
Desy dadanya bergemuruh tatkala melihat Adrian tengah mengecup pipi Lia sang istri, dan mencubit gemas hidungnya. Tidak bisa dipungkiri dulu Desy sangat menaruh hati kepada Adrian namun cintanya di tolak mentah-mentah oleh Adrian dan ini mengakibatkan rasa sakit hati terhadap Desy.
"Mas, malu depan umum jangan terlalu mesra," Lia berbisik pelan kepada sang suaminya tersebut.
"Biasa saja kok, tidak mesra!" jawab Adrian tersenyum renyah.
•••
"Ingat, yaa,,!! Ini di ruangan umum jangan bermesraan," sindir Desy terdengar keras ketika berucap sepertinya dia sedang emosi dan hal tersebut membuat Rian kesal karena Rian berpikir dalam hatinya jika Desy tengah dihinggapi rasa cemburu kepada Adrian. Rian pun tahu jika dulu Desy pernah jatuh hati kepada sosok Adrian.
Rian spontan mencubit tangan Desy.
"Diam,," Rian pun melirik Desy dan melotot.
Sontak Lia dan Adrian menahan tawa tatkala mendengar ucapan sindiran dari Desy.
_________
Entah kenapa rasa cemburu Rian pun terhadap Lia semakin menjadi. Nampak dia mengatur napasnya kemudian memberanikan diri menghampiri Lia dan Rian sementara Desy menunggu diam duduk di mejanya
Ehem...
Rian berdehem dia pun duduk tepat di depan Lia dan menatap Lia dengan lekat.
"Selamat ya, kamu sudah menikah lagi,"ucap Rian tersenyum sinis dan mengulurkan tangannya, sementara Lia hanya tersenyum tipis dan tidak menyambut tangannya Rian. Dia hanya melirik sang suami sementara Adrian terlihat menghela napas secara perlahan.
"Kamu juga selamat Rian akhirnya sudah menikah dengan Desy!" ucap Adrian mengucapkan kata selamat.
"Karena kalian sudah menikah aku ingin menjemput Cantika anakku! Lia, kamu jangan pernah menjauhkan dia dariku," ucap Rian mendelik.
________
Dalam batin Lia berpikir Rian tidak bertanggung jawab terhadap anaknya ngapain juga dia sekarang meminta hak asuh anak dan seakan-akan dia begitu peduli terhadap Cantika.
"Tapi kamu tidak tanggung jawab terhadap anakmu! Ngapain sekarang ingin bertemu," bentak Lia terdengar kesal.
Adrian menggenggam erat jemari tangan sang istri mengisyaratkan jangan tersulut emosi dan jangan terpancing suasana.
•••
"Tenang Lia sekarang kita sudah mapan, Mas Rian sudah punya usaha dan maju. Jangan meremehkan Mas Rian!" sambar Desy tiba-tiba dia datang menghampiri dan duduk berhadapan dengan Adrian.
Desy dadanya bergemuruh dan terlihat salah tingkah tatkala matanya beradu pandang dengan mata Adrian. Lelaki yang dulu sangat dikagumi nya, tatapan Adrian meskipun terlihat menatap sinis terhadapnya namun buat Desy seakan terbuai dan rasa kesal pun kian hinggap karena dulu selalu ada penolakan dari Adrian.
"Jika kalian mau bertemu dengan Cantika silahkan, dan saya sebagai Papa sambungnya tidak melarang juga karena bagaimanapun Rian adalah Papa kandungnya. Saya tidak pernah melarang Lia jika Cantika ingin bertemu dengan kamu Rian!" ucap Adrian.
"Lia, seharusnya kamu jangan pisahkan Mas Rian dengan anaknya!" tetap saja Desy tersulut emosi.
"Des,,,! Lia tidak pernah memisahkan Cantika dari anaknya!" bentak Adrian.
_______
Adrian yang lembut akhirnya terpancing rasa emosinya kepada Desy yang menatap Lia dengan tatapan cemburu dan kesal.
"Mas, kita bawa saja Cantika. Aku kasihan takutnya Mamanya fokus sama suaminya sementara,,,,!" Desy menyindir Lia.
"Jaga mulut kamu Des!!" bentak Adrian terlihat kesal.
"Ayo, Mas, tidak ada guna kita duduk berhadapan dengan orang yang tidak penting lebih baik kita tunggu relasi bisnis kita yang akan minjam uang ke kita!" ejek Desy seakan dia banyak duit dan sekarang menjadi Bos.
