
Karena Rian gagal fokus ketika mengendarai mobil akhirnya mobilnya mengalami kecelakaan. Suara mobil yang menabrak pohon besar cukup keras dan beberapa orang pun berlarian menuju arah suara mobil yang mengalami suara tabrakan tersebut. Mereka berlarian dan memastikan si pengendara di dalam mobil keadaannya baik-baik saja.
Posisi Desy duduk di depan dan nampak Desy berteriak dengan ada darah sedikit keluar dari dalam roknya dan menetes kebawah kaki. Muka Desy pun terkena serpihan kaca yang mengenai mukanya, sedangkan Bu Viona dalam keadaan pingsan. Sementara Rian perlahan bergerak kepalanya dia merasakan kepalanya sangat pusing karena terbentur setir.
Kepala Rian terasa berat, pandangannya kabur, dan Rian pun sayup-sayup mendengar seseorang mengetuk kaca mobilnya namun perlahan suara itu hilang, Rian pun akhirnya tak sadarkan diri.
_______
"Ayo, kita bawa ke Rumah Sakit terdekat," ucap seseorang disana yang menghampiri mobil yang terkena kecelakaan tersebut.
Mobil pun di paksa terbuka oleh kerumunan orang yang melihat kejadian tersebut dan akhirnya mereka pun dilarikan ke Rumah Sakit terdekat.
______
Beberapa jam kemudian.
Nampak kedua orang tua Desy datang mengunjungi Rumah Sakit. Mereka terlihat panik dan sang Mama nampak ingin melihat kondisi anaknya di ruang IGD tapi pihak Rumah Sakit melarangnya.
"Sabar Bu, sebentar lagi baru bisa dilihat. Lebih baik Ibu menunggu diluar saja biar Dokter yang menanganinya," ucap pegawai Rumah Sakit.
Sang Mama pun nampak menghempaskan badannya di kursi ruang tunggu, dan sang suami terlihat mencoba menenangkan hati sang istri.
Mamanya Desy kemudian membuka ponselnya, terlihat disana ada sebuah pesan dari Desy sang anak beberapa jam yang lalu.
"Aku tidak memegang ponsel sedari tadi dan Desy tadi mengirimkan sebuah pesan," gumam hati sang Mama.
Mamanya Desy pun nampak membuka layar ponselnya dan membuka isi pesan dari Desy sebelum kecelakaan berlangsung.
{"Mah, ternyata Restoran yang akan disewa Desy untuk acara pernikahan itu miliknya Papanya pacar Lia, dan Lia akan melangsungkan pernikahan di Restoran ini. Jadi Desy gagal untuk menyewa Restoran tersebut,"} terlihat pesan dari Desy begitu sangat dimengerti oleh sang Mama
__________
Sang Mama pun berpikir bahwa Desy keadaannya sedang emosi karena Restoran yang akan dia sewa tidak jadi dia tempati.
Sebelum pergi untuk melihat Restoran tersebut Desy menceritakan banyak hal mengenai Restoran tersebut, dan sepertinya dia sangat ingin berambisi jika pernikahannya bisa dilangsungkan di Restoran tersebut.
"Apa mungkin ada Lia disana!? Dan mungkin terjadi percekcokan diantara mereka!" gumam hati sang Mama.
Mamanya Desy sangat paham betul jika sang anak dihinggapi rasa emosi dan, dia dari dulu sifatnya jika menginginkan sesuatu selalu ingin terlaksana dan jika tidak terwujud pastinya dia sangat kecewa dan marah.
"Apa mungkin terjadi percekcokan antara Desy dan Rian yang mengakibatkan terjadinya adu mulut kemudian terjadi tabrakan!" sang Mama seakan menerka kejadian.
_______
Seketika sang Mama pun tiba-tiba keningnya berkerut, dia seakan ingin menghubungi Lia. Sang Mama menghela napas secara perlahan nampak dia terlihat ragu untuk bisa menghubungi Lia.
