
Setengah jam kemudian.
Nampak sang kakak sedang menunggu balasan dari sang adik yang menanyakan keberadaan sang cucu sedang dimana. Namun semua sia-sia saja karena balasan pesan yang ditunggu oleh sang adik belum juga ada. Karena dihinggapi rasa kesal dan amarah yang terpendam sang Kakak pun mencoba menelepon sang adik.
Beberapa kali sang kakak menelepon sang adik namun tidak ada jawaban disana dan ini mengakibatkan rasa kesal yang teramat dari sang Nenek yang menunggu keberadaan sang cucu sedang dimana.
{"Restu, kamu sebagai adik harus sopan dan menghargai kakakmu. Tolong angkat teleponnya! Saya khawatir dengan cucu saya!"} tulis pesan sang kakak.
______
Mungkin bukan rasa khawatir yang menghinggapi hati sang kakak namun rasa kesal terhadap sang adik karena pesan dan sambungan teleponnya tidak di respon. Kalau kata rasa khawatir rasanya tidak ada di benak sang kakak karena dengan melihat foto gambar sang cucu yang sedang asik di kolam renang pun itu membuktikan sang cucu merasa nyaman dengan senyuman yang merekah seakan sedang dihinggapi taburan bunga dihatinya.
Nampak Rian melirik ke arah kaca spion nampak Rian pun seakan mengerti dengan kondisi sang mantan Ibu mertuanya yang kini tengah dihinggapi rasa gelisah karena memikirkan sang cucu yang tengah dibawa oleh Tante Restu.
Sang ibu pun kemudian mencoba memberikan pesan kepada Lia, sang anak dan menyuruhnya untuk menelepon sang adik yaitu Restu. Kegundahan hatinya dia ungkapkan semua kepada sang anak bahwa Cantika tengah dibawa oleh sang adik dan sang adik tidak ada kabar.
____
Ting...
Beberapa menit kemudian pesan balasan muncul dari Lia yang mengatakan bahwa dia sudah membicarakan semuanya kepada Adrian, sang suami dan jawaban dari sang suami ternyata jauh dari apa yang dipikirkan oleh sang Ibu. Adrian sebagai Papa sambung atau menantunya, hanya berucap bahwa tidak mengkhawatirkan Cantika jika dia dibawa oleh Tante Restu karena Tante Restu adalah adik dari Ibu mertuanya.
"Sama saja pemikiran Adrian dan supirku ini, sama-sama tidak mengkhawatirkan cucuku yang dibawa oleh Restu," gumam hati sang Ibu dihinggapi rasa kecewa yang teramat dalam kepada kedua lelaki tersebut.
_______
__ADS_1
{"Terus kamu juga tidak mengkhawatirkan anakmu. Maksud kamu begitu Lia!?"} terlihat ketika menulis pesan tersebut sang ibu mukanya dihinggapi rasa kecewa.
Sang Ibu nampak kesal kemudian dia pun memasukkan ponselnya kedalam tasnya. Nampak terlihat dia mengurut bagian keningnya yang terasa masih merasa nyeri.
"Bu, mau beli obat dulu ke apotek. Obat pereda sakit agar nyeri di pelipis Ibu berkurang dan benjolannya tidak membesar," ucap Rian.
Rian ternyata masih peduli dengan sang mantan Ibu mertuanya, meskipun dia dibenci oleh sang Ibu. Dan hal tersebut membuat sang mantan Ibu mertuanya terlihat sedikit luluh dengan apa yang di tawarkan oleh Rian untuk ke apotek beli obat pereda rasa nyeri.
Tidak bisa dipungkiri dulu sebelum semuanya berakhir luka. Rian adalah sosok menantu yang sangat perhatian terhadap sang Ibu mertua meskipun sang Ibu mertua sibuk dan jarang mengunjungi rumahnya. Terlihat sang Ibu mertua hanya bisa mengelus dada dengan apa yang semua terjadi.
Semua ada plus minusnya, Adrian yang nampak setia terhadap istri namun jarang memberikan kabar dan untuk bertemu pun susah karena dia sangat sibuk. Lain halnya dengan sang mantan menantunya yaitu Rian, dia nampak sangat memerhatikan sangat detail kepada sang Ibu mertua, tapi ternyata dia berkhianat kepada Lia sang anak.