________
Desy dan Rian pun setelah menyindir terasa puas dihatinya, dan mereka kembali duduk di tempatnya. Nampak Adrian mengepalkan tangan kemudian Lia mengelus lembut pundak sang suami.
"Mas, sudah jangan di layani mereka kalau di layani sama-sama gila!" Lia mencoba menenangkan hati sang suami.
"Kok, dia begitu ya, sifatnya si Desy jelek banget!" Adrian dengan tatapan tajam mengarah ke Desy yang sedang duduk berdekatan dengan Rian dan membelakanginya.
"Sudah, sudah, Mas,,!" Lia pun seakan geram dengan sifat Desy dan mantan suaminya itu. Tapi Lia masih menahan rasa emosi begitupun dengan Adrian karena mereka tengah berada di permukaan umum.
"Aku jadi penasaran relasi bisnis dia seperti gimana orangnya!" Adrian mencoba menahan emosi.
_________
Ting...
{"Saya, sudah sampai, kamu dimana?"} tanya Hendrik memberikan pesan kepada Adrian
Adrian nampak membalaskan pesan kepada Hendrik. {"Aku duduk dekat di dekat taman,"} balas Adrian.
•••
__ADS_1
Ting...
Yang tengah duduk di hadapan Adrian pun yaitu Rian nampaknya sama sedang sibuk dengan ponselnya.
{"Aku duduk di dekat taman,"} balas Rian ketika sang teman Hendrik menanyakan keberadaan dia dimana.
________
Hendrik keluar dari dalam mobil dan dia pun merapikan bajunya sepertinya dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua temannya itu yang sudah lama tidak bertemu.
Hendrik melangkahkan kakinya ke arah dalam Restoran, dia tersenyum renyah saat di depan pintu masuk sang pelayan tersenyum ramah ke arahnya.
"Selamat datang di Restoran kami, Pak!" sang pelayan begitu ramah dan tersenyum renyah.
Mata Hendrik berselancar ketika memasuki area halaman taman yang letaknya di belakang Restoran. Terasa sejuk Restoran tersebut dan nyaman. Dan mata Hendrik pun lekat ke arah temannya yang dia cari.
"Nah, itu dia mereka," gumam hati Hendrik.
Hendrik pun menyeret langkah kakinya kearah keberadaan dimana Adrian dan Lia berada duduk disana. Sementara Desy dan Rian sedang menuju ke arah toilet.
______
"Hai, Adrian,,!" teriak Hendrik seakan dihinggapi rasa gembira yang begitu sesak karena sudah lama juga tidak bertemu dengan Hendrik dan nampak Hendrik matanya berkaca-kaca karena dia seakan malu dan haru dengan alasan, tidak bertemu tapi Adrian masih percaya meminjamkan uang kepadanya.
Adrian pun seakan tahu hati dan perasaan Hendrik, dia pun memeluk dan menepuk pundak sang teman dengan lembut.
"Sabar, semoga usahamu lancar kedepannya," bisik Adrian.
Hendrik pun tersenyum ramah kepada Lia, kemudian dia duduk. Hendrik nampak matanya mengelilingi ruangan sekitar dalam hatinya berpikir tentang keberadaan Rian dimana.
Adrian nampak melambaikan tangannya kepada sang pelayan Restoran.
"Mau pesan apa Hen!" tanya Adrian kepada Hendrik tatkala sang pelayan tengah berada berdiri di meja mereka.
Nampak Hendrik membuka menu makanan yang tersedia di Restoran tersebut.
"Kopi Espresso!" pesan Hendrik kepada sang pelayan.
Sang pelayan pun nampak menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi.
"Tambah ganteng saja Bos!" goda Hendrik kepada Adrian.
_________
"Des, itu kok Hendrik temanku sedang ngobrol dengan Adrian ya!" Rian yang tengah berjalan kearah mejanya kembali dihinggapi rasa heran dengan keberadaan Hendrik yang tengah ngobrol dengan Adrian terasa begitu hangat.
"Mungkin kebetulan saja Mas, Hendrik kenal dengan Adrian yang penting tujuan kita sekarang bertemu dengan Bos besar yang sudah meminjamkan uang kepada kamu!" jawab Desy.
"Iya juga ya, kita gabung saja duduk disana karena aku enggak enak dengan temanku itu sambil menunggu orang yang kita tuju," jawab Rian. Nampak Rian membuang napas kasar.
______
Ehem...
Rian berdehem tatkala sudah berada tepat di hadapan Hendrik, dan Hendrik pun tersenyum kepada Rian nampak Adrian dan Lia terkejut ternyata Hendrik temannya kenal dengan Rian. Mereka pun tidak menaruh curiga sedikitpun bahwa yang mereka tunggu, dan selama ini Adrian meminjamkan sejumlah uang kepada Rian.
