
Beberapa minggu kemudian.
Semakin hari semakin sepi Kafe milik Rian dan Kafe tersebut sekarang yang mengendalikan adalah Desy, dia pengganti Anita dan Risma. Dan Desy pun nampak menemukan keganjalan ketika merinci setiap anggaran yang masuk dan keluarnya uang untuk kepentingan Kafe.
Desy nampak dihinggapi rasa curiga yang teramat atas keganjalan yang terjadi di Kafe miliknya Rian tersebut dan dia pun dalam benaknya berpikir akan melakukan penyelidikan dengan semua yang terjadi.
"Aku kasih uang beberapa kali kepada Rian dan dia bilang mau belanja untuk kebutuhan Kafe tapi nyatanya tidak ada di rincian belanja. Sebenarnya ada apa dengan semua ini! Apakah ada yang di sembunyikan Rian dari aku!" gumam hati Desy.
Desy nampak menghela napas panjang, dia pun pikirannya berselancar jauh dan curiga jika uang yang dipakai oleh Rian itu bukan untuk kebutuhan Kafe tapi untuk kebutuhan lain. "Aku harus cari tahu semuanya," Desy kembali pikirannya menebak.
________
Rian datang.
Terdengar suara mobil dari luar, Desy pun menengok dari arah jendela ruangan Rian dan yang datang adalah Rian.
Hari ini nampak Kafe terlihat sepi sekali dan Rian pun yang sedang memarkirkan mobilnya untuk masuk ke dalam Kafe nampak membuang napas kasar karena tidak seperti biasanya Kafe tersebut terlihat sepi, dan sangat dirasakan oleh Rian pendapatan pun yang di dapat dari Kafe tersebut jauh dari kata untung.
Rian pun dengan tidak bersemangat keluar dari dalam mobil dengan jalan lunglai.
"Sore, Pak!" ucap Pak satpam kepada Rian.
"Sepi ya, Kafenya!" ucap Rian menatap Pak satpam yang sedang berdiri tegak di hadapannya.
"Iya, Pak, lagi sepi beberapa hari ini, sabar saja Pak, tidak selamanya mulus kalau jualan ada turun naiknya," jawab Pak satpam.
Rian pun nampak melengos ke dalam ruangannya, Rian tahu disana ada Desy karena mobil Desy nampak terparkir diluar halaman Kafe.
_______
Ceklek...
Pintu dibuka oleh Rian dan nampak Desy sedang termenung dan ini menjadi tanda tanya besar di hati Rian.
Rian pun berpikir mungkin Desy termenung karena keadaan Kafe sedang sepi.
"Mas, lihat ini!" Desy menaruh laporan rincian belanja Kafe dengan kasar di atas meja yang baru saja dia ambil di dalam laci.
Mata Rian pun tertuju kepada laporan tersebut. "Ini laporan anggaran belanja Kafe kita, memangnya kenapa!?" Rian masih belum menyadari jika Desy tengah curiga dengan isi rincian tersebut.
"Coba kamu lihat dengan seksama Mas!" ucap Desy tersenyum getir.
_________
Rian pun membuka lembaran demi lembaran dokumen tersebut. Laporan anggaran belanja pun dia buka. Dan Rian nampak santai dan tidak menyadari kalau Desy telah menghitung semuanya.
"Memangnya ada apa dengan laporan ini, tidak ada yang salah dan istimewa!" ucap Rian, dia pun kemudian duduk di kursi sofa dan menyenderkan tubuhnya.
"Coba kamu teliti yang benar, aku sudah beberapa kali memberikan uang sama kamu tapi mana hasilnya. Belanjaan yang kamu beli untuk keperluan Kafe tidak sesuai dengan yang yang aku berikan!" Desy terlihat kecewa.
_______
DEGH...
Rian pun nampak terkejut akhirnya Desy pun pada akhirnya mengetahui bahwa uang yang dia dapat dari Desy selama ini sebenarnya sepenuhnya tidak digunakan untuk kepentingan belanja Kafe tapi untuk diberikan kepada Citra dan sampai sekarang belum ada kabar lagi yang jelas dari Citra mengenai bisnis tersebut.
