Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 114 Gundah gulana


__ADS_3

"Tidak,,,!!" teriak Desy di ruangan pasien.


Tatkala mendengar apa yang di ucapkan oleh sang Dokter bahwa dia mengalami keguguran. Itu pun membuat sang Papa geram dengan mendapati sang anak telah berbadan dua. Sang Papa seakan ingin menerkam anaknya karena kandungan sang anak tidak diharapkannya jika dilakukan dalam hamil diluar nikah.


"Kamu sudah gila Desy! Apa yang sudah kamu lakukan sangat mencoreng keluarga kita dengan kamu hamil diluar nikah. Untung saja keguguran kalau tidak Papa malu dengan kondisi kamu yang berbadan dua sementara kamu belum menikah.!" sang Papa nampak bola matanya melotot ke arah sang anak yang terlihat merengek nangis seperti anak kecil.


"Tapi Pah, Desy tidak rela jika harus keguguran dan kehilangan anak itu dari rahimku!" Desy terus meracau.


"Diam...! sejak kapan pikiran kamu gila! Papa jadi heran dengan kelakuan kamu akhir-akhir ini yang membuat hati Papa kesal dibuatnya." kembali sang Papa terlihat mengungkapkan semua kekesalannya itu.


"Kesal kenapa Pah!?" Desy seakan tidak menerima ucapan dari sang Papa.


"Kamu sudah tidak waras, semenjak kamu mencoba merebut suami sahabatmu sendiri. dan sekarang kamu hamil diluar nikah. Mungkin kamu berpikir dengan kamu bisa hamil kemudian Rian akan pertanggung jawabkan semuanya! Begitu!?" bentak sang Papa.


Desy terdiam sejenak.


"Tapi kan akan tetap dilangsungkan pernikahan ini Pah, yang tinggal menghitung hari," ucap Desy.


"Tidak!!" ucap sang Papa tegas.


"Kenapa Pah!" mata Desy terbelalak dengan keputusan sang Papa yang seakan menunda rencana pernikahan nya tersebut.


"Bu Viona terbaring lemah dan Rian pun masih sakit. Mereka masih berada di ruangan Rumah Sakit," ucap sang Papa mendelik.


______


Desy pun seakan lupa bahwa dia yang terbaring sakit tidak sendiri tapi masih ada dua orang yang sama-sama mengalami kecelakaan yaitu calon suami dan calon Ibu mertuanya.


"Dimana mereka Mah, dimana Mas Rian dan Bu Viona!?" tanya Desy matanya tertuju ke luar jendela dekat pintu pintu masuk pasien.


Tanpa senagaja Desy wajahnya kemudian menghadap ke lemari dan disana nampak ada kaca cermin dan betapa terkejutnya Desy karena di sekitaran wajahnya ada goresan luka dan nampak ada rasa ngilu di area sana.


Desy memegang pipinya yang nampak tidak bening lagi dan disana ada obat luka yang menempel untuk meredakan rasa sakit.


"Mah, wajahku kenapa!?" tanya Desy menatap wajahnya dari arah jauh, sambil mengelus pipinya dan meringis.


"Kamu kena pecahan kaca Nak, kan posisi kamu ketika kecelakaan di depan. Kaca mobil depan pecah karena mobil Rian menghantam pohon besar. " ucap sang Ibu mencoba menerangkan semua kepada sang anak yang dihinggapi rasa khawatir.


__________


Desy memejamkan matanya dia pun nampak mukanya meringis tatkala mengingat kejadian ketika dia mengalami kecelakaan. Terngiang di benak pikirannya juga tetesan darah segar berwarna merah keluar dari dalam rok. Desy pun kembali sedih mengingat kejadian itu.


"semua gara-gara Lia, yang mengakibatkan kecelakaan!" ucap Desy menyalahkan.


Sontak sang Mama dan Papa saling berpandangan dan merasa heran dengan ucapan sang anak.


"Maksud kamu kecelakaan yang dihadapi gara-gara Lia, maksudnya apa!?" tanya sang mama. Desy pun menganggukkan kepalanya seakan semua gara-gara Lia kecelakaan tersebut.


"Kenapa kamu menyalahkan Lia!?" sang Papa menyelidik. Dia tidak mau menerima pernyataan yang ucapkan oleh sang anak.


"Gara-gara dia dan keluarganya memojokkan aku, jadi kami di dalam mobil ribut lalu terjadi percekcokan dan itu mengakibatkan Mas Rian tidak fokus ketika mengemudikan mobilnya," Desy seakan membuat perkara baru yang ingin mengakibatkan kedua orang tuanya iba terhadap dirinya itu.


_______


Tapi itu semua tidak membuat kedua orang tuanya begitu saja percaya dengan ucapannya.


"Kamu jangan selalu menyalahkan Lia, seharusnya kamu mikir! Apa kamu tidak malu dengan kekakuan kamu selama ini terhadap sahabatmu sendiri!? Meskipun Lia saat itu marah, menurut Papa wajar karena kamu telah merebut Rian dari Lia!" bela sang Papa.


