Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 225 Kedatangan Sang Papa


__ADS_3

Setelah kejadian antara Bu Viona dan Bu RT terjadi percekcokan di antara mereka. Entah mengapa warung dari Bu Viona sepi. Terlihat sang Ibu dan Rian pun nampak dihinggapi rasa khawatir karena barang dagangan di warungnya terlihat numpuk jarang ada yang beli. Biasanya seminggu tiga kali mereka pergi ke pasar. Sekarang sudah satu bulan mereka tidak ke pasar lagi untuk belanja.


DRETT...


DRETT...


DRETT..


Suara bunyi telepon dari ponsel Rian nampak nyaring terdengar seakan mengagetkan Rian yang sedang melamun di dalam warungnya yang nampak sepi pembeli. Di layar ponsel


terlihat sang Papa menelepon dan Rian pun dengan cepat mengangkat bunyi telepon tersebut.


{"Rian kata Ibumu warung sepi ya?"} tanya sang Papa di sambungan teleponnya.


{"Iya, Pah,"} jawab Rian terdengar oleh sang Papa sangat kecewa dan sedih.


{"Sudah kamu pindah saja kesini, Papa kan sudah bilang ada rumah kosong dan kebetulan Papa ada bisnis yang keteter jadi gak ada partner. Menurut Papa, kamu cocok untuk menjadi partner Papa,"} bujuk sang Papa kepada anak semata wayangnya itu.


_______


Rian hanya diam seakan sulit untuk memutuskan. Dalam hatinya berpikir dia tidak mau menyusahkan lagi orang-orang sekitarnya, tapi ini adalah sang Papa yang dengan rela menawarkannya.


{"Ayo, Rian, semangat karena kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya,"} kembali sang Papa memberikan motivasi.


Rian hanya menghela napas panjang, dia pun seakan memikirkan tawaran dari sang Papa untuk pindah kembali ke Kota yang menurutnya banyak liku dan masalah yang bertubi-tubi dan bayangan rumah kebakaran dan usahanya yang hancur kian menghinggapi. Rian terdengar terisak tangis di sambungan teleponnya, sang Papa pun mencoba lagi mengambil hati sang anak dengan memberikan semangat kembali.


______


{"Jangan sedih, percuma kalau meratapi itu semua. Kamu enggak akan maju Rian. Tunjukkan kepada Dunia kamu mau bangkit kembali!"} sang Papa memberi semangat kembali kepada anaknya itu.


{"Rian akan pikirkan,"} hanya itu yang bisa Rian ucapkan kepada sang Papa.


{"Pokoknya kamu harus pindah dan Papa tunggu secepatnya. Jika kamu sudah berubah pikiran mau pindah kesini kabari Papa, biar supir yang jemput,"} ucap sang Papa seakan memaksa sang anak agar segera pindah rumah. Sambungan telepon pun akhirnya terputus.


______


Terlihat sang Ibu sedang melihat Rian yang terlihat sedih ketika selesai menerima teleponnya dan sang Ibu dihinggapi rasa penasaran lalu sang Ibu pun menghampiri dan mengusap rambut Rian dengan penuh rasa sayang.


"Sabar Nak," ucap sang Ibu.


"Barusan Papa telpon dan dia mengajak kita agar segera pindah ke Kota kembali," ucap Rian dengan suara parau.


Sang Ibu hanya menghela napas panjang, dia pun seakan berpikir lama jika dia pindah lagi ke Kota karena banyak hal yang menurutnya menyimpan luka dan rasa tidak percaya diri.


Nanti dia akan kembali menjalani hidup dengan perihnya dan persaingan di Kota yang cukup membuatnya menguji mentalnya.


Belum lagi jika dia tinggal di Kota,.rumah yang akan di tempati adalah rumah Tante Dini meskipun rumah tersebut sudah diberikan sama Papanya Rian. Tidak bisa di pungkiri rasa malu masih hinggap meraja dalam hati dan pikirannya.

__ADS_1


______


"Gimana Bu, kenapa Ibu tidak mau!?" tanya kembali Rian menatap lekat kepada sang Ibu dengan tatapan yang penuh arti.


"Bukan tidak mau, tapi itu rumah milik Tante Dini," jawabnya lirih seakan ketika berucap pun terasa berat.


"Iya itu rumah Tante Dini tapi kalau kita dihinggapi rasa egois terus tidak akan maju. Rian juga sebenarnya tidak mau pindah ke Kota lagi karena banyak menyimpan kenangan luka tapi mau bagaiaman lagi Bu," Rian membuang napas kasar.


______


TING....


Tiba-tiba pesan masuk ke ponselnya Rian, dan terlihat Tante Dini memberikan sebuah pesan. Disana tertulis sang Tante mencoba meyakinkan hati Rian, agar dia mau balik lagi ke Kota dan memulai semuanya dari nol dan Tante Dini akan membantu semuanya.


{"Bilang juga sama Ibumu, tidak perlu khawatir soal rumah yang nanti akan di tempati kalian. Tante dan Papamu sudah ikhlas kok, akan Tante berikan kepada kalian,"}tulis pesan sang Tante memberikan sebuah alasan.


