
Drett...Drett...Drett..
Bunyi suara telepon terdengar dari ponselnya milik Lia dan Lia pun seakan ragu untuk mengangkat ponselnya.
Tapi suara bunyi ponsel tersebut terus menerus berdering di ponselnya yang mengakibatkan rasa penasaran di hati Lia.
Akhirnya Lia pun mengangkat ponselnya itu.
{"Lia, gimana kabarmu, sehat? Lia, ini aku Mesya. Lia, aku enggak nyangka loh, kamu sudah cerai dengan Rian dan kemarin aku baru saja datang ke acara pernikahan Desy, ternyata suaminya Rian mantan kamu. Padahal dulu kalian rukun ya. Aku dengar kamu pun sudah nikah lagi ya, kamu sekarang tinggal dimana Lia?"} Mesya terdengar kepo secara detail ketika menelepon Lia.
"Akhirnya Rian sudah menikahi Desy syukurlah kalau begitu dari pada mereka pacaran terlalu lama dan melakukan hal yang diluar batas," gumam hati Lia.
_______
Lia pun menarik napas secara perlahan dia berpikir dari mana Mesya mendapatkan nomor teleponnya padahal dia sudah lama tidak kontak dengannya, dan nomor Lia pun baru ganti semenjak selalu terjadi percekcokan dengan Rian karena masalah anaknya.
"Ah, itu tidak penting jika aku bertanya kepada Mesya, dia tahu nomorku dari mana yang terpenting sekarang adalah aku balas saja pesan dia," gumam hati Lia.
{"Alhamdulillah aku sehat. Bagaimana keadaan kamu Mesya? Semoga kamu dalam keadaan sehat ya,"} ucap Lia kepada Mesya.
Nampak sekarang Mesya sedikit agak kepo dengan bertanya kepada Lia masalah pribadi dan ini mengakibatkan rasa tidak nyaman bagi Lia. Kemudian Mesya pun mengirimkan beberapa gambar foto Rian dan Desy bersama dirinya ketika acara pernikahan.
"Rian sepertinya dia tidak bahagia menikah dengan Desy karena nampak terlihat dari beberapa foto yang di kirim oleh Mesya, Rian nampak cemberut beda seperti Desy yang selalu tersenyum lebar. Apakah Rian mencintai Desy dengan tulus, ada apa dengan mereka kenapa tidak nampak harmonis?" gumam hati Lia penuh tanya.
Obrolan pun tidak terasa sudah setengah jam kemudian Lia pun menutup sambungan teleponnya karena dia tidak enak dengan Adrian yang sesekali melirik ke arahnya, padahal Adrian tengah fokus di depan laptopnya.
_________
"Telepon dari siapa?" tanya sang suami.
"Teman lamaku," jawabnya.
Kemudian Lia menghela napas secara perlahan dan dia bicara kepada Adrian bahwa Papanya Cantika sudah menikah dengan Desy.
"Ya, syukurlah kalau begitu," jawab Adrian tanpa ada kata lebih yang dia ucapkan.
Lia kemudian memegang keningnya dan perutnya yang terasa mual dia pun berlalu kecil ke arah toilet.
Uhuk...Uhuk...
Lia nampak batuk kecil dan muntah di disertai kepala pening. Lia selalu menyediakan alat tespek semenjak dia menikah dengan Adrian karena sang suami ingin cepat mempunyai momongan.
Dengan kepala masih agak sedikit pusing Lia pun kemudian mengambil alat tespek di laci kamar mandi.
_________
Beberapa menit kemudian.
Lia nampak terkejut karena hasil tespek-nya ternyata ada garis dua tapi masih samar tidak jelas pertanda dia hamil dan usia kehamilan masih sangat muda.
Rasa pening dan mual di kepala rasanya sudah tidak rasakan lagi oleh Lia
•••
"Mas, aku ada kejutan untukmu," Lia memeluk sang suami dari arah belakang dan menyerahkan alat tespek yang bergaris dua tapi masih samar terlihat.
Sontak Adrian matanya terbelalak karena dia tidak menyangka sang istri memberikan kejutan di pagi hari yang membuat dirinya dihinggapi rasa haru.
