
Tante Dini terisak tangis, bayangan dirinya akan mendapatkan keturunan dari sang suami pupus sudah karena dia mengalami keguguran. Dia hatinya begitu pilu nampak terlihat dari raut mukanya sangat sedih.
"Sudah, Mah, mungkin belum waktunya kamu punya anak, yang penting sekarang kamu istirahatkan badanmu jangan banyak pikiran," Tante Dini hanya melamun pandangannya kosong, mukanya pucat dan ini menyebabkan rasa khawatir di diri sang suami.
"Mah,, makan dulu ya," ucap sang suami menatap lekat ke arah sang istri.
"Mah,,," sang suami menepuk pundak sang istri. Tante Dini pun menatap lekat ke arah sang suami dengan mata berembun tanpa ada kata yang terucap.
_____
Tante Dini terkesiap.
"Anakku,,,anakku mana!" ucap Tante Dini.
Tante Dini dengan cepat berlari ke arah ruang tamu, dengan berteriak menanyakan sang anak. Otomatis sang suami dihinggapi rasa terkejut dengan perubahan sang istri yang nampak terlihat mengalami depresi atau tekanan karena sang anak sudah tidak ada.
"Mah,,anakmu sudah tidak ada, kamu mengalami keguguran," ucap sang suami nampak matanya berkaca-kaca.
"Kasihan Dini, kayaknya dia terobsesi ingin mempunyai anak tapi setelah sekarang mengetahui anaknya sudah tidak ada dia seperti dihinggapi rasa trauma yang teramat," gumam hati sang suami, dengan mengelus pundak sang istri.
"Tidak,,, tidak! tidak mungkin, anakku tidak ada Pah, kemarin kamu kan masih pegang perutku dengan lembut, tidak,,,tidak,,,Pah!" ucapnya dengan bibir bergetar.
"Sayang,,kamu sakit, masih sakit sayang, tenangkan dirimu, Sayang,,,," nampak terlihat sang suami dihinggapi rasa khawatir dengan kondisi sang istri tersebut.
_____
Tiba-tiba sang ART datang.
"Pak, Ibu sepertinya mengalami depresi," ucap sang ART. Papanya Rian hanya terdiam dan mencoba menenangkan sang istri.
Sang ART pun mencoba menenangkan sang majikan tersebut dengan memberikan air hangat jahe agar rileks pikirannya dan memijitnya. "Bu,,,tenang Bu, berdoa Bu, ikhlaskan,,,dengan semua cobaan yang menimpa," ucap sang ART dengan dihinggapi rasa khawatir.
Sang ART pun merebahkan badan Tante Dini di atas kursi sofa.
______
Papanya Rian berlalu ke teras rumah.
Sang Papa pun nampak menelepon Rian, dengan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi hingga sang istri mudanya mengalami keguguran. Karena ketika Rian mengantarkan pulang Tante Dini setelah berobat dari Bidan, sang Papa sedang tidak ada di rumah, disana nampak hanya ada sang ART.
Rian pun menceritakan semua yang menimpa terhadap Tante Dini kepada sang Papa.
{"Maafkan Rian Pah," ucap Rian lirih."}
{"Kenapa Lia jadi benci sama Tante Dini, kalau saja Lia tidak membenci Dini, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Aneh, si Lia itu, kalau mau kesal cukup terhadap kamu saja bukan sama Dini!"} terdengar dari nada suara sang Papa seperti dihinggapi rasa kesal dan kecewa terhadap Lia, karena Lia sekarang sifatnya jadi berubah terhadap istrinya itu, beda dengan dulu sangat baik dan perhatian sehingga hubungan antara Lia sang Tante Dini cukup erat terjalin.
{"Papa jangan nyalahin Lia dong, mungkin saat ini pikirannya Lia tidak karuan, sehingga dia pun kesal kepada Tante Dini meskipun yang salah Rian, karena Tante Dini bagian dari keluarga Rian,"} ucap Rian seakan membela Lia sang mantan tersebut.
