Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 227 Ana Cemburu


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Bu Viona nampak sedang menunggu jemputan mobil dari supir yang di tunjuk oleh Papanya Rian. Karena mereka akan kembali pindah ke Kota. Nampak para tetangga yang lewat pun atau yang akan belanja ke warung nampak dihinggapi rasa sedih karena penduduk baru tersebut pindah lagi dari kampungnya.


"Kenapa mesti pindah lagi Bu, padahal enak kalau ke warung ini dekat tinggal jalan selangkah," ucap sang tetangga yang rumahnya berdekatan dengan warung milik Bu Viona.


"Iya, Bu, Rian mau bekerja di Kota. Nanti juga kita kapan-kapan main ke kampung ini," jawab Bu Viona tersenyum.


Padahal dalam hatinya Bu Viona, dia pun harus mempertahankan hidupnya karena warungnya sepi tidak ada pembeli sedangkan resiko dapur harus selalu ngebul. Bu Viona pun nampak betah tinggal di kampung itu dan setelah kejadian kemarin terjadinya percekcokan antara dirinya dan Bu RT, dia pun entah mengapa terasa tidak nyaman lagi untuk tinggal di kampung itu.


_____


Tiba-tiba Ana datang bersama Pak RT dan nampaknya Ana dan Pak RT mau mengucapkan selamat tinggal kepada Bu Viona dan Rian karena mereka akan pindah kembali ke Kota. Terlihat Pak RT mendorong pelan tubuh Ana secara perlahan untuk melangkahkan kakinya ke hadapan Bu Viona. Sedangkan Rian tengah berada di dalam masih kamar untuk siap-siap.


Langkah kaki Ana seakan berat untuk menginjakkan halaman rumah Bu Viona, karena dia masih dihinggapi rasa kecewa terhadap anaknya Bu Viona yaitu Rian. Tapi sang Bapak seakan memaksa anaknya untuk bersalaman kepada Bu Viona dan Rian karena mereka akan pindah hari ini ke Kota.


"Na, jangan permalukan Bapakmu sebagai ketua kampung disini! Kamu harus tersenyum dan jaga sikapmu," bisik sang Bapak kepada anaknya tersebut yang bibirnya mengerucut cemberut.


______


"Bu, jam berapa perginya," ucap Pak RT yang tiba-tiba datang dan tersenyum ramah kepada Bu Viona dengan duduk tepat di hadapan Bu Viona. Sementara sang anak mengekor dari arah belakang. Ana melirik Bu Viona dengan tersenyum tipis seakan terpaksa karena disuruh oleh sang Bapak.


"Nunggu mobil jemputan Pak, mungkin sedang di jalan karena macet," jawab Bu Viona dan pandangan mengarah kepada Ana yang sedang menunduk.


"Neng Ana, selamat ya, akhirnya bulan depan akan menikah. Ibu doakan semoga lancar dan bahagia selalu," ucap Bu Viona tersenyum renyah kepada Ana.


"Aamiin, Bu," sambung Pak RT dengan mencubit lembut paha sang anak yang terhalang meja. Pak RT seakan memberikan isyarat kepada sang anak jangan cemberut saja dan kalau Bu Viona bicara sambut oleh dia.


"Iya, Aamiin," jawab Ana singkat kembali tersenyum tipis.


_______


Nampak Pak RT pandangan matanya mengarah ke dalam rumah seakan mencari sosok Rian dan sang Ibu pun seakan tahu maksud dari Pak RT yaitu sedang mencari keberadaan Rian sang anak.


"Rian sedang siap-siap Pak RT, tadi dia kesiangan lagi bangun tidur, karena semalam beres-beres rumah dan memasukan barang-barang ke dus." ucap Bu Viona.


"Iya maaf, Bu Wina. Semalam saya enggak bantu beres-beres di sin, karena ada rapat keluarga membicarakan pernikahan anak," ucap Pak RT tersipu malu dan pandangannya melirik ke arah Ana sang anak.


______

__ADS_1


Tiba-tiba Rian datang dengan memakai kaos di padu padankan dengan kemeja juga dengan bawahan celana jeans pendek. Nampak terlihat Rian begitu santai penampilannya, tapi nampak kasual dan trendi di tambah dengan sepatu kets. Ana pun nampak seakan tidak berkedip sedikitpun tatkala melihat sosok Rian yang kini tengah berada di hadapannya itu.


Pak RT pun menyadari hal itu, sang anak pandangan matanya tengah fokus ke arah Rian dan kembali Pak RT mencubit pelan paha sang anak. Ana nampak terkesiap dan dan dengan cepat dia mencoba mengalihkan pandangannya ke arah halaman rumah.


"Kenapa aku tidak bisa move-on dengan orang yang tengah berada di hadapanku ini." gumam hati Ana. Jantung Ana begitu berdetak lebih cepat tidak karuan, karena Ana masih dihinggapi rasa penasaran untuk bisa memiliki Rian seutuhnya.


_______


"Wah, sudah ganteng nih, kalau sudah di Kota jangan lupakan kampung ini ya! Pokoknya nanti pas waktunya Ana menikah harus datang kesini. Kalau tidak datang berarti kamu sudah tidak menanggap kita saudara lagi," goda Pak RT kepada Rian.


"Pasti datang dan di usahakan Pak RT. Selamat ya, Na, kamu bulan depan sudah menuju ke pelaminan," ucap Rian tersenyum memandang Ana. Sementara Ana hanya tersenyum tipis dan menghela napas secara perlahan.


"Kamu juga Rian semoga mendapatkan jodoh, jadi kan nanti kita bisa datang ke Kota," ucap Pak RT kembali.


"Aamiin, Pak RT," Rian tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


_______


Tin..


Tin...


