Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 178 Pertemuan Lia dan Tante Dini


__ADS_3

Lia dan Tante Dini akhirnya mereka mampir ke sebuah rumah makan. Dan disana nampak mereka menumpahkan rasa rindu. Tangan Tante Dini tidak henti memegang tangan Lia dan sesekali memeluk Lia.


Nampak Papanya Rian pun tersenyum bahagia karena beberapa minggu lalu ketika kepergian Rian, sang istri pernah bercerita dia rindu dengan sosok Lia dan sekarang semuanya terwujud. Tante Dini terlaksana bertemu dengan Lia.


"Aku bahagia sekali akhirnya bisa terwujud juga keinginan Dini untuk bisa bertemu dengan Lia. Terima kasih ya Allah," gumam hati Papanya Rian.


________


Nampak di rumah makan itu, mereka memesan beberapa makanan dan minuman.


"Rian waktu bulan kemarin datang ke rumah, dan dia mau meminjam uang kepada Papanya, tapi Papanya tidak memberikan. Padahal tadinya Tante mau kasih pinjam karena Tante kasihan sama dia," ucap Tante Dini memulai obrolan.


"Iya lah, dia pinjamnya dengan jumlah besar terus uang yang dia pakai untuk bersenang-senang dengan wanita. Jadi mana mungkin Papa kasih," ucap sang Papa terlihat kesal dan kecewa dengan kelakuan sang anaknya tersebut.


"Memangnya untuk apa Om?" tanya Adrian dihinggapi rasa penasaran.


"Katanya Kafenya mau di sita dan mungkin sekarang Kafenya sudah kena sita!" jawab sang Papa.


________


DEGH...


Nampak Lia dan Adrian saling berpandangan mereka seakan berkata dalam hatinya masing-masing bahwa sebenarnya Kafe tersebut telah di miliki oleh Lia dan Adrian.


"Semoga Rian kedepannya akan mendapatkan kerja atau usaha yang baru," ucap Adrian tersenyum tipis.


Adrian dan Papanya Rian nampak serius membicarakan masalah bisnis yang kini di jalani oleh Adrian. Sedangkan Tante Dini tengah menggoda Bayi Lia yang nampak bangun dari tidurnya dan matanya terlihat terbuka dengan lebar.


_______


"Lia, apa kamu pernah ketemu dengan Bu Viona!?" tanya Tante Dini secara perlahan lekat ke kuping Lia.


"Pernah Tan, dan waktu itu kita berantem, hehehe,,," ucap Lia mengenang pertemuannya dengan Bu Viona di sebuah supermarket.


"Papanya Rian sudah cerai dengan Bu Viona," ucap kembali Tante Dini dengan perlahan karena takut obrolannya di dengar oleh sang suami yang tengah asik berbicara dengan Adrian.


•••


Sontak Lia terkejut karena dia baru mengetahuinya jika Papanya Rian sebenarnya sudah cerai dengan Tante Dini.


Dan nampak Lia pun seakan sudah menduga kalau perceraian Bu Viona dan Papanya Rian pasti akan terjadi karena dulu pun ketika Lia saat menjadi menantunya percekcokan selalu terjadi diantara mertuanya itu.


Apalagi Bu Viona yang notabene sifatnya selalu marah-marah seakan buat tidak nyaman sang suami. Dan Tante Dini yang bersifat lembut dan dewasa mampu menaklukkan hati Papanya Rian.


"Mungkin keadaan Viona saat ini sedang jatuh dalam masalah finansial. Kemarin Tante sudah bicara sama Papanya Rian agar membantu Viona dan Rian tapi dia melarang dan Tante alasannya tidak tahu. Tante padahal ingin membantunya," bisik kembali sang Tante sambil melirik sang suami.


"Tan, sebenarnya Kafe Rian itu, alhamdulilah dibelinya sama suami Lia," ucap Lia tersipu malu.


"Apa,,!" Tante Dini nampak terbelalak matanya dia seakan tidak percaya mendengar apa yang diucapkan oleh Lia.


"Iya, Tan," Lia berbisik pelan.


"Alhamdulillah kalau begitu, Tante senang dengarnya," ucap sang Tante terlihat dihinggapi rasa gembira.