"Silahkan Pak, Kopi Ekspresso nya!" sang pelayan pun datang dan menaruh kopi di meja di hadapan Hendrik. Aroma kopi begitu menyeruak ke penciuman, kemudian Hendrik pun menyeruput kopi tersebut secara perlahan.
Nampak Hendrik menghela napas panjang.
"Rian, kenalkan ini Pak Adrian yang selama ini mensupport usaha kamu dan juga aku," ucap Hendrik menatap lekat ke arah Rian.
DEGH....
Terasa Jantung Rian berdegup kencang, dadanya mulai naik turun karena dihinggapi rasa terkejut yang amat luar biasa tatkala mendengar apa yang di ucapkan oleh Hendrik bahwa yang selama mensupport dia masalah keuangan itu adalah Adrian.
Desy pun nampak dadanya bergemuruh saat tahu bahwa yang mensupport keuangan Rian dan berjalannya Kafe Rian sehingga sampai saat ini menjadi maju adalah Adrian.
Muka Desy dan Rian terlihat merah padam, kedua orang tersebut nampak menetralkan debar jantungnya yang kian menganga.
Begitupun dengan Adrian dan Lia nampak terkejut, ternyata orang yang meminjam uang kepada Adrian untuk usaha adalah Rian. Adrian terlihat menahan tawa dan terlihat tersenyum sinis begitupun dengan Lia. Adrian kesal dengan watak Rian dan Desy ketika tadi karena mereka seakan sombong.
"Oh, jadi ini orangnya yang sudah dibantu oleh kamu, meminjam uang kamu, Sayang!" sindir Lia menatap sang suami dan melirik sinis Rian dan juga Desy.
"Iya, aku enggak menyangka loh, padahal dari tadi kita duduk berdekatan, ternyata Bapak ini yang selama ini,,," sindir Adrian menggantung ucapannya dia seakan tersenyum puas kepada Rian karena mungkin dalam hati Rian dia tidak percaya jika yang meminjamkan sejumlah uang itu adalah Adrian.
"Iya, ini orangnya, dia pengantin baru, hehehe,," Hendrik menatap Rian dan melirik Desy.
_______
Rian terlihat ragu menatap Adrian dan mukay yang masih merah merona. Dengan terpaksa mengulurkan tangannya kearah Adrian. Begitupun dengan Desy. Nampak mereka menundukkan kepalanya dan tersenyum seakan dihinggapi rasa malu yang luar biasa.
__ADS_1
Nampak Rian dan Desy tidak banyak kata yang di lontarkan hanya penuh sesak yang ada di diri mereka masing-masing. Dan hal tersebut menimbulkan rasa heran dan tanda tanya di hati Hendrik karena sebelumnya Hendrik tidak tahu jika mereka ternyata saling kenal sebelumnya.
Rian pun kemudian mengeluarkan amplop berwarna coklat dari dalam tasnya yang berisi uang lalu mengeluarkannya. Dia nampak menyimpan di atas meja.
_______
"Terima kasih Pak Adrian yang sudah meminjamkan modal selama ini," Rian berucap dengan pandangan yang menunduk.
"Iya, Pak, semoga berkah ya usahanya," Adrian pun tersenyum datar.
Nampak Desy seakan ingin sekali beranjak dari tempat duduknya karena sudah dihinggapi rasa resah yang luar biasa. Peluh pun bercucuran. Desy yang terlihat angkuh dan berpikir yang meminjamkan uang itu bukanlah Adrian.
_________
"Maaf, Ibuku menelepon katanya dia sudah ada di rumah jadi kita harus segera pamit," ucap Desy terdengar gugup dan pandangannya mengarah ke Hendrik tidak berani menatap Lia dan Adrian.
Rian pun seakan tahu bahwa istrinya tersebut sedang bersandiwara dengan ucapannya itu.
Rian juga nampak ingin sekali keluar dari zona tidak aman karena ketika dia sedang berada disana seakan tidak nyaman karena dihinggapi rasa bersalah dan malu yang mendera.
Akhirnya Desy dan Adrian pamit dengan dihinggapi rasa yang penuh sesak malu yang menghinggapi.
_______
Adrian melirik sang istri Lia dan nampak mereka tertawa terkekeh tatkala Rian dan Desy sudah tidak ada di tempat tersebut. Adrian pun bercerita kepada Hendrik yang sebenarnya Rian itu siapa, dan kejadian tadi pun dia ceritakan mengenai Desy dan Rian yang terlihat sombong.
