
Pertemuan pun terjadi antara orang tua Adrian dan orang tuanya Lia di sebuah Restoran. Mereka tidak menyadari bahwa kedua anaknya tengah menjalin cinta.
Nampak Mamanya Adrian menyambut Ibunya Lia dengan ramah dan muka sumringah begitupun dengan Pak Steven yang terlihat ramah menyambut kedatangan teman baru yaitu Bapaknya Lia dan istrinya.
Obrolan mengalir begitu terasa akrab dan para istri pun nampak terlihat memberikan nomor ponsel masing-masing, rencana mereka pun akan menjalin bisnis berdua.
______
"Jadi kita sama-sama mempunyai anak satu ya," ucap Pak Steven.
"Iya, kalau saya cucu baru 1, dan masih duduk di bangku kelas 2 SD," ucap Bapaknya Lia.
"Saya anak belum menikah Pak, mungkin belum ada yang cocok," ucap Pak Steven.
"Mungkin belum waktunya dapat jodoh nanti juga kalau Allah sudah berkehendak jodohnya pasti akan datang yang terbaik," sambung Mama Silvi, Mamanya Adrian.
"Iya, betul Bu, jodoh kita tidak ada yang tahu ya, anakku juga dia gagal berumah tangga, dan dia sekarang hidup sendiri. Alhamdulillah tapi dia tidak pernah membebani orang tua karena dia juga punya bisnis dengan Tantenya," ucap Ibunya Lia.
"Dalam berumah tangga selalu ada aja godaannya, tapi itu proses kita untuk lebih dewasa dalam menyikapi masalah ke depan, saya salut dengan anak Ibu yang bisa mandiri setelah berpisah dengan suaminya," ucap Mama Silvi.
"Cucunya baru 1 Bu?" tanya Papa Steven kepada Ibunya Lia.
"Iya, baru 1 Pak," jawab Ibunya Lia.
"Saya juga sebenarnya ingin anak saya menikah agar saya bisa cepat dapat cucu," Pak Steven berkhayal seandainya dia cepat punya cucu.
"Sabar Pak Steven nanti saatnya juga akan tiba," jawab Papanya Lia.
_______
Obrolan serius dan hangat berbaur menjadi satu, nampak mereka pun hanyut dalam waktu, tak terasa 3 jam sudah mereka lewati.
Mereka pun akhirnya pamit untuk pulang, nampak kedua wanita tersebut menyiratkan rona bahagia karena pertemuan yang mereka rasa dianggap begitu sempurna dan terjalin sangat akrab.
_______
Papa Steven dan Mama Silvi pun memasuki mobil setelah berpamitan dengan tamu tersebut. Perjalanan di tempuh selama setengah jam. Di dalam mobil mereka bercerita kembali tentang pertemuannya barusan.
"Pah, aku senang bertemu dengan istrinya teman Papa barusan," ucap Mama Silvi.
"Iya, Mah, mereka hangat dan cepat akrab, kayaknya istrinya teman Papa itu dia jago berbisnis. Nah, Mama join saja bisnis dengan dia , tadi dia bilang anaknya juga bisnis juga ya, nanti Mama bisa sekalian kenalan dengan anaknya, bagaimana cara berbisnis agar lancar dan banyak pembelinya," ucap Papa Steven terdengar antusias.
______
__ADS_1
Tiba di rumah.
Nampak Adrian sedang duduk di teras rumah rasanya dia sudah tidak sabar menunggu kedatangan sang orang tua untuk mendengar pertemuan mereka dengan kedua orang tuanya Lia.
Dan orang tua Adrian pun tidak menyadari bahwa mereka padahal baru saja bertemu dengan kedua orang tua Lia.
"Gimana Mah, pertemuan dengan klien Papa, Mama senang enggak?" tanya Adrian.
Sang Mama tersenyum lebar dia pun duduk di teras rumah sementara sang Papa berlalu ke dalam kamar.
______
"Senang Nak, istrinya itu loh, dia sangat akrab dan Mama mau join dengan bisnisnya. Dia punya anak perempuan katanya, dan anaknya nanti mau ajarin Mama cara memasarkan barang seperti apa," ucap sang Mama.
Adrian nampak menghela napas secara perlahan, dia rasanya ingin cepat bicara kepada sang Mama bahwa anak yang dimaksud itu adalah Lia, tapi Adrian seakan bingung akan memulai dari mana untuk berucap.
"Mah,,,!" ucapnya peluh pun bercucuran.
"Kenapa Nak?" jawab Mama Silvi.
Sang Mama terlihat heran dengan gestur tubuh sang anak, dan terlihat Adrian salah tingkah.
"Sebenarnya anak teman Mama yang di maksud itu, Adrian tahu," ucapnya lirih
"Maksud kamu apa, Nak! Kamu kenal dengan anak rekan bisnisnya Papa?" tanya sang Mama.
"Syukurlah kalau kamu kenal berarti semakin erat tali silaturahmi kita," sang Mama tersenyum nampak dia belum paham dengan apa yang di ucapkan oleh Adrian.
"Semoga dengan jalan ini, Mama, terutama Papa dengan segera mempercepat hubungan Adrian dengannya," ucap Adrian.
_____'
Mama Silvi tampak mengernyitkan dahi, dia seakan tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh sang anak.
"Maksud kamu apa sih, Nak?" tanya sang Mama.