Dengan rasa memberanikan diri sang Mama pun akhirnya mencoba menelepon Lia, dan terlihat setelah telepon tersambung sang Mama menanyakan kabar Lia dan mengabarkan bahwa Rian sang mantan suami atau Papanya Cantika mengalami kecelakaan.
{"Kapan Tan, kecelakaannya? Bukannya tadi Desy dan Rian datang ke Restoran!"} tanya Lia dihinggapi rasa terkejut.
{"Mungkin tadi setelah pulang dari Restoran, tadi sebelum kecelakaan Desy sempat memberikan sebuah pesan katanya dia ingin sekali mengadakan acara pernikahan di Restoran tersebut, tapi kata Desy tempat tersebut akan di pake untuk..."} Mamanya Desy seakan ragu untuk melanjutkan obrolannya.
{"Ya, Tante maaf, tempat tersebut akan dipake untuk acara pernikahan Lia,"} jawab Lia tegas tidak mau bertele-tele.
{"Alhamdulillah kalau kamu cepat menikah dan semoga jodoh kamu sekarang lebih baik,"} ucap Mamanya Desy.
{"Sekarang mereka berada di Rumah Sakit mana Tan?"} tanya Lia kembali.
________
Lia berpikir Rian adalah Papa dari anaknya setidaknya dia pun hanya ingin melihat kondisi Rian sekarang seperti apa, tidak ada maksud lain.
Sang Tante pun memberikan alamat Rumah Sakit tersebut kepada Lia
{"Tan, tapi aku ijin dulu sama Ibu dan calonku ya, untuk pergi kesana,"} ucap Lia.
__ADS_1
{"Iya, Lia enggak apa-apa, Tante pun tidak akan memaksa kamu untuk datang kesini kok, Tante hanya mengabarkan saja soalnya kan gimana pun Rian adalah Papanya Cantika,"} ucap Mamanya Desy.
Sambungan telepon pun akhirnya ditutup oleh Lia dengan menarik napas secara perlahan.
_______
"Rian, istrimu Lia sungguh mulya dan baik sifatnya. Kenapa kamu sia-siakan dengan mau dekat dengan Desy! Padahal Lia lebih terpuji akhlaknya," gumam hati Mamanya Desy dengan mata yang berkaca-kaca.
Walaupun Desy anaknya tapi sang Mama tidak membela Desy karena dia tipe wanita keras kepala.
°°°°°
Sementara Lia mengabarkan berita yang baru saja dia dengar kepada Adrian, dan nampak Adrian pun terkejut tatkala mendengar kabar berita tersebut.
"Sayang, ayo, kita lihat keadaan mereka," ucap Adrian mengajak Lia untuk menjenguk Rian dan Desy.
Terasa hati Lia dihujani kasih yang berlebihan karena sang calon suami begitu perhatian dan mau mengajaknya untuk melihat kondisi Papa dari anaknya tersebut walaupun beberapa jam yang lalu Rian tengah berselisih paham dengannya.
_______
"Mah, Papa kecelakaan!?" tanya sang anak Cantika tiba-tiba datang dari arah dalam rumah dengan genangan air mata yang nampak terlihat di kedua bola matanya.
"Iya, Sayang," jawab Lia dengan merebahkan kedua tangannya ingin memeluk Cantika dan air genangan dimata sang anakpun lolos seketika membasahi hamparan pipinya.
Terdengar jelas Cantika tersedu menangis dan hal ini seakan membuat rasa iba Adrian yang mendengarnya.
"Sayang, sabar ya," ucap Adrian mengusap lembut rambut Cantika.
"Nak, kenapa!?" tanya Ibunya Lia menatap Cantika yang sedang tersedu menangis tiba-tiba datang dari dalam kamar.
"Papa,,,Papa, kecelakaan Nek," ucap anak tersebut terdengar parau.
__________
"Ayo, Bu, kita lihat kesana," ucap Adrian.
