Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 171 Kafe Rian di sita


__ADS_3

Nampak Rian tercengang dengan isi surat yang mengatakan bahwa Kafenya kena sita. Dia pun seakan tidak terima dengan keputusan isi surat tersebut.


"Saya tidak terima dengan keputusan surat ini. Saya mohon kasih waktu lagi," Rian memohon kepada Anton sang teman.


"Ini keputusan kantor Rian, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Lagian kamu waktu beberapa bulan yang lalu sudah aku peringatkan dan aku kasih waktu untuk mencari uang pinjaman. Tapi kamu malah lalai dan aku waktu itu mengingatkan kamu terus menerus agar kamu cepat membayar uang tunggakkan kamu," ucap Anton dengan tegas dan dia meminta maaf kepada Rian.


Rian menghela napas kasar. Dia tidak tahu harus bicara apa kepada sang Ibu dan Desy setelah Kafenya kena sita. Dan dia tidak tahu setelah Kafenya tidak ada, dia akan hidup seperti apa kedepannya karena penghasilan dia hanya dari situ.


________


"Anton, apa kamu tidak kasihan sama aku!" tegas Rian kembali seperti memohon kepada temannya itu.


"Yang ambil keputusan bukan aku, tapi kantorku. Dan ini sudah keputusan mutlak tidak bisa di ganggu gugat, sekali lagi maafkan aku Rian," ucap Anton.


Rian nampak terlihat gusar matanya memerah dia seakan bimbang dan dihinggapi rasa sedih yang teramat. Dia bingung harus pada siapa lagi mengadu sedangkan sama Desy rasanya cukup banyak uang yang di keluarkan oleh Desy selama ini dan Citra baginya hanyalah wanita yang meminta uangnya saja, sementara bisnisnya yang dia jalani dengan Citra seakan tidak ada titik terang semua hanya angan untuk bisa mendapatkan uang lebih dari bisnis itu.


"Satu minggu aku kasih waktu untuk kamu agar mengosongkan tempat ini. Maaf sekali Rian dengan berat hati aku sampaikan berita ini dan aku pun sebenarnya tidak tega untuk menyampaikan kabar berita ini. Tapi ini salah satu tugas dari kantorku yang harus aku sampaikan kepadamu," ucap Anton terlihat dia sangat kasihan dengan Rian yang terlihat melamun dan matanya berkaca-kaca.


________


Ting....


Tiba-tiba pesan muncul dari Ibunya Rian yang mengatakan sang Ibu dan Desy mau mampir ke Kafenya Rian. Nampak Rian gelisah karena mungkin jika sang Ibu dan Desy datang ke Kafenya, ini adalah hari terakhir mereka menikmati makan karena Kafenya untuk hari esok dan selanjutnya sudah di sita.


Rian menghela napas panjang.


"Kafe Rian tutup, Bu!" tulis pesan Rian berbohong.


"Loh, bukannya tadi kamu pagi kerja," balas sang Ibu.


"Nanti Rian ceritakan di rumah Bu, pokonya Ibu jangan ke Kafe karena percuma Kafenya tutup." balas Rian kembali.


Rian seakan tidak tega dengan berucap seperti itu karena Kafe tersebut adalah uang hasil dari rumah yang dia jual dan seharusnya uang rumah tersebut dia bagi untuk anak. Namun Rian tidak melakukan hal itu jadi uangnya tidak berkah atau kurang bermanfaat karena dari uang tersebut ada hak anaknya.


Rian tidak bisa membayangkan jika Desy dan Ibunya marah setelah tahu Kafenya kena sita. Rian terlihat beberapa kali membuang napas kasar dan mengelus dadanya. Raut wajahnya terlihat linglung.


________


Setelah Rian panjang lebar berbicara dengan Anton. Akhirnya Anton pun beserta rekan kerjanya pulang. Dan nampak Rian menyuruh karyawannya yang masih tersisa tiga orang untuk membereskan Kafenya.


Terlihat Pak satpam yang mendengar kabar tersebut matanya berkaca-kaca, dia seakan iba tatkala melihat Bos-nya itu tengah bersedih.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka akan begini jadinya dan nasibku gimana kedepannya karena setelah kafe ini tutup, aku tidak akan mendapatkan pekerjaan lagi," gumam hati Pak satpam.


Dan Rian pun seolah merasakan kesedihan Pak satpam itu


"Pak, maafkan saya, karena Kafenya mau tutup dan semoga Bapak mendapatkan pekerjaan yang layak diluar sana," ucap Rian dengan menitikkan air mata.


"Pak Rian, nanti setelah dari sini mau kerja dimana, maaf saya lancang bertanya seperti ini," tanya Pak satpam dengan pandangan tertunduk.


Rian menghela napas secara perlahan.


"Tidak tahu Pak, mungkin saya akan usaha di rumah kecil-kecilan lagian semua kan butuh modal kalau usaha sedangkan saya saat ini sedang terpuruk," ucap Rian dengan suara serak seakan menahan tangis.


"Semoga kedepannya ada rezekinya ya, Pak!" ucap Pak satpam mencoba menyabarkan hati Rian yang tengah gundah gulana.


_______


Beberapa jam kemudian semua barang terlihat sudah beres di masukkan kedalam mobil box dan nampak barang pun tidak banyak seperti dulu karena barang yang ada di Kafe sudah terjual sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan Kafe.


"Sudah beres semua Pak!" ucap salah satu karyawan. Rian pun kepada ketiga karyawan tersebut memberikan amplop berwarna coklat dengan nominal uang ala kadarnya.


