Suamiku Terjerat Cinta Sahabat

Suamiku Terjerat Cinta Sahabat
Bab: 192 Hati Rian gundah gulana


__ADS_3

STOP..


"Disini saja saya berhenti, biar kamu jalan sampai ke kontrakan kamu!' ucap Ibunya Lia.


Nampak mobil yang sedang dikemudikan Rian, oleh Ibunya Lia disuruh diberhentikan dengan alasan agar Rian berjalan menuju ke rumah kontrakan jaraknya dekat. Padahal dia tidak mau jika keluarganya tahu bahwa supir pribadinya itu adalah mantan menantu.


Ibunya Lia hanya kasihan saja dengan kondisi Bapak dari cucunya itu dan kasihan terhadap temannya yaitu Viona atau Ibunya Rian, meskipun Viona sangat benci kepadanya ketika dulu jaman gadis karena Bu Viona tidak bisa mendapatkan lelaki pujaan hatinya sementara Ibunya Lia yang dikejar oleh lelaki yang jadi pujaan Bu Viona.


Rian pun tidak bergeming sedikitpun dan dia hanya menuruti kata Bos-nya itu atau sang mantan mertuanya.


"Baik, Bu!" ucap Rian.


_____


Rian membuka pintu mobil kemudian pamit kepada Ibunya Lia dan baru beberapa langkah saja Rian berjalan namun Ibunya Lia memanggil dan memberikan uang tiga lembar berwarna merah.


"Nih, buat makan malam kamu!" ucapnya tanpa tersenyum sedikitpun.


Rian nampak ragu untuk mengambil uang tersebut. Rasa dalam diri tidak bisa dipungkiri antara malu, sedih, gengsi, semua campur menjadi satu. Rian lama terdiam dan hanya menatap uang tiga lembar itu yang masih digenggam oleh Ibunya Lia.


"Kenapa kurang!?" tanya Ibunya Lia terlihat seakan mengejek Rian.


DEGH ..


Nampak Rian terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Bos-nya atau mantan Ibu mertuanya tersebut. Rian mencoba mengatur deru napasnya yang kian tidak terkontrol. Kemudian Rian mengambil uang tiga lembar berwarna merah tersebut dengan mengucapkan kata terima kasih.


______


"Oh, iya, gaji kamu saya kasih mingguan 2 juta ya, dan Minggu ke-4 saya tidak akan memberikan kamu gaji karena kamu harus bayar kontrakan. Apa kamu cukup dengan nominal gaji yang saya berikan?" tanya sang mantan Ibu mertua sambil menatap ke arah depan mobil seakan malas untuk menatap mantan menantunya itu.


Rian dalam hatinya berpikir gaji yang diberikan oleh Ibunya Lia sangatlah besar. Mungkin jika dibanding dulu ketika dia bekerja sendiri atau bahkan ketika jadi pengusaha uang segitu tidak seberapa.Tapi karena dia keadaan sekarang tengah dititik terendah jadi baginya uang 2 juta perminggu sangatlah besar.


"Cukup Bu, malah bersyukur sekali," jawabnya dengan pandangan menunduk.


"Jangan khawatir Rian, aku tidak akan memberitahu Lia dan anakmu, juga keluarga kalau sebenarnya supir pribadiku saat ini adalah kamu. Aku tahu hutangmu banyak dan kamu sedang dikejar oleh penagih hutang. Aku hanya membantumu karena bagaimanapun kamu adalah Bapak dari cucuku," ucapnya.


______


Terdengar miris ketika sang mantan Ibu mertua berucap seperti itu. Tidak bisa dipungkiri ucapan sang mantan Ibu mertua terasa menunduk seperti ditusuk pisau sangat menyayat hati. Rian hanya menghela napas panjang dan dia pun menyadari hal itu.


"Iya, Bu, terima kasih," ucapnya lagi dengan masih pandangan yang tertunduk.


"Besok pukul 7 kamu tunggu disini. Besok aku akan ada rapat di Restoran Bunga mungkin sampai siang dan setelah itu aku akan ke Dokter ngantar cucuku," ucapnya kembali.


DEGH...


