Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 88 Curiga


__ADS_3

Acara pun selesai.


"Silvi, katanya kamu enggak bawa mobil ya !?" tanya Yosi kepada Silvi ketika akan pulang dari pertemuan mereka di Restoran tersebut.


"Iya, aku gak bawa mobil," jawabnya.


"Aku antar pulang gimana? Kita kan satu arah," Yosi penuh harap ketika berucap.


_______


Nampak Silvi berpikir sejenak, apakah dia mau di antar pulang oleh Yosi teman kampusnya dulu?


"Ayo, lah, kayak sama siapa saja. Kita kan teman," ucapnya lagi.


"Iya, Silvi, apakah kamu mau di antar pulang oleh Yosi, atau bareng lagi sama aku? Kalau menurut aku sih, kalian kan sama arah jalurnya lebih baik bareng saja. Tapi sih, itu terserah kamu aku enggak maksa," ucapnya tersenyum lekat kepada Silvi yang terlihat bingung.


______


Silvi terlihat mengerutkan dahinya tapi akhirnya dia menyetujui untuk pulang bersama Yosi karena dia pikir cuma teman tidak ada hubungan apapun antara dirinya dan Yosi.


"Oke deh, aku ikut kamu," Silvi melirik Yosi, sementara Yosi hanya mesem- mesem.


"Awas, Pak, jangan dibawa jalan-jalan dulu, langsung pulang." bisik Sani lekat ke kuping Yosi yang terlihat tersenyum lebar tatkala Silvi mau ikut di antar pulang olehnya.


"Enggak lah, kamu jangan anggap aku lelaki brengsek!" jawab Yosi sedikit melotot dan mencubit pinggang Sani, dan Sani pun hanya tertawa terkekeh mendapatkan candaan dari temannya itu.


"Yos, aku besok datang ke kantormu ya, dan sekalian kita makan siang bareng," ucap Sani.


"Mau apa datang ke kantor Yosi?" tanya Silvi terlihat heran.


"Buka rekening tabungan," jawabnya karena kebetulan Yosi bekerja di salah satu Bank swasta yang cukup terkenal.


"Sekalian kalau mau ketemu lagi besok ayo,, !" ajak Yosi tersenyum kepada Silvi.


"Lihat besok saja ya," jawab Silvi.


Akhirnya Yosi dan Silvi berpamitan pulang kepada Sani.


____


Di dalam mobil.


Nampak Silvi terlihat asik membalas pesan yang masuk di ponselnya tersebut. Sementara Yosi ekor matanya masih mengagumi kecantikan Silvi, getar asmara yang dulu hinggap kini terasa kian mengusik pikirannya.


"Sibuk ya, balas pesan siapa?" Yosi membuka obrolan nampak terlihat serius ketika melirik kearah Silvi.


"Enggak juga kok, cuma ini suamiku katanya mendadak mau ada acara keluar kota malam ini dan pulang baru lusa," jawab Silvi.


"Bisa dong kita bertemu lagi besok," ucap Yosi menggoda.


"Lihat besok ya," jawabnya


"Suami kamu Steven baik ya, cuma dia sifatnya kalau segala sesuatu itu harus bisa terwujud dan tidak mau dibantah! Betul tidak? Apa sekarang masih begitu!?" tanya Yosi.


"Loh, kamu tahu dari mana?" nampak Silvi terlihat terkejut tatkala Yosi mengetahui sifat suaminya itu.


"Meskipun satu kampus tapi beda kelas, ya, aku tahu lah, bagaimana sifat dari Steven. Dia jadi rebutan para wanita di kampus dan akhirnya kamu yang mendapatkan, hebat kamu!" ucap Yosi.


"Hebat apanya?" tanya Silvi seakan heran.


"Hebat bisa mendapatkan lelaki yang sangat kamu cinta, dan aku yang dengan susah payah ingin mendapatkan cintamu ternyata di tolak cintanya," Yosi tertawa terkekeh mengingat masa lalu.

__ADS_1


______


Silvi pandangannya menunduk dan tersipu malu karena Yosi dulu mengejarnya begitu intens sedangkan tidak ada tanggapan sama sekali dari Silvi, dan dia sangat jutek tapi hari ini dia sedang berada di mobilnya untuk di antar pulang ke rumah.


"Oh, ya, cucumu sudah berapa?" tanya Yosi mencoba mengalihkan pertanyaan ke masalah keluarga agar Silvi tidak terlihat malu jika mengenang masa lalunya yang pernah menolak cinta Yosi.


"Aku belum punya cucu dan anakku belum menikah, rencana mau menikah tapi dia lagi dekat dengan seorang janda anaknya satu tapi Papanya menolak hubungan antara anakku dan janda itu," ucap Silvi terdengar lirih dan sedih.


_______


Yosi pun seakan tahu isi hati dari Silvi bahwa dia sedang tidak baik-baik saja ketika menceritakan masalah keluarganya.


"Maaf, kalau aku terlalu ingin tahu masalah pribadi kamu," ucap Yosi.


"Enggak apa-apa kok, kamu juga tadi sudah bercerita masalah keluarga kamu dengan panjang, kita kan teman dekat dulu dan kini masih berteman," sindirnya dengan senyuman lembut.


"Pesona kamu dari dulu membuatku semakin dimabuk kepayang Silvi," gumam Yosi tatkala menatap lekat ke arah Silvi karena jalanan macet dan mobil berhenti beberapa menit . Sementara Silvi asik dengan ponselnya.


