Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 167 Bu Viona khawatir


__ADS_3

Rian nampak sedang bingung karena Kafe miliknya sepi pengunjung dan Dea pun nampak keluar kerja di Kafe miliknya Rian.


Rian pun dihinggapi rasa gelisah dan nampak murung karena uang yang dia punya sudah tidak ada lagi. Rian pun berniat ingin menyimpan sertifikat Kafenya karena dia


membutuhkan uang modal yang cukup besar.


Dia pun menghubungi temannya yang kerja di bagian peminjaman uang dan Rian pun nampak sedang menunggu kedatangan temannya yang mau datang ke Kafenya tersebut.


Itu pun Rian terlebih dahulu minta saran dari Ibunya tapi kenyataannya Bu Viona malah menyarankan Rian agar meminta pinjaman uang modal terhadap Desy namun Rian menolaknya.


Rian berdalih udah terlalu banyak Desy memberikan dia uang.


"Aku sebenarnya malu karena aku berselingkuh dengan Citra, mana mungkin aku meminjam uang kembali dengan Desy. Aku pun sekarang sampai saat ini gengsi kalau untuk menjemput Desy ke rumahnya," gumam hati Rian.


_________


Drett...Drett...Drett...


Telepon pun berbunyi dari ponselnya milik Rian ketika dia sedang melamun memikirkan Kafenya yang sedang bangkrut. Rian pun mengangkat ponselnya tersebut dan nampak di layar ponsel yang menelepon adalah sang Ibu.


{"Rian, kamu jemput Desy dan setelah itu kamu bisa pinjam uang sama Desy atau Papanya!"} ucap Bu Viona di sambungan teleponnya.


{"Tidak mungkin Bu, untuk saat ini Rian tidak mau bertemu dengan Desy,"} jawab Rian


{"kenapa!? Itu kan Desy istri kamu, kamu jangan mempermalukan ibumu!"} sang Ibu terlihat dihinggapi rasa kesal.


{"Pokoknya Rian enggak mau dulu bertemu dengan Desy,"} Rian teguh dengan pendiriannya


{"Dasar keras kepala! Kenapa kamu masih terikat dengan pelakor itu!,"} sang Ibu terdengar kesal dengan penolakan Rian untuk pergi ke rumah Desy agar menjemputnya pulang.


{"Yang menjalani biduk rumah tangga adalah Rian jadi Ibu tidak berhak mengatur Rian."} jawab sang anak.


________


Sontak Bu viona dihinggapi rasa kesal dan kecewa dengan apa yang di ucapkan oleh anaknya tersebut


{"Rian,,,!! Sejak kapan kamu membantah perkataan Ibu? Terus kamu mau minta sama siapa untuk modal Kafe kamu kalau bukan sama Desy! Tidak mungkin kamu meminta pinjam kepada si pelakor itu karena dia juga duitnya kemarin masih di pinjam duit Desy melalui perantara kamu,"} ucap sang Ibu terdengar marah.


{"Rian mau pinjam uang kepada teman dengan menyimpan sertifikat Kafe biar uangnya gede,"} ucap Rian tegas.


{"Jangan, kamu jangan simpan sertifikat Kafe takutnya cicilannya besar dan kamu tidak mampu membayarnya nanti yang ada Kafe kamu kena sita,"} ucap Bu Viona seakan khawatir jika sang anak meminjam uang dengan jaminan sertifikat.


{"Kenapa Ibu seakan merendahkan dan tidak percaya terhadap Rian?"} tanya sang anak terlihat kecewa karena Ibunya tidak mempercayai dirinya.


{"Bukan merendahkan atau tidak percaya tapi khawatir,"} jawab sang Ibu.


{"Ya, sudah Bu, ini ada teman Rian datang,"} ucap sang anak terdengar dihinggapi rasa kesal ketika berucap. Sambungan pun terputus dan nampak Bu Viona dihinggapi rasa kesal.

__ADS_1


_______


Temannya Rian datang.


"Halo, Rian gimana kabarnya!" ucap sang teman yang bernama Anton yang sekarang kerja di sebuah perusahaan peminjaman dana itu. Anton terlihat datang berdua bersama teman kantornya


Rian nampak tersenyum ramah kepada Anton dan temannya tersebut, meskipun pikirannya sedang dihinggapi rasa gelisah karena banyak pikiran.


•••


Singkat cerita Rian pun berlalu masuk ke dalam ruangan kerjanya dan mengambil sertifikat Kafenya di dalam laci lemari.


Kemudian dia menandatangani beberapa berkas yang telah di sepakati untuk peminjaman uang.


______


"Besok, langsung pencarian ya. Mau di temani istri atau Ibumu?" tanya Anton.


"Aku sendiri saja datang ke kantormu," jawab Rian dihinggapi rasa gembira karena prosesnya cukup gampang dan tidak ribet.