Rian dadanya terasa berdesir tatkala mendengar apa yang di ucapkan oleh Ibunya Lia tatkala membicarakan cucunya. Rian pun seakan memberanikan diri untuk menanyakan kabar anaknya itu kepada mantan mertuanya.

__ADS_1


•••


"Cantika, apa dia sakit!?" tanya Rian terasa dihinggapi rasa penasaran dan khawatir yang mendalam tatkala mendengar kabar tersebut.


"Ya, anak kamu! Ternyata kamu masih ingat dengan anakmu Rian!" sang Ibu mendelik.


Lia tadi menelepon sang Ibu bahwa anaknya sudah tidak demam lagi, tapi Lia masih dihinggapi rasa khawatir kepada sang anak takut kalau tiba-tiba demamnya tinggi. Jadi Lia menyuruh sang Ibu untuk mengantarkan anaknya ke Dokter karena Lia ada acara mendadak besok pagi bersama sang suami akan pergi keluar kota untuk acara bisnisnya.


"Saya rindu Bu, sebenarnya dalam lubuk hati yang paling dalam kepada Cantika, anakku." nampak Rian menitikkan air mata.


Ibunya Lia hanya membuang napas kasar dan seakan tidak peduli dengan rengekan Rian yang sangat rindu terhadap anaknya. Sang Ibu pun kemudian melajukan mobilnya tanpa pamit kepada Rian.


______


Rian hanya bisa menatap mobil mantan Ibu mertuanya itu yang tengah berlalu dari hadapannya. Terasa berat cobaan yang tengah dihadapinya itu. Uang 3 lembar berwarna merah yang jumlahnya 300 ribu dia masukkan ke dalam saku celananya. Terlihat dia sangat bersyukur karena setelah kejadian kebakaran yang menimpa dirinya dia belum pegang uang lagi dan kini dia ketika mendapatkan uang dari Ibunya Lia hanya 3 lembar saja hatinya begitu senang.


Rian berjalan ke arah rumahnya dengan perasaan senang karena besok dia akan bertemu dengan sang anak. Rian pun untuk saat ini dia tidak akan memberikan kabar dulu kepada sang Ibu bahwa dia sebenarnya bekerja di mantan Ibu mertuanya.


Dan dia pun tidak akan bicara kepada sang Ibu bahwa sebenarnya rumah kontrakan yang tengah dihuni oleh dirinya dan sang Ibu adalah milik Ibunya Lia atau musuh bebuyutan Bu Viona.


______


Tok ...


Tok ...


Tok ...


CEKLEK...


Nampak pintu dibuka oleh Bu Viona dan terlihat sang Ibu tersenyum lebar tatkala melihat sang anak dengan memakai kemeja baru dan terlihat gagah tidak kucel seperti dia lihat ketika tadi pagi hanya memakai kaos oblong yang lusuh.


"Wah, kamu terlihat gagah, bajunya baru Nak? Dibeliin Bos baru kamu ya, memang baik ya, Bos kamu kamu itu," ucap sang Ibu yang terus menerus ngoceh sementara Rian berlalu dari sang Ibu dan duduk di karpet yang terlihat warnanya memudar. Karpet tersebut diberikan oleh tetangganya sebelah rumah.


_______


"Gimana Nak, Bos kamu yang baru itu pasti orangnya baik ya!?" tanya sang Ibu kembali sambil duduk di dekat Rian dan sepertinya dia sudah tidak sabar ingin mendengar cerita dari sang anak tentang Bos-nya itu.


Rian nampak menghela napas panjang kemudian dia mengeluarkan uang yang 3 lembar itu dan memberikannya kepada sang Ibu. Nampak setelah melihat uang tersebut sang Ibu terlihat tersenyum sumringah.


"Gaji kamu untuk hari ini Nak! Ibu senang loh, lumayan buat ngumpulin kontrakan yang nunggak," ucap sang Ibu menatap lekat ke arah Rian dan nampak Rian hanya tersenyum tipis. Sang Ibu berpikir Rian sangat capek karena seharian menjadi supir pribadi mengantarkan Bos-nya kemana pun pergi.


Padahal dalam hati Rian sebenarnya Rian masih shock dengan Bos-nya yang baru yaitu mantan Ibu mertuanya.


