
Rian gelisah.
Rian nampak gelisah, dia termenung seakan memikirkan sesuatu hal yang berat dan ini mengakibatkan Ibu Viona dihinggapi rasa khawatir terhadap sang anak. Dan baru saja Ibu Viona dan Rian pulang dari Rumah Sakit karena akibat kecelakaan itu.
Bu Viona nampak tangannya belum sembuh total tangannya masih memakai penyangga, dia pun masih harus kontrol ke Rumah Sakit.
"Nak, kenapa! Apa yang kamu pikirkan?" tanya sang Ibu menatap lekat ke arah sang anak. Kondisi Rian pun nampak belum pulih dengan keadaan badannya akibat kepalanya terbentur setir mobil.
______
Nampak Rian memijit kepalanya yang terasa pusing dan beban dalam hidupnya seakan begitu terus-menerus hinggap dalam dirinya.
Rian tetap tidak menjawab pertanyaan dari sang Ibu, dia hanya diam dan beberapa kali menghela napas secara perlahan. Seakan ingin memperlihatkan kepada Ibunya semua baik-baik saja.
"Mbak, ambilkan obat dan minumnya untuk Rian!" teriak sang Ibu kepada sang ART.
Sang Ibu mengira Rian pusing dan malas untuk ambil obat.
________
Tiba-tiba sang ART pun datang dengan jalan tergopoh-gopoh dan membawa obat juga segelas air putih.
"Minum Nak, obatnya. Kamu pusing kan!" sang Ibu kemudian memberikan obat dan segelas air putih hangat kepada sang anak yang dia sayangi seperti anak kecil.
"Enggak Bu, Rian enggak mau minum obat. Sudah minum obat kok, tadi," jawabnya lirih.
"Loh, lalu kamu kenapa? kayak orang yang lagi pusing," ucap sang Ibu karena Rian memijit-mijit kepalanya seakan dihinggapi rasa pusing yang teramat.
Rian menatap muka kedua bola mata sang Ibu, dia pun seakan ragu ketika ingin bercerita masalah perusahaannya yang mengalami kebangkrutan dan ini mengakibatkan Rian sudah tidak bekerja lagi di perusahaan tersebut. Nampak Rian pun membuang napas kasar beberapa kali.
______
Sang Ibu pun kembali dibuat heran oleh sikap Rian karena anaknya tersebut terlihat sedang memikirkan masalah yang begitu rumit dan berat.
__ADS_1
"Nak, sebenarnya ada apa? Cerita sama ibu atau kamu memikirkan Desy yang tidak jadi kamu nikahi!?" tanya sang ibu. Rian pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Lalu apa Nak!? Jangan buat Ibu penasaran cerita saja. Ada apa, siapa tahu dengan kamu bercerita kepada ibu masalah akan sedikit bisa di atasi." sang Ibu seakan memaksa Rian untuk berbicara.
"Perusahaan Rian, Bu!" ucapnya singkat.
"Perusahaan kamu kenapa!?" tanya sang Ibu.
"Kamu naik jabatan?" sambung Ibu kembali nampak terlihat raut muka sang Ibu sumringah. Dia berpikir Rian naik jabatan tapi karena Rian sedang sakit jadi Rian tidak bisa fokus untuk saat ini jika bekerja.
Degh ..
Rian seakan sedih tatkala sang ibu terlalu berharap lebih dengan mengatakan Rian naik jabatan. Padahal yang sesungguhnya Rian ingin mengatakan bahwa dia sudah tidak bekerja dan perusahaannya itu mengalami kebangkrutan.
______
Nampak mata Rian berkaca-kaca karena dia belum bisa membahagiakan sang Ibu sampai saat ini. Dulu ketika dia masih hidup dengan Lia, dia hanya sibuk dengan selingkuhannya yang sudah berselingkuh dua kali dengan Citra dan Desy, dan setelah bercerai dengan Lia, Rian pun belum bisa membahagiakan Sang Ibu karena Rian terlalu dibayangi sosok Desy dan waktu terpakai hanya untuk Desy bukan dengan sang Ibu.
"Bu, maafkan Rian karena sampai saat ini belum bisa membahagiakan Ibu. Rian pun memeluk sang ibu dengan erat.
"Ada apa Nak? Sebenarnya ada apa sih, coba ceritakan sama ibu," sang Ibu terus menerus mendesak Rian agar berterus terang.