_______


Nampak Silvi membuang napas kasar. Tatkala dia beberapa kali mengirimkan pesan kepada sang suami tapi tidak ada balasan.


"Apa suamiku masih marah dan pikirannya masih kesal kepada Adrian, tumben pesanku cuma dibaca saja!" gumam hatinya.


"Kenapa!?" tanya Yosi karena melihat temannya seperti dihinggapi rasa khawatir.


"Suamiku tidak membalas pesanku!" jawabnya.


"Mungkin sedang sibuk, tunggu saja." jawab Yosi dengan kembali menjalankan mobilnya.


_____


Kemudian dia menelepon sang anak. Dan sambungan telepon pun tidak butuh lama untuk menunggu.


{"Nak, Papa sudah datang?"} tanya sang Mama di sambungan teleponnya.


{"Tadi pulang tapi keluar lagi Mah,"} jawab Adrian.


{"Ya sudah, kalau begitu, Mama sebentar lagi pulang ini macet masih di jalan,"} jawab sang Mama. Sambungan telepon pun terputus.


_____


Tiba di rumah.


"Makasih ya, sudah mau mengantarkan pulang," ucap Silvi tersenyum ramah.


"Santai saja, kalau sama teman. Pokoknya besok kalau ada waktu kita pergi lagi ya, bareng Sani," ucap kembali Yosi seakan berharap Silvi mau ikut.


Silvi pun menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangan. Mobil Yosi pun berlalu dari hadapan rumah Silvi.


______


Ceklek..


Pintu terbuka lebar.


"Mah, di antar siapa barusan? Adrian lihat mobilnya baru, tidak sama seperti tadi yang menjemput," tanya Adrian yang tiba-tiba menghampiri sang Mama yang baru saja masuk kedalam rumah, karena Adrian lihat mobil sang Mama beda, pada saat menjemput dan pulang kembali ke rumah.


Ternyata Adrian mengintip dari arah jendela rumah tapi tanpa melihat wajah yang tengah berada di mobil tersebut.


"Teman kuliah dulu Nak," jawab sang Mama sambil duduk di kursi sofa.

__ADS_1


"Mah, kata Papa mau pergi malam ini keluar kota, apa Papa sudah kasih tahu Ibu?" tanya sang anak.


"Iya, tadi chat Mama, tapi pas Mama balas, dan nanya keluar kotanya kemana!? Papamu cuma baca saja chatnya tanpa di balasnya. Aneh Papa kamu itu!" ucap sang Mama.


"Sabar Mah, tadi muka Papa seperti sedang banyak pikiran, Adrian juga tidak berani banyak nanya," jawab sang anak.


Sang Mama pun hanya menghela napas panjang, dan terdiam.


______


Beberapa menit kemudian.


Suara mobil terdengar dari arah garasi.


"Nah, itu Papa datang, Adrian masuk ah, ke kamar. Takut Papa kumat marah lagi, hehehe,,," Adrian melengos kedalam kamar tatkala mendengar bunyi suara mobil Papa Steven datang.


_________


Ceklek...


Pintu terbuka lebar dan nampak Papa Steven cemberut, matanya lekat ke sang istri.


"Darimana kamu tadi Mah!?" tanya sang suami kedua bola matanya lekat ke arah sang istri seakan penuh curiga.


"Ketemu teman lama Pah," jawabnya.


"Tumben,,,,biasanya kamu tidak mau pergi dengan teman lamamu!" ucapnya kembali.


"Aku suntuk Pah, di rumah," jawab sang istri.


"Alasan Mah, bilang saja kamu kesal kepadaku karena menolak perjodohan anak kita dan kamu mencari hiburan diluar," tuduh sang suami.


"Apa sih Pah!" sang istri seakan tersulut emosi tatkala sang suami seakan menyudutkan dirinya itu.


"Sekarang beresin bajuku masukin kedalam koper karena malam ini aku mau keluar kota," perintahnya dengan suara nada masih terdengar kesal.


________


Sang istri hanya menatap tajam kearah kedua bola mata sang suami, nampak disana terlihat binar kecewa di bola matanya.


"Kenapa menatapku seperti itu!?" tanya sang suami dengan muka datar.


"Suamiku beda dari biasanya nampak dia sangat kecewa tapi dia tidak mau menampakkan dengan ucapan, hanya bisa memendam dalam dirinya," gumam hati sang istri dan Mana Silvi pun melengos kedalam kamar untuk membereskan baju ke dalam koper karena sang suami akan pergi.


______


Di dalam.kamar.


"Aku baru pulang lusa, awas kalau kamu pergi bersama teman lamamu," ucap sang suami yang tiba-tiba datang kedalam kamar.


"Loh kenapa!?" tanya sang istri.


"Aku dengar dari temanku biasanya kalau orang bertemu untuk acara reuni bersama teman lama suka akan terjadi perselingkuhan karena satu sama lain curhat," ucap sang suami seakan begitu dihinggapi rasa khawatir kepada sang istri.


"Terdengar konyol Pah! Itu sih gimana pribadi masing-masing," sang istri terlihat kesal ketika berucap karena sang suami seakan mengada-ngada ketika berucap.


"Aku mengingatkan Mah!!" nada Steven terdengar seperti membentak dan sontak sang istri terkejut.


"Aku harus diam dan jangan banyak kata karena aku tahu pikiran suamiku lagi kalut," gumam hati sang istri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2