
Tok ..
Tok ..
Tok..
Tiba-tiba ada suara seseorang mengetuk pintu beberapa kali di depan rumah kontrakan Bu Viona. Kebetulan hari itu adalah hari minggu jadi Bu Viona libur kerja dan baru saja sore kemarin dia mendapatkan gaji 1 juta dari majikannya yang baru.
"Bu, ada tamu, siapa tuh!" ucap Rian melirik pintu depan rumah.
"Mungkin yang nagih bayar kontrakan," jawab sang Ibu dengan wajah yang terlihat sedih.
Nampak dia mengelus dada, jika uang tersebut dibayarkan semua untuk kontrakan dia dengan sang anak tidak makan karena bayar kontrakan nunggak beberapa bulan.
Sang Ibu kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu kemudian dia membuka pintu dengan wajah yang terlihat lemas.
______
Ceklek...
Pintu pun akhirnya terbuka dengan lebar dan nampak suruhan yang punya kontrakan yang bernama Pak Adi datang.
"Aduh Pak, maaf mau nagih uang kontrakan yang nunggak ya, ini saya punya uang 1 juta dan tidak apa-apa kalau bayar setengahnya dulu karena sisanya mau membeli keperluan sembako," nampak terlihat Bu Viona seperti dihinggapi rasa serba salah dan gusar.
Nampak Pak Adi tersenyum tipis.
"Tenang saja Bu, kalau tidak ada enggak apa-apa. Maksud kedatangan saya kemari bukan untuk menagih uang tunggakan kontrakan kok," jawab Pak Adi menatap lekat ke arah Bu Viona.
Bu Viona nampak terlihat dihinggapi rasa penasaran dengan apa yang di ucapkan oleh Pak Adi itu.
"Saya kurang paham Pak, maksudnya apa ya," jawab Bu Viona.
"Maksud kedatangan saya kemari hanya ingin mengabarkan bahwa anak Ibu mulai sekarang sudah mulai kerja dan saya kesini bawa mobil Bos saya. Kebetulan hari ini saya ada keperluan keluarga yang mendadak jadi tidak bisa menjemput Bos di salon dan setelah itu Bos saya ingin di antar ke acara arisan yang perjalanan lumayan memakan waktu satu jam lebih. Jadi kalau beliau nyetir sendiri katanya capek. Nah, bagaimana kalau anak Ibu yang menggantikannya dan saya sudah bilang sama Bos, saya kok," ucap Pak Adi menerangkan.
"Oh, jadi anak saya sekarang yang menjemput Bos-nya yang sedang di salon? Tapi diantar dulu oleh Pak Adi begitu!?" tanya Bu Viona.
"Betul Bu," ucap Pak Adi.
"Ouh, syukurlah kalau begitu kalau anak saya sudah mulai kerja hari ini," ucap Bu Viona nampak terlihat bahagia tatkala mendengar kabar tersebut.
"Hari keberuntunganku, tidak jadi bayar kontrakan dan uangnya bisa buat pakai beli sembako," gumam hati Bu Viona.
________
Bu Viona pun nampak bergegas masuk kembali ke dalam kamar dimana Rian disana sedang melamun.
"Siapa yang datang Bu," tanya Rian tatkala melihat sang Ibu masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Rian, kamu sekarang sudah mulai kerja,' ucap Bu Viona nampak bahagia.
"Maksud Ibu!?" tanya Rian.
"Pak Adi, suruhannya yang punya rumah ini sudah menunggu kamu, dan kamu katanya mulai sekarang sudah mulai kerja. Bos-nya itu sedang di salon katanya jadi minta di jemput dan yang mengantar kamu kesana Pak Adi, karena Pak Adi ada urusan keluarga mendadak jadi tidak bisa menemani Bos-nya hari ini," ucap sang Ibu.
"Baik Bu, Rian siap-siap dulu." jawabnya.
•••
Tapi entah mengapa hati Rian seakan malas untuk pergi dan sepertinya dia tidak bersemangat untuk bekerja. Dan ini menjadi tanda tanya besar di hati sang Ibu.
"Kenapa Rian tidak bersemangat untuk bekerja padahal kemarin dia ketika dapat kabar di tawari kerja terlihat senang. Apa yang terjadi." gumam hati Bu Viona.
______
Setelah semuanya beres nampak Rian keluar dari dalam kamar dengan baju kaos yang terlihat lusuh dan sang Ibu hanya bisa mengelus dada.
Rian yang dulu ketika berpakaian sangat rapi dan baju yang bermerk. Sekarang sungguh beda dan nampak terlihat lusuh dan tidak rapi. Dulu yang kepergiannya ke kantor dengan memakai mobil, kini hanya mobil yang dipakai hanya punya Bos-nya dan sebagai supir pribadi.
