
Seminggu kemudian Lia pun beserta sang suami pergi untuk melihat Kafenya yang baru. Nampak disini Anita sangat berperan sekali. Karyawan yang dulu kehilangan pekerjaan oleh Anita ditarik kembali agar bisa bekerja di Kafe milik Lia.
"Nit, terima kasih ya, kamu sudah mau ajak teman-teman kamu yang dulu kerja di Kafe ini agar bisa kerja kembali disini," ucap Lia mengucapkan rasa terima kasih kepada Anita karena dia mau membantunya.
"Sama-sama Kak, aku yang sangat berterima kasih kepada Kak Lia juga, terutama kepada Mas Adrian karena aku di kenalkan dengan lelaki yang tepat dan akhirnya kami berjodoh menikah. Alhamdulillah Helmi lelaki yang baik dan pengertian. Dia selalu memberikan kejutan kepada aku dan aku senang dibuatnya," ucap Anita tersenyum bahagia.
"Itu sudah jodoh Nit, kalau orang baik pasti akan mendapatkan jodoh yang baik kembali begitupun dengan sebaliknya," ucap Lia mengusap pundak Anita dengan lembut.
________
Sementara Adrian dan Helmi tengah mengobrol dengan para karyawan yang akan bekerja di Kafe tersebut termasuk karyawan lama atau teman Anita yang dulu bekerja disana.
"Gimana kalian mau dengan gaji yang saya tawarkan kepada kalian!" ucap Adrian kepada karyawannya yang notabene mereka adalah karyawan yang sudah senior atau karyawan lama yang sudah lama berkecimpung di dunia Kafe atau kuliner.
"Alhamdulillah Pak Adrian lebih dari cukup," ucap Pak satpam tersenyum bahagia.
"Malah lebih gede gaji dari Pak Adrian di banding dari gaji Bos kita yang dulu," sindir karyawan lainnya.
•••
"Bos baru kalian yang sekarang ini orangnya gak penting dapat untung, bagi dia yang terpenting adalah sedekah memberikan ke orang lain. Iya, gak Pak Adrian? Dan yang terpenting tanggung jawabnya tinggi," goda Helmi dengan menepuk pundak Adrian.
Nampak Adrian tersipu malu dan mukanya merah merona.
"Alhamdulillah kita mendapatkan Bos yang sesuai dengan kemauan kita orangnya baik dan tanggung jawab," celetuk Pak satpam.
"Ah, jangan suka melebih-lebihkan," Adrian pandangan wajahnya menunduk karena dia sedang dipuji oleh sahabatnya di depan karyawannya dan ini mengakibatkan rasa malu dalam diri Adrian.
•••
"Kalau Bos kita yang dulu jarang datang ke Kafe dan dari semenjak itu, Kafe pun nampak sepi karena kurang pengelolaan dan iklan dari pihak Kafe, dan akhirnya bangkrut deh," celetuk kembali karyawan yang sudah lama bekerja disana.
"Sudah, sudah, jangan bandingkan Bos yang dulu. Mungkin rezekinya sudah sampai disini untuk mengelolanya Kafe ini. Kita doakan saja semoga Pak Rian Bos kalian yang dulu diberikan kelancaran dengan usaha barunya apapun itu. Dan Kafe kita yang sekarang semoga kedepannya maju dan banyak pengunjung yang datang," ucap Adrian mencoba netral tidak memojokkan Rian meskipun Rian buat kesal istrinya dulu.
"Aamiin,,," serentak semua karyawan mengaminkan ucapan Adrian.
________
Adrian pun nampak membuat strategi agar usaha Kafenya tersebut kedepannya akan menjadi maju dan nampak dia telah membawa seorang koki atau juru masak yang dia bawa di Restoran miliknya yang sudah terlebih dahulu laris manis.
"Kenalkan ini Febri dan dia nantinya akan menjadi partner kerja kalian disini. Kalian anggap Kafe ini rumah kedua kalian dan jangan ada perselisihan antara teman. Rencana esok aku akan bangun kamar tidur buat kalian di belakang Kafe yang tadinya gudang tidak terpakai. Dan kalian yang rumahnya jauh atau masih ngontrak bisa tidur disini nantinya," ucap Adrian.
