Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 109 Desy tidak ada tempat mengadu.


__ADS_3

Desy pun nampak menumpahkan rasa kesal, sakit dan marahnya, dia pun menggerutu.


"Maaf tadi Tante Bela tidak bisa bantu kamu karena takut masalah jadi melebar, dan maaf Des, seharusnya kamu jangan bicara seenaknya atau asal saja karena itu menyinggung perasaan orang lain," ucap Tante Bela.


"Asal gimana menurut Tante, aku tadi sengaja ngomong mau nikah agar buat cemburu Lia!" jawab Desy sambil menahan rasa sakit antara pipinya yang kena tamparan dan rambutnya yang tadi di jambak oleh Tante Restu


"Des, pipimu merah banget, sakit!?" tanya Tante Bela dan nampak Tante Bela terlihat meringis tatkala kedua bola matanya lekat ke arah pipi Desy.


Tante Bela pun berlalu ke kamar untuk membawakan obat.


"Hari ini aku benar-benar sial! sudah dicium sama lelaki brengsek lalu ditampar oleh Tantenya si Lia!" ucapnya terdengar menggerutu.


______


"Sini Tante kompres luka lebam dengan air hangat, dan ini minum obat pereda nyerinya," ucap Tante Bela yang tiba-tiba datang dengan membawa obat untuk Desy.


"Terima kasih ya, Tan," ucapnya lirih.


Tante Bela hanya menganggukkan kepalanya dia pun seakan kesal dengan kelakuan Desy yang terlalu mengekspos sebagai pelakor.


Ting...


Tiba-tiba pesan muncul dari layar ponsel milik Tante Bela nampak Tante Restu memberikan sebuah pesan.


{"Pelakor itu sudah pulang!?"} tulis pesannya.


{"Belum, masih ada di sampingku,"} balas pesan Tante Bela.


{"Usir saja dia! ngapain kamu punya teman seperti dia!"} pesan kembali Tante Restu.


Tante Bela hanya membaca pesan tersebut tanpa membalasnya.


______


{"Des, maaf Tante harus pergi ke rumah saudara ada acara mendadak, barusan dia kirimin pesan,"} ucap Tante Bela kepada Desy berbohong. Tante Bela pun seakan malas jika harus ada Desy tinggal di rumahnya lebih lama lagi.


{"Iya, Tan, Desy juga mau pulang ke rumah istirahat,"} jawabnya.


Setelah merasa badannya agak rileks dan enteng Desy pun pamit pulang dari rumah Tante Bela.


______


Di dalam mobil.


Ketika berada di dalam mobil Desy nampak meringis menahan sakit di area pipinya yang berwarna merah.


"Restu,,,!! Kamu selalu mencampuri urusanku dengan Lia, awas ya kamu!" ucapnya terlihat memendam rasa amarah.


Desy mencoba menghubungi Rian niat dia ingin mengadu kepada kekasihnya tersebut dan ada pembelaan. Namun semua sia-sia saja karena ponsel Rian tidak bisa dihubungi.


"Rian,,,Kamu kemana sih!? Jangan-jangan kamu sudah punya pacar baru lagi!" ucapnya berprasangka buruk.


______


Tiba di rumah sang Mama.


Desy sengaja pulang ke rumah Mamanya dan setelah Mamanya melihat sang anak meringis menahan sakit dan melihat warna merah di pipi akibat tamparan keras dari Tante Restu, sang Mama terlihat dihinggapi rasa penasaran dan terkejut.


"Des, kamu kenapa!?" tanya sang Mama.

__ADS_1


Desy menghela napas lelah kemudian dia merebahkan badannya di kursi sofa dan memejamkan matanya seakan mengingat kembali kejadian yang dialaminya hari ini.


"Semua orang brengsek,,,brengsek!" teriaknya dengan meremas rambutnya.


"Des, ada apa sih! Cerita sama Mama," ucap sang Mama.


"Aku di permalukan oleh Tantenya si Lia!" Desy nampak begitu menahan emosi ketika berbicara.


Sontak sang Mama menampakkan muka penasaran dengan ucapan sang anak.