"Kapan-kapan nanti Tante main ke tempat Kafe Lia ya," ucap Lia.


"Tentu Lia, pasti nanti main kesana," jawab sang Tante.

__ADS_1


________


"Lia dengar-dengar rumah Rian dijual ya, dan ternyata yang membeli rumah itu adalah kamu juga. Papa heran loh, sampai berpikir lama saat itu sama Tante Dini. Kok bisa secara kebetulan ya," ucap Papanya Rian.


"Mungkin sudah jodoh," ucap Lia tertawa terkekeh.


"Sebenarnya Kafe Rian yang kena sita juga sekarang dibelinya oleh suaminya Lia, Pah!" ucap Tante Dini dengan spontan sambil melirik ke arah sang suami.


"Wah, apa betul yang di ucapkan oleh Tante Dini itu Lia," mata sang Papa terbelalak seakan tidak percaya.


"Iya, Pah alhamdulilah," ucap Lia dengan pandangan tertunduk dan tersipu malu.


•••


"Apakah benar Rian tidak memberikan haknya kepada Cantika anaknya. Intinya uang penjualan rumah tidak diberikan sedikitpun dari Rian kepada anaknya!?" tanya sang Tante.


Nampak Lia menatap Adrian, dia pun seakan ragu untuk berucap.


"Iya sih, Tan, tapi enggak apa-apa mungkin Rian sedang butuh uang saat itu, dan uangnya ketika itu untuk beli Kafe dan keadaan dia tidak bekerja,' Adrian seakan membantu jawaban dan dia berusaha tidak memojokkan Rian.


"Tapi Papa menyesal dengan sikap Rian itu," ucap sang Papa.


______


Sang Papa nampak mendekati sang istri dan dia pun berbisik kepada Tante Dini, dan Tante Dini menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Lia, nomor rekening kamu masih yang dulu?" ucap sang Tante.


Lia menganggukkan kepalanya.


"Iya, Tan," jawabnya.


•••


"Lia, itu uang dari Kakeknya Cantika sebesar 100 juta terima ya, lumayan untuk beli keperluan sekolah, dan Tante harap kamu mau menerimanya. Nanti kalau ada rezeki lagi Tante kasih lagi," ucap Tante Dini.


Sontak Lia terkejut dengan jumlah uang yang diberikan oleh Tante Dini yang begitu besar nominalnya jika untuk keperluan anak sekolah.


"Tan, rasanya terlalu besar dan Lia malu untuk menerimanya," ucap Lia


"Enggak apa-apa Lia anggap saja itu sebagai rasa bersalah Tante dan Papanya Rian karena Rian saat itu tidak memberikan uang kepada Cantika anaknya," ucap Tante Dini.


"Tan, jadi merepotkan," ucap Adrian.


"Terima saja Nak Adrian dan Tante minta maaf ya, tidak beri banyak uangnya," ucap Tante Dini yang sedang memiliki uang berlimpah karena hasil warisan dari kedua orang tuanya.


"Terima kasih Tan," ucap Lia tersipu malu.


"Tante kangen ingin bertemu dengan Cantika, boleh Tante besok ketemu anakmu Lia, dan Tante kangen untuk bawa dia jalan-jalan seperti dulu lagi pergi bersama kamu ke Singapura," ucap sang Tante.


•••


Tante Dini kembali mengenang masa-masa itu, saat dia bersama Lia dan Cantika pergi ke Singapura. Terasa indah kebersamaan itu dan seakan Tante Dini ingin mengulang kembali masa-masa itu. Tapi apa daya semua hanya angan belaka karena posisi Lia saat ini sudah menjadi nyonya Adrian yang kepergiannya terbatas.


Setelah mereka melepas rasa rindu lalu Lia dan Adrian pun pamit pulang dan Tante Dini seakan tidak rela untuk melepas momen kebersamaan dengan Lia akan hilang.


________

__ADS_1


Di dalam mobil.


"Pah, aku iba dengan anakmu Rian. Bagaimana kalau kita berikan pinjaman modal," ucap Tante Dini kepada sang suami saat di dalam mobil menuju pulang.


