
Jam menunjukkan pukul 6 pagi, Lia sudah bersiap untuk pergi ke Pengadilan Agama yang diantar oleh Tante Restu. Nampak dari wajah Lia, dia sudah siap untuk menghadapi ruang sidang, sedangkan jarak yang akan ditempuh dari rumah sang Tante ke Pengadilan Agama, sekitar 1 jam.
Selama dalam mobil nampak Lia tidak banyak berbicara, sang Tante pun seakan mengerti dengan keadaan tersebut.
•••
"Lia rotinya makan!" ucap sang Tante, karena tadi sebelum pergi, Lia tidak mau sarapan hanya minum susu jahe hangat.
"Tadi minum susu satu gelas terasa kenyang Tante, nanti saja makan siang," ucapnya lirih dengan pandangan fokus ke arah depan.
Tante Restu terlihat sangat pelan mengendarai mobil tersebut.
"Tan, kok pelan-pelan sih, mengemudikan mobilnya, agak cepetan dong!" ucap Lia seakan ingin cepat sampai di tempat Pengadilan Agama.
"Tenang Sayang, kantor Pengadilan Agama tutupnya masih jam 3 sore, lagian kan kita bisa nunggu di sana untuk pendaftaran sampai jam 12 siang nanti," ucap sang Tante mencoba menerangkan kepada sang keponakan. Tante berpikir Lia tidak tahu dengan jadwal di Pengadilan Agama.
•••
Lia membuang napas kasar.
"Maksud Lia ingin cepat sampai di persidangan, dan cepat membereskan perceraian!" jawabnya dengan pandangan fokus ke depan.
"Lia,,,sekarang datang sekali ke kantor Pengadilan Agama memangnya langsung beres?! Enggaklah, nanti ada proses lagi. memangnya gampang untuk bercerai," ucap sang Tante. Memberikan penjelasan kepada sang keponakannya tersebut.
"Pasti disetujui oleh Hakim karena masalahnya perceraian yang di ajukan dalam sidang adalah perselingkuhan," ucap Lia seakan membela dirinya sendiri.
"Iya, Tante ngerti, tapi kan tidak langsung sekarang datang, kemudian kamu langsung dapat surat cerai, enggaklah! Semua perlu proses," ucap sang Tante.
"Iya Tante, Lia ngerti kok," ucapnya dengan menganggukkan kepalanya.
_____
Lia pun terdiam seakan tidak mau debat lagi dengan sang Tante karena pikirannya saat ini sedang bercabang. Lia memikirkan perceraiannya dan sahabatnya Desy.
"Kalau menurut Tante sepulang dari kantor Pengadilan Agama, kita jangan langsung ke rumah Desy, untuk apa!? Kita pulang saja ke rumah Tante. Entah mengapa Tante khawatir akan terjadi sesuatu terhadap kamu," ucap sang Tante. Tante Restu begitu perhatian dan sayang terhadap keponakannya tersebut.
"Khawatir kenapa Tante? Lia nggak salah kok, si Desy yang salah, yang sudah berani merebut suaminya sahabat" jawab Lia dihinggapi rasa penasaran dengan jawaban Tante Restu.
"Nanti kalau mau bertemu dengan Desy, biar urusan sidang kamu selesai dulu. Kamu kok ngeyel sih!" sang Tante pun terlihat kesal dengan Lia yang selalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
Pikiran Lia melanglang buana tidak karuan bayangan sang suami, anak, dan juga Desy kian hinggap menerpa dirinya, entah kenapa pikirannya gusar dan tidak karuan.
____
Ting..
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah pesan muncul dari ponsel Lia, nampak terlihat nomor baru masuk ke layar aplikasi WhatsApp milik Lia.
Lia pun tidak mengenali nomor yang tertera di layar teleponnya itu. Dengan wajah seperti dihinggapi rasa penasaran, Lia pun membaca isi pesan di layar aplikasi WhatsApp tersebut.
_____
{"Assalamu'alaikum, Lia. Semoga kamu sehat. Ini Ibunya Desy. masih ingatkah kamu kepada Ibu? Desy sudah cerita semuanya tentang dia ingin dipoligami oleh suami kamu. Asal kamu tahu, sebenarnya Ibu dan Bapak menentang keras dengan maksudnya itu, untuk di poligami. Maafkan anak Ibu ya, karena sudah lancang merebut suami kamu, dan ibu mohon ingin segera bertemu dengan kamu berdua saja,"} pesan tersebut membuat Lia dihinggapi rasa terkejut yang teramat.
_____
Gestur tubuh Lia dihinggapi rasa terkejut, dan begitu nampak terlihat oleh Tante Restu.
Sang Tante pun dihinggapi rasa penasaran terhadap keponakannya tersebut.
"Ada apa Lia? siapa yang memberikan pesan, kamu kelihatannya kaget," tanya sang Tante dengan tatapan lekat ke arah sang keponakan.
"Pesan dari Ibunya Desy, Tan." ucap Lia dengan mata masih tertuju ke layar ponsel.
"Ada apa dengan Ibunya Desy? Apakah sang Ibu sudah mengetahui perselingkuhan anaknya dengan Rian??" tanya sang Tante nampak terlihat terkejut dan rasa ingin tahu terlihat begitu sangat.
"Ya kedua orang tuanya sudah tahu, dan Desy sudah meminta izin kepada kedua orang tuanya, dia mau dipoligami oleh Rian!" jawab Lia.
•••
Sang Tante tertawa terkekeh seakan meledek sosok Desy. "Bilang sama Ibunya, tidak perlu dipoligami tapi menjadi suami seutuhnya, karena si Rian akan menjadi duda sebentar lagi," ledek sang Tante.