"Maksud kamu apa?" jawab sang Mama


_______


Desy pun menceritakan semua kejadian yang menimpanya itu. Setelah Desy menceritakan semua kejadiannya nampak sang Mama seperti dihinggapi rasa acuh seakan tidak peduli, dan ini mengakibatkan rasa kesal dan kecewa di diri Desy karena sang Mama seakan tidak membelanya.


"Kamu sendiri yang salah! Kelakuanmu tidak dewasa Desy!" ucap sang Mama terlihat mendelik.


"Loh, kok, Mama bisa-bisanya berkata begitu, seharusnya Mama itu membela aku!" Desy kecewa terhadap sang Mama dan nampak cemberut.


"Mama tidak akan bela yang salah, dan setelah Mama tahu calon kamu ternyata Rian mantan suami sahabatmu itu. Dan kamu pun merebut Rian dari Lia. Mama sungguh malu punya ank seperti kamu dan Mama ingin minta maaf sama Lia. Mama ingin bertemu dengan Lia dan meminta maaf," ucap sang Mama kembali mengenang sosok Lia sahabat anaknya itu yang sifatnya sopan dan akrab dengan Mamanya Desy.


"Memang Mama selalu mendukung Lia dari dulu, kenapa sih Mah!? Dari dulu kalau apapun aku dan Lia punya ide Mama selalu ikutin ide Lia sementara sama aku! Mama selalu memojokkan!" Desy matanya berkaca-kaca.


"Karena ide kamu selalu tidak positif, sahabatmu Lia selalu mengalah dari kamu, dan Mama salut dengan Lia. Dia wanita cerdas dan mandiri tidak seperti kamu. Manja dan selalu mementingkan diri sendiri. Untung saja Lia mau berteman dengan kamu!" sang Mama nampak terlihat seperti dihinggapi rasa kesal kepada sang anak.


_______


Desy pun berderai air matanya karena sang Mama ternyata lebih membela Lia sahabatnya itu dibanding dengan dia anaknya sendiri.


Desy pun berlalu ke dalam kamar dan menutup pintu dengan kasar


Suara bunyi pintu terdengar dibanting oleh Desy dan ini mengakibatkan rasa terkejut dalam diri sang Papa yang keberadaannya sedang ada di kamar dan beristirahat.


_______


Krekkkk....


sang Papa nampak membuka pintu dan pandangannya mengarah ke pintu kamar Desy, sontak sang Mama pun menghampiri suaminya tersebut.


"Pah, ada Desy baru datang," ucap sang Mama menghela napas secara perlahan.


"Dia marah Mah!? Kenapa?" tanya sang Papa.


Sang Mama hanya membuang napas kasar kemudian berlalu ke meja makan sambil menyiapkan makan sore buat suaminya tersebut dan sang suami mengekor dari arah belakang.


"Marah kenapa anak itu!?" tanya sang Papa sambil menggeser kursi kemudian duduk dan meneguk segelas air putih.


Sang Mama pun menceritakan semua tentang Desy yang tadi di jambak oleh Tantenya Lia. Sang Papa pun seakan tidak bisa berkata apa-apa karena itu semua salah anaknya sendiri.


"Watak anak kita memang keras, dan dia jika ingin sesuatu dari semenjak kecil selalu ingin di penuhi termasuk keinginan hatinya merebut Rian dari sahabatnya sendiri. Kita gagal mendidik anak Mah," sang Papa nampak seakan kecewa dengan pribadi sang anaknya yang sangat tidak terpuji itu.


"Dia juga cerita setelah Rian pulang dari Kalimantan ingin menikah katanya. Dan Mama merasa malu dengan kelakuan anak kita Pah, yang menikahi Rian yang notabene suami Lia meskipun mereka sudah bercerai. Tapi kan Desy anak kita mendapatkannya secara salah dan tidak wajar atau boleh dibilang Pelakor!" sang Mama dengan menatap foto Desy yang terpajang di lemari kaca. Dan sepertinya dengan sang Mama mengucap kata Pelakor ini membuat hati sang Papa memanas karena menurut sang Papa cap sebagai Pelakor itu sangat tidak terpuji atau jelek.


"Panggil Desy kesini, sekarang juga!" telunjuk sang Papa mengarah ke kamar Desy.


