Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 168 Rian memohon kepada Papanya dan Tante Dini


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


"Jadi gimana Mas untuk pembayaran utangnya beberapa bulan ini yang nunggak?" tanya Anton temannya Rian yang membantu dia dengan pinjaman uang yang 700 juta ke kantornya.


Rian nampak bingung karena usaha Kafe nya pun tidak sesuai ekspektasi dia, usahanya gagal atau sepi, jarang pengunjung untuk datang ke Kafenya tersebut.


"Nanti tunggu bulan depan pasti saya usahakan bayar semua dengan yang nunggak beberapa bulan yang lalu," jawab Rian terdengar memohon.


"Jangan sampai nunggak lagi Mas, nanti kena sita ini Kafe nya, gimana!" ucap Anton.


"Pasti aku usahakan jangan khawatir," jawab Rian terlihat menghela napas panjang.


Anton pun beserta temannya kemudian pergi dari Kafe milik Rian, kemudian tiba-tiba terdengar bunyi suara telepon muncul dari ponsel milik Rian terlihat sang Ibu menelepon.


•••


{"Ibu dengar kamu nunggak bayar pinjaman utang ke Kafe ya!? Awas jangan sampai di sita itu kafe karena tidak membayar cicilan beberapa bulan,"} ucap sang Ibu di sambungan teleponnya.


{"Iya, Bu, Rian juga pusing,"} ucap Rian.


{"Desy tadi dia kesini, dan kedua orang tuanya nyuruh dia cerai dari kamu. Tapi Desy tetap tidak mau di cerai oleh kamu. Terus terang Ibu kecewa sama kamu Rian karena kamu tidak mau tinggal di rumah Desy atau bersatu kembali dengan Desy. Sampai kapan! Kamu akan seperti ini Rian."} sang Ibu terdengar marah ketika berucap.


{"Seharusnya Desy nyadar diri karena aku sudah tidak mau berhubungan lagi dengan dia dan aku sudah katakan itu kepadanya!"} jawab Rian dengan enteng.


{"Terus apa alasannya Rian!? Coba jelaskan sama Ibu, apa?"} terdengar Bu Viona mendesak Rian agar berkata jujur dengan pernikahannya bersama Desy yang terlihat kurang harmonis.


{"Desi kasar!"} ucap Rian.


{"Kalau menurut Ibu enggak kasar mungkin kamu yang kurang memberikan kenyamanan kepada Desy!"} bela sang Ibu.


{"Desy selingkuh!"} ucap Rian kembali.


DEGH...


________


Bu Viona nampak mengernyitkan dahi dan detak jantungnya seakan tidak terkontrol berdetak cepat tidak karuan.


{"Kamu jangan macam-macam dengan ucapan kamu Rian! Jangan membalikkan fakta!"} terdengar Bu Viona dihinggapi rasa penasaran dan gelisah tatkala Rian sang anak berucap bahwa menantunya Desy berselingkuh.


{"Rian ada bukti Bu, jika dia selingkuh dan dia semalam sudah minta maaf tapi Rian kesal Bu!"} ucap Rian kembali.

__ADS_1


{"Mungkin karena kamu selingkuh dengan Citra jadi Desy pun bisa berbuat seperti itu. Makannya kamu jangan selingkuh kalau tidak mau di balas. Sakit kan, kalau di selingkuhi!"} ucap sang Ibu terdengar puas.


{"Oh, jadi Ibu mendukung Desy kalau berselingkuh?'} Rian dihinggapi rasa kesal kepada sang Ibu.


{"Gila kamu Rian! Masa Ibu mendukung. Ibu cuma bilang kamu jangan memulai kalau tidak mau di balas. Rasanya sakit kan!"} sang Ibu seakan dihinggapi rasa emosi kepada anaknya tersebut.


{"Ibu capek Rian dengan ulah kamu! Kalau Kafe disita gimana? Selama ini kamu kan butuh Desy yang selalu support semua!"} ucap kembali sang Ibu.


_______


Terlihat Rian diam sejenak pikirannya melayang jauh. Dia pun seakan punya ide cemerlang.


{"Aku akan minta sama Papa atau Tante Dini," ucap Rian terdengar penuh percaya diri bahwa sang Papa atau Tante Dini pasti akan memberikannya uang pinjaman kepadanya.


{"Tidak mungkin, Papa kamu sedang miskin!"} sang Ibu seakan tidak terima jika Rian harus memelas minta uang kepada Papanya atau Tante Dini istri mudanya.


{"Biarkan Bu, dari pada Rian kepepet,"} jawabnya dengan enteng.


{"Pokoknya Ibu tidak setuju, awas saja kalau kamu minta bantuan sama Papa kamu. Jangan harap kamu di bukakan pintu untuk datang kesini lagi!"} bentak sang Ibu terdengar dihinggapi rasa emosi yang mendalam karena dia sudah tidak ada hubungan lagi dengan mantan suaminya tersebut.


Sambungan telepon pun di putus oleh sang Ibu karena dihinggapi rasa kesal dan menahan emosi.