Rian pun nampak memperlihatkan pesan tersebut kepada sang Ibu dan sang Ibu hanya diam setelah membaca pesan tersebut.


_____


Keesokan harinya.


Pagi sekali terlihat mobil sedan warna hitam terparkir di halaman rumah Rian dan nampak sang Ibu terkejut tatkala baru saja membuka warungnya dengan kedatangan mobil yang tengah berada di halaman rumahnya tersebut.


"Loh, mobil siapa itu!" dalam hatinya penuh tanya dengan kedatangan mobil tersebut.


Bu Viona pun nampak memasuki rumahnya dan dia berlalu ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi dan nampak Rian setelah selesai subuh tadi dia tertidur lagi. Biasanya Rian setelah subuh duduk manis di depan warung tapi karena warungnya sepi saat ini jadi dia pun seakan malas untuk menjaganya.


______


TOKK...


TOKK...


TOKK...


Pintu di ketuk beberapa kali oleh tamu yang datang dan sang tamu pun nampak melirik ke arah warung dan terlihat tidak ada yang beli datang ke warung tersebut.


"Sepi ya, Pah, tidak ada pembeli," ucap wanita tersebut.


"Tapi sebelumnya warung ini ramai apalagi kalau pagi," jawab sang lelaki.


CEKLEK...


Tiba-tiba pintu terbuka dengan lebar nampak dengan memakai baju daster dan wajahnya seakan tidak segar lagi karena tidak lagi perawatan ke salon terlihat membuka pintu. Dia adalah Bu Viona yang beda jauh dengan wanita yang kini tengah duduk di hadapannya dengan muka yang terlihat segar dan tersenyum ramah.


DEGH...

__ADS_1


Sontak Bu Viona dihinggapi rasa malu saat sepasang matanya bertatapan langsung dengan kedua bola mata wanita yang kini tengah berada di hadapannya itu.


"Bu Viona, sehat!" Tante Dini memeluk erat dan matanya berkaca-kaca.


"Ma-masuk! Kenapa kalian tidak kasih kabar dulu kalau mau datang kesini," ucap Bu Viona terlihat gugup dan dihinggapi rasa malu.


______


Bu Viona seakan dihinggapi rasa malu dan juga gugup tatkala penampilan dirinya sangat berubah ketika dia hidup di Kota. Sementara di hadapannya sekarang ada mantan suami dan istrinya atau ketika dulu wanita tersebut adalah istri kedua dari suaminya. Tidak bisa dipungkiri ada rasa malu dan tidak percaya diri menghinggapi hati dan pikiran Bu Viona karena dirinya terlihat tidak segar dan terlihat kurang merawat diri.


"Kejutan buat Rian, habis kalian di suruh pindah ke Kota mikirnya lama banget jadi jawabannya mungkin saya yang harus meyakinkan datang kesini," jawab Papanya Rian atau mantan dari Bu Viona tersebut.


______


Mereka pun nampak berlalu ke dalam rumah dan sang Ibu dengan cepat memasuki kamar Rian dan membangunkan Rian. Bu Viona terlihat menggoyangkan tubuh Rian.


"Nak, bangun ada Papa dan Tante Dini datang," ucap sang Ibu lekat ke kuping Rian.


Antara berada di alam mimpi atau nyata tatkala sang Ibu berbicara karena Rian pun tengah bermimpi bertemu dengan sang Papa saat tidur.


Arghhhhhh..


Rian menggeliatkan badannya nampak badannya terasa lelah dan pikirannya cape, Rian mengucek matanya dan secara perlahan membuka matanya.


______


"Papa, kenapa tidak kasih kabar mau kesini?" tanya Rian dihinggapi rasa penasaran.


"Iya, Nak, katanya buat kejutan untuk kamu," jawab sang Ibu tersenyum.


Rian pun nampak dengan cepat dia bangun lalu meneguk dulu air minum yang berada di atas meja yang posisinya tepat di pinggir ranjangnya itu.


"Sudah lama Papa datang,?" tanya Rian kembali.


"Baru saja kok, ayo, temui mereka," jawab sang Ibu. Sang Ibu pun berlalu keluar dari kamar Rian.


______


Beberapa menit kemudian.


"Gimana sih, masa lelaki jam segini masih tidur," sindir sang Papa dengan memeluk Rian ketika Rian baru saja menghampiri sang Papa. Rian pun menyalami Tante Dini yang terlihat tertawa terkekeh dengan sindiran yang tengah di ucapkan oleh sang suaminya kepada anak sambungnya itu.


"Rian begadang semalam, jadi mungkin ngantuk selesai subuh," jawab Bu Viona yang tiba-tiba datang dengan membawa 4 cangkir teh hangat dan beberapa makanan.


"Kenapa begadang, apa yang dipikirin lagi Rian! Rumah udah di sediakan, kerjaan tinggal ikut sama Papa mau apa lagi?" sindir sang Papa menatap lekat ke arah sang anak.


Rian hanya tersenyum tipis dan menundukkan pandangannya. Dia pun seakan tahu maksud dari sang Papa datang ke rumah bersama Tante Dini adalah untuk mengajaknya ke Kota.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2