•••
Ternyata ketika tadi sang mantan Ibu mertua tengah asik melamun karena sang Ibu tidak menjawab tawaran Rian untuk mampir ke apotek padahal mobilnya tengah berada di parkiran tempat apotek, Rian terlihat turun dari dalam mobil dan berlalu pergi ke apotek untuk membeli obat.
_______
"Bu, ini obatnya minum," Rian memberikan obat kepada sang mantan Ibu mertuanya itu. Sontak sang Ibu terlihat kaget dengan apa yang sudah di lakukan Rian, ternyata Rian begitu perhatian terhadap dirinya.
Sang Ibu pun melihat harga dari obat tersebut ternyata lumayan mahal, dia pun berpikir harus mengganti uang tersebut kemudian dia mengambil dompet yang berada di dalam tasnya lalu mengambil 5 lembar uang berwarna merah dan di berikannya kepada Rian untuk mengganti resep obat yang sudah dibeli oleh Rian.
"Enggak Bu, itu buat Ibu dan Rian iklhas kok, sebagai menebus rasa bersalah Rian kepada Ibu karena Rian ceroboh tadi ketika mengemudikan mobil yang mengakibatkan Ibu kepalanya tersungkur ke kursi," ucap Rian.
Rian merasa bersalah karena dia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi dan itu pun di suruh oleh sang Ibu mertua karena buru-buru ingin melihat sang cucu di rumah Tante Restu.
__ADS_1
______
"Enggak, aku enggak mau menerima obat ini kalau kamu tidak menerima uangnya," ucap sang Ibu seakan memaksa Rian untuk mengambil uang tersebut.
"Bu, tidak apa-apa kalau uang itu buat jajan Cantika anakku dan aku nitip ke Ibu tolong berikan dan bilang dari Papa Rian. Mungkin tidak seberapa uang yang diberikan Rian jika dibandingkan dengan uang yang diberikan oleh Lia atau Adrian Papa sambungnya. Tapi Rian ikhlas memberikannya, dan jika Ibu mau menerima uang tersebut dan disampaikan kepada Cantika, anak Rian. Sungguh Rian sangat bersyukur dan mengucapkan rasa banyak terima kasih kepada Ibu," ucap Rian dengan mata yang berkaca-kaca.
•••
Dalam benaknya Rian ingin sekali membahagiakan sang anak yang dulu pernah dia lakukan, dengan jalan-jalan keluar negeri, membeli pakaian, jalan-jalan ke Mall dan Bioskop, tapi apa daya sekarang keadaan Rian sedang terpuruk atau tidak mampu melakukan itu semua.
Akhirnya sang Ibu memasukkan uang tersebut kembali kedalam dompetnya dan niat dia mau memberikannya kepada sang cucu. Walau menurut sang Ibu uang tersebut jumlahnya sangat kecil mungkin baginya uang segitu hanya cukup untuk sekali makan di Restoran.
"Aku salut sama kamu Rian dengan kegigihan kamu seakan ingin menebus kesalahan yang telah kamu lakukan dulu. Tapi entah mengapa aku sangat kecewa dan masih menyimpan rasa dendam kepada kamu. Jadi pintu hatiku untuk kamu masih tertutup untuk memaafkan," gumam hati sang Ibu dengan menghela napas panjang.
_____
Tiba di tujuan
Nampak sang Ibu turun dari dalam mobil kemudian berlalu dari arah Rian menuju satu tempat dimana dia akan bertemu dengan relasi bisnisnya.
"Bu, obatnya belum diminum!" teriak Rian dengan membuka kaca mobil kemudian dia pun turun dari dalam mobil dan menghampiri sang Ibu.
Nampak sang Ibu merasa di perhatikan oleh sang mantan menantunya itu, tapi tetap keras kepala dan sang Ibu tidak bisa merubah semuanya. Dia mengambil obat tersebut dari genggaman tangan Rian namun kata terima kasih tidak keluar dari bibirnya dan hanya tersenyum tipis itupun seakan ada keterpaksaan. Kemudian sang Ibu pun dengan cepat berlalu dari hadapan Rian.
Bersambung...
__ADS_1