_______


Rian mencoba menghubungi sang Papa yang sudah lama tidak dia hubungi.


{"Ada apa Rian?"} terdengar suara Papanya Rian di sebrang sana.


Rian pun basa-basi menanyakan kabar sang Papa dan Tante Dini untuk sekarang ini kabarnya gimana. Dan Rian menceritakan semua persoalannya dan dia terlilit utang dan berniat untuk meminjam kepada sang Papa yang tersebut.


Sang Papa pun nampak menyimak ucapan Rian dan sang Papa berpikir bahwa Rian menggunakan uang tersebut secara tidak benar karena uang tersebut sebagian dipakai buat selingkuhannya, dan yang mengelola Kafe bukan Rian pribadi tapi terkadang orang lain. Sementara Rian sibuk acara bisnisnya dengan Citra dan itu pun sampai sekarang bisnis yang dikelola bersama Citra belum ada hasil sampai sekarang, yang ada Rian selalu menambah atau memberikan secara rutin uang kepada Citra.


{"Gimana Pah, tolong Rian,"} Rian terdengar memohon kepada sang Papa.


Sang Papa menghela napas panjang.


{"Kayaknya untuk saat ini Papa enggak bisa bantu kamu Rian, maaf!"} ucap sang Papa terdengar tegas.


{"Tapi Pah!"} jawab Rian terdengar memelas.


•••

__ADS_1


Sayup-sayup terdengar oleh Rian sang istri mudanya Tante Dini terdengar ingin membantunya.


["Pah, kasih pinjam saja Rian kasihan,"] lirih Tante Dini.


["Tidak Mah, kalau uang itu hancur gara-gara dipake buat dihamburkan yang tidak jelas aku tidak rela,"] bisik sang Papa dengan menutup ponselnya dengan telapak tangannya agar tidak terdengar oleh Rian di sebrang sana.


Dan Rian pun nampak mendengar percakapan tersebut antara sang Papa dan Tante Dini.


{"Pah, aku mau bicara dengan Tante Dini!,"} ucap Rian.


{"Dia pergi ke dapur barusan, mau masak,"} ucap sang Papa berbohong padahal Tante Dini masih di pinggirnya.


•••


Tante Dini pun mendelik dia seakan kasihan kepada Rian bagaimana pun Rian dulu adalah suami Lia atau anak sambungnya, dan Tante Dini sangat sayang sama Lia dan Cantika.


Sang suami melotot ke arah sang istri seakan jangan ikut campur terhadap persoalan yang tengah di hadapi oleh Rian. Tante Dini pun akhirnya terdiam dan dia pun mencoba memahami obrolan sang suami dengan Rian.


"Iya juga sih, kalau di pikir-pikir uang pinjaman tersebut tidak bisa dibayar karena Rian gunakan secara tidak baik dan akhirnya Kafenya bangkrut." gumam hati Tante Dini.


_____


{"Jadi gimana, Papa beneran tidak mau kasih pinjam uangnya ke Rian? Apa Papa sudah tidak sayang lagi kepada anak Papa!"} Rian terdengar mendesak.


{"Tidak Rian! Papa tidak mau kasih pinjam,"} jawab sang Papa.


{"Tapi tadi Rian dengar Tante Dini mau memberikan pinjaman sama Rian, Pah! Pokoknya Rian mau ke rumah Papa besok!"} ucap Rian terdengar mendesak.


Sambungan telepon pun di tutup oleh Rian, sementara sang Papa terlihat geram dengan di tutupnya sambungan telepon oleh sang anak. "Dasar keras kepala sama seperti Ibunya!" gumam hati sang Papa.


"Gimana Pah, Rian mau kesini besok?" tanya Tante Dini.


Sang suami menganggukkan kepalanya dan terlihat membuang napas kasar.


"Tapi aku tetap tidak akan memberikannya walau itu uang kamu Mah, meskipun itu uang warisan kamu," ucap sang suami.


"Kasihan Pah, dari pada disita Kafenya." jawab sang istri.


"Biarkan saja Mah, dia sudah mengkhianati Lia terutama cucu Papa, Cantika. Dengan tidak memberikan uang penjualan rumahnya. Dan memang keberuntungan berada di pihak Lia yang baik dan sabar. Pada akhirnya rumah itu dimiliki lagi oleh Lia dan mertuanya yang memberikan rumah itu kepada anak semata wayangnya, dan suaminya Lia yang sangat mencintai Lia memberikan kepada Lia sebagai hadiah. Sungguh Lia beruntung sekali. Dan aku kasihan kepada Lia yang dulu dikhianati oleh Viona dan Rian," sang Papa terlihat matanya berkaca-kaca.


Tante Dini pun terlihat membuang napas secara perlahan. Dia pun seakan rindu kepada sosok Lia karena akibat perceraian Lia dan Rian, dia tidak bisa dekat lagi dengan Lia dan juga Cantika.

__ADS_1


"Aku kangen ingin bertemu dengan Lia dan Cantik. Kangen bercengkrama dengan mereka," Tante Dini nampak meneteskan air mata.


Bersambung...


__ADS_2