"Bu, bukannya anak kecil tidak boleh masuk ke Rumah Sakit?" ucap Lia.
Seketika sang ibu pun tertegun sejenak dia pun seakan memahami hal tersebut, kemudian Papa datang dari arah belakang Papa sudah mendengar obrolan sedari tadi dan sang Papa sudah tahu bahwa Rian kecelakaan.
"Biar, Cantika sama Bapak dan Ibu disini saja takutnya dia disana menangis dengan melihat kondisi Papanya," sang Bapak melarang cucunya untuk pergi ke rumah sakit.
Cantika pun seakan dengan berat hati dia tidak boleh ikut oleh Kakeknya.
Lia pun akhirnya pergi bersama Adrian berdua dengan hati masih tidak karuan karena dia berpikir seharusnya dia tidak usah mengunjungi Rian ke Rumah Sakit tapi dia menghargai kepada Ibunya Desy yang begitu baik dan masih menganggap Lia sebagai anaknya sendiri.
________
Di dalam mobil.
"Sayang, jangan berpikir yang aneh-aneh ya, kamu harus berpikir positif dan hilangkan rasa egois kamu, kita datang karena menghargai Rian sebagai Papanya Cantika, dan Mamanya Desy yang dekat denganmu," ucap sang calon suaminya itu mencoba menenangkan hati sang calon istri.
Lia kembali mengelus dada dengan rasa yang teramat bahagia karena sang calon suami bersikap dewasa dan dia berpikir tidak salah pilih mendapatkan calon suami.
____
Tiba di Rumah Sakit.
Setelah tiba di Rumah Sakit Lia pun menyeret langkahnya ke ruangan IGD dimana disana ada Mamanya Desy sedang berada.
Nampak Mamanya Desy tersenyum lebar saat dia melihat Lia datang ke Rumah Sakit, dan matanya berkaca-kaca seakan dia ingin menghujani permintaan maafnya kepada Lia atas pengkhianatan Desy, anaknya tersebut.
"Lia, maafkan Desy!" pelukan erat begitu terasa di tubuh Lia yang dilakukan oleh Ibunya Desy yang menganggap Lia sudah seperti anaknya sendiri.
Papanya Desy pun seakan tak kuasa melihat sosok sahabat dari anaknya itu yang sudah dikhianati oleh anaknya sendiri.
__ADS_1
"Lia,,,Om, doakan semoga kamu dengan suami barumu, nanti akan mendapatkan kebahagiaan. Dan rasa sakit hatimu dulu akan terobati. Maafkan anak Om, ya," ucap Papanya Desy mengusap lembut pundak Lia.
Ucapan Papanya Desy seakan menyayat hatinya sungguh terasa sakit sekali,
Bulir putih bening pun lolos seketika membasahi pipi mulus Lia.
Lia pun menekan dadanya dengan kuat untuk mengurangi rasa sakit yang dia rasa sekarang.
Adrian nampak memegang erat jemari tangan Lia, Adrian seakan menguatkan rasa gundah gulana yang di rasakan Lia saat ini karena seakan Papanya Desy mengenang kembali pengkhianatan yang dilakukan oleh Desy kepada kekasihnya itu.
_________
"Gimana keadaan kondisi yang di dalam!?" tanya Adrian seakan mengalihkan pembicaraan dengan pandangan mengarah ke dalam ruang IGD.
Dia pun tidak mau jika calon istrinya yang sangat dia cintai mengenang masa lalu, tatkala kedua orang tua Desy membahas kembali pengkhianatan anaknya yang dilakukan Desy dulu kepada Lia.
"Kritis keadaannya," ucap Mamanya Desy lirih.
Lia sontak berpandangan dengan Adrian, seakan mengisyaratkan bahwa keadaan di dalam tidak baik-baik saja.