Sontak mata Desy membulat sempurna dia seakan tidak rela jika sang Papa terus menerus membela Lia. Dia pun berpikir mengapa sang Papa tidak memihak dirinya.


"Pah, mengapa selalu Lia yang dibela Papa!?" ucap Desy seakan tidak terima dan tatapan yang dia berikan kepada sang Papa terlihat menyimpan rasa kecewa yang teramat.


"Des,,,!" ucap sang Mama mengedipkan mata seakan Desy jangan melawan ucapan sang Papa dan harus diam.


"Kalau kamu melawan terus ucapan Papa, kamu dan Rian lebih baik jangan jadi menikah!" sang Papa nampak dihinggapi rasa amarah karena nampak dari sorot matanya terlihat tajam dan menyimpan rasa kesal terhadap sang anak.


"Pah, sabar," sang istri terlihat menghela napas panjang. Dia pun seakan bingung terhadap sang anak, dan suaminya tersebut yang dari tadi tidak ada ujungnya bertengkar.

__ADS_1


________


Sang Mama pun keluar dari ruangan tersebut untuk melihat Ibu Viona yang keadaannya juga sangat mengkhawatirkan.


Bu Viona berada di ruangan sebelah Desy.


"Awas kalau kamu merengek kayak anak kecil! Papa malu sama Dokter dan Suster!" ancam sang Papa kepada Desy.


Sang Papa pun keluar dari ruangan Desy, dia mengikuti sang istri menuju ruangan Bu Viona. yang sedang terbaring lemah.


________


Beberapa menit kemudian setelah kedua orang tidak ada di penglihatannya


Desy nampak menangis, dan mengusap perutnya yang mengalami keguguran.


Bayangan dia untuk mendapatkan seorang bayi dari darah daging Rian pupus sudah.


Desy nampak meremas seprai kemudian dia turun dari ranjang, dan menyeret langkahnya secara perlahan menuju lemari kaca.


Dia nampak memandangi wajahnya dengan lekat lalu jemari tangannya mengusap wajahnya. Di area pipinya terlihat luka lebam dan tetesan obat yang menempel.


"Wajahku sudah tidak mulus lagi," gumam hati Desy, dia seakan tidak rela jika wajahnya sudah tidak cantik lagi karena ada goresan luka.


_________


Dia pun teringat ucapan sang Papa barusan. Mungkin jika di paksakan untuk menikah kondisi badannya sedang tidak stabil dan juga wajah mulusnya kini berubah menjadi rusak dansemua itu perlu proses untuk memperbaiki kembali wajah mulusnya.


Air matanya bercucuran menetes di hamparan pipinya menyatu dengan luka dan obat yang menempel terasa perih sekali karena luka di wajahnya masih basah. Desy meringis seakan menahan rasa sakit.


"Kalau saja saat itu tidak ada pertengkaran mungkin Rian tidak tersulut emosi dan ketika mengemudikan mobilnya akan perlahan tidak dibarengi dengan emosi!" ucapnya.


Desy nampak wajahnya menyimpan rasa dendam kepada Lia.


_________


Tiba-tiba bunyi pesan muncul dari ponselnya Desy, dia pun meraih ponsel tersebut lalu membuka layar aplikasi WhatsApp nya, terlihat begitu banyak pesan yang masuk di ponselnya. Semua teman terdekatnya mengucapkan rasa iba dengan apa yang menimpa dirinya karena dia tengah mengalami kecelakaan.


Dan nampak mata Desy lekat ke sebuah pesan baru yang di berikan oleh Tante Bela teman dekatnya yang mengirimkan sebuah gambar foto karena dihinggapi rasa penasaran Desy pun meng-klik gambar tersebut.


Setelah gambar tersebut terlihat sempurna muncul, dan nampak lah foto sepasang lelaki dan perempuan dengan memakai gaun pengantin.


Mereka nampak serasi sekali sang wanita begitu cantik dan sang lelaki begitu tampan.


________


"Lia...!!" mata Desy terbelalak saat melihat foto tersebut. Membuat darahnya mendidih seketika. Desy pun mendelik kesal.


"Sialan! Aku dulu sangat mencintai Adrian dan ternyata kamu lah pemenangnya Lia! Dan sekarang gara-gara kamu, aku tidak jadi menikah dengan Rian! Kamu selalu menjadi penghalang aku!" kembali Desy berucap dan menahan rasa kesal kepada Lia.


Lama-lama menatap foto Lia bersama Adrian membuat jantung Desy berdebar, dan darahnya berdesir hebat.


________


Desy Mengalihkan pandangannya tatkala mendengar derap langkah seseorang di luar ruangannya.


Ceklek...


Pintu ruangan Desy terbuka dan nampak Bobi sang mantan suami mematung di depan pintu, nampak senyuman yang diberikan oleh Bobi seakan mengejek, dengan cepat Desy pun memalingkan mukanya.


Mata Desy mendelik sebal.


