
"Lia bagaimana kalau kita segera nikah saja!?" tanya Adrian seakan berharap Lia mau menikah dengannya secepatnya.
"Tapi Mas, bukannya Papa enggak setuju dengan pernikahan kita!" jawab Lia seakan. ragu dengan keputusan Adrian yang memintanya untuk menikah dengan cepat.
"Enggak apa-apa Lia yang menjalani pernikahan kita bukan Papa, tapi kita berdua," ucap Adrian kembali.
"Apa enggak terlalu cepat kita menikah Mas!?" tanya Lia kembali di sambungan teleponnya terdengar begitu kaget.
"Karena aku cemburu mantan suami kamu Rian selalu datang berkunjung ke rumah, mungkin dengan kita menikah dia tidak akan datang lagi untuk berkunjung ke rumahmu." ucap Adrian.
"Tapi aku perlu waktu Mas, aku harus bicara dulu dengan keluarga besar aku." jawab Lia.
"Yasudah lebih cepat lebih baik dan memang sebaiknya kamu bicarakan rencana baik kita kepada kedua orang tua dan keluarga besar kamu Lia," ucap Adian begitu berharap agar Lia mau menerima ajakan pernikahan darinya.
_______
Sambungan telepon pun ditutup oleh Adrian dan nampak oleh ekor mata Adrian terlihat ada yang mengintip ketika dia berbicara disambungkan teleponnya. Adrian pun dengan cepat matanya mengarah ke seseorang yang tengah memperhatikan dia yang sedang menelepon sedari tadi.
"Mama,,," ucap Adrian gugup.
"Jadi kamu ingin memaksakan pernikahan ini dengan Lia walau Papa kamu tidak setuju!?" tanya sang Mama yang sedari tadi mendengar pembicaraan sang anak.
"Mama kapan masuk ke kamar Adrian, tahu-tahu ada di disini," ucap Adrian gugup dia pun dihinggapi rasa heran karena tiba-tiba sang Mama sedang mematung di pinggir lemari dekat pintu kamar masuk.
"Pintu kamar kamu tidak di tutup terbuka lebar jadi Mama masuk saja, tadinya Mama mau kasih tahu Mama mau keluar sebentar sama teman kuliah Mama dulu Tante Sani, cuma karena kamu sedang menelepon jadi Mama tunggu kamu beres nelpon saja," ucap sang Mama.
"Mama kayaknya mendengar semua obrolan aku dengan Lia!?" gumam hati Adrian.
Tapi Adrian seakan tidak peduli dengan hal itu karena sang Mama sudah tahu bahwa dia sangat mencintai Lia meskipun Adrian ada rencana menikah lebih capat.
"Jadi Mama mau di antar Adrian gitu!?" tanya sang anak.
"Enggak Nak, nanti teman Mama mau jemput kesini dia mau ajak kita makan di sebuah Restoran dan disana juga ada beberapa orang teman kuliah lain yang ingin bertemu Mama," ucap sang Mama.
"Wah Mama hebat ternyata banyak yang mau ketemu sama Mama," sindir sang anak.
"Iya Nak, Mama dulu primadona kampus loh," ucap sang Mama tertawa terkekeh.
"Iya, Mah, Adrian percaya kok, pasti Mama primadona kampus, Mama kan cantik dan pintar," goda sang anak.
_______
Tiba-tiba terdengar bunyi klakson dari luar pagar halaman rumah .
"Nah itu pasti Tante Sani, Mama pergi dulu ya Nak," ucap sang Mama pamit.
"Papa kemana Mah?" tanya Adrian.
"Pergi sebentar keluar ketemu temannya, awas kamu jangan bertemu dulu dengan Lia. ikuti dulu apa yang di sampaikan oleh Papamu biar dia tidak kecewa," ucap sang Mama seakan memberitahu lagi anaknya untuk tidak bertemu dulu dengan Lia karena situasi sedang tidak kondusif.
"Iya, Mah enggak apa-apa, tidak ketemu tidak jadi soal kok, Adrian bisa Video call atau dengar suaranya di telepon," ucapnya.
"Ya terserah gimana baiknya kamu kalau itu," ucap sang Mama.
__ADS_1
"Mah, Papa masih marah kayaknya ya, sama Adrian?" tanya Adrian.
"Iya, sama Mama juga gak nanya dia uring-uringan, Mama jadi kesal juga." ucap sang Mama terlihat kesal dan cemberut.
