy dan Rian.


"Enggak tahu malu kamu Des, nikah dengan suami sahabatmu. Lelakinya juga sama dengan mudahnya mencampakkan istrinya." Bobby nampak tersenyum puas.


Desy seakan malu dan menahan amarah dia pun dengan cepat menyeret tangan Rian agar memasuki rumah karena sudah tidak tahan dengan ocehan sang mantan suaminya itu.


________


Di dalam rumah.


Desy nampak menghempaskan tubuhnya di atas sofa dengan kasar dan dia nampak cemberut. Sepertinya dia capek sepulang dari proyek.


"Bu, Bu, ambilkan minum, Desy capek!" teriak Desy sambil matanya berselancar seakan mencari sosok Ibu mertuanya itu.


Desy nampak menghela napas panjang.


"Ibu kamu mana?" tanya Desy menatap Rian.


"Sakit, baru saja tidur," jawab Rian.


"Aku capek dan proyek aku sama Papaku rasanya sedang mengalami kekurangan dana dan aku harus menjual mobilku yang satu untuk nambahin modal meskipun harganya tidak seberapa tapi lumayan," ucap Desy.


"Apa! Kamu akan menjual mobil kamu," Rian terlihat dihinggapi rasa khawatir dan takut Desy mengalami kebangkrutan sama seperti dirinya.


"Iya, aset aku kan sudah habis yang ada tinggal mobil," Desy membuang napas kasar.


______


Rian nampak kebingungan soalnya bisnis konfeksi dia pun sampai sekarang belum jalan tapi uangnya sudah dia berikan kepada orangnya.


"Kamu dong mikir sebagai kepala rumah tangga jangan diam saja, sementara aku sedang bingung gini," sindir Desy.


Sontak Rian dihinggapi rasa malu yang teramat dan nampaknya dia tersindir dengan ucapan Desy.


"Atau mobil kamu saja jual," sambung Desy kembali.


"Apa, tidak bisa! Itu mobil untuk urusan usahaku kedepannya. Kalau tidak ada kendaraan bagaimana aku tidak bisa pergi kemana-mana," Rian terlihat kesal.


"Ya sudah, kamu segera bertindak dong, jangan diam saja. Datangi relasi bisnis teman Ibumu itu. Jangan-jangan nanti kena tipu lagi," sindir Desy.


"Kamu jangan ngomong gitu Des, bukannya menyemangati suami. Ini yang ada malah bikin down," Rian mendelik.


Desy terdiam seakan malas untuk berdebat dengan suaminya itu.


______


"Argh,,,parah orang kehausan tidak ada yang ambilkan minum," Desy pun berlalu ke arah lemari es kemudian dia meminum air mineral yang berada di dalam botol.


GLEK...


Nampak Desy kehausan dan wajahnya seperti banyak pikiran, kemudian dia berlalu ke dalam kamar.


Setelah di dalam kamar nampak dia duduk di kursi depan cermin. Dia memejamkan matanya dan bayangan Bobby hinggap nyata di pikirannya.


Ucapan sang mantan suami terasa terngiang ketika menyebut dirinya seorang wanita yang merebut suami sahabatnya sendiri.


"Apakah karena aku dan Rian yang dulu telah menyakiti hati Lia sahabatku sendiri jadi berakibat usaha Rian dan aku gagal terus!?" gumam hati Desy dihinggapi rasa bersalah dalam diri.


Ting...

__ADS_1


Tiba-tiba pesan masuk dari ponselnya Desy dan nampak pesan tersebut datang dari sang Papa yang mengabarkan bahwa sudah ada yang akan membeli mobilnya Desy, dan besok siang sang pembeli akan melihat mobilnya Desy.


Bersambung...


__ADS_2