"Sang pencipta sungguh membolak-balikkan itu semua," gumam sang Ibu.
Dadanya terasa bergemuruh hebat mengingat dia yang kini tengah perang batin dengan keadaan hidupnya yang getir.
_______
"Rian pergi Bu," ucapnya dengan tersenyum tipis dan nampak menundukkan pandangannya seakan tidak berani menatap sang Ibu.
Mungkin hanya kata sabar yang mampu di ucapkan oleh sang Ibu.
Terlihat Pak Adi sudah menunggu di teras rumah yang sempit. Di ujung jalan sana terlihat mobil terparkir yaitu mobil sedan berwarna hitam keluaran baru yang masih mengkilap warnanya.
"Ayo, sudah siap Mas!" ajak Pak Adi kepada Rian dengan tersenyum ramah.
"Iya, Pak!" jawab Rian.
Rian pun membalaskan senyuman kepada Pak Adi tapi nampak tidak bisa dibohongi senyuman yang di torehkan seakan getir dan terpaksa.
Sang Ibu nampak memegang dadanya dan terlihat menitikkan air mata. Dia pun dengan cepat memasuki rumah dan terlihat menangis seakan meratapi diri.
_______
Di dalam mobil.
Nampak yang menyetir adalah Pak Adi. Terlihat Pak Adi melirik penampilan Rian yang terlihat lusuh dan cara berpakaiannya tidak rapi seakan tidak sedap untuk dipandang.
"Mas, gimana kalau bajunya di dobel saja, kebetulan di tas saya ada kemeja," ucap Pak Adi terlihat sangat berhati-hati ketika berucap takut menyinggung perasaan Rian.
__ADS_1
DEGH..
Rian pun merasa tersentak jantungnya tatkala Pak Adi berucap seperti itu. Tidak bisa dipungkiri dalam hati Rian pun berpikir bahwa dirinya terlihat kurang rapi dan bajunya lusuh sedangkan dia sekarang supir pribadi orang kaya yang harus dijaga penampilannya.
Apalagi Pak Adi baru saja bercerita Bos-nya tersebut Ibu sosialita yang harus menjaga penampilan supirnya karena sang supir akan selalu menemani kemanapun.
"Maaf Mas, gimana mau kalau saya kasih bajunya. Kebetulan ada rezeki, tadi saya dikasih baju oleh anaknya Bos saya karena tadi pagi mengantarkan cucunya les," ucap Pak Adi tersenyum lebar.
"Bo-Boleh,, Pak," nampak Rian terlihat terkesiap karena dia sedang melamun.
"Pokoknya tenang Mas, kerja di Bos yang sekarang karena orangnya baik dan sangat pengertian. Bapak juga baru kerja 3 bulan tapi semua terjamin mulai kontrakan sudah tidak bayar dan anak saya sekolah pun Bos yang nanggung itu semua," ucap Pak Adi menceritakan tentang sifat Bos-nya yang baru tersebut.
_____
Pak Adi menyerahkan bajunya kepada Rian dan Rian pun nampak memakai kemeja tersebut. Dan nampak Rian sekarang terlihat rapi penampilannya.
"Wah, ganteng sekali Mas," ucap Pak Adi nampak terpesona dengan Rian yang sudah memakai baju kemeja yang diberikannya itu.
"Akh, Bapak bisa saja," jawab Rian tersipu malu.
"Aku yakin, Mas ini dulunya orang berada," gumam Pak Adi menatap Rian dengan terpesona.
_______
Tiba di salon.
"Mas, alhamdulilah akhirnya kita sampai," ucap Pak Adi.
"Ini tempatnya Pak," Rian melihat salon tersebut dari arah kaca jendela mobil.
"Iya, tunggu sebentar ya, aku akan beritahu dulu Bos kalau kita sudah sampai," ucap Pak Adi sambil keluar dari dalam mobil itu.
Sementara Rian menunggu di dalam mobil dengan berharap cemas karena dia belum mengetahui Bos barunya itu.
•••
Beberapa menit kemudian.
Nampak keluar dari dalam salon sesosok wanita paruh baya dengan memakai kacamata hitam. Walaupun usianya sudah tidak muda lagi namun gurat kecantikan terdahulu seakan masih menghiasi wajahnya.
DEGH ..
Rian sontak berdetak jantungnya tidak karuan tatkala melihat sesosok wanita tersebut.
"Tidak, tidak mungkin!" Rian dadanya bergemuruh tatkala melihat sosok wanita itu.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih yang sudah setia baca dan like karya saya. Semoga selalu sehat dan di murahkan rezekinya. Aamiin 🤲 🥰
Baca juga karya Novel terbaru saya yang berjudul. Terjebak Cinta Tetangga