"Ya, sudah Mah, cari hiburan saja diluar ketemu teman biar pikiran rileks tidak kaku," ucap Adrian.
_______
Mama Silvi pun keluar dari kamar sang anak lalu dia keluar dari halaman rumah dan menghampiri mobil sahabatnya Sani yang sudah menunggu di luar pagar rumahnya.
"Hai, Silvi cantik sekali, memang ya, dari dulu kamu itu enggak pernah rubah dari segi penampilan terlihat modis dan selalu enak dipandang," ucap Sani terlihat kagum tatkala melihat sang sahabat yang masih kelihatan muda dan cantik itu.
Mereka pun bersalaman dan mencium pipi kiri dan kanan.
______
Nampak di dalam mobil mereka terlihat bahagia dan canda tawa pun seakan membuyarkan hati Silvi yang sedang di dihinggapi rasa beban masalah yang tengah dihadapi di dalam rumah.
Silvi menceritakan semua yang terjadi persoalan yang tengah dihadapi yang menimpa sang anak dan suaminya yang tengah berseteru. Dan sekarang dia terbawa imbasnya sang suami jadi terlihat dingin dan komunikasi pun jarang terjadi.
"Jadi suamimu uring-uringan!?" tanya Sani.
"Iya, San, padahal aku kurang gimana sudah sabar dan tidak menyela suami tapi dia tidak bisa memahami istri," ucap Silvi lirih.
"Ya, sudah kita kan sekarang mau ketemu teman-teman kamu jangan menampakkan muka sedih, kamu harus terlihat gembira, karena kalau menampakkan muka sedih entar teman-teman kita mereka malah curiga lagi," ucap Sani tersenyum renyah seakan mencoba menghibur hati sang teman yang sedang dihinggapi dilema.
Mama Silvi mencoba menenangkan hatinya dengan membuang napas kasar, dan mencoba menghilangkan dulu persoalan yang tengah terjadi di dalam rumahnya.
______
Ternyata teman lain sudah ada disana, tidak banyak hanya ada 10 orang saja yang tengah berada disana.
"Silvi,,!" teriak Reno yang bertubuh gemuk dan dia orangnya dari dulu suka usil dan terlihat suka melucu jadi kalau ada Reno keadaan menjadi rame dan kocak.
"Hai, Reno badanmu tetap subur seperti dulu," ejek Silvi tertawa lebar.
_____
Silvi pun bola matanya berselancar melirik satu persatu ke arah teman-temannya yang datang lalu bersalaman, nampak ada satu teman lelakinya yang sedang membelakanginya dengan posisi berdiri karena dia sedang menerima telepon cukup serius jadi kedatangan kedua temannya pun dia tidak menyadarinya.
Setelah selesai menelepon dan sambungan teleponnya ditutup lalu lelaki tersebut kembali membalikkan badannya. Seketika raut wajah lelaki tersebut sumringah dan tersenyum lebar ke arah Silvi.
"Silvi,,,kamu tetap seperti dulu tidak berubah cantik dan awet muda," ucap lelaki tersebut yang tidak lain adalah Yosi (Papanya Rian).
Ehem,,,,!
Sani terdengar berdehem tatkala Yosi tengah memuji sahabatnya itu. Yosi pun tersipu malu karena teman-temannya pun tengah menggoda dirinya yang sedang menatap Silvi begitu lekat.
"Inget yang di rumah Bang!" ucap Reno tertawa terkekeh.
Yosi pun mengulurkan tangannya kearah Silvi, dan Silvi pun tersenyum ramah kepada Yosi lalu mereka bersalaman.
Entah mengapa nampak terlihat dari gestur tubuhnya Yosi begitu salah tingkah ketika tiap beradu pandang dengan Silvi. Dan hal tersebut tidak menimbulkan rasa curiga dalam diri hati Sani karena dia sudah tahu bahwa Yosi dari satu minggu yang lalu sudah meminta nomor telepon Silvi kepadanya.
__ADS_1
Namun niat untuk menelepon kepada Silvi, diurungkan oleh Yosi karena dia pun takut jika Silvi tengah sibuk dengan keluarganya.
______
"Yos, kamu salah tingkah, jangan-jangan kamu masih menyimpan rasa sama Silvi!?" tanya Sani lekat ke kuping Yosi yang tengah memandangi Silvi, dan Silvi tengah asik melihat ulah Reno dengan tertawa lebar karena Reno mampu melumerkan suasana.
Yosi menganggukkan kepalanya.