Sontak para karyawan tersenyum lebar saat Bos nya yang baru menawarkan pasilitas yang begitu buat kuping betah mendengar.
"Aku tidak akan biarkan karyawan aku mengeluh dan terlunta hidupnya dengan alasan bayar kontrakan mahal atau jauh dari tempat kerja. Pokoknya kalian harus terjamin semua gak ada yang aku bedakan," ucap Adrian kembali menatap karyawannya satu persatu.
•••
Nampak Adrian sebelumnya sudah bicara dengan Anita bahwa karyawan yang bekerja di kafe tersebut rata-rata rumahnya masih ngontrak karena mereka tempat tinggalnya diluar kota dan hidup disini mereka mengembara.
"Semoga kalian betah ya, kerja disini," Adrian pun menyalami semua karyawan yang berjumlah 10 orang.
__ADS_1
_______
Ting...
Pesan masuk ke ponsel milik Pak satpam dan nampak Pak satpam mengernyitkan dahi karena dia berpikir tumben Bos nya yang dulu mengirimkan pesan kepadanya padahal dia sudah tidak bekerja lagi dengannya.
{"Pak, ngomong-ngomong katanya sudah ada yang beli ya, Kafe aku. Cepat sekali ya, prosesnya. Kayaknya orang yang berduit yang beli karena Kafenya, katanya besok juga akan kembali buka seperti semula,"} tulis pesan dari Rian membuat Pak satpam sangat berhati-hati untuk membalasnya karena dia ingat omongan dari Anita bahwa Rian adalah mantan dari Lia Bos nya sekarang.
{"Iya, Pak,"} balas pesan Pak satpam singkat.
Dia pun tidak mau terlalu jauh mencampuri urusan Rian mantan Bos nya itu dengan Bos yang sekarang.
{"Yang beli Kafe orang mana Pak!?"} pesan Rian kembali muncul.
Pak satpam nampak tertegun dengan pesan yang kembali di kirim oleh Rian.
{"Orang Bandung,"} tulis pesan Pak satpam tanpa menyebut namanya secara detail
{"Bapak sedang sibuk?"} tanya Rian karena Rain berpikir Pak satpam menuliskan pesannya dengan singkat.
{"Iya, Pak Rian, maaf ya, Bapak sedang beres-beres,"} jawab Pak satpam.
Kemudian Pak satpam pun memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Nampak dia menghela napas secara perlahan.
_______
"Aku turut seneng loh, Adrian. Ternyata kamu orang yang dermawan dengan memanjakan para karyawan dengan gaji yang lumayan lebih dari cukup dan juga diberikan pasilitas kamar untuk menginap. Wajib di contoh sama aku caramu itu, agar aku pun Kafenya sukses dan berkah seperti Restoran-Restoran kamu." ucap Helmi mengacungkan jempol kepada sahabatnya itu.
•••
Lia nampak menatap dengan tajam ke arah sang suami dalam hatinya berucap rasa syukur karena dia mendapatkan suami yang begitu berhati mulya dan juga sosok orang yang tanggung jawab tidak hanya sama keluarga tapi juga sama karyawannya.
"Kak Lia bangga sekali ya, punya suami seperti Mas Adrian," bisik Anita kepada Lia.
"Alhamdulillah Nit, mungkin kalau di bandingkan hampir sama sifat suamimu dengan suamiku. Sama-sama orang yang penyayang dan tanggung jawab, mungkin sangat beda dengan mantan suamiku dulu,"
Lia tersenyum sumringah dan matanya berkaca-kaca.
"Pak Rian!? Ya, dia memang mata keranjang dulu saja dia pernah mendekatiku dan menyatakan cinta padahal dia mau menikah dengan Desy, untung aku tidak mempan dengan bujuk rayunya, hehehe...," Anita tertawa terkekeh tatkala dia mengingat kejadian dulu ketika Rian mencoba mendekatinya.
"Wah, Rian pernah mendekatimu Nit!? Untung saja kamu menolaknya." Lia terlihat terkejut dengan pengakuan Anita yang berucap bahwa Rian dulu pernah mendekatinya namun ada penolakan dari Anita.