{"Papa tidak menyalahkan cuma nanya sama kamu! Kenapa Lia jadi berubah sifatnya kepada Tante Dini!?"} tanya sang Papa dengan suara yang terdengar dihinggapi rasa kesal.
__ADS_1
{"Kenapa Papa jadi marah sama Rian, sudah saja sana, Papa telepon Lia, biar Papa puas dengar jawabannya,"} ucap Rian.
______
Rian pun terdengar kesal terhadap sang Papa karena sang Papa seakan memaksa dirinya untuk memberikan alasan yang tepat agar Rian berbicara terhadap dirinya tentang Lia yang sifatnya menjadi beda kepada sang istri mudanya itu.
{"Kamu memang bikin kesal,,!! Pantesan Lia menceraikan kamu!"} ucap sang Papa.
{"Loh kenapa Pah!? Enggak ada hubungannya Lia yang marah dengan Tante Dini dan perceraian Rian. Kenapa Papa ngomongnya ngelantur,"} ucap Rian terdengar dihinggapi rasa emosi.
{"Kalau Papa terus-menerus bikin kesal Rian, Rian akan bongkar pernikahan Papa kepada Tante Dini."} Rian kembali berucap dan seakan mengancam sang Papa.
{"Silahkan,,, Silahkan! kamu bilang saja sama Ibumu!"} Papanya Rian seakan tidak peduli dengan semua itu, yang ada di pikirannya saat ini adalah istri mudanya, yaitu Tante Dini yang sedang sakit.
_____
Tanpa pamit dan basa-basi kepada sang Papa, Rian tiba-tiba menutup sambungan teleponnya karena Rian seakan malas untuk berbicara lebih serius dengan sang Papa, karena dia tahu sifat Papanya selalu ingin menang meskipun dia salah.
Nampak Papanya Rian tertegun, pikirannya berselancar memikirkan ucapan dari sang anak. "Kalau saja benar dia bilang kepada Ibunya bahwa aku menikah lagi mungkin semuanya akan kacau. Aku takut pekerjaan aku kedepannya tidak stabil karena atas jasa dia aku sampai sekarang punya jabatan di kantor," gumam hati Papanya Rian.
Tapi dia juga berpikir kembali mungkin sang anak tidak akan berani untuk berbicara kepada Ibunya karena keadaan Ibunya sedang sakit, dan sang Papa sangat tahu sifat dari Rian, jika sang Ibu sedang sakit, Rian tidak ingin mengganggu Ibunya, dengan banyak pikiran takut keadaan kondisi tubuhnya drop.
Sang Papa pun nampak untuk saat ini harus lebih berhati-hati dengan Rian takutnya Rian secara tiba-tiba bicara terhadap Ibunya bahwa dia sudah punya wanita lain, dia tadi cuma menggertak sang anak, agar Rian dihinggapi rasa takut oleh sang Papa jadi dia tidak berani untuk bicara kepada Ibunya.
____
Sontak Papanya Rian dihinggapi rasa terkejut dengan suara teriakan sang ART yang tengah berada di kamar istrinya tersebut.
Sang Papa pun menyeret langkah kakinya menuju kamarnya, nampak sang Papa terkejut ketika membuka pintu kamar dan di sana terlihat sang istri sedang meremas rambutnya dengan kasar memakai tangan kanannya sementara tangan kiri dia gunakan untuk memegang perutnya.
"Anakku mana,,, Anakku mana!! aku tidak mau kehilangan anakku!" teriaknya dengan sorot mata tajam.
Dengan cepat sang suami menghampiri istrinya yang tengah duduk di atas kasur.
"Mah,,,sabar, ikhlas," terlihat muka sang suami nampak begitu panik.
_____
Papanya Rian pun akhirnya menelepon seorang Dokter temannya, ahli jiwa. Dia berpikir siapa tahu sang istri bisa di obati, dan keadaannya pulih membaik seperti semula. Tidak berteriak dan stabil keadaannya.