"Terima kasih ya, atas kinerja kalian selama ini. Dan maafkan kalau selama kalian bekerja disini, saya sebagai atasan kalian kurang berkenan dengan perlakuan saya atau kalian kurang nyaman selama bekerja disini," ucap Rian terdengar terbata-bata ketika berucap karena dihinggapi rasa sedih dan menahan tangisannya.


•••


"Semoga kalian mendapatkan pekerjaan yang layak melebihi pekerjaan disini," ucap Rian kembali. Kali ini Rian meneteskan air mata dan nampak air mata di hamparan pipinya mengalir bercucuran.


•••


Rian tidak menyangka Kafe yang dia kelola akan berakhir dengan kesedihan. Kafe yang dia rintis dari nol dan Kafe tersebut menjadi ramai, kemudian pada akhirnya Kafe menjadi bangkrut dan sekarang Kafenya kena sita sehingga Kafenya tidak akan buka lagi.


"Sabar, Pak!" Pak satpam menepuk pundak Rian secara perlahan. Dia tahu seluk beluk Kafe tersebut sebelum diambil alih oleh Rian jadi Pak satpam merasakan jatuh bangun Kafe tersebut.


Pak satpam yang dekat dengan semua karyawan, juga karyawan yang sudah keluar dari Kafe tersebut pun masih terjalin erat hubungannya. Karena bekerja di kafe tersebut karyawan yang cukup ramah, seakan rumah kedua bagi Pak satpam dan semua karyawan.


________


Satu jam kemudian.


Rian pun nampak pamit kepada semua yang berada di Kafe tersebut dengan pelukan erat.


Nampak setelah kepulangan Rian, Pak satpam menghela napas panjang dia pun menelepon Anita dan mengabarkan kepada Anita mantan karyawan tersebut bahwa Kafe tutup dan menceritakan semua yang terjadi kepada Anita.

__ADS_1


Terdengar di sebrang sana Anita sangat menyayangkan jika Kafe kena sita dan keadaan Kafe pun setelah dia keluar kerja keadaannya jadi tidak stabil dan tidak ramai seperti dahulu ketika dia bekerja disana.


•••


"Neng Anita kan sekarang banyak duit suaminya, dan mempunyai beberapa Restoran, coba beli saja Kafenya sama Neng Anita. Bujuk suaminya Neng, agar mau membeli Kafe ini dan nanti Bapak beserta tiga karyawan disini bisa bekerja lagi disini," Pak satpam terlihat membujuk Anita agar membeli Kafe tersebut yang notabene sekarang kehidupan Anita berubah drastis semenjak menikah dengan orang kaya teman dari Adrian.


"Bapak bisa saja ngatain saya banyak duit, saya malu Pak kalau harus membujuk suami saya, meskipun dia suami saya dan kami baru menikah. Saya tidak berani jika ikut campur masalah bisnisnya," jawab Anita.


"Buat investasi Neng, coba ngomong dulu sama suami, kalau menurut Bapak sih, pasti Kafe ini bakal dibeli oleh suami kamu," kembali Pak satpam membujuk.


"Perlu proses Pak, memang gampang membeli Kafe yang terkena sita. Itu kan baru mau disita perlu proses," ucap Anita.


Setelah asik berbicara disambungkan telepon, Pak satpam pun akhirnya menutup sambungan teleponnya.


______


Nampak di sebrang sana Anita sedang duduk bersama Helmi sang suami. Dan sang suami pun penasaran dengan obrolan sang istri yang begitu nampak serius.


"Ada apa Sayang?" tanya Helmi sang suami.


"Kafe yang dulu tempat aku bekerja di sita Mas, dan barusan Pak satpam menawarkan katanya kalau bisa Kafe tersebut dibeli sama aku. Memangnya mudah membeli Kafe yang kena sita, aku tadi bilang begitu Mas, sama Pak satpam," ucap Anita.


Helmi suami dari Anita pun nampak berpikir keras, dia pun seakan penasaran dengan Kafe tersebut dan dia akan mencari tahu sendiri soal Kafe yang akan di sita tersebut.


_______


"Mas, hari ini kita jadi kan berkunjung ke rumah Mas Adrian? Kita selalu sibuk sampai lupa belum lihat bayinya. Aku malu Mas kalau enggak nengok kesana karena yang menjodohkan aku dengan kamu adalah Mas Adrian," ucap Anita mengajak Helmi sang suami untuk berkunjung ke rumah Adrian untuk melihat bayinya Lia.


"Jadi dong, kak Shila dan Om Satria juga akan datang kesana kan? Jadi nanti kita ketemu disana dengan kakakmu," tanya sang suami, nampak Helmi rindu juga dengan Kakak dari sang istri karena setelah dia menikah dengan Anita pertemuan keluarga jarang terjadi karena kesibukannya.


"Iya, Mas, aku siap-siap dulu ya," jawab Anita.


Anita pun beserta sang suami kemudian bersiap diri untuk pergi ke rumah Adrian untuk melihat bayi.


"Nanti aku akan coba tawarkan Kafe tersebut sama Adrian, pasti dia beli karena kebetulan kemarin dia telepon katanya lagi butuh Kafe buat investasi dia," gumam hati Helmi suami dari Anita.


Bersambung...


Terima kasih untuk Reader-ku yang selalu baca karya Novel-ku.


Salam sayang dari Author 🥰♥️

__ADS_1


Instagram : rini_alnabil2


__ADS_2