
Keesokan harinya.
Nampak Ana datang ke warung milik Rian pagi sekali dan Bu Viona kebetulan sedang ke pasar. Sedangkan Rian sedang membereskan warungnya yang terlihat berantakan.
"Eh, ada Ana mau beli apa Na?" tanya Rian.
Rian tersenyum lebar kepada Ana dan nampak Ana hanya diam membisu dan terlihat sedih dan hal ini membuat Rian dihinggapi rasa penasaran karena tidak biasanya Ana terlihat diam. Ana pribadi yang ceria dan tidak pernah menampakkan wajah murung sedikitpun di hadapan Rian.
Rian pun nampak setelah membereskan warungnya yang terlihat rapi kemudian dia keluar dan duduk di hadapan Ana. Kebetulan keadaan warung sepi belum ada pembeli. Rian kemudian menatap Ana yang pandangan matanya tengah menunduk tidak menampakkan senyum sedikitpun.
Rian menghela napas secara perlahan kemudian dia mencoba mengatur napasnya untuk mencoba bertanya kepada Ana secara hati-hati.
"Na, ada apa kok, kamu sedih?" tanya Rian.
_______
Ana kemudian menghela napas panjang dan kemudian dia bercerita kepada Rian bahwa sang Ibu akan menjodohkan dirinya dengan lelaki yang datang ke rumahnya kemarin. Ternyata sang Ibu mempunyai utang beberapa tahun yang lalu bekas modal usaha tapi belum terbayar dan sebagai tanda dia balas budi ke orang tersebut. Akhirnya sang Ibu berusaha menjodohkan Ana dengan orang tersebut agar utangnya lunas.
Rian nampak terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Ana. Tapi Rian akan mencoba menenangkan hati Ana.
"Na, kalau lelaki itu baik dan tanggung jawab tidak apa-apa terima saja lamaran lelaki itu," jawab Rian.
______
Ana nampak pandangan matanya mendelik dalam hatinya berkata yang ada dalam hatinya saat ini hanyalah Rian seorang. Meskipun saat itu sang Ibu dengan yakin bahwa dia akan menjodohkan Rian dengan anaknya tapi setelah kejadian ini sang Ibu berubah pikiran.
"Aku tidak cinta dengan lelaki itu Mas," jawabnya.
"Cinta bisa datang belakangan seiring waktu berjalan Na, aku yakin kamu lambat laun akan bisa mencintai dia. Lelaki itu baik kok, kalau menurut aku kemarin saja saat kita berpapasan dia tersenyum ramah sama aku dan Ibuku." ucap Rian mencoba meyakinkan Ana yang tengah gundah gulana.
"Iya Mas, ternyata dia juga katanya sudah lama mencintaiku karena kemarin dia cerita saat aku akan membeli obat untuk Bapak," jawab Ana.
Rian pun berpikir mungkin saat kemarin dia sepulang dari rumah Ana, ketika dia sedang duduk sama sang Ibu di teras rumah, nampak terlihat Ana keluar bersama lelaki itu memakai mobil.
______
"Bapak tidak tahu karena Bapak sedang di urut kemarin dan ini hanya obrolan aku, Ibu dan lelaki itu," ucap Ana.
"Maksudnya gimana Na, masa Bapak kamu tidak tahu," ucap Rian.
__ADS_1
Ana pun menjelaskan kepada Rian sebenarnya sang Bapak lebih ingin kalau Ana dekat dengan Rian. Sontak Rian terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Ana. Tanpa pikir panjang dia seolah menolak secara halus.
"Na, Mas Rian belum mampu untuk bisa nikahin kamu saat ini karena belum ada pekerjaan tetap. Ibumu sudah bagus dengan memutuskan yang terbaik lelaki untuk kamu lelaki mapan agar kamu bahagia," ucap Rian menatap lekat ke arah Ana gadis yang selama ini mengejarnya.
_______
Sontak Ana mendongakkan kepalanya dan menatap Rian dengan penuh rasa kesal dan kecewa. Dalam benak Ana berpikir inginnya Rian memahami dan mencoba mendalami hatinya bahwa saat ini dia hanya ingin bersama Rian. Tapi malah Rian seakan tidak merasakan hati Ana bahwa dia sangat mencintai Rian.
"Aku tidak cinta sama lelaki itu,!" ucap Ana menitikkan air mata. Rasanya ingin sekali Rian mengucapkan kata (Aku akan ada saat ini untuk kamu) tapi mengapa tidak ada sedikitpun terucap kata seperti itu dari mulut Rian hati Ana seakan tercabik pilu.
Kemudian Ana dengan cepat berlalu dari hadapan Rian.
_______
BRUKKK...
Ana menubruk Bu Viona yang membawa belanjaan dan baru saja turun dari gojek online. Nampak Bu Viona terkejut ketika melihat Ana yang nampak terlihat jalan terburu-buru dan menitikkan air mata.