"Jangan, jangan ketemu! Untuk apa kamu ketemu sama Ibunya? Dulu kamu sangat dekat dengan ibunya karena hubungan kamu dengan Desy baik-baik saja, karena ikatan persahabatan. Tapi sekarang si Desy sudah mengkhianati kamu jadi kalau menurut Tante buat apa kamu ketemu dengan Ibunya!?" jawab sang Tante.
Tante Restu terlihat dihinggapi rasa marah dan kesal mengingat sosok Desy, sang sahabat yang membuat luka hati keponakannya itu.
___
Pikiran Lia berselancar jauh mengingat masa lalu dia bersama keluarga Desy, begitu dekat dengan keluarga besar sang sahabat tersebut. Bahkan ketika Ibunya Desy ada acara dengan temannya ke puncak, dia pun diajak oleh Ibunya Desy.
Penuh kenangan yang dirasakan oleh Lia ketika itu, Ibunya Desy terlihat sangat memanjakan dan memperhatikan Lia, seperti ke anaknya sendiri. Bahkan ketika Ibunya Desy membeli sebuah baju untuk sang anak, Lia pun dibelikannya oleh Ibunya Desy.
Hal ini membuat Lia merasa teringat terus dengan sosok Ibunya Desy yang perhatian, dan Lia merasa berhutang budi.
"Lia, kalau kamu pilih pasangan yang setia, jangan pilih yang suka selingkuh! Ibu sangat sayang sama kamu. Kalau kamu nanti dikhianati sama pasangan kamu biar Ibu yang turun tangan, dan Ibu yang pertama kali yang akan membela kamu," ucap Ibunya Desy saat itu. Ibunya Desy dengan sindirannya begitu, karena dia begitu peduli terhadap sahabatnya sang anak.
Ucapan itu begitu indah terdengar di kuping Lia, karena Lia merasa ada perlindungan. Tapi nyatanya yang merebut suaminya sekarang ini adalah anaknya sendiri yaitu Desy.
"Mana janjimu!? Akan menjadi orang pertama yang akan membela sahabatnya anakmu, jika pasangannya berselingkuh!?" gumam hati Lia, mukanya terlihat sinis.
_____
__ADS_1
"Akan aku tagih janjimu!" ucapnya tertawa penuh dengan rasa kesal.
Nampak sang Tante dihinggapi rasa heran dan penasaran karena sang keponakan nampak terlihat kecewa dan berbicara sendiri. Terlihat dari raut mukanya pun begitu memendam rasa kesal dan ingin seperti menagih janji.
"Janji apa Lia!?" tanya sang Tante dengan mengernyitkan dahi.
"Ng-nggak! enggak apa-apa kok," jawabnya cepat. Dalam hati Lia yang paling dalam ingin meluapkan rasa gundah gulana dan mengeluarkan sesaknya kepada Ibunya Desy.
"Mungkin aku harus bertemu dengan Ibunya Desy? Tapi itu hanya sebuah pembelaan bahwa aku wanita yang lemah dan memberitahukan bahwa anaknya wanita yang sudah menyakiti seorang sahabat!" bisik hatinya kembali.
•••••
"Liaaaa.....!" sang tanya menepuk pundak sang keponakan yang pikirannya sedang tidak fokus dan menerawang jauh.
"Iy-iya,,,Tante!" jawabnya nampak gugup sekali dengan peluh bercucuran di kening.
"Tarik napas dalam-dalam lewat hidung, dan buang lewat mulut." ucap Tante Restu, mencoba membuyarkan lamunan Lia dan menenangkan hati dan pikirannya.
"Iya,Tante,,,Lia, enggak apa-apa Kok, cuma agak pusing sedikit," Lia mencoba berbohong di depan sang Tante, agar Tante Restu tidak dihinggapi rasa khawatir terhadap dirinya.
"Mau minum obat pusing, kebetulan Tante bawa, Tante takut nanti kamu sakit di kantor Pengadilan Agama, badan kamu drop," ucap sang Tante menatap dengan gusar.
"Enggak apa-apa kok, sebentar lagi rasa pusingnya akan hilang," Lia mencoba tersenyum walaupun senyum yang ditorehkan itu seakan terpaksa karena hanya ingin membuat hatinya tenang.
Glekk
Lia meminum air mineral agar pikirannya sedikit tenang dan mencoba menghilangkan rasa gugup dalam diri.
____
Sampai di tujuan.
Jam menunjukkan pukul 7 pagi, mata Lia berselancar ke arah tempat tersebut. Di sana sudah banyak orang yang berlalu lalang. Nampak wanita muda sepantaran dengan Lia pun banyak, ada di sana.
Satu persatu Lia pandangi wanita tersebut dengan lekat, ada yang tersenyum walaupun senyuman itu terasa palsu, ada yang meluapkan rasa emosi dengan cara menangis, ada pula yang termenung duduk sendiri.
Lia menghela napas panjang dalam hatinya berpikir dunia begitu kejam, kita berusaha untuk mempertahankan mahligai rumah tangga, dan bisa mengarunginya seumur hidup bersama pasangan kita, tapi jika yang di atas berkehendak lain maka putus sudah hubungan itu, sedangkan kita sebagai manusia bersusah payah untuk mempertahankannya.
"Ternyata banyak juga orang yang mengajukan gugatan, malah usianya lebih muda dari aku," gumam hati Lia.
Terasa dag-dig-dug hati Lia begitu cepat, peluh bercucuran di keningnya, dada terasa ada yang menghantam dirinya tatkala sampai di tempat tersebut.
"Yukkk,,,,turun," ucap sang Tante ketika sampai di halaman yang cukup besar disana tertulis
"PENGADILAN AGAMA".
__ADS_1
Bersambung...