•••
"Mungkin baru sore, aku bisa datang, karena masih berada di Rumah Sakit," ucap sang Dokter yang bernama Dokter Sandy, teman sewaktu duduk di bangku SMA dulu.
"Aku sangat khawatir dengan keadaan istriku," ucap sang Papa.
"Jadi istri kamu hamil? Rian punya adik dong, Istrimu Viona padahal usianya sudah tidak muda lagi, tapi alhamdulillah bisa hamil lagi. Berarti masih dipercaya oleh sang pencipta, dengan mempunyai anak kembali," ucap Dokter Sandy kepada Papanya Rian, dia tidak tahu bahwa Papanya Rian sudah menikah untuk yang kedua kalinya dengan Tante Dini.
"Bukan Viona, tapi istri keduaku," Papanya Rian terdengar pelan ketika berucap, dia seakan malu untuk mengatakan kepada temannya itu bahwa dia saat ini sudah mempunyai istri dua.
__ADS_1
"Oh,, maaf,, hehehe," terdengar Sandy tertawa terkekeh tatkala mendengar ucapan dari sang teman bahwa temannya itu mempunyai istri dua.
"Nanti kita cerita di rumahku ya, udah lama juga kan kita tidak bertemu," ucap sang Papa.
"Oke,,, baik," Dokter Sandy pun menutup sambungan teleponnya.
_____
Sore pun tiba.
Nampak suara mobil terdengar memasuki halaman rumah, Papanya Rian pun dengan cepat membuka pintu. Nampak terlihat temannya Dokter Sandy keluar turun dari dalam mobil, pesonanya tetap seperti dulu, wajahnya ganteng, badannya nampak berisi dan tinggi.
"Hai,,Sandy, kamu nampak seperti dulu tetap gagah, gimana keluarga kamu sehat," ucap Papanya Rian.
Mereka nampak ngobrol di depan teras sebentar setelah itu kemudian mereka berlalu memasuki kedalam kamar dimana disana Tante Dini berada.
_____
Krekkkk...
Pintu pun nampak terbuka lebar, dibuka oleh Papanya Rian, nampak Tante Dini sedang termenung pandangan matanya seperti kosong, mukanya pucat.
Pandangan mata Tante Dini menyorot tajam kepada Sandy, dia langsung menarik selimutnya dan menutup penuh badannya itu.
"Mah,,diperiksa dulu yu, Kenalin ini temannya Papa, dia namanya Dokter Sandy," ucap sang Papa dengan mencoba membuka selimut secara perlahan.
"Mana anakku, mana,,," ucapnya dengan bibir bergetar yang masih berbicara di dalam selimut, dan menggenggam erat selimut tersebut dengan erat.
"Dia seperti depresi, dan merasa kehilangan," ucap Dokter Sandy.
"Iya, aku khawatir dengan keadaan kondisi istriku," ucap sang Papa.
____
Setelah mengecek keadaan kondisi Tante Dini, kemudian sang Papa dan Dokter Sandy keluar dari dalam kamar.
Mereka pun duduk di kursi depan.
"Kayaknya besok pagi istrimu harus dibawa ke Rumah Sakit, biar badannya di cek menyeluruh dan diberikan obat, mungkin istrimu mengalami depresi," ucap sang Papa.
Degh..
"Mungkin Dini ingin sekali punya anak dariku, Dan ini menjadi beban pikiran baginya setelah mengetahui dia keguguran," gumam sang Papa.
______
Sang Papa nampak termenung, mungkin Tante Dini terobsesi mempunyai anak karena dengan mempunyai anak dari Papanya Rian, dia bisa menguasai semuanya dan otomatis sang suami bisa dipengaruhi oleh dia untuk menceraikan istri tuanya atau Ibunya Rian. Tapi kini musnah sudah harapan Tante Dini karena dia mengalami keguguran, dan ini menjadi pikiran Tante Dini. Dia seakan tidak menerima keadaan, bahwa dirinya sudah kehilangan anaknya yang menyebabkan dia depresi.
Bersambung...
__ADS_1