"Tapi kan untung saat itu Mas Adrian menjodohkan aku dengan Mas Helmi dan untungnya Mas Helmi mau sama aku, padahal aku,," Anita menggantung ucapannya.
"Kamu cantik, pintar dan kamu layak mendapatkan Mas Helmi, Nit. Aku pun setuju jika kalian saat itu memutuskan untuk segera menikah," ucap Lia tersenyum renyah.
"Alhamdulillah Kak, kami banyak kesamaan ternyata," ucap Anita tersipu malu.
________
Hari sudah nampak sore.
__ADS_1
Lia pun dan Adrian meninggalkan Kafe dan rencana mereka ingin jalan-jalan dulu ke Mall karena akhir-akhir ini Adrian sibuk sekali dengan pekerjaan.
Setelah sampai di Mall nampak Lia mendatangi supermarket dan nampak dia memilih susu untuk sang Bayi. Terlihat dari arah jauh Lia melihat mantan Papa mertuanya dengan Tante Dini.
Lia pun seakan dihinggapi rasa rindu yang menyelimuti karena sudah lama dia tidak jumpa dengan Tante Dini. Tapi Lia seakan mengurungkan niatnya untuk menyapa Tante Dini beserta Papanya Rian, karena dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan mereka.
"Lia,,,!" sang suami nampak menepuk pundak Lia dari arah belakang sontak Lia terkejut.
Melihat perubahan gestur tubuh sang istri yang nampaknya terkejut Adrian pun dihinggapi rasa penasaran.
"Ada apa Lia, kamu sedang melamun ya!?" tanya sang suami menatap lekat ke arah sang istri yang terlihat nampak gugup.
"Mas, lihat yang sedang berada di kasir," telunjuk Lia mengarah ke arah kasir dimana Papanya Rian dan Tante Dini sedang berada disana.
Adrian nampak melebarkan pandangan matanya dan mengarah ke arah telunjuk Lia.
"Itu kan Papanya Rian dan Tante Dini," ucap Adrian.
"Iya, Mas, betul rasanya aku ingin sekali bertemu dengan Tante Dini karena rindu tapi sudahlah karena aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan dia." ucap Lia.
"Lia, ayo, kalau ingin bertemu dengan Tante Dini, aku tidak melarangnya kok, dan sekalian sapa mantan Papa mertua kamu Itu, kan dia Kakeknya Cantika, anakmu," ucap Adrian tersenyum ramah menatap sang istri.
Lia menghela napas panjang.
"Ayo, kalau begitu Mas, kita samperin mereka," ucap Lia.
Lia pun dan Adrian menyeret langkah kakinya menuju Tante Dini yang tengah berada di depan kasir.
_________
"Tante,," ucap Lia dari arah belakang.
Lia memanggil Tante Dini begitu lembut terdengar. Sontak Tante Dini sudah tidak asing lagi dengan suara Lia dan dengan sigap dia pun membalikkan badannya.
"Lia,,," teriak Tante Dini, dia langsung memeluk Lia dengan erat dan nampak sesenggukan menangis.
•••
Tante Dini terlihat begitu rindu dengan sosok Lia yang begitu dekat walaupun dia adalah istri kedua dari Papanya Rian namun tidak bisa dipungkiri Tante Dini sifat dan karakternya lebih baik dibandingkan dengan sang Ibu mertua yaitu Bu Viona.
"Tante rindu sama kamu Lia, ini anakmu!?" tanya sang Tante menatap lekat kearah sang Bayi yang tengah di gendong oleh Lia.
"Iya, Tan, ini anakku," jawab Lia tersenyum.
Lia pun kemudian bersalaman dengan Papanya Rian begitupun dengan Adrian menyalami Tante Dini dan Papanya Rian.
"Lia, Papa juga rindu sama kamu. Alhamdulillah kelihatannya kamu sehat, dan Papa senang melihatnya," ucap sang mantan Papa mertuanya itu.
"Ayo, Pah, lebih baik kita ngobrolnya disana saja," Adrian telunjuknya mengarah ke sebuah rumah makan yang berada di Mall tersebut.
Adrian pun tidak lupa membayar belanjaan dulu ke kasir karena Lia membeli susu dan beberapa kebutuhan lainnya.
__ADS_1
Bersambung...