Hendrik nampak terkejut.
"Maafkan aku, kalau ternyata kalian ada masalah dengan Rian kalau aku tahu semuanya mungkin aku tidak akan memberikan pinjaman uang modal kepada Rian dari kamu," Hendrik terlihat gelisah raut mukanya rasa sesal tengah menghinggapi hati dan pikirannya.
"Tidak apa-apa Hen, aku kalau menolong orang sama siapa saja ikhlas, dan yang aku sesali hanya mereka sombong saja. Itu saja!" Adrian tersenyum tipis.
"Bu Lia, maafkan aku ya, aku tidak.tahu loh, kalau Rian itu ternyata,,,!" Hendrik pun meminta maafnya kepada Lia.
Lia hanya tersenyum sama seperti sang suami. "Tidak apa-apa, mungkin dia lagi butuh uang dan kita tidak lihat siapa juga yang pinjam uang kita yang penting kita ikhlas saja," jawab Lia.
Setelah satu jam kemudian Hendrik pun dan Adrian nampak berpamitan pulang. Hendrik nampak terlihat dari raut mukanya dihinggapi rasa bersalah padahal.dalam hati Adrian tidak merasa terbebani dengan kejadian barusan.
__________
Di dalam mobil.
"Aku benar-benar tidak nyangka kalau selama ini uangku dipinjamkan kepada Rian!" senyum ejekan dan getir nampak terlihat dari bibir Adrian ketika mengendarai mobil.
"Iya, Mas. Kamu lihat tidak tadi raut Rian dan Desy begitu malunya tapi aku yakin Desy masih ada sifat egoisnya karena dia tidak berani menampakkan mukanya. Tadi dia terus menundukkan mukanya." jawab Lia.
"Kamu ikhlas kan Sayang, kemarin kita meminjamkan uang kepada Rian!?" tanya Adrian kepada sang istri sambil menggenggam erat jemari tangan sang istri.
"Ikhlas kok Mas, tidak apa-apa. Biar yang balas kejelekan mereka kepada kita yang di atas saja. Kita jangan menghakimi mereka tapi pasti ada balasan yang setimpal nunggu saatnya pasti akan tiba." Lia menghela napas panjang.
________
Lia pun seakan memikirkan ucapan dari sang mantan suaminya itu Rian ketika tadi, dia berucap ingin bertemu dengan Cantika.
"Mas, tadi Rian ingin bertemu dengan Cantika. Apa aku harus pertemukan dia sementara selama ini dia tidak bertanggung jawab terhadap anaknya," ucap Lia.
"Semoga Rian di bukakan hatinya, kalau menurutku tidak apa-apa kalau Rian ingin bertemu anaknya biar Teh Sumi (ART) yang menemani karena mereka sudah dekat kan baik dengan Cantika atau pun Rian," ucap Adrian.
"Ya, semoga saja dia bisa rubah ya, sifatnya," Lia pun mengucap syukur dalam hatinya karena sekarang mempunyai suami yang pengertian dan baik.
"Kamu tahu enggak, ternyata Bos-nya Anita itu adalah Rian. Jadi yang selama ini kita bicarakan Kafe yang sedang ramai itu adalah Kafe milik Rian," ucap Adrian.
"Kamu tahu dari mana Mas!?" tanya sang istri .
"Kemarin Rian ke rumah ketemu dengan Tante Shila untuk mengambil kunci kantor yang dibawa oleh Anita," jawab Adrian.
Lia nampak diam seakan malas untuk menanggapi kembali.
"Syukurlah kalau begitu semoga dia mau tanggung jawab terhadap anaknya," gumam hati Lia.
________
Ting...
Tiba-tiba pesan berbunyi dari ponselnya milik Lia dan nampak dilayar ponsel nomor tidak dikenal.
{"Lia, ini aku Adrian! Kamu jangan puas dulu Lia, dengan apa yang kamu miliki sekarang ini! Jujur aku merasa di permalukan dengan kejadian barusan ternyata aku meminjam uang kepada orang yang salah yaitu suami kamu! Kalau tahu yang meminjamkan uang itu adalah suami kamu mungkin aku tidak sudi meminjam uang itu kepada suami kamu!"} tulis pesan dari Adrian membuat Lia mengernyitkan dahinya.
Lia seakan tidak mengerti dengan apa cara berpikir dari mantan suami itu, seharusnya Rian berterima kasih atas semuanya karena selama ini Rian telah di support oleh Adrian dengan masalah keuangan untuk modal usahanya.
Bersambung...
__ADS_1