_______


Sang Mama sontak terkejut karena melihat wajah dari suaminya tersebut dihinggapi rasa marah dan sang Mama tahu jika sang Papa sudah menunjukkan roman muka tersebut dia dihinggapi rasa marah yang terpendam.

__ADS_1


Sang Mama pun seakan tidak bisa mengelak dengan instruksi sang suami yang menyuruhnya untuk memanggil anaknya tersebut.


Sang Mama pun menyeret langkah kakinya menuju kamar Desy yang tengah menangis di dalam kamar.


________


Tok...Tok...Tok..


"Des, Papa mau bicara keluar sebentar cepat!" sang Mama mengetuk pintu beberapa kali. Desy pun terkesiap dengan ucapan sang Mama dibalik pintu.


Desy menghapus air matanya dia seakan tidak bisa menolak jika sang Papa menginginkan bicara dengannya. Desy akhirnya keluar dari dalam kamarnya nampak terlihat sang Mama sedang mematung di depan pintu.


Melihat sang anak keluar dari dalam kamar sang Mama pun kembali menghampiri sang suami yang sedang menunggu di meja makan dengan di ikuti oleh Desy dari arah belakang.


_______


"Duduk,,,!" pinta sang Papa menatap lekat ke arah sang anak.


"Kamu kenapa!? Tidak ada sopan santunnya menutup pintu dengan kasar!" sang Papa menyindir anaknya itu.


Desy tidak berani menatap wajah sang Papa karena dia merasa bersalah dan dia pun takut dengan sosok Papanya tersebut jika dia melawan pembicaraannya.


"Kamu jangan selalu mementingkan diri kamu sendiri dan kamu jangan licik, Papa dan Mama malu sebenarnya punya anak seperti kamu yang sifatnya tidak punya adab!" ucapan sang Papa seperti pisau belati terasa sakit sekali menyayat hati.


"Pah,,," sang Mama merasa gelisah dengan ucapan sang Papa yang seakan memojokkan anaknya tersebut.


"Iya, memang benar Mah, anak ini sudah bikin malu kita apalagi keluarganya Lia!" ucap sang Papa terlihat dengan sorot mata tajam menatap Desy.


"Katanya kamu mau nikah dengan Rian! Apa kamu tidak malu nantinya dengan keluarga Lia, dan Lia nya sendiri sahabatmu yang sudah dekat dengan keluarga kita!" sang Papa kembali memberondong pertanyaan.


Desy seperti tidak bisa menjawab satu persatu pertanyaan dari sang Papa, lidahnya seakan membeku. Apa yang di ucapkan oleh sang Papa memang benar adanya. Desy itu orangnya egois dan jika ada keinginan selalu ingin cepat terlaksana termasuk merebut suami sang sahabat.


________


Desy nampak menghela napas panjang.


"Kenapa Papa memojokkan Desy seharusnya Papa untuk sekarang ini mendukung rencana Desy yang akan menikah dengan Rian!" ucapnya seperti menahan tangis.


"Papa ragu kamu akan langgeng dengan Rian!" jawab sang Papa dengan melirik ke arah sang Mama.


Sang Mama pun nampak mengernyitkan dahi seakan tidak paham dengan ucapan sang suaminya itu.


"Maksud Papa apa, Desy rumah tangganya tidak akan langgeng dengan Rian begitu!?" tanya sang Mama.


"Iya, karena ibarat kata jika barang atau seseorang yang diambil secara tidak benar atau salah maka dia akan cepat musnah atau tidak abadi karena diambil dengan cara yang tidak diridhoi!" sang Papa seakan menyindir anaknya tersebut.


Desy pun berderai air matanya, dia begitu kesal dan kecewa ternyata sang Papa tidak membela terhadap dirinya. Desy pun seakan tidak ada tempat mengadu.


Nampak terdengar oleh kedua orang tuanya Desy terisak tangis. Dan kedua orang tuanya pun seakan tidak memperdulikan hal itu.


_______


"Neng, minum dulu teh hangat," ucap sang ART yang tiba-tiba datang menghampiri.


Sang ART merasa Iba terhadap anak sang majikannya tersebut.


Desy pun meneguk minumannya itu dan berusaha menghapus air mata yang tengah bercucuran


"Jangan cengeng enggak suka!" sang Papa mendelik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2