
Adrian pun beserta kedua orang tuanya datang mengunjungi rumah Lia, nampak sang tuan rumah, Bapaknya Lia menyambutnya dengan penuh ramah dan senyuman yang lebar. Lia pun terlihat anggun dengan memakai gaun panjang yang terlihat elegan dan sopan.
Meskipun Lia sedang sakit namun dia terlihat mencoba menampakan muka ceria, dengan polesan make-up sederhana jadi tidak nampak terlihat pucat.
"Halo, Sayang, katanya kamu sedang sakit ya," ucap Mama Silvi memeluk Lia.
Lia pun tersenyum kemudian mencium punggung tangan kedua orang tuanya Adrian, dan tersenyum ramah.
"Lia, maafkan Papa ya," ucap Papa Steven terlihat dari raut mukanya menampakkan rasa bersalahnya kepada Lia karena selama ini dia begitu cuek dan tidak merestui hubungan Lia dan anaknya Adrian.
Lia tersenyum kepada Papa Steven.
"Sudah Pah, jangan dibahas kembali Lia sudah lupa kok, biarkan semua berlalu dan kita akan menatap.masa depan," ucap Lia tersenyum.
"Silahkan duduk!" ucap Ibunya Lia.
_______
Mereka duduk di ruang keluarga karena agar terlihat santai, disana sudah tersedia berbagai macam makanan.
"Wah, ini makanannya banyak banget, kayak menyambut tamu agung saja!" sindir Papa Steven tersenyum terkekeh.
"Ah, alakadarnya kok," jawab Ibunya Lia.
Mereka pun nampak serius berbicara perihal lamaran yang akan di lakukan oleh Adrian kepada Lia.
"Tapi Lia, sebenarnya malu kalau acara pernikahan di lakukan dengan mewah, Lia inginnya sederhana saja, Mah," Lia terlihat tersipu malu.
________
Ibunya Lia pun seakan mengerti keadaan sang anak mungkin karena status Lia sudah tidak lajang yang sudah gagal dalam berumah tangga.
Tapi Ibunya Lia pun tidak mau egois dengan hal itu karena Adrian lajang, notabene dia adalah anak tunggal, dan dari keluarga berada jadi pernikahan harus dirayakan secara mewah.
"Lia, enggak apa-apa kalau pernikahan di adakan secara merah juga dan kamu harus mengerti keadaan Adrian, dia lajang dan anak tunggal," bisik sang Ibu.
Lia pun seakan berpikir kearah sana dan dalam benaknya berpikir, mungkin benar juga apa yang di ucapkan oleh sang Ibu.
"Kenapa mesti malu Lia, relasi Papanya Adrian banyak, juga keluarga besar kita pasti akan di undang semua," jawab Mama Silvi.
"Kalau pihak kami ikut saja! Iya, kan Lia?" tanya sang Mama.
"Iy-iya deh, Lia ikut saja Mah," Lia pun menundukkan kepalanya terlihat tersipu malu.
"Rencananya pernikahannya akan di adakan di Restoran milik Papa. Kebetulan Restoran tersebut kan lumayan besar tempatnya dan yang paling penting strategis," ucap Papa Steven terlihat serius.
__ADS_1
"Gimana Sayang, kamu setuju!?" tanya Mama Silvi menatap calon menantunya itu dengan tersenyum lembut.
"Lia terserah ikut saja Mah," jawab Lia.
"Jadi rencana pernikahannya kapan?" tanya Bapaknya Lia.
"Kalau 3 bulan lagi, waktunya mepet gak? Kan harus mempersiapkan baju dan undangan, kalau tempat dan catering kan udah ada," ucap Papanya Adrian.
"Kayaknya enggak apa-apa kalau nunggu 3 bulan saja," ucap Bapaknya Lia dengan menatap sang istri dan Ibunya Lia pun menganggukkan kepalanya.
"Gimana Lia, kalau 3 bulan lagi kamu siap?" tanya sang Ibu.
"Kalau Lia terserah Mas Rian saja," Lia menatap Adrian yang nampak tersipu malu.
"Kalau anak ini inginnya cepat-cepat! Iya, kan Nak!?" sang Papa menepuk pundak Adrian dan tertawa lepas.
Sontak muka Adrian merah merona dia terlihat malu dengan sindiran sang Papa tersebut.
"Iya, pasti kalau Adrian inginnya cepat-cepat karena dia begitu cinta mati sama Lia," ejek sang Mama.
"Mah,,,!" Adrian seakan tidak bisa menguasai keadaan saking malunya nampak dari gestur tubuh dan roman mukanya.
Gelak tawa pun terasa pecah di ruangan keluarga tersebut.
"Mama bikin malu saja," bisik Adrian lekat ke kuping sang Mama.
_______
Orang tua Lia dan Adrian nampak masih ngobrol dan menikmati makanan yang tersaji sementara Lia dan Adrian tengah duduk di teras rumah.