Adrian kemudian memegang jemari tangan sang Mama kemudian menciumnya, lalu dia memeluk sang Mama dan berbisik lekat ke kuping sang Mama.
"Mah, sebenarnya anaknya teman Papa yang barusan bertemu dengan Mama dan Papa itu adalah Lia," ucap Rian terdengar bergetar ketika berucap.
_____
Dengan cepat sang Mama melepas pelukan sang anak, nampak Mama terlihat terkejut tatkala mendengar ucapan dari sang anak bahwa anak yang di maksud teman Papanya itu adalah Lia
__ADS_1
"Adrian mohon, kalau Mama sudah merasa dekat dan menilai baik terhadap kedua orang tua Lia, Mama yakinkan kembali Papa agar Adrian bisa bersatu dengan Lia. Mama bisa nilai keluarga Lia bukan dari keturunan sembarangan, Lia sama dengan kita kalau di ukur masalah finansial. Dia keluarga berada, dan yang paling penting keluarga Lia baik dan cepat akrab tidak sombong, Bapaknya Lia pun seseorang yang rajin beramal peduli dengan sesama. Jadi Papa jangan egois karena masalah status. Belum tentu Adrian mendapatkan lajang sifat dan karakter pasangan Adrian dan keluarganya sama dengan Lia dan keluarganya," ucap Adrian dengan genangan air mata yang nampak dari kelopak matanya.
_____'
Sang Mama pun mengusap lembut pundak sang anak. Dan menganggukkan kepalanya. Mama nampak menghela napas panjang, dia pun berlalu dari hadapan sang anak. Dalam diri sang Mama berpikir kali ini dia harus bisa meyakinkan hati sang suami agar bisa menyatukan cinta anaknya kepada pujaan hatinya yaitu Lia.
______
Mama Silvi nampak mematung di depan kamarnya, Dia terlihat bingung ketika hendak mengetuk pintu. Mama Silvi berpikir dalam hatinya dia harus kuat dan harus bisa meyakinkan kembali sang suami agar bisa menerima Lia menjadi menantunya.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka lebar dan nampak Papa Steven sedang menatap layar Televisi sambil menikmati kopi panasnya.
Kemudian Mama Silvi secara perlahan menyeret langkah kakinya mendekati sang suami. Papa Steven pun membuka lebar tangannya terlihat ingin memeluk sang istri. Mama Silvi pun menyambutnya dengan senyuman renyah kemudian dia memeluk sang suami dengan erat.
"Pah, Mama bangga menjadi istri Papa alasannya karena selama ini Papa selalu memanjakan Mama, apa yang Mama mau selalu di belikan oleh Papa, terima kasih untuk semuanya," sang istri pun mencium kening sang suami.
"Papa juga mengucapkan terima kasih kepada Mama yang selalu setia menemani Papa dalam mengarungi rumah tangga yang terkadang Papa bersifat egois kepada Mama," Papa Steven pun membalas ciuman sang istri.
"Hari ini Mama sangat senang bertemu dengan temannya Papa apalagi istrinya, dia terlihat sangat baik, dan itu berpengaruh kepada dia cara mendidik anaknya seperti apa. Mungkin anaknya juga berbudi pekerti dan berakhlak mulia sama seperti kedua orang tuanya," ucap sang Mama.
"Ya, Mah, kan, ada istilahnya! Buah jatuh tak jauh dari pohonnya adanya kemiripan sikap, perilaku, dan pola pikir antara orang tua dan sang anak," ucap sang Papa.
"Pah, tahu enggak anaknya temannya Papa itu siapa namanya?" tanya sang Mama.
"Nah, Mama kan yang tadi intens ngobrol dengan istrinya teman Papa itu, jadi Papa enggak tahu. Memangnya Mama lupa nanya nama anaknya itu siapa?" tanya sang Papa mengusap lembut rambut sang istri.
"Namanya Lia! Ya, Lia, wanita yang tengah dekat dengan anak kita!" ucap sang Mama.
_______
Degh...
Terdengar bunyi detak jantung begitu cepat nampak terdengar oleh Mama Silvi, karena Mama Silvi sedang memeluk erat sang suami dan kupingnya lekat ke dada sang suami.
Sang suami nampak dihinggapi rasa terkejut dan terlihat mau melepaskan pelukan erat dari istri, dia seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh sang istri.
Tapi Mama Silvi memeluk dengan sangat erat sang suami.
"Pah, Mama, mohon ijinkan anak kita untuk menikah dengan Lia, Mama merasakan bagaimana jika seseorang sangat mencintai orang yang dicintai pasti dia akan mengejarnya. Mama pun ketika dulu untuk mendapatkan cinta papa sangat berat karena Papa dulu banyak yang mengejar jadi rebutan anak kampus. Dan pada akhirnya cinta Papa hanya untuk Mama, saat itu Mama tidak menyangka, Mama sangat bersyukur. Nah, Mama berpikir kesana Pah, gimana beratnya hati Adrian mengejar cinta sejatinya," pelukan Mama semakin erat dan terisak tangis.
Nampak sang suami membuang napas kasar, dan mengelus rambut sang istri dengan lembut. Dia pun berpikir dalam hatinya, dia tidak mau egois kepada sang anak dan cinta tidak harus di paksakan.
__ADS_1
"Mah, Papa, menyetujui Adrian dengan Lia," ucap sang Papa lirih dengan mata berkaca-kaca.
Bersambung...