__ADS_1
"Ya, kan Kafe sedang sepi jadi bahan yang dibeli untuk Kafe tidak terjual. Terus ada sebagian sayuran atau bahan pokok yang sudah tidak layak dipakai kita buang dan untuk bahan Frozen. Sebagian bahan kita olah menjadi bahan makanan jadi, dan kita berikan kepada yayasan," ucap Rian.
"Tidak Mas, bukan itu, dan tidak mungkin menggunakan uang sampai banyak begitu. Jawab jujur Mas, uang kamu gunakan untuk apa!?" tanya Desy dengan tegas.
"Sudahlah, kamu tidak mengerti bisnis!" ucap Rian terlihat dihinggapi rasa emosi dengan menyimpan berkas yang dia bawa dan ponselnya yang sedari tadi Rian genggam diatas meja.
"Kamu jangan lempar batu sembunyi tangan harus jujur kepada istri. Aku sama kamu dalam urusan bisnis pintar aku! Selama ini yang selalu support siapa!? Aku!!" Desy terlihat kesal.
Rian nampak tersinggung dengan ucapan Desy karena Desy dengan berani menyepelekan dirinya dengan menyebut Rian dalam bisnis tidak pintar sedangkan Desy pintar mengelolanya bisnis.
Rian pun nampak cemberut kemudian dia duduk di kursi sofa dan menyenderkan kepalanya.
_______
Ting...
Tiba-tiba bunyi pesan muncul dan ponsel Rian tengah berada di meja kerjanya. Nampak jelas terlihat oleh Desy pesan muncul dari Citra dan tanpa di sadari oleh Rian karena Rian tengah membelakangi Desy dan memijit pelipisnya yang terasa pusing di kursi sofa.
"Citra,,! Siapakah wanita ini!?" gumam hati Desy, matanya terbelalak.
Nampak bunyi pesan tersebut membuat dada Desy berdesir. {"Lagi dimana! Sudah makan belum?"}. Terlihat Citra begitu perhatian di tulisan pesannya tersebut.
Desy pun tanpa sepengetahuan Rian, dia menyimpan nomor Citra dan ingin mencari tahu siapakah sosok Citra tersebut.
Desy nampak menghela napas panjang.
"Citra, siapa Citra!" sindir Desy kepada Rian.
Sontak Rian terkesiap dengan apa yang di ucapkan oleh Desy. Rian menoleh ke arah Desy dan dia melihat Desy tengah memegang ponselnya dengan cepat Rian pun bangkit dari kursi sofa lalu berjalan ke arah meja kerjanya.
Rian dengan cepat mengambil ponselnya dari genggaman Desy, setelah dia berada dekat di hadapan Desy.
_______
Rian nampak terkejut dia tidak nyangka jika Desy akan bicara seperti itu.
"Kamu ngomong apa sih!" Rian mencoba mengelak dan kembali duduk di kursi sofa.
"Tinggal jelaskan saja siapa Citra itu!" ucap Desy kepada Rian dengan tatapan penuh emosi.
"Rekan bisnis!" jawab Rian.
"Rekan bisnis!? Ada bisnis apa kamu sama perempuan Itu!" tuduh Desy.
"Sudahlah Des, jangan di perpanjang. Aku capek!" ucap Rian. Dia nampak memijit keningnya kembali.
"Pokonya aku tidak akan memberikan kamu lagi duit! ingat itu Mas, uangku juga sudah hampir menipis." ucap Desy mendelik.
_______
Tok.. Tok..Tok..
Tiba-tiba pintu ruangan Rian ada yang mengetuk beberapa kali. Setelah Rian memberikan perintah untuk masuk berucap didalam ruangan, pintu pun nampak terbuka dengan lebar.
Ceklek....
__ADS_1
"Pak, ada tamu!" ucap Pak satpam.
Siapa?" tanya Rian kepada Pak satpam.
"Katanya, Pak Yoga!" jawab Pak satpam.