"Tidak Mah, meskipun itu uang kamu, aku tidak akan mengijinkan jika kamu memberikan uang pinjaman kepada Rian," ucap sang suami.


"Aku kasihan saja sama anakmu dan sekarang kan Ibunya Rian sudah jarang bisnis jadi mungkin uangnya tidak sebanyak dulu," ucap Tante Dini.


"Sudah Mah, mereka percuma di pinjamkan modal yang ada entar uangnya habis bukan untuk modal lebih baik uangnya dikasih cucuku saja," ucap sang suami.


Nampak Tante Dini pun diam tidak bergeming sedikitpun, tadinya Tante Dini hanya ingin membantu kondisi keadaan keuangan Rian dan Ibunya atau mantan istri dari suaminya tersebut.


________


Ting...


Tiba-tiba bunyi pesan muncul dari ponselnya Tante dini dan nampak yang mengirimkan pesan tidak muncul namanya.


{"Dini, besok aku tunggu kamu di Kafe Jingga, aku ingin membalaskan dendam sama kamu yang belum terbalaskan,"} nampak Tante Dini mengernyitkan dahinya dalam benaknya berpikir, siapakah yang mengirimkan pesan tersebut. Tante Dini nampak terlihat dihinggapi rasa penasaran.


"Ada apa Mah?" tanya sang suami.


"Ada yang memberikan pesan tapi nomor baru dan tidak memberitahukan namanya siapa," ucap Tante Dini.


"Memang isi pesannya apa?" tanya sang suami.


"Katanya besok di tunggu di Kafe Jingga," ucap Tante Dini.


"Sudahlah jangan dihiraukan, paling salah sambung," sang suami seakan tidak memperdulikan hal itu.


{"Dasar pelakor! Bilang sama suami kamu, anaknya sedang sakit karena mikirin Kafenya yang kena sita,"} kembali pesan muncul.


Tante Dini nampak tersenyum sinis dan dia pun berpikir bahwa yang mengirimkan pesan tersebut adalah Bu Viona atau mantan istri suaminya.


"Aku tahu Pah, yang mengirimkan pesan itu adalah mantan istri kamu," ucap Tante Dini.


Kemudian Tante Dini pun memperlihatkan isi pesan tersebut kepada sang suami dan nampak sang suami pun sana seperti sang istri dia seakan malas untuk menanggapi pesan dari mantan istrinya itu.


"Sudah abaikan saja Mah, Viona hanya ingin menggertak kamu saja," ucap sang suami.


"Ini sudah yang kedua kalinya loh, dia mengancam," ucap Tante Dini.


_________


Dia pun mencoba bersikap tenang dan tidak mau terpengaruh dengan ancaman yang ditulis oleh Bu Viona.


"Ngapain ketemu dia, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sama Viona tapi kalau benar Rian sakit pasti dia akan mengabari aku. Dan jika Rian tidak ada kabar berarti itu hanya akal busuk Viona saja." ucap sang suami mencoba menjelaskan.


Dalam lubuk hati Tante Dini yang paling dalam sebenarnya dulu dia ingin sekali berpisah dari Papanya Rian namun Papanya Rian seakan tidak mau kehilangan dirinya dan memaksa Tante Dini untuk menikah dengannya.


Alasan yang di ucapkan oleh Papanya Rian saat itu adalah sudah tidak nyaman lagi dengan sang istri.


"Pah, aku selalu dibayangi istrimu memang disini aku salah karena telah merebut kamu dari istrimu tapi saat itu aku rela melepaskan kamu untuk kembali dengan istrimu namun saat itu kamu memaksa aku agar aku bisa menikah denganmu." ucap Tante Dini.


"Ya, Mah, aku sangat mencintaimu dan aku merasa tidak nyaman dengan Viona karena dia keras kepala dan susah di atur," jawab sang suami.


"Sudahlah Mah, jangan ungkit lagi masa lalu yang penting sekarang kita hadapi masa depan dan meskipun aku dilanjutkan pernikahan bersama istriku tetap saja akan tidak akur tetap terjadi percekcokan yang terus bergulir." ucap sang suami.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2