"Mau apa kamu kesini!?" Desy mencoba menutup kedua pipinya dengan 10 jarinya dengan penuh agar Bobi tidak dapat melihat luka di wajahnya. Mata Desy pun berselancar ke arah meja kecil yang berada di pinggir ranjangnya nampak dia sedang mencari masker penutup wajah agar wajahnya yang rusak tidak terlihat oleh Bobi.


Perlahan Bobi berjalan ke arah ranjang, Desy pun memundurkan badannya dan memalingkan wajahnya kemudian dia membuka laci meja tersebut dan dengan cepat dia menutupi wajahnya dengan masker.


"Apa yang kerasa sakit Sayang!?" tanya Bobi menatap Desy dengan lekat.

__ADS_1


Sementara Desy menundukkan pandangannya tidak berani menatap Bobi. Kemudian Bobi mengelus rambut Desy yang terurai Desy pun mencoba menghindar dan menepis tangan Bobi.


"Des, kata Dokter apa benar kamu keguguran!?" tanya Bobi.


Degh...


"Ngapain lelaki brengsek ini mencampuri urusanku." gumam hati Desy kesal.


"Kamu sudah sejauh itu ya, ternyata. Berhubungan dengan suami pacarmu. Aku pun berpikir kamu melakukan itu karena kamu ingin menjeratnya dan dengan begitu kamu dengan cepat bisa menikahi Rian. Benar kan Des!?" ejek Bobi.


________


Ucapan yang di lontarkan Bobi sungguh membuat hati Desy sesak dia seakan di pojokkan oleh sang mantan suaminya itu.


"Diam...diam kamu Mas! Kamu jangan mengejek aku!" jawab Desy terlihat marah.


"Loh, kamu kenapa marah, benar kan yang di ucapakan olehku!?" sindir Bobi tertawa terkekeh.


Desy pun merasa di ejek oleh Bobi lalu dia membuang napas kasar.


"Keluar, keluar dari sini!!" Desy terlihat marah.


"Kamu jangan marah Des," ucap Bobi sambil memegang Desy dan mencoba menenangkannya dengan cara memeluknya.


Desy pun masih lemah keadaannya dia seakan tidak kuasa untuk menepis pelukan dari Bobi. Pelukan Bobi terasa hangat dan bau parfum di tubuh Bobi seakan mengingatkan dia ke masa lalu saat kebersamaannya dengannya.


Desy pun seakan terbuai dengan bau parfum dari tubuh Bobi. Dia sesaat memejamkan matanya. Tentunya kesempatan ini tidak mau di sia-siakan oleh Bobi dengan spontan.dia mencium kening Desy.


________


"Desy...!!"


Suara seorang lelaki nampak mematung di depan pintu dengan memakai kursi roda.


Sontak Desy terkesiap dengan suara tersebut dan dengan cepat melepas pelukan dari Bobi.


"Ri- Rian,,,," ucapnya gugup.


"Oh, jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku," ucapnya serak.


Nampak Rian masih memaki kursi roda karena badannya belum mampu untuk menopang badannya yang terasa masih linu dan kepalanya nampak memakai perban karena akibat benturan stir mobil.


"Ri- Rian. ini tidak seperti yang kamu bayangkan." ucap Desy terbata-bata.


Desy pun ingin rasanya berlari cepat ke arah Rian namun dia juga terasa masih sakit badannya. Lalu Desy menggeser kursi yang tengah berada dipinggir ranjang dengan pandangan masih menunduk. Karena tali pengikat masker tidak menempel sempurna di kupingnya jadi terlepas juga masker penutup wajahnya.


Degh...


Betapa terkejut hati Rian dan Bobi karena mendapati Desy dengan muka rusak dan lukanya masih basah dengan tempelan obat yang masih menempel.


Nampak terlihat Bobi dan Rian meringis seakan ngilu melihatnya. Sontak Desy pun merapikan kembali tali maskernya yang terlepas kemudian dia tempelkan kembali ke arah kupingnya.


Desy terlihat salah tingkah dia seakan tidak percaya diri dengan keadaannya itu. Mungkin keberuntungan lagi berpihak kepada Desy. Tiba-tiba datanglah kedua orang tua Desy sehingga rasa malu dan salah tingkah Desy terselamatkan.


_________


"Nak Rian, barusan Ibu sudah lihat keadaan Ibumu, dan pas Mama ke ruanga kamu, Nak Rian tidak ada di tempat. Eh, ternyata ada disini," Mama Desy tersenyum ramah seakan membujuk Rian untuk segera memasuki ruangan.


"Rian mau ke ruangan Rian dulu Mah, takut Papa Rian keburu datang, nanti Rian kesini lagi," Rian mencoba berbohong dan menghela napas panjang.


Rian pun melajukan kursi rodanya ke arah kamarnya dengan hati yang kesal.


Mama dan Papanya Desy saling berpandangan, perasaan mereka pun seakan tidak enak karena raut muka Rian nampak terlihat sedang dihinggapi rasa kesal dan kecewa.


Sang Mama menatap Bobi yang terlihat duduknya berdekatan dengan Desy, tanpa di sadari sang Papa sedang menatap lekat ke arah sang istri.


"Mungkin Rian cemburu kepada Bobi!" gumam hati sang Papa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2