"Sayang, kamu hamil!" Adrian langsung membalikkan badannya, dia tidak menyangka dengan ini semua. Dia menatap sang istri dengan mata yang berkaca-kaca dan memeluk sang istri dengan erat .
Saking bahagianya kemudian dia mengambil ponselnya yang berada di pinggir laptop. Dia kemudian menelepon sang Mama dengan suara terbata-bata.
{"Mah, Lia, Mah,,,Lia, hamil,"} ucapnya di sambungan teleponnya.
Terdengar di sebrang sana sang Mama bahagia sekali. Sepertinya sang Mama sangat gembira dengan kehamilan sang menantunya itu yang sudah lama dia tunggu-tunggu.
{"Nak, awas jaga kehamilan istrimu karena kalau hamil muda rentan. Harus di jaga kondisi tubuhnya,"} sang Mama mengkhawatirkan keadaan menantunya itu.
{"Iya, Mah, pasti,} jawab Rian.
Sambungan telepon pun terputus.
_________
Adrian mengajak sang istri untuk pergi ke Dokter spesialis kandungan karena Adrian tidak yakin dengan sang istri tengah hamil dan dia hanya melihat dari tespek saja yang berwarna merah samar tidak merah pekat garis warna tespek-nya.
__ADS_1
"Sayang, ayo, kita pergi ke Dokter! Aku ingin dengar dari mulut Dokter sendiri bahwa kamu benar-benar sedang hamil."ucap sang suami.
"Tapi ini hasil tespek sudah benar Mas, lihat dengan jelas namun warnanya tidak pekat hanya samar karena aku baru telat beberapa minggu, usia kandungan belum besar," ucap Lia mencoba meyakinkan hati sang suami.
"Enggak Sayang, pokoknya aku harus yakin betul kamu itu sedang hamil," paksa Adrian kepada sang istri.
_______
Adrian yang notabene bujang yang sebelumnya belum pernah pengalaman punya anak, dia pun awam. Sedangkan Lia yang sebelumnya sudah punya anak dan berpengalaman dia tahu betul gimana rasanya hamil dan usia kandungan saat ini menginjak hari ke berapa terhitung dari dia telat datang menstruasi.
Karena ajakan sang suami begitu kuat akhirnya Lia pun segera ganti baju untuk pergi ke Dokter spesialis kandungan akan memeriksakan keadaan dirinya.
______
Di dalam mobil.
Nampak Adrian secara perlahan menjalankan mobilnya itu tidak seperti biasanya. Jika dulu Adrian mengendarai mobil dengan kecepatan sedang tapi sekarang sangat lambat menjalankan mobilnya.
"Mas, kalau mobilnya berjalan lambat rasanya kita bakal lama sampai ke Dokternya," sindir Lia tatkala melihat sang suami sangat pelan ketika mengendarai mobil.
Adrian tangan kirinya menggenggam erat jemari tangan sang istri lalu meliriknya.
"Sayang, kamu sedang hamil jadi aku harus menjaga kamu dengan baik," ucap Adrian dengan lirih.
Lia hanya tersenyum, dia pun seakan ingat ketika hamil pertama Rian memperlakukan dirinya sama seperti sekarang Adrian memperlakukan dirinya begitu lembut dan terasa romantis.
"Apakah masa jika pertama menikah dan baru mempunyai satu anak pasangan akan lembut tapi ketika usia pernikahan sudah lama, pasangan akan merasa bosan dan terjadilah perselingkuhan. Tidak,,,,! Aku tidak mau mengalami hal terpahit untuk kedua kalinya terjadi dalam hidupku," gumam hati Lia nampak terlihat matanya berkaca-kaca.
"Sayang,,,!!" Adrian menepuk paha Lia dengan lembut karena nampak beberapa kali diajak bicara Lia hanya diam.
Lia nampak terkesiap.
"Iy-Iya Mas,,,!!" Lia gugup ketika menatap sang suami dan air mata menetes di ujung matanya.
"Adrian begitu ganteng, baik, penyayang betapa komplit lelaki yang kini tengah berada di pinggirnya itu." gumam hati Lia.
Lia kemudian menghela napas panjang.