Nampak kedua wajah mereka berseri seakan gembira dan tidak terlihat rasa sedih sedikitpun.
"Lia, hari ini aku sangat bahagia sekali karena kamu sebentar lagi akan menjadi istriku," ucap Adrian matanya berkaca-kaca.
Rasa bahagia dalam diri sepertinya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Begitupun dengan Lia, dia terlihat sangat bahagia sekali karena Adrian sebentar lagi akan jadi suaminya.
"Aku sangat bahagia Mas, akhirnya kita dapat bersatu semua rintangan yang kita hadapi akhirnya terlewati." jawab Lia menatap Adrian nampak Adrian dari binar mata Adrian terlihat bunga-bunga cinta begitu merekah.
"Kamu jangan khawatir, aku tidak akan mengkhianati kamu, aku tulus mencintaimu," Adrian seakan mencoba meyakinkan hati Lia.
_______
Adrian tahu dalan hati Lia pasti memendam rasa kecewa terhadap lelaki karena pengkhianatan dulu oleh sang mantan suami jadi Adrian mencoba meyakinkan hati Lia bahwa lelaki tidak semua yang di bayangkan oleh Lia sifatnya mengecewakan wanita.
__ADS_1
"Bismillah ya, Mas, semoga kita kedepannya akan menjalin pernikahan yang langgeng dan tidak mengecewakan satu sama lain," ucap Lia dengan menghela napas secara perlahan.
"Lia, setelah kamu ganti nomor ponsel kamu Rian mantan suami kamu, tidak lagi menghubungi kamu kan. Kamu tidak ada komunikasi dengan dia kan!?" Adrian seakan dihinggapi rasa penasaran dan cemburu.
Lia membuang napas kasar.
"Rian tadi memberikan pesan kepadaku tapi lewat anakku," gumam hati Lia.
"Ng-nggak Mas," jawab Lia mencoba tersenyum meskipun hatinya kesal kepada mantan suaminya itu yang selalu mengganggunya dengan cara menghubungi dirinya lewat ponsel sang anak.
______
"Mah, ini Papa telepon mau bicara sama Mama," tiba-tiba sang anak datang dari dalam rumah.
Degh...
Lia dihinggapi rasa terkejut karena Cantika, sang anak tiba-tiba memberikan ponselnya kepada Lia dan menyebutkan sang Papa (Rian) menelepon.
Nampak terlihat Adrian cemberut, dan Lia hanya menatap ponsel tersebut tanpa mau mengangkatnya.
"Nak, bilang sama Papa jangan ganggu Mama lagi, ya," ucap Lia dengan melirik ke arah Adrian yang terlihat salah tingkah.
Cantika pun berlalu dari hadapan Lia dan kembali menempelkan ponselnya ke arah telinganya itu. Nampak dia berbicara dengan Rian di kursi sofa.
______
Nampak Adrian meremas rambutnya secara perlahan dan menghela napas panjang.
"Aku yakin, Rian pasti masih mencintai dan berat untuk melepas kamu! Benar kan Lia yang aku ucapkan, atau kamu,,,!?" Adrian seakan memaksa Lia untuk berterus terang dengan sorot mata tajam yang dihinggapi rasa cemburu yang berlebihan.
Lia pun seakan disudutkan oleh Adrian seakan-akan dia pun masih mengharapkan cintanya Rian yang dulu sudah mengkhianatinya.
"Aku kesal, kesal sebenarnya Mas, kenapa dia ganggu aku terus!" ucap Lia.
Nampak Lia matanya berkaca-kaca dan terlihat kecewa dengan apa yang baru saja terucap dari mulut Adrian.
_____
Sontak Adrian terkejut dengan keadaan tersebut dia tidak menyangka ucapannya barusan telah menyinggung hati Lia. Dengan cepat Adrian memeluk Lia.
"Lia maafkan aku, karena rasa cintaku teramat besar untukmu dan gak ada niat sedikitpun aku melukai perasaanmu," Adrian semakin erat memeluk Lia, dia seakan takut Lia tersinggung dengan ucapannya dan akhirnya marah.
Adrian berpikir jika Lia marah berarti sia-sia saja selama ini dia mempertahankan cinta untuk wanita yang dia perjuangkan.
"Sekali lagi maafkan aku Lia," ucap Adrian tersedu.
__ADS_1
Nampak terlihat Tante Restu mematung di balik pintu, karena baru saja dia mendengar semua kejadian yang menimpa keponakannya itu. Sang Tante hanya mesem-mesem dia seakan teringat masa muda dulu ketika terjerat oleh cinta.
"Memang Adrian itu cintanya begitu tulus kepada Lia dan memang cinta itu buta! Tidak peduli dengan status," gumam hati Tante Restu tersenyum sendiri.