Kata Dokter, Desy wajahnya terkena serpihan kaca dan dia mau di operasi kemudian Rian kepalanya terbentur setir sementara Ibunya Rian pingsan karena mungkin shock ketika mendapatkan kejadian.
"Tapi Bu Viona tidak apa-apa!?" tanya Lia.
"Lia, Ibunya Rian sudah mengkhianati kamu, mengapa kamu masih peduli dengan keadaannya!?" gumam hati Adrian menghela napas secara perlahan.
Lia melihat dengan ekor matanya dan dia pun bisa menerka bahwa Adrian tidak suka jika Lia seakan masih peduli dengan Ibu Viona sedangkan mantan mertuanya tersebut sudah mengkhianati dirinya.
"Bagaimanapun dia adalah Neneknya Cantika, dan pasti aku khawatir dengan keadaannya," ucap Lia dengan pandangan menunduk.
"Lia kamu kenapa tidak ada rasa dendam sedikitpun terhadap mantan Ibu mertua kamu!" gumam hati Mamanya Desy nampak terlihat Mamanya Desy begitu terpesona dengan kepribadian Lia.
"Bu Viona katanya lengannya membentur pintu dalam mobil karena posisi dia di belakang dan ketika mobil Rian menabrak pohon besar dia yang tengah duduk di belakang terpelanting posisinya," ucap Mamanya Desy.
"Dia sudah sadar sekarang tapi katanya tangannya agak retak mungkin nanti sementara akan memakai penyangga." sambung Papanya Desy.
Nampak Mamanya Desy berbisik pada Lia.
"Desy keluar darah sedikit mungkin dia sedang menstruasi, tapi aneh tadi dia berteriak histeris, Mama pun tidak mengerti. Atau mungkin keadaan sedang menstruasi jadi keadaan tubuh yang tidak stabil jadi emosi dia tidak terkontrol," ucapnya.
Degh..
Tiba-tiba jantungnya berdegup lebih kencang dadanya mulai naik turun karena Lia ingat ucapan dari Tante Restu yang mengatakan kalau Tante Bela pernah dengar dari mulut Desy, bahwa Desy sudah berbuat jauh hubungannya dengan Rian dan dia sudah telat datang bulan.
"Mungkinkah dia keguguran! Dan dia tidak mau jika dia mengalami keguguran jadi Desy histeris menangis?" gumam hati Lia dihinggapi rasa tanya dalam diri tatkala mengingat kembali ucapan dari sang Tante ketika sepulang dari Tante Bela saat itu.
_________
"Lia, sebenarnya Tante tidak rela jika Desy menikah dengan Rian!" ucapnya dengan pandangan menunduk seakan tidak berani menatap wajah Lia karena dihinggapi rasa malu dan bersalah atas kelakuan sang anak.
"Loh, kenapa Tan!" Lia pura-pura bodoh, padahal dia sudah menyangka pasti karena Rian adalah suami sahabatnya.
"Karena Desy mengambil Rian dengan cara salah mengambil suami orang apalagi istrinya Rian kan sahabatnya sendiri," ucap sang Mama.
"Sudah lah Mah, yang lalu biar berlalu lagian Lia sudah cerai dengan Rian." jawab Lia tapi sebenarnya dalam diri Lia, dia sangat kecewa terhadap Rian dan Desy. Dada Lia naik turun menahan amarah yang berlipat ganda.
_______
Beberapa saat kemudian.
"Lia, ayo, kita pulang!" ajak Adrian.
Adrian pun seakan tidak mau untuk berlama-lama berada disana. Adrian datang mengajak Lia kesana hanya untuk menghargai Rian adalah Papanya Cantika atau anak dari Lia, dan Mamanya Desy ingin bertemu dengan Lia. Mamanya Desy tidak salah apa-apa dia pun tidak mendukung jika anaknya menikah dengan Rian.
Lia dan Adrian pun pamit kepada kedua orang tuanya Desy dan mereka pun meninggalkan Rumah Sakit tersebut.
__ADS_1