Dalam hatinya menjerit dia seakan tidak mau jika harus kehilangan sosok Adrian yang kini tengah menjadi suaminya itu. Lia takut jika Adrian melakukan hal yang sama seperti mantan suaminya terdahulu mengkhianati dirinya.
"Loh, kamu kenapa nanya gitu!?" Adrian dihinggapi rasa heran dengan sikap sang istri yang tiba-tiba mengkhawatirkannya, seakan takut kehilangan.
"Aku merasa sedih entah kenapa," ucap Lia sambil mengusap perutnya.
"Ataukah ini bawaan bayi yang tengah di kandungnya," gumam hati Adrian.
Dia seakan ingat ucapan dari Mamanya dulu jika wanita yang sedang hamil cendrung sifatnya tidak tentu suka berubah.
"Sayang, minum air mineral agar kamu merasa rileks," Adrian kemudian memberikan botol yang berisi air mineral.
GLEK ..
Lia meneguk air mineral setelah itu dia menghela napas secara perlahan.
"Kenapa aku cengeng, apakah ini bawaan bayi dalam kandunganku!?" gumam hati Lia gusar.
______'
Tiba di Dokter kandungan.
Nampak Adrian menggandeng tangan Lia menuju ruang Dokter kandungan dan kebetulan sang Dokter adalah temannya Zahira.
"Halo, Lia, semoga ada kabar baik datang kesini," senyum Dokter Vania merekah ke arah Lia yang sebelumnya datang kesana dan diberikan obat penyubur kandungan.
"Alhamdulillah Dok, saya mau memeriksakan kehamilan saya mungkin usia kandungannya baru 2 Minggu atau satu bulan," Lia kemudian merogoh alat tespek di dalam tasnya dan menyerahkan kepada Dokter Vania.
Sang Dokter kemudian melihat alat tespek tersebut kemudian menyuruh Lia untuk kembali memakai alat tespek. Lia kembali ke toilet untuk buang kecil yang di buang ke wadah yang sudah disediakan. Setelah itu sang Dokter memasukkan alat tespek kedalam wadah tersebut sambil menunggu beberapa menit.
Sambil menunggu alat tespek itu berfungsi dengan sempurna kemudian sang Dokter merebahkan tubuh Lia di atas ranjang pasien yang telah di sediakan.
_________
Sang Dokter kemudian menarik baju Lia sampai ke atas pusar lalu memberikan cairan obat yang di tempelkan di atas perut dan di oleskan ke perutnya Lia, rasanya terasa dingin di perut Lia.
Setelah pengecekan semuanya dirasa beres Lia kembali duduk di pinggir sang suami nampak Adrian gelisah menunggu keputusan Dokter.
__ADS_1
"Dok, gimana hasilnya!?" Adrian menatap lekat ke arah sang Dokter dengan dihinggapi rasa gundah.
"Alhamdulillah, selamat ya, Pak Adrian akan menjadi seorang Bapak," ucap sang Dokter tersenyum ramah dan lebar.
________
Nampak Adrian matanya berkaca-kaca seakan tidak percaya karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang Bapak dan pastinya dia tidak akan lagi melihat kedua orang tuanya gundah gulana karena kini sang istri telah mengandung.
"Tapi belum kelihatan besar perutnya," Adrian mengusap lembut perut sang istri.
"Usia kehamilan Lia baru 2 minggu jadi perut tidak nampak terjadi perubahan yang signifikan tapi janin sudah membentuk embrio dengan ukuran yang masih sangat kecil sekitar 0,1 - 0,2 milimeter. Jadi
perubahan bentuk perut yang besar nanti sekitar 16- 20 minggu masa kehamilan," sang Dokter mencoba menerangkan secara detail tentang kehamilan Lia kepada Adrian suaminya.
"Tapi sudah seminggu ini istriku mual dan pusing Dok, semoga Dokter bisa memberikan obat yang terbaik agar istriku ketika hamil dia dan bayinya sehat," sambung Adrian kembali.
"Wajar jika mual karena biasanya kehamilan 2 minggu muncul tanda-tanda mual seperti, nyeri punggung, lelah dan perubahan mood. Semua itu yang di rasakan normal ketika awal pertama kehamilan," sambung kembali sang Dokter kepada Adrian.