______


"Orang mana Bos kamu itu Nak, pasti dia cantik ya!? Cerita dong, sama Ibu," sang Ibu seakan memaksa terus sang anak agar bercerita mengenai sosok Bos-nya itu.

__ADS_1


"Baik Bu, orangnya alhamdulilah," ucap Rian tersenyum tipis.


Hanya kata itu yang bisa Rian ucapkan terhadap sang Ibu dan nampak Rian merebahkan badannya di karpet dengan memejamkan matanya dan kembali mengingat apa yang di ucapkan oleh Ibunya Lia barusan, bahwa anaknya Cantika sedang sakit dan besok mau dibawa ke Dokter.


Dalam hati yang paling dalam sebenarnya Rian ingin sekali memberikan uang kepada sang anak untuk berobat atau sekedar uang jajan tapi apa daya saat ini dia keadaannya sedang terpuruk.


"Ya, sudah kamu makan ya, biar Ibu siapkan makan dulu," sang Ibu kemudian berlalu dari hadapan Rian untuk menyiapkan makan.


______


Rian menatap langit-langit ruangan kontrakan dan dia kembali mengingat pertemuan tadi dengan Ibunya Lia.


Dia berpikir mengapa Bos-nya saat ini harus mantan mertuanya. Apakah ini sebagai bukti bahwa Allah sedang menguji tingkat kesabaran dia karena seolah-olah dia akan terus dipermalukan atau tidak nyaman rasa hatinya karena selalu bertemu dengan keluarga sang mantan istri yang dulu hati dan perasaannya sudah dia sakiti dan khianati.


"Sampai kapan ujian ini berakhir sepertinya aku sudah tidak sanggup!" batin Rian menjerit.


Rian menghela napas secara perlahan kemudian memejamkan matanya dan nampak bulir putih pun menetes di ujung matanya rasa sesal, kecewa, sedih, semua campur menjadi satu.


______


"RI,,,,"


Bu Viona nampak tertegun di depan pintu kamar dapur dan seakan tidak jadi untuk memanggil sang anak tatkala melihat sang anak tengah menitikkan air mata dan matanya terpejam.


"Kenapa lagi kamu Nak!?" gumam hati Bu Viona dadanya berdesir dan seakan sesak melihat sang anak yang sedang sedih.


Ehemm...


Sang Ibu berdehem dan nampak Rian terkesiap dan dengan cepat menghapus air mata yang mengalir di ujung kedua matanya.


"Masak apa Bu," Rian berusaha tersenyum walau hati dan pikirannya sedang tidak karuan.


"Aku tidak boleh menanyakan kegelisahan hatinya saat ini, aku tidak mau menambah beban anakku," gumam Bu Viona dan nampak Bu Viona pun tersenyum walau hatinya sama seperti Rian dihinggapi rasa gundah gulana.


"Masak sayur sop ayam, biar kamu fit dan tidak lelah karena nyetir seharian ini," ucap sang Ibu walau dari nada suaranya terdengar parau.


"Wah, enak Bu," ucap Rian walau dia sebenarnya tidak berselera makan.


•••


Sang Ibu pun mengambil nasi dan sayur kedalam wadah piring lalu diberikan kepada Rian. Nampak Rian pun terlihat mengambilnya namun setelah itu dia hanya mengaduk-aduk nasi dan sayur tersebut sekan tidak selera untuk makan. Bu Viona pun seakan memahami hal itu.


"Nak, kenapa kamu lagi kurang enak badan ya? Gimana kalau makan sedikit saja setelah itu makna obat dan tidur karena besok kamu harus kembali bekerja. Kalau sakit terus ijin kerja enggak enak oleh Bos baru kamu karena baru saja sehari kerja sudah tidak masuk lagi," ucap sang Ibu menatap sang anak yang dihinggapi rasa khawatir.


Rian pun nampak makan walau tidak selera dan nampak terlihat Rian makannya hanya sedikit saja dan setelah itu dia berlalu ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Sabar Nak, mungkin kamu lelah dengan cobaan yang datang begitu silih berganti," gumam Bu Viona terlihat menitikkan air mata.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2