Mulut Bu Viona terbuka lebar dan matanya melebar sempurna seakan dihinggapi rasa khawatir terhadap Ana karena Ana ketika menangis dia keluar dari halaman rumahnya.
"Neng Ana, kenapa!?" tanya Bu Viona dengan memegang tangan Ana tapi dengan cepat Ana melepaskan genggaman tangan Bu Viona.
_____
"Rian ada apa dengan Ana! Kamu apakan Ana!?" sang Ibu dihinggapi rasa khawatir.
Pikiran sang Ibu sudah tidak karuan dan berpikir aneh karena di warung dalam keadaan sepi dan tidak ada seorang pun berada disana. Terlihat sang Ibu raut mukanya sudah geram menahan marah dan nampak peluh pun bercucuran karena mungkin cape setelah pulang belanja di pasar.
"Tenang Bu," Rian terlihat santai kemudian dia memberikan sang Ibu sebotol air mineral yang dia ambil di dalam kulkas.
"Orang lagi panik kamu masih saja bersikap santai. Ada apa Rian!" sang Ibu seakan tidak sabar dengan pengakuan Rian mengenai Ana yang baru saja keluar dari rumahnya dengan derai air mata tangisan.
"Bu, minum dulu dan duduk Ibu cape pulang dari pasar," jawab Rian terlihat masih tenang.
GLEK...
Sang Ibu pun akhirnya duduk meminum air mineral yang berada di dalam botol tersebut.
Nampak terlihat sang Ibu mencoba menghela napas secara perlahan dan kembali bertanya kepada Rian.
__ADS_1
_______
"Ana akan di jodohkan oleh Ibunya," ucap Rian.
"Apa! Di jodohkan sama siapa? Maksudnya bagaimana Rian, Ibu kurang paham," ucap sang Ibu. Bertubi-tubi sang Ibu memberikan pertanyaan kepada Rian.
Rian pun menjelaskan semuanya kepada sang Ibu tidak ada yang di sembunyikan. Dan nampak setelah sang anak menceritakan semuanya sang Ibu terlihat membuang napas kasar. Sang Ibu seakan merasakan perasaan hati Ana saat ini seperti apa.
"Dia terluka Rian sama kamu!" ucap sang Ibu.
Sontak Rian terkejut dengan ucapan sang Ibu yang mengatakan bahwa Ana terluka olehnya karena Rian tidak merasa mengkhianati Ana dan berucap kata cinta dan menerima cinta Ana karena mereka tidak ada hubungan apa-apa.
"Tidak, Rian tidak salah dan tidak merasa melukai hati Ana," ucap Rian menjelaskan.
"Tapi dia itu sudah terlanjur ingin mendapatkan kamu Rian tapi kamu tidak menyadari," jawab sang Ibu mencoba menjelaskan kepada sang anak. Sang Ibu berpikir padahal sudah beberapa kali sang Ibu berbicara kepada sang anak bahwa Ana sebenarnya suka sama Rian tapi Rian terlihat cuek dan tidak menanggapi.
"Tapi kan Rian sudah bilang sama Ibu, Rian mau fokus dulu sama diri sendiri dan usaha Rian baru merintis memulai dan Rian tidak mau dulu menikah," jawab Rian.
Sang Ibu hanya diam dengan ucapan sang anak. Tidak bisa di pungkiri sang Ibu menginginkan anaknya menikah agar hidup dia lebih tertata dan ada yang ngurus. Tapi Bu Viona pun seakan tidak mau mengatur itu semua.
_______
TING....
Pesan masuk ke ponsel milik Rian terlihat di layar ponsel pesan tersebut datang dari sang anak yang mengabarkan dia ada acara di sekolah dan yang mengantarkan adalah Desy. Terlihat dari beberapa gambar yang di kirim oleh sang anak nampak Desy wajahnya terlihat lebih segar dan ceria tidak seperti awal bertemu karena dia baru pemulihan dari sakit depresi.
{"Pah, kata Tante Desy kalau Papa ke Kota kabari Tante Desy agar nanti di jemput sama supir,"} tulis pesan sang anak.
Rian hanya tersenyum tipis dengan tulisan pesan yang di kirim oleh sang anak. Dalam hati Rian mungkin Desy masih menyimpan rasa kepada dirinya yang begitu dalam.
{"Mama Lia kenapa gak antar kamu ke sekolah Nak?"} tanya Rian di pesannya tersebut. Rian malah menanyakan sang anak yang tidak bersama sang Mama saat acara di sekolah bukannya membalas cerita dia tentang Desy.
{"Adek sakit mau ke Dokter dulu setelah itu baru Mama nyusul ke sekolah,"} balas pesan sang anak.
Rian nampak dapat menghela napas dengan lega karena ternyata anaknya merasa nyaman dengan Desy dan sang mantan istrinya tersebut sangat peduli dengan anaknya.
"Aku tidak tahu Desy dengan jodohku nanti kedepannya itu, entah dengan siapa." gumam hati Rian sambil menyimpan ponselnya di atas meja.
Bersambung...
__ADS_1