_______
Dokter Vania sudah tahu cerita dari Dokter Zahira sahabatnya, kalau Adrian itu seorang lajang yang belum berpengalaman mempunyai anak sedangkan Lia, dia sudah pengalaman punya anak jadi tidak terlalu resah saat kehamilan.
"Mas, jangan terlalu khawatir dan gelisah jadi aku pun sebagai istri ikut gelisah seakan terpengaruh," ucap Lia kepada sang suami.
Dokter Vania tersenyum renyah melihat pasangan tersebut terutama melihat Adrian yang seakan dihinggapi rasa khawatir yang teramat kepada sang istri.
"Wajar Lia, kalau suami kamu khawatir ini kan anak pertamanya dia, dan dia sangat menginginkan anaknya dari pertama nikah. Alhamdulillah istrinya sekarang tengah mengandung," jawabnya
"Tuh, kan Sayang, dengarkan kata Dokter juga. Wajar,,!" ucap Adrian mencubit tangan hidung Lia dengan lembut.
______
"Ya, seperti dibilang Dokter Zahira ternyata Lia dan Adrian begitu saling mencintai apalagi Adrian begitu takut jika harus kehilangan Lia. Dia begitu perhatian dan nampak sayang banget dengan Lia," gumam hati Dokter Vania.
Nampaknya Dokter Zahira sudah bercerita banyak tentang persoalan kehidupannya mengenai perjodohan dia dulu dengan Adrian kepada Dokter Vania sahabatnya itu.
Dokter Vania menghela napas panjang.
"Semoga Lia sehat dengan bayi yang di kandungnya ya," ucap Dokter Vania.
Setelah selesai semuanya akhirnya Lia dan Adrian pun keluar dari dalam ruangan tersebut. Nampak wajah Adrian sumringah terlihat dia sangat bahagia sekali.
_________
Di dalam mobil.
Tangan kiri Rian sekali-kali menggenggam erat jemari tangan sang istri dan menciumnya.
Ting...
Tiba-tiba pesan berbunyi di ponselnya milik Lia dan terlihat Tante Shila memberikan sebuah pesan bahwa dia akan berkunjung ke rumah Adrian dan sekarang sedang dalam perjalanan.
"Mas, Tante Shila dan Om Satria mau datang ke rumah," ucap Lia dan matanya masih lekat ke arah ponsel.
"Iya, aku lupa Sayang, memberitahu kamu kalau sekarang Om Satria dan istrinya mau berkunjung ke rumah kita. Saking ingin tahu hasil kehamilan kamu jadi aku cepat-cepat tadi pergi ke Dokter setelah ada pesan dari Om Satria mau berkunjung ke rumah," ucap Adrian.
"Adiknya Tante Shila apakah jadi kerja di Restoran milik teman kamu Mas!?" tanya Lia.
"Belum ada, Sayang, aku juga sebenarnya malu oleh Tante Shila seakan tidak mengusahakan. Tapi untuk sekarang ini sedang tidak membutuhkan karyawan," Adrian tampak mengeluh.
"Tapi kalau soal perjodohan jadi kan, hehehe,,," Lia tertawa terkekeh.
"Jadi dong, temanku katanya ingin lebih dekat mengenal sosok Anita. Mungkin Om satria dan Tante Shila akan membicarakan soal ini datang ke rumah," Adrian tertawa lebar.
Dia pun seakan teringat dengan sosok Helmi yang akan dia jodohkan dengan Lia anak dari Tante Shila. Helmi pribadi yang baik dia bekerja di Restoran milik Adrian yang mempunyai jabatan sebagai manajer.
"Menurutku pasti Anita dan Helmi saling suka Mas, karena mereka sama-sama cantik dan ganteng ditambah lagi pribadi mereka yang baik dan lembut," ucap Lia tersenyum.
"Semoga saja mereka berjodoh," Adrian pun seakan mendukung jika Anita dan Helmi menjadi sepasang kekasih dan pada akhirnya mereka di perkenalan yang singkat akan menjadi sepasang suami istri.
"Sayang, semoga kamu sehat ya, dan bayi kita," Adrian mengelus perut lia.
Bersambung...
Terima kasih yang sudah baca dan like dan komennya. Salam sayang dari Author untuk para Reader 🥰♥️
__ADS_1