"Yoga, ngapain dia datang gak kabari dulu," ucap Rian. Yoga adalah Pak polisi yang mengusut perampokan di Kafe Rian.
__________
Rian pun berlalu dari hadapan Desy sementara Desy sedang cemberut dan nampaknya dia masih terbakar api cemburu.
Desy kembali mengingat yang baru saja memberikan pesan kepada Rian. Desy menutup matanya dan menghela napas panjang. Sementara pikirannya menerawang jauh, dia kembali mengingat nama Citra dan akhirnya Desy pun nampak terkesiap karena dulu ketika pertama kali berkunjung ke rumah Lia, saat itu Lia cerita bahwa suaminya tengah berselingkuh dengan seorang wanita dan Lia pun menyebutkan namanya yang bernama Citra.
"Ya, namanya Citra. Apakah yang di maksud adalah Citra yang dulu pernah mengganggu kehidupan Lia dan kini dia datang kembali mengganggu hubunganku!?"gumam hati Desy, penuh tanya dalam diri Desy.
_______
Dia pun merasakan begitu sakit rasanya jika sang suami berselingkuh dan tidak setia dengan sang istri. Berarti Lia pun saat itu merasakan sakit yang luar biasa seperti dirinya. Desy nampak merasakan sakit hatinya Lia saat itu seperti apa. Tapi dia pun tidak mau jika Rian jatuh hati kepada pelukan wanita lain karena dulu ketika Desy mendapatkan Rian begitu dengan susahnya dan dia rela melepas Lia sang sahabat demi mendapatkan cinta Rian.
"Aku akan telepon wanita itu dan kalau perlu aku akan temui wanita itu!" ucap Desy.
Desy pun mengambil ponselnya yang berada di tas nya itu, kemudian dia menelepon Citra karena tadi nomornya sudah dia dapat ketika Citra memberikan pesan kepada Rian dan Desy sempat menulis nomor tersebut.
•••
"Halo,,,," ucap Citra di sebrang sana terdengar merdu suaranya.
Desy mencoba mengatur emosinya dia pun harus punya bukti kuat jika Citra adalah selingkuhannya seperti yang dia tuduhkan kepada Rian tadi.
{"Ini dengan Citra?"} tanya Desy berusaha santai.
{"Iya, saya Citra. Maaf ini dengan siapa ya?"} tanya Citra di sebrang sana.
{"Saya tahu nomor kamu dari teman saya dan rasanya tidak perlu saya sebutkan namanya. Pokoknya saya ingin join bisnis dengan kamu. Apa kita bisa ketemu?"} ucap Desy kembali.
{"Ouh boleh dengan senang hati, kebetulan bisnis yang saya bangun sekarang sedang butuh relasi dan untuk modal rasanya masih kurang,"} jawab Citra.
"Kalau aku tanya bisnis yang Citra kelola itu apa, mungkin nanti Citra akan curiga," gumam hati Desy.
Desy pun berpikir apakah nanti malam dia akan cek dulu ponselnya Rian, dan setelah dia menemui kebenaran bahwa Citra adalah selingkuhannya Rian, baru dia akan bertemu dengan Citra besok.
{"Ok, kebetulan aku punya modal dan gimana kalau besok kita bertemunya,"} ucap Desy kembali.
{"Boleh, dengan senang hati,"} ucap Citra.
Sambungan telepon pun akhirnya terputus dan Desy nampak mencoba mengatur deru emosinya yang kian memuncak apalagi setelah dia mendengar suara Citra begitu lembut dan terlihat sopan. Desy pikirannya sudah melayang jauh Citra sosok wanita yang cantik dan pintar dan dia takut jika sang suami pindah ke pelukan Citra.
•••
Cinta itu buta dan bodoh seakan membuang akal sehatnya dan hati nurani.
Bersambung...
Hatur nuhun yang sudah selalu setia baca karya Novelku. Tetap semangat dan berpikir positif ke depan.
__ADS_1
Salam sayang Author 🌹🥰
🌹🌹🌹🌹🌹