Tiba-tiba terdengar bunyi klakson dan terlihat nampak datang dua mobil terparkir di halaman rumah Bu Viona. Satu mobil sedan dan satu lagi mobil box. Rian pun seperti dihinggapi rasa penasaran dengan seseorang yang memakai mobil sedan yang tengah berada di mobil tersebut karena wanita tersebut nampak memakai mobilnya sang Papa. Terlihat masih samar bayangan yang tengah berada di dalam mobil itu siapa.


Tiba-tiba Desy turun dari dalam mobil tersebut dan nampak Rian terkejut karena nampak Desy yang menjemput Rian dan terlihat sang anak Cantika ikut juga. Sementara yang tengah berada di mobil box adalah supir pribadi sang Papa. Rian pun berpikir dalam hatinya, mungkin sang Papa yang menyuruh Desy untuk menjemputnya.


______


"Papa,,," teriak Cantika dengan memeluk erat tubuh Rian dengan tersenyum lebar.


Rian pun nampak tersenyum lebar dan rasa bahagia pun nampak menghinggapi karena sang anak kembali lagi di pelukannya. Sementara Ana nampak terkejut dengan kedatangan Desy karena sebelumnya dia tahu Desy adalah mantan dari Rian. Terlihat Desy begitu segar tidak seperti baru pertama datang ke kampung, mungkin dia sudah sembuh total dari sakit depresinya.


"Kenapa hatiku tidak karuan dan gelisah. Apakah aku sedang dihinggapi rasa cemburu?" gumam hati Ana batinnya bergejolak tidak karuan.


______


Desy kemudian memeluk Bu Viona dan menyalami satu persatu yang tengah berada disana. Nampak terlihat Bu Viona senang dengan kedatangan Desy.


"Jam berapa disana Des?" tanya Bu Viona dengan menatap Desy penuh rasa rindu.

__ADS_1


Dalam benak Ana berpikir Ibunya Rian sepertinya bahagia dengan kedatangan mantan menantunya itu dan tidak menutup kemungkinan Rian pasti akan bersatu dengan Desy. Ana mendelik pandangannya ke arah Desy dan mencoba mengatur detak jantungnya yang kian tidak terkontrol.


______


"Pak, aku duluan pamit ya, lupa tadi Ibu nyuruh aku belanja ke mini market," bisik Ana kepada sang Bapak yang terlihat gusar.


Sang Bapak mengernyitkan keningnya, dalam hati sang Bapak berpikir, bukannya tadi Ana sebelum datang ke rumah Rian, baru datang dari mini market bersama Ibunya. Sang Bapak seakan ingin mengucapkan hal itu bahwa Ana sebenarnya tadi pagi sebelum datang ke rumah Rian sudah pergi ke mini market. Namun niat itu seakan dia urungkan karena sang Bapak tahu bahwa sang anak tengah dihinggapi rasa cemburu dengan kedatangan Desy.


Ana pamit tanpa tersenyum sedikitpun dan sepertinya dia matanya berkaca-kaca. Pak RT pun nampak pamit dan mengekor dari arah belakang sang anak.


_____


Tiba di rumah Ana.


"Na, kamu itu mau menikah seharusnya bersikap dewasa jangan terus menerus memikirkan Rian karena itu tidak akan maju kedepannya, untuk kamu menjalani pernikahan dengan lelaki pilihan Ibumu," ucap sang Bapak yang baru saja duduk di teras rumah.


Terlihat sang Bapak seperti menahan rasa kesal dan marah karena sedari tadi ketika berada di rumah Rian, Ana hanya cemberut dan ini membuat Pak RT dihinggapi rasa malu oleh tingkah sang anak yang tidak menampakkan sikap ramah.


_____


"Ada apa ini Pak, datang-datang sudah marah-marah," ucap sang Ibu yang tiba-tiba datang dari arah dapur.


"Ini loh Bu, anakmu tadi ketika di rumah Rian cemberut saja. Bapak malu sama Rian dan Ibunya, apalagi ketika mantan Rian datang tambah kesal mungkin dia, karena yang Bapak inginkan adalah Ana bersikap dewasa karena dia akan menikah bulan depan jadi jangan mengharapkan lagi Rian," tegas sang Bapak terlihat kecewa.


______


Sang ibu Kemudian menyabarkan hati sang anak dan mencoba membujuk sang anak agar hatinya gembira dengan mengajaknya pergi jalan-jalan belanja. Tapi terlihat Ana menggelengkan kepalanya.


"Pak, nanti setelah menikah Ana mau di ajak ke Bali oleh suaminya," ucap sang Ibu mencoba agar membuat Ana hatinya gembira.


"Ibu puas, Ana mendapatkan orang kaya?" tanya sang anak dengan suara parau karena menahan tangis.


"Loh, kenapa kamu berbicara seperti itu Na," ucap sang Ibu terlihat gugup.


______


"Sudah, sudah, jangan lagi membicarakan hal yang tidak penting, semua sudah terjadi. Dan kamu Ana, jangan terus-terusan memikirkan Rian, ingat jalan hidup kamu ke depan bersama lelaki yang akan menikahi kamu ke depannya seperti apa." ucap sang Bapak.


Bapak pun pergi berlalu meninggalkan sang anak dan istrinya yang terdengar tidak ada habisnya membicarakan sosok Rian karena ujung-ujungnya terjadi percekcokan dan tidak akan pernah menemukan titik temu.

__ADS_1


"Kamu harus ikhlas Na, dengan perjodohan ini. Semoga kedepannya kamu hidup bahagia dan Ibu percaya kamu akan menemukan kebahagiaan bersama lelaki pilihan Ibu." sang Ibu matanya berkaca-kaca dan mengusap lembut rambut sang anak.


Bersambung...


__ADS_2