"Perusahaan Rian bangkrut dan Rian mulai besok tidak lagi bekerja," suara Rian parau dan dia pun sesenggukan menangis.
Bu Viona sontak terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh sang anak, dia seakan tidak percaya dengan pernyataan sang anak.
"A-Apa, yang di ucapkan kamu benar, Nak!?" tanya sang Ibu terlihat gugup.
"Iya, Bu, dan Rian tidak tahu harus bekerja dimana untuk kedepannya, Rian sudah menghubungi Hendrik teman dekat di kantor agar bisa membantu Rian untuk mendapatkan pekerjaan kembali tapi hasilnya nihil. Kalau Rian minta pekerjaan kepada Papa, Rian enggak mau!" ucapnya.
_______
Nampak sang Ibu menghela napas panjang.
__ADS_1
"Kamu buka usaha saja Rian, kalau menurut Ibu mending rumah kamu jual lumayan untuk modal. Kan memang niat dari dulu setelah cerai dari Lia rumah tersebut akan dijual. Kamu lebih baik tinggal disini temani Ibu, kalaupun kamu nikah dengan Desy kamu nanti bisa tinggal disini atau di rumah Desy, kan dia punya rumah sendiri," ucap Bu Viona.
Rian terdiam sejenak dia pun seakan enggan menghubungi Desy. karena beberapa hari ini dia pun tidak mau menghubungi Desy dulu karena pikirannya sedang kacau.
"Atau kamu sudah tidak ada komunikasi lagi dengan Desy!? setelah kalian gagal akan menikah." sang Ibu seakan mengkhawatirkan hal itu.
"Iya, Bu, kami beberapa hari ini tidak ada komunikasi," jawab Rian
"Rian, maafkan Ibu ya, karena biaya pengobatan di Rumah Sakit begitu besar, jadi uang yang akan kamu pakai rencana untuk pernikahan kamu dan Desy terpakai oleh Ibu." ucap sang Ibu.
Pengobatan tiga orang di Rumah Sakit yang lumayan begitu besar ditanggung oleh Rian semuanya, dan Rian saat itu memakai dulu uang untuk biaya pernikahan.
"Enggak apa-apa Bu, Rian mengerti kok, uang Ibu kemarin kena tipu," Rian seakan Iba terhadap sang Ibu karena sang Ibu ketika berada di Rumah Sakit kena tipu.
Bisnis yang dia kelola bersama temannya hancur dan uangnya tidak kembali padahal uang tersebut sengaja dia sembunyikan dari sang suami, jadi sang suami tidak mengetahui dia punya bisnis, tapi nyatanya malah kena tipu.
"Ya, Rian kalau menurut Ibu jual saja rumahmu dan kebetulan teman Ibu mau jual Kafe cukup sederhana tempatnya dan dia ingin kalau Ibu yang beli Kafe tersebut. Gampang kalau cari karyawan teman ibu yang akan carikan. Dan kamu juga tidak perlu khawatir karena Bu Laras teman Ibu yang dari Jakarta akan membeli rumahmu jika kamu mau, dia kebetulan lagi nyari rumah untuk anaknya yang baru saja nikah," ucap sang Ibu kembali mencoba menerangkan secara detail.
_______
Rian pun nampak terlihat tidak mau ambil keputusan dengan cepat, dia perlu waktu berpikir untuk memutuskan semuanya.
"Mungkin Rian akan memikirkan semuanya dulu Bu, karena ini masalah besar,' jawabnya.
"Maksud kamu masalah besar? Rumah tersebut kalau sudah dijual kamu akan bagi dua, kepada mantan kamu atau anak kamu begitu!?" tanya ibu Viona seakan dihinggapi rasa takut jika penjualan rumah tersebut diberikan sebagian kepada Lia atau Cantika, anaknya Rian.
"Menurut Ibu!? Rian jangan memberikan uang hasil penjualan rumah tersebut kepada Cantika atau Lia?" Rian balik bertanya.
"Ya, untuk apa kamu bagi, sementara kamu lagi kekurangan sementara Lia kaya! Dia hidupnya sudah makmur," sindir Bu Viona.
Rian pun seakan terpengaruh oleh omongan Bu Viona bahwa hasil dari penjualan rumah yang dulu ditempati oleh dia beserta anak dan sang istri tidak akan diberikan sepeser pun kepada mantan istri dan anaknya.
"Rian lelah Bu, Rian mau istirahat dulu," ucapnya. Rian pun berlalu memasuki kamarnya.
__ADS_1
Bersambung...