"Ya, aku suka dengan dia, nampak terlihat seperti dulu dia masih terlihat cantik dan dari cara bicaranya aku suka dia nampak pintar," ucap Yosi lekat pandangannya arah Silvi.
"Awas, kamu jangan main api ya!" bentak Sani mencubit perut Yosi.
"Kalau iya main api gimana!?" canda Yosi.
"Keluarga kamu akan hancur," jawab Sani matanya melotot ke arah Yosi dan Yosi hanya tertawa lebar ketika Sani matanya melotot kearahnya.
Silvi seakan menyadari bahwa dia sedang di perhatikan oleh Yosi karena terlihat oleh ekor matanya itu.
"Yosi masih tetap seperti dulu wajahnya tampan, dan jelalatan matanya kalau lihat aku," gumam hati Silvi.
_____
Tiga jam sudah mereka melepaskan rasa rindunya dengan mengenang cerita semasa kuliah dulu dan menumpahkan cerita sekarang, kebahagiaan bersama keluarga masing-masing.
Satu persatu pun pamit pulang dan di Restoran tersebut tinggal tersisa Silvi, Sani dan Yosi. Mereka bertiga pun berbicara terlihat serius.
"Bagaimana hubunganmu bersama keluarga?!" tanya Sani kepada Yosi, Sani pun seakan tahu masalah yang tengah dihadapi oleh keluarganya Yosi karena nampak terlihat dari raut mukanya yang begitu kusut.
"Aku sedang banyak problem San, pikiranku sekarang tidak tenang," ucapnya.
Sontak Sani dan Silvi saling berpandangan.
"Aku sedang tidak berkomunikasi dengan istriku, dan anakku baru saja cerai," ucap Yosi kembali dengan menghela napas secara perlahan.
"Kenapa kamu tidak berkomunikasi dengan istrimu, mungkin kamu selingkuh!" sindir Sani sambil tertawa terkekeh.
"Ya, aku saat itu menikah kembali dan istri mudaku sekarang sedang di rehabilitasi," ucapnya. Tidak ada yang ditutupi dari Yosi semua dia ceritakan karena mungkin sudah tidak ada lagi yang dia percaya hanya pada Sani dan Silvi yang mampu menjadi pendengar setia.
____
"Viona istrimu jadi kurang perhatian dan kamu menikah dengan Dini!?" tanya Sani.
"Apa tidak sebaiknya merubah sifat istri dan memperlakukan dia dengan baik dari pada menikah kembali," ucap Silvi dengan pandangan menunduk karena takut menyinggung perasaan lawan bicara.
"Nah, ini yang aku suka dia dari dulu kalau berbicara mengena' dan selalu menunduk pandangannya karena takut menyinggung perasaan lawan bicara," gumam.hati.Yosi.
"Sudah, semua sudah aku lakukan dengan bicara lembut, ya,,,mungkin memang wataknya cerewet dan satu lagi dia suka nyalahin orang dan berbohong itu yang aku enggak suka darinya. Sebenarnya bukan aku saja yang tidak nyaman anak dan mantan menantuku pun tidak nyaman dengan dia." ucap Yosi kembali.
"Mantan menantu kamu masih orang sini juga? Dan kamu sudah punya cucu berapa Yos!?" tanya Sani.
"Ya, dia orang Bandung juga, padahal dia lembut dan tidak banyak kata.Tapi entahlah mengapa Viona sangat membenci menantunya itu," ucap Yosi seakan kembali mengingat sosok mantan menantunya Lia yang begitu baik dan tidak banyak kata.
"Nah kalau menantu kamu baik kenapa dia cerai dari anakmu!? Aku jadi penasaran mungkin anakmu berselingkuh ya!?" ejek Sani dengan tertawa terkekeh.
__ADS_1
"Ya, itu salah anakku dia berselingkuh, jadi mantan menantuku menggugat cerai anakku. Padahal menantuku baik dan tidak macam-macam, dia juga dekat dengan istri mudaku. Tapi semenjak adanya perceraian mantan menantuku Jadi tidak baik hubungannya dengan istri mudaku. Seandainya kalau hubungan istri mudaku dengan menantuku baik, mungkin Dini akan lebih cepat sembuh karena mantan menantuku pandai membawa hati suasana, karena penyakit istriku kan kena gangguan mental jadi harus ada orang yang support dan mengerti hati dia saat ini," ucap Yosi menghela napas panjang.
Bersambung...