Anton dan temannya kemudian pamit pulang.


•••


Tiba-tiba tanpa di duga Citra sudah berada di Kafe Rian dari setengah jam yang lalu dan nampak dia sedari tadi duduk di kursi taman Kafe yang keberadaannya di luar.


Rian pun seakan menyadari keberadaan Citra datang kesana untuk menagih janjinya, sebelumnya Rian berjanji akan meminjamkan kembali uang kepada Citra.


"Aku belum ada uang Cit," ucap Rian.


"Tidak apa-apa Mas Rian, aku datang kesini hanya ingin bertemu dengan kamu saja, aku rindu saja ingin melihat wajahmu," ucap Citra kembali tersenyum menggoda kepada Rian.


Rian tidak menyadari bahwa sebenarnya Citra tengah merayu dirinya agar Rian mau memberikan uang pinjaman modal kepadanya yang kemarin sempat di ambil lagi uangnya oleh Desy.


"Mungkin besok baru cair uangnya," ucap Rian. Karena Citra sebelumnya sudah tahu bahwa yang memberikan ide Rian untuk peminjaman uang adalah dirinya.


"Syukurlah kalau begitu," Citra menggenggam erat jemari tangan Rian, nampak Rian terlihat salah tingkah dibuatnya.


"Gimana kalau malam ini kita habiskan malam berdua sebagai tanda besok kamu akan mendapatkan uang dan Kafe ini akan kembali hidup karena ada dukungan dari aku nantinya," ucap Citra tersenyum licik.


Rian yang sedang banyak pikiran akhirnya termakan bujuk rayu Citra.


"Malam ini kita pergi ke suatu tempat agar kita bisa saling menumpahkan rasa tidak nyaman karena kita sedang mempunyai masalah masing-masing. Biar aku malam ini yang bayar semua," bisik Citra lekat ke kuping Rian terdengar manja.


Entah mengapa Rian pun menganggukkan kepalanya pertanda dia menyetujui ajakan dari Citra.


________

__ADS_1


Keesokan harinya.


Rian nampak sudah berada di kantor Anton untuk melakukan pencairan.


"Uangnya sudah masuk ke rekening Pak Rian ya, sebesar 700 juta, semoga Kafe nya berjalan lancar kedepannya dan semoga Pak Rian lancar untuk membayar pinjaman modal kepada kantor kami," ucap Pak Bambang teman dari Anton.


Rian tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Anton karena dia telah membantunya.


Setelah mendapatkan uang tersebut Rian nampak memasuki mobil dan disana sudah nampak Citra. Melihat Rian memasuki mobil dengan senyum sumringah Citra pun menyambutnya dengan hangat dan tersenyum lebar.


•••


"Sudah cair ya, Mas, uangnya," ucap Citra bergelayut manja kepada Rian.


"Kamu perlu berapa Cit, untuk menambah modal kamu!?" tanya Rian.


"Aku butuh 200 juta saja Mas," Citra mengusap lembut pipi Rian seakan sedang merayu.


"Baik, aku akan transfer sekarang," ucap Rian.


Rian pun merogoh ponselnya dan menekan aplikasi M-Banking dan disana sudah terlihat uang masuk ke rekeningnya sebesar 700 juta dan kemudian Rian men-transfer 200 juta kepada Citra


Ting ..


Suara pesan muncul dari ponsel Citra.


"Terima kasih Sayang," Citra tersenyum lebar nampaknya dia terlihat senang sekali karena uang yang dia inginkan sebesar 200 juta telah masuk ke rekeningnya.


"Kamu usahanya yang lancar Cit, biar segera balikin uang itu sama aku. Hehehe,," goda Rian kepada Citra yang sedang menatap ponselnya dengan wajah sumringah.


"Kirain uangnya buat aku Mas," sindir Citra.


"Pakai saja dulu Cit, kamu jangan tergesa-gesa untuk membayarnya yang penting usaha kamu lancar dulu," ucap Rian seakan membuat Citra dihinggapi rasa gembira karena uang yang di berikan oleh Rian sekarang itu adalah uang Rian walau uang pinjaman, bukan uang Desy yang seperti kemarin yang mengakibatkan Citra kemarin mengembalikannya uang kembali kepada Desy.


"Akhirnya kamu terjerat sama aku Rian, aku yakin uang yang kamu berikan sama aku, itu akan jadi milikku dan aku tidak perlu membayarnya," gumam hati Citra.


_______


Ting .


Pesan muncul dari ponsel Rian.


{"Rian, pinjaman kamu kepada teman berapa ratus juta? Awas ya, kalau kamu meminjamkan sebagian uang tersebut kepada Citra,"} tulis pesan Bu Viona.


Rian hanya membaca pesan tersebut tanpa membalasnya. Dan dengan cepat